Hari demi hari telah berlalu, terasa sungguh cepat hingga hari pernikahan Sehun dan Yuna pun tiba. Mereka tak saling bertemu atau menghubungi hingga hari-H. Sikap Yuna tak menunjukkan perubahan, ia masih dingin dan abai, lain halnya saat berinteraksi dengan keluarganya ataupun keluarga Sehun.
Dia sangat pintar menutupi keadaan dengan senyum manisnya. Bahkan tak ada yang menyadari bahwa sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Sehun kini termenung, memandang Yuna dari kejauhan. Rasanya ia tak dapat melakukan hal lebih jika Yuna saja menutup diri darinya. Memasang dinding transparan nan tebal di antara mereka.
'Waktu yang akan menyembuhkan.' Sehun berharap.
Ucapan-ucapan Yuna hari yang lalu menggugah dirinya, betapa ia merasa bersalah karena sedari awal ia mengiyakan ajakan Juna semata hanya untuk menjadikan gadis itu sebagai pelarian. Dulu ketika melihat Adele bersama laki-laki lain, ia mengaku sangat frustasi. Ia berharap jika ia melakukan hal yang sama, Adele juga akan kesal padanya.
Awalnya ia juga tak berniat serius dengan Yuna. Namun sepertinya ia telah mendapatkan karmanya sendiri. Pria menyedihkan bernama Sehun ini telah jatuh pada gadis lugu bernama Yuna.
Detik-detik khidmat sepanjang mereka mengucap janji suci di hadapan pendeta, netra kembar Yuna terlihat berkaca-kaca. Sehun merasakan darahnya berdesir, perasaan yang tak mampu ia deskripsikan telah membuat jantungnya berdegup kencang. Gadis cantik di hadapannya kini telah sah menjadi istrinya sekarang.
Sehun Gavin Orlando telah resmi mempersunting Embun Yuna Auristela.
Mengingat akan kesepakatan mereka, Sehun ragu-ragu mendekati wajah Yuna, sehingga ia hanya mendaratkan kecupan di kening gadis itu dan menahannya sekian detik. Tentunya tanpa berlanjut ke bibir lembab berwarna pink ranum milik Yuna. Tak ingin lebih jauh karena takut Yuna semakin menghindarinya lagi. Kemudian yang terdengar adalah gemuruh tepuk tangan para tamu yang datang di acara.
Selesai pemberkatan, mereka berdua berjalan di sepanjang altar, seperti tak terjadi apa-apa, keduanya menebar senyum suka cita kepada para tamu undangan.
Tiba pada sesi berfoto, Yuna memberikan senyuman lebar dan ceria pada teman-teman ataupun kolega yang mendatangi mereka secara bergantian disertai ucapan-ucapan selamat atas pernikahan sekaligus ulang tahun Yuna.
"Hei, kalian berdua yang mesra dong!"
Sehun mengamati wajah terkejut Yuna sepintas sebelum akhirnya tanpa pikir panjang Yuna melingkarkan tangannya pada lengan kekar Sehun.
Sehun menarik senyum simpul. Ia tak menyangka hanya dengan ini membuat hatinya senang.
"Heh bro! Lu kenapa sih? Married kok kayak robot gitu."
"Ya apa lagi kalau gak tegang, Jong," sahut Juna.
"Emang gitu ya kalau baru pertama ngerasain nikah?"
Sehun melirik tajam, "Lo rasain aja sendiri." Lalu meninggalkan keduanya.
"Dih gitu aja ngambek lu."
Baru beberapa langkah, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Hal itu tak luput dari mata Jongin dan Juna.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga bahagia." Adele mengulurkan tangannya yang segera dijabat oleh Sehun.
"Hm, makasih ya. Makasih juga udah datang. Hanbin mana?"
"Eum, d-dia ada kerja lembur hari ini. Dia bilang mau nyusul tapi gak janji."
Sehun mengangguk mengerti. Namun ketika mengarahkan pandangan ke sisi lain, ia tak sengaja melihat seorang laki-laki seperti Hanbin. Mereka pernah dua kali bertemu, jadi Sehun tak mungkin salah mengenali. Satu sudut bibirnya tertarik, sebetulnya tanpa sepengetahuan Adele, Sehun secara pribadi sudah lebih dulu memberikan undangan secara online melalui chat. Itu karena khawatir Adele tak akan memberitahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
