Keluar dari Rumah Sakit

7 0 0
                                        

"Jadi, Dena yang selama ini membiayai seluruh pengobatanku di rumah sakit ini, bahkan juga untuk Rani?" Tanya Rino saat keempat Dea, Dewi, Rio, dan Dika kini menemuinya di rumah sakit.

Hari ini, seminggu telah berlalu. Rino sudah benar-benar sembuh dan keadaannya sudah sangat sehat. Ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter muda yang selama ini merawatnya selama satu tahun itu.

"Iya. Dena yang membiayai ini semua. Karena kamu, kan tahu sendiri, kita tidak sanggup membiayai pengobatanmu dan pengobatan Rani." Ucap Dewi yang saat ini membantu Rino membereskan bawaannya.

"Hanya Dena yang sanggup bantuin. Kamu tahu sendiri, kan Dena itu sekarang seperti apa. Ia sudah menjadi CEO di perusahaan nomor satu di negara ini. Sedangkan dia sendiri juga bersikukuh untuk membiayai pengobatanmu dan pengobatan Rani." Lanjut Dea.

Mendengar pernyataan Dewi dan Dea, Rino hanya terdiam. Rino sama sekali tidak bercerita kepada empat orang temannya itu mengenai Dena yang hampir setiap hari selalu menyempatkan waktu untuk mengunjunginya, di tengah-tengah segala kesibukannya yang sangat penting bagi perusahannya itu. Sedangkan, Rino juga sama sekali tidak dapat menyangka kalau semakin hari, Dena justru berubah menjadi semakin baik. Baik dari karir, perusahaan, bahkan yang lebih penting baik dari sikap maupun sifat.

"Sekarang dimana Dena?" Tanya Rino setelah diam beberapa saat.

"Tadi Dia bilang gak bisa lama-lama di rumah sakit ini, katanya dia ada meeting sama seluruh pemilik saham. Jadi, dia hanya sempat ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusan administrasi kepulanganmu, Rino." Jawab Dika.

"Iya. Tadi kita berpapasan di lobby." Lanjut Rio.

"Jadi dia tidak sempat ke sini lagi, ya? Bahkan untuk menyambut kepulangan ku dari rumah sakit." Batin Rino.

Selama satu tahun, Rino sama sekali tidak menyangka perubahan sikap dan sifat Dena yang begitu signifikan. Ia walaupun secara tidak sadar, pada hari pertama di rumah sakit benar-benar mengingat bagaimana terkejutnya Dena mengetahui dirinya yang begitu babak belur. Dena juga mendapatkan informasi satu Minggu setelah dirinya di rawat di rumah sakit ini, mengenai keadaan Rani.

Rino benar-benar mengingat, awalnya Dena begitu posesif ingin supaya berduaan terus bersama dirinya. Bahkan awalnya perempuan itu enggan untuk membiayai Rani.

Karena itu, keempat temannya ini yang mempunyai solidaritas sangat tinggi benar-benar pusing tujuh keliling dan juga dipenuhi rasa kuatir. Mereka berempat takut kalau dirinya dan Rani tidak akan selamat.

Namun, semenjak sebulan berlalu, entah mengapa Dena berubah. Dena memang menceritakan apa saja yang terjadi di hidupnya. Namun, sosok perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu sama sekali tidak menceritakan mengapa ia sama sekali berubah menjadi lebih dewasa dan tulus, dan sungguh-sungguh seperti ini.

Anehnya, walaupun Dena sudah terang-terangan menunjukkan seluruh kekayaannya untuk mengobati dirinya dan Rani, ia sampai detik ini masih tidak mempunyai hati untuk mencintai Dena.

"Sudah, semua sudah selesai." Ucap Dea sambil memberikan tongkat penyangga kepada Rino.

Rino pun tersadar dari lamunannya, ia lalu menerima tongkat penyangga itu dari Dea.

Rino sengaja memesan tongkat itu, hanya untuk berjaga-jaga apabila dirinya ragu akan tulang-tulang nya yang ternyata masih belum pulih benar.

"Kamu sedari tadi melamun terus, Rino. Kangen sama Rani, ya?" Goda Dewi. Rino pun hanya tersenyum kecil.

"Iya, aku kangen Rani. Besok kita ke RSJ yang kamu maksud, ya?" Pinta Rino yang dijawab anggukan oleh Dewi.

Lantas mereka berlima pun meninggalkan kamar rumah sakit itu.

---

Sebuah mobil sedan mewah berhenti dan terparkir di sebuah tempat parkir tepat di depan lobby rumah sakit tempat Rino dirawat. Sedan hitam yang mempunyai kaca yang berwarna hitam apabila dilihat dari luar itu terus terparkir manis.

Di dalam mobil itu, ada dua orang perempuan cantik yang berpakaian formal terus berada di dalam mobil itu tanpa sama sekali berniat untuk keluar.

Seorang perempuan yang rambutnya tergerai itu duduk di bangku sopir, dan seorang perempuan yang berambut kuncir kuda duduk di sebelah pengemudi.

Sedari tadi, perempuan berkuncir kuda itu terus menatap arah lobby rumah sakit. Sedangkan perempuan di sebelahnya hanya bisa menatap lekat-lekat bos yang juga adalah sahabatnya semenjak SMA itu.

"Dena, kamu yakin gak mau ngunjungin Rino hari ini? Hari ini hari terakhir dia di rumah sakit, lho." Ucap perempuan yang bertugas sebagai asistennya Dena itu.

"Nggak, Santi. Aku di sini saja. Lagipula, dia sudah ada Dea, Dewi, Rio, dan Dika. Dia pasti sudah tidak membutuhkanku." Jawab Dena sambil tersenyum kecil.

"Sedangkan urusan kita di rumah sakit ini sudah selesai, Dena. Kamu sudah menyelesaikan urusan administrasi di rumah sakit ini. Lantas, ayo kita pergi dari sini, ya. Jangan sampai para pemegang saham itu menunggu kita." Desak Santi.

Santi sangat tahu kebiasaan Dena beberapa bulan terakhir ini. Dena yang adalah sosok yang memberikannya pekerjaan ini, dengan gaji yang dapat tergolong besar sehingga mampu menopang seluruh kebutuhan keluarga Santi.

Santi yang kini sedang terjebak dalam keadaan sandwich generation. Ketika ia saat ini mempunyai dua orang adik yang belum mampu berdiri dan mencari nafkah sendiri, sedangkan kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia sudah tidak mampu produktif kembali.

Untungnya. Dena yang kini sudah berubah menjadi jauh lebih baik daripada sewaktu masih SMA dulu, membantu perekonomian keluarga Santi dengan merekrut Santi sebagai asistennya.

Dengan rasa terimakasihnya itu, maka jangan heran kalau Santi bisa dikatakan sebagai asisten yang begitu royal dan dapat diandalkan oleh Dena. Apalagi, Santi juga berusaha untuk tidak bermain curang atau bermain kotor di belakang Dena. Ia berusaha selalu bekerja dengan sangat baik, tanpa mempunyai maksud buruk kepada perusahaan tempat temannya itu memimpin.

Beberapa waktu berlalu. Tatapan Dena berubah menjadi berbinar-binar ketika kelima orang yang sedari tadi dinantikannya sudah keluar dari lobby rumah sakit.

Dena melihat, Rino yang kini memegang tongkat penyangga itu berusaha berjalan normal, sedangkan Dewi terus memapah tubuh Rino supaya pria yang adalah suami Dena itu bisa berhati-hati saat berjalan.

Sedangkan Rio yang berjalan di sebelah Dika tengah memegang sebuah tas besar yang kemungkinan besar adalah tas yang berisi barang-barang Rino selama di rumah sakit.

Tatapan Dena semakin membinar ketika ia akhirnya melihat Rino dapat tersenyum lebar. Dena merasakan hatinya sangat bahagia dan hangat. Karena setelah satu tahun ia tidak pernah melihat Rino tersenyum, dan tatapannya penuh dengan kekosongan itu, kini Rino dapat tersenyum lebar dan lepas.

Tanpa sadar, mata Dena berkaca-kaca. Ia sungguh sangat merindukan Rino yang kini sudah dapat terbebas dari gips yang selalu membelenggu dirinya selama satu tahun itu.

Santi tahu, Dena dapat menatap seperti itu karena kelima orang itu. Rino dan teman-temannya. Melihat wajah Dena yang akhirnya bisa tersenyum hangat setelah satu tahun hanya bisa mengeluarkan senyum yang dipaksakan, Santi merasa sangat senang.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang