Lim Yoona, perempuan cantik itu telah benar-benar menyerah. Ya, menyerah pada ego dan benci yang bertahun-tahun bersemayam dalam hatinya. Sadar bahwa kini ia memiliki sesuatu yang amat berharga dibanding masa lalunya.
"Sayang, katakan A. Ayo perhatikan bunda." Yoona dengan wajah cemas sedang berusaha untuk membuka mulut putrinya. Mark yang duduk di sebelah bayi mungil itu ikut membantu membujuk sang adik.
"Mark, tadi bunda sudah peringatkan untuk menjaga adikmu kan?"
"Maaf bunda. Tadi Mark sakit perut dan segera ke toilet. Sebelum aku meninggalkan Hanna, dia duduk di karpet dengan bonekanya."
Yoona tidak marah. Dia hanya mengatakan supaya Mark lebih hati-hati ketika sedang menjaga Hanna sambil mengusap lembut kepala putranya.
Oh Hanna. Lahir ke dunia tepat sepuluh bulan lalu. Menuju usia setahun, Hanna menunjukan keaktifannya. Dia sangat lincah merangkak dan tampak berusaha berdiri meski hanya beberapa detik lalu duduk dan merangkak lagi.
Yoona khawatir kerikil hias dari vas kaca itu tertelan oleh Hanna. Perempuan itu masih merogoh mulut anaknya dengan jari. Dan detik berikutnya, ia bernafas lega akhirnya batu selebar kuku jempol itu berhasil keluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yoona memasang ekspresi kesal, namun Hanna malah tertawa riang dan meringis manis. Mana bisa ia marah. Lagipula ini salahnya juga yang ceroboh mengawasi anaknya.
"Putri bunda tidak boleh nakal lagi ya?" Yoona menggoyangkan telunjuk.
Dan Hanna mengangguk lalu tertawa lagi dengan mata hazel sipit yang melengkung indah. Dasar Hanna, senang sekali mengerjai bundanya.
"Ayah pulang. Halo Hanna sayang."
Sehun mengangkat Hanna dalam gendongan sambil berulang kali mengecup pipi gembul si kecil. Ia terkekeh melihat putrinya yang girang menyambut kedatangannya. Yoona ikut bangkit sambil mengusap kepala Hanna.
"Ada apa hm?"
"Dia hampir menelan kerikil."
"Oh ya Tuhan, benarkah itu? Sayangnya ayah mau makan kerikil dengan gusi dan dua gigi ini?" Sehun menowel hidung dan pipi Hanna.
"Mark harusnya lebih hati-hati yah," ujar Mark dalam rangkulan Yoona.
"Tidak apa-apa sayang. Hanna sedang dalam masa pengenalan dengan benda-benda di sekitarnya. Nah tugas kita menjelaskan apa saja mereka, mana yang boleh dan tidak boleh dimakan."
"Aku menyesal minta hiasan itu. Tidak terpikir bagaimana jika Hanna menelannya." Sehun tersenyum mengecup kening istrinya.
"Tidak apa-apa. Jadi pelajaran supaya kita lebih meningkatkan pengawasan." Sehun menoleh pada putranya. "Mark, sekarang cepat mandi dan bersiap."
"Huh? Memang kita mau kemana yah?"
"Rahasia. Berhubung besok libur, kita berangkat siang ini. Akhir-akhir ini ayah kesulitan mengatur jadwal me time bersama kalian."