Dalam tiga hari tanpa obrolan panjang dan hanya seperlunya. Bahkan jawaban iya, hm, oke, sudah biasa. Sehun cuma ingin memberi kesempatan pada wanitanya untuk kembali aktif. Menjelaskan yang tidak perlu dijelaskan. Bicara tanpa diminta. Berinisiatif sebagai bentuk perhatian walau dengan wajah kesal. Itu lebih baik dibanding situasi sekarang.
Dia juga tak mau seperti ini. Tetapi hanya dengan cara ini untuk melihat sejauh mana Yuna sadar akan perlakuannya yang kurang santun pada suami yang seharusnya dia hormati.
Dia sengaja pulang cepat. Lebih cepat dari sebelumnya. Hari ini tanggal merah libur nasional, tetapi tidak bagi Sehun, dia masih bekerja untuk suatu proyek. Jadi Yuna pasti akan menghabiskan waktu di rumah atau outlet atau mengurus tanaman hiasnya.
Sehun tak mendapati mobil istrinya itu di garasi, sehingga besar kemungkinan dia ada di outlet. Dia langsung naik ke atas, kantor kecil istrinya. Tetapi disana hanya didapati karyawan cleaning service yang menghabiskan sisa waktunya sebelum bergantian shift.
"Bu Yuna kemana?"
"Sore pak Sehun. Saya gak lihat bu Yuna sejak pagi."
"Irene?"
"Kalau bu Irene, setau saya sedang pulang ke rumah orang tuanya di Tangerang."
Sehun mengangguk ringan. "Yang lain tau gak bu Yuna kemana?"
"Maaf pak, saya juga gak denger karyawan lain bicarain agenda bu Yuna hari ini."
"Ok, makasih ya."
"Sama-sama, pak."
Sehun membuka ponsel, dan melihat status online terakhir istrinya 4 jam yang lalu. Tetapi begitu Sehun menelfon, statusnya berdering, sehingga itu berarti ponsel Yuna masih aktif.
Sehun yakin Yuna sedang bepergian sebentar untuk belanja. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.
Denting detik merubah jarum jam. Sehun menunggu di tepi kolam renang yang bergelombang tenang diterpa angin sepoi. Dia berpikir menghubungi sang mama mertua. Tetapi dia mengatakan Yuna tidak berada disana.
Sehun duduk sesekali melamun memandang bibir kolam, lalu tangkai dedaunan yang bergoyang. Kemilau cahaya senja yang menerpa permukaan air kolam kian meredup. Sehun menyadari hari akan berangsur malam.
Dirinya bangkit, kemudian berjalan mengintip depan rumah yang jelas tak ada kendaraan lain yang terparkir selain miliknya, karena dia tak mendengar deru mesin sedari tadi.
Sehun menaikkan ujung sweater di bagian lengan, menyibak rambut seraya menuju ke dapur demi meneguk segelas air. Hening dan hanya terdengar suara letupan air mengalir memenuhi gelas kaca. Dia mengambil cookies bertabur chocochips yang masih baru namun tak lagi hangat, karena dia yakin pagi sebelum dia berangkat itu tidak ada disana. Menemukan kesimpulan bahwa istrinya pasti memasak ini sejak pagi.
Setelahnya Sehun menaiki tangga. Melangkah menuju ruangan pribadi sang istri. Dia membuka ruangan itu tanpa ijin begitu yakin si empu tak ada di tempat. Bersih dan rapi. Dia tahu istrinya begitu tergila-gila dengan kebersihan. Sehingga tak ada noda sekecil biji selasih di setiap sudut ruangan.
Dia bukan penderita OCD yang sangat frustasi dengan ketidaksempurnaan, sampai membuatnya gelisah luar biasa. Dia hanya perfeksionis, kebiasaan membenahi yang seharusnya perlu dibenahi, itu normal. Jiwa itu akan lenyap sesaat saat dia mabuk, itu kali pertama Sehun melihatnya. Seringai kecil terbentuk di sudut bibir Sehun.
Sehun memutuskan kembali ke ruang kerja begitu mendapat telfon dari salah satu client. Berbincang panjang lebar sambil membuka kembali benda elektronik berbentuk pipih.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
