Hardi tertawa dengan sangat kencang saat mendengar perkataan Dira. Hardi benar benar tidak menyangka Dira bisa berbicara seperti itu.
"Apa yang kamu katakan tadi? Hak?."Ucap Hardi.
"Hak apa yang kamu maksud keponakan ku?. Apa Ayah mu tidak memberitahu padamu kalau semua kekuasaannya akan menjadi milik ku hari ini."Sambung Hardi.
"'Sepertinya kamu begitu yakin kalau semua itu akan terjadi"Ucap Dira.
"Memang, karena Ayah kamu sudah kalah Dira, KALAH"Ucap Hardi yang kemudian tertawa kenmbali. "Ayah ku boleh saja kalah, tapi tidak dengan ku'Ucap Dira.
"Sudahlah Dira, sebaiknya kamu jangan macam macam. Meskipun kamu datang bersama dengan suami mu, kamu tetap tidak akan bisa mengalahkan aku. Kamu lihat mereka! Mereka semua ada di pihak ku dan kamu tahu mereka siapa? Mereka adalah kelompok kelompok terkemuka di sini dan kamu tidak akan mungkin bisa menang"Ucap Hardi dengan sangat bangga.
"Jangan terlalu percaya diri seperti itu Paman. Dan apakah kamu yakin kalau mereka masih ada di pihak mu?"Tanya Dira sambil tersenyum licik.
"Tentu, tentu saja."Ucap Hardi yang kemudian melihat pada mereka.
Namun saat itu Hardi merasa ada yang berbeda
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?."Tanya Hardi.
"Taun Hardi jujur saja kami sudah tidak berpihak pada mu."Ucap salah satu ketua dari kelompok itu.
"Apa maksud mu?."Tanya Hardi.
"Tuan Hardi, kamu tahu betul kami itu seperti apa. Dan kamu juga tahu bukan kalau kami hanya akan berpihak pada orang yang benar benar memiliki kekuasaan yang besar. Jadi kami memutuskan untuk berada di pihak two dragons." Jelas nya.
"Two dragons? Siapa itu?."Tanya Hardi.
"Mereka adalah Tuan Deon dan juga Nona Dira." jawabnya.
Hardi
Tbenar benar terkejut saat mendengar hal itu Dan yang lebih membuat terkejut adalah saat Dira mengatakan semua perusahaan dan kekayaan Hardi sudah menjadi miliknya dan sudah atas namanya.
Dira pun menunjukkan dokumen dokumen milik Hardi yang hilang itu, dengan data data yang memang sudah di ganti. Semuanya akan mutlak menjadi Dira hanya dengan Hardi menandatangani satu dokumen saja.
"Silahkan Paman tandatangani dokumen ini."Ucap Dira.
"Jangan harap kamu Dira."Ucap Hardi. "Oh jadi Paman tidak mau menandatangani nya, baik."Ucap Dira.
"Sayang, kira kira apa hukumnya jika Paman kesayangan ku ini tidak mau menuruti kemauan ku?."Ucap Dira pada Deon.
"Rio."Panggil Deon.
"lya Tuan."Jawab Rio.
"Tunjukkan padanya apa hukuman yang akan di dapatkannya jika menolak keinginan dari istri ku."Ucap Deon.
"Baik Tuan."Ucap Rio.
"Rio kenapa kamu memanggilnya Tuan?."Tanya Hardi setelah mendengar percakapan antara Rio dan Deon.
"Karena dia Tuan saya yang sesungguhnya."Jawab
Rio yang kemudian tersenyum mengejek pada Hardi.
Setelah itu Rio pun memutar sebuah video di mana di dalam video tersebut memperlihatkan Alex yang sedang berdiri terikat dengan tubuh yang di penuhi luka.
"Papah tolong Alex Pah."Ucap Alex dalam video itu meminta tolong sambil merintih kesakitan.
"Alex."Ucap Hardi dan juga Mario.
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA ANAKKU." Bentak Hardi.
"Jaga bicara anda! Jangan pernah meninggikan suara anda di hadapan saya, karena saya tidak suka itu."Ucap Deon dengan tatapannya yang mematikan dan suara beratnya.
Hardi terdiam saat itu juga. Hardi tidak tahu siapa sebenarnya Deon karena memang Hardi tidak pernah mendengarnya. Tapi jika melihat para ketua kelompok yang memilih berada di pihaknya tanpa berpikir panjang, sudah bisa di pastikan Deon bukan orang sembarangan.
Hardi saat ini benar benar tidak bisa berkutik lagi. Hardi tidak menyangka kalau ternyata batu sandungan terbesarnya adalah Dira bukan Ardian.
"Jadi bagaimana Paman apa bisa tandatangan sekarang juga?."Tanya Dira sambil tersenyum mengejek.
"Tidak, aku tidak akan mau menandatangani itu."Ucap Hardi.
"Oh, jadi Paman lebih memilih melihat anak Paman mati."Ucap Dira.
"Kalau memang itu pilihan Paman maka dengan senang hati aku akan memperlihatkannya."Sambung Dira.
"Maaf boleh saya berbicara Nona Dira?."Tanya salah satu ketua kelompok.
"Silahkan."Ucap Dira.
"Tuan Hardi, sebaiknya anda pikirkan baik baik. Hanya dengan menandatangani dokumen itu anda bisa menyelamatkan anak anda. Tapi kalau tidak anda tidak bisa menyelamatkan salah satunya, entah itu anak atau kekuasaan anda."Ucapnya.
Hardi pun terdiam dan memikirkan semuanya. Karena Hardi tidak bisa melepaskan kekuasaannya begitu saja, tapi Hardi juga tidak bisa melihat anaknya mati di tangan Dira.
Saat Hardi sedang berpikir tiba tiba saja Mario bangun dari duduknya lalu menembakkan peluru pada Dira.
Dor.
Semua orang sangat terkejut dengan apa yang di lihat mereka sekarang. Apalagi Hardi, Hardi benar benar tidak bisa berkata kata lagi.
Mario tersenyum dengan air mata yang menetes dengan pistol yang masih mengarah pada Dira. Dan tak lama Mario pun jatuh.
Hardi syok saat melihat Mario yang tertancap belati di dadanya. Sedangkan Dira masih duduk dengan tenang begitu pula dengan Deon.
Sedangkan yang lainnya masih tidak menyangka saat Mario menembak Dira dan Dira bisa menghindar dengan sangat mudah di tambah lagi pada saat itu Dira langsung melemparkan belati tepat pada Dada Mario.
Dira pun kini bangkit dari duduk lalu berjalan mendekat pada Mario. Dira melihat Mario dengan tatapan tajam.
Dira pun berjongkok di samping Mario.
"Kamu pikir kamu siapa, berani beraninya ingin menghabisi ku."Ucap Dira.
"Kamu pikir kamu bisa melakukan itu dengan mudah. Aku tahu kamu pasti terluka dan aku tahu kalau saat ini hati kamu jauh lebih sakit dari pada bagaian yang tertancap belati ini."Sambung Dira yang kemudian tersenyum.
Lalu dengan tanpa perasaan Dira pun mencabut belati itu dari dada Mario yang menmbuat Mario lebih kesakitan lagi
Dira pun mengelapkan belatinya di jas Mario hingga darah Mario tidak ada yang menempel lagi pada belati Dira.
"Maaf ya Mario sayang, kamu jangan salah aku karena melakukan ini semua. Kalau kamu mau menyalahkan seseorang salah saja Papah kamu itu dan juga diri kamu sendiri yang bodoh ini."Ucap Dira.
"silfi, apakah kamu tidak memiliki perasaan pada ku sedikit pun setelah kita menghabiskan waktu yang cukup lama bersama?."Tanya Mario dengan suara lirih.
"Perasaan? Ya aku memang milik nya."
"Kamu mau tahu perasaan apa itu?."Ucap Dira. .
"lya."Jawab Mario.
"Perasaan ku pada mu itu hanya perasaan kasihan karena kamu terlahir menjadi anak Hardi. Kalau saja kamu bukan anak Hardi, senmua ini tidak akan terjadi pada mu Mario."Ucap Dira yang kemudian langsung berdiri dan berjalan mendekat pada Hardi.
Dira memojokkan Hardi dan memasak Hardi untuk menandatangani dokumen itu. Dengan berat hati
Hardi pun menandatangi nya.
"Selesai sudah."Ucap Dira sambil tersenyum puas.
"Baiklah Paman selamat menikmati."Ucap Dira yang kemudian pergi bersama dengan Deon dan yang lainnya.
