PICA ? [4]

789 169 44
                                        

Yuna asik dengan game Hago sementara Sean sejak tadi sedang mengawasi jika guru sampai menangkap basah kegiatan Yuna.

"Na, udah dulu ah mainnya. Kayaknya Bu Sunny tau kalo lo lagi nge-game."

"Bentar lagi, nanggung."

"Yuna? Bawa handphone-nya ke depan!"

Yuna sontak mengangkat muka. Teman-temannya menoleh serentak ke arahnya. Mata Sean membulat karena dia yang lebih terkejut. Yuna mulai bangkit namun tangannya ditahan oleh Sean.

"Mau ngapain?"

"Bu Sunny nyuruh gue ke depan bawa handphone."

"Dan lo bakalan kena hukuman." Tanpa pikir panjang Sean merebut handphone milik Yuna dan maju ke arah guru.

"Bukan kamu yang saya panggil Sean tapi Yuna."

"Saya tau ibu manggil Yuna karna nyangka dia main handphone waktu ibu jelasin materi di depan. Tapi sebenernya yang main itu saya bu. Saya ngerasa bosen aja, jadi biar saya gak bosen saya nge-game. Maaf kalo itu mengganggu proses belajar mengajar."

Yuna mengerjap lalu ikut bangkit. "Saya ikutan Sean nge-game juga kok bu. Jadi ini bukan sepenuhnya salah Sean. Tolong hukum kami ya Bu Sunny."

Sean melirik tajam ke arah Yuna dan mengomel dengan hanya menggerakkan bibirnya. Yuna tersenyum manis. "Sama-sama," jawab Yuna tanpa suara.

Dasar tidak nyambung. Yuna mengira Sean sedang berterima kasih padanya karena berkat dirinya ia tidak akan dihukum sendirian. Padahal faktanya Sean kesal karena ia repot-repot menyelamatkan Yuna, cewek itu malah mengajukan dirinya sendiri untuk dihukum. Sean memejamkan mata sambil mengurut pangkal hidungnya.

---

"Seneng dihukum?"

"Seneng dong, gue jadi bisa makan es sepuasnya."

Mereka kini berada di perpustakaan mengerjakan tugas tambahan dari Bu Sunny dan harus segera dikumpulkan sebelum bel istirahat. Jangan berpikir mereka berdua yang mengerjakan. Hanya Sean. Dia kerja dua kali untuk Yuna. Sementara cewek itu menikmati gurihnya es.

"Ugh enaknya...Sean mau coba?"

"Gak, tiap hari gue juga udah minum air."

"Ini lebih sedap dari air biasa Sean. Ini es!"

"Apa bedanya sapri! Tetep aja rasanya air."

"Yaudah sih biasa aja gausah ngegas."

'Sabar Sean...' Maksud hati ingin mengumpat namun malaikat baiknya berhasil menahannya.

"Sean?" Yuna bertopang dagu.

"Hm apa?"

"Kalo Joy orangnya malesan kayak gue, apa lo bakalan repot-repot ngelakuin ini ke dia?"

"Dia orangnya mandiri, Na. Dia gak suka nyusahin orang."

"Beda ya sama gue. Gue kebalikannya, sering nyusahin orang, terutama lo."

"Kalo gak mau disusahin bukan sahabat namanya."

"Kemarin Eunji nanya gimana pandangan gue ke lo sebagai cewek ke cowok."

Sean menghentikan kegiatannya dan menatap intens Yuna karena penasaran. "Terus lo jawab apa?"

"Gue jawab kalo lo itu sahabat gue yang kadang menjelma jadi ibu karena kata-kata lo yang suka mirip sama mama. Sean..." Yuna memajukan wajahnya lebih dekat sambil menelisik wajah tampan cowok itu.

Sean mengerjap bingung. Kenapa tiba-tiba Yuna melakukan itu. Terlebih ia terkejut ketika Yuna mengulurkan kedua tangan dan meraba lekukan wajahnya. Ini...sedikit tidak nyaman.

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang