"Tuh. Usia kandungan kamu baru tiga Minggu, Rani. Jadi sudah pasti kalau anak yang kamu kandung itu anakku." Ucap Lion ketika mereka berdua sudah keluar dari ruangan dokter bidan itu.
"Tapi darimana kamu tahu?" Tanya Rani yang masih mengelusi perutnya.
"Rani." Lion pun menghela nafas. "Kamu masih ingat? Kamu benar-benar pindah ke apartemenku semenjak dua bulan yang lalu. Selama itu kita sering berhubungan. Lagipula, kamu juga tidak berhubungan dengan pria manapun, bukan selain aku?"
"Iya juga, ya. Ya sudah, berarti anak yang kukandung ini anakmu." Rani cengengesan, sedangkan Lion menggelengkan kepalanya. Lantas tidak lama kemudian ponsel Lion bergetar dan ia memeriksa handphonenya.
"Rani. Papa barusan kirim pesan ke aku." Lion memperlihatkan layar handphonenya ke arah Rani. Rani memerhatikan secara seksama isi pesan dari papanya itu.
"Jadi mulai besok Jordy tinggal di apartemen kita, ya?" Tanya Rani.
"Jordy itu siapa, Rani? Kok papa memercayakan dia untuk jadi supir kamu selama kamu dalam proses persalinan?" Tanya Lion yang berusaha menutupi rasa cemburunya.
"Oh itu. Jordy itu sebenarnya mantan kakak kelasmu. Dia itu teman sekelas ku saat aku masih kelas 2 SMA. Dia juga adalah salah satu orang papa yang sebagai pengedar narkoba. Papa percaya sama Jordy karena Jordy itu bukan anak yang neko-neko. Dan sekarang papa angkat Jordy jadi orang kepercayaannya." Jelas Rani. Lion lantas mengangguk mengerti.
---
Sambungan video call itu diputuskan Lion ketika proses pemeriksaan USG itu sudah selesai. Ari pun kini duduk di depan meja ayahnya.
Pria dewasa itu memerhatikan Ari yang kini sedang menatap wajahnya. Wajah ceria dari putra tirinya itu mendadak hilang seiring selesainya komunikasi lewat jarak jauh itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Ari? Bukannya video call itu sudah selesai? Kenapa kamu tidak lanjutkan pekerjaanmu?" Tanya ayahnya itu yang melihat Ari sedang berada dalam pikirannya.
"Pa." Bos mafia itu menunggu lanjutan perkataan Ari. "Rino kenapa bisa sebodoh itu?"
"Maksudmu?"
"Aku sudah mencari tahu sebelumnya. Rino ternyata masih tidak bisa melupakan Rani meskipun ia kini sudah tinggal bersama Dena." Ucap Ari.
"Wajar, kalau Rino tidak bisa melupakan Rani. Rani itu adalah perempuan kesayangannya." Bos mafia itu mencoba berpikir tenang dan logis.
"Walaupun itu menyakiti hatinya? Namun ia bisa bertahan? Padahal, kalau pria itu melakukan tindakan demikian, jelas-jelas ia menyadari kalau Rani bahagia bukan dengan dirinya. Sedangkan ia sedari dulu berharap supaya Rani bahagia dengan dirinya." Ucap Ari lagi.
"Coba jelaskan maksudmu, Ari. Papa masih belum mengerti." Ucap bos mafia itu dengan tenang.
Ari pun menghela nafas sebentar. Ia lalu mencondongkan badannya ke arah papanya.
"Pa. Selama ini, semenjak ia tinggal dengan Dena, Rino selalu melacak ponsel Rani. Sehingga apapun yang terjadi pada handphone Rani, apapun aktivitas Rani dengan handphonenya, Rino tahu itu. Sedangkan tadi, jelas-jelas kita melakukan video call dengan menggunakan handphone Rani. Di sana, Rani memperlihatkan pada kita semua kalau Rani sangat bahagia semenjak tinggal bersama dengan Lion, bahkan Rani juga memamerkan kalau dirinya kini tengah mengandung." Jelas Ari.
"Iya, pa. Kita semua. Termasuk Rino. Apakah papa menjadi memikirkan perasaan Rino? Setelah pria itu tahu kabar ini?" Tanya Ari lagi.
Bos mafia itu matanya mengawang. Tatapannya berubah menjadi sendu. Bibirnya terukir senyum kecil. Ia pun menatap Ari yang sepertinya belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya.
"Ari. Pernahkah kamu merasakan mencintai seseorang? Mencintai seseorang dengan begitu tulus dan sungguh-sungguh? Dan selalu berharap supaya orang yang kamu cintai itu bahagia, dan selalu bersamamu?" Tanya bos mafia itu.
"Aku mencintai seseorang, pa. Tapi mungkin belum sebesar itu." Jawab Ari.
"Santi, bukan orangnya? Kamu sendiri bahkan selalu senang apabila asistennya Dena itu datang kemari. Sikap kamu yang biasanya dingin, berubah menjadi ramah ketika berada didekatnya. Sama seperti sikapmu kepada Rani. Ah, tidak. Sikapmu kepada Santi jauh lebih ramah dan penuh cinta." Ari wajahnya berubah menjadi bersemu ketika ayahnya ternyata tahu kalau dirinya tengah menyukai seseorang.
"Tapi Ari. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Santi? Apakah kamu bersedia melakukan hal bodoh untuk menyelamatkan nyawa perempuan itu?" Pertanyaan ayahnya membuat semu di wajahnya memudar. Ari sama sekali belum tahu jawabannya.
"Aku belum tahu, pa. Apakah aku akan melakukan pengorbanan yang besar apabila Santi dalam keadaan buruk."
Lantas kedua pria itu terdiam. Beberapa saat kemudian bos mafia itu kembali mengangkat bicara.
"Apakah kamu tahu kisah pengorbanan Don ke Nina? Saat Don berusaha menerjang abu vulkanik demi menyelamatkan Nina yang saat itu terjebak di dalam rumahnya?" Tanya pria berambut putih itu.
"Ah, itu. Aku tahu pa."
"Bahkan, kamu tahu bagaimana kesungguhan Don ketika ia justru tetap berusaha bertahan dan setia di samping Nina ketika perempuan itu sampai mengalami gangguan kejiwaan karena kehilangan anak pertamanya. Di saat itu, Don terlihat begitu sungguh-sungguh mencintai Nina."
"Padahal, saat itu Don bisa saja lebih memilih menyelamatkan nyawanya dengan menghindari kejadian abu vulkanik itu. Dia juga bisa saja meninggalkan Nina saat perempuan itu sedang dalam masa terpuruknya. Dia bisa saja sedari dulu mencari wanita yang fisiknya, dan otaknya jauh lebih sempurna daripada istrinya saat ini itu. Tapi apa? Dia justru lebih memilih untuk tetap setia berada disamping Nina di saat-saat terpuruknya, berusaha keras mencari Nina ketika perempuan itu menghilang dan keluarganya sudah menyerah. Dan dia rela tinggal di desa dan menempuh jarak yang begitu jauh ke kantornya saat itu, karena ia tahu Nina jauh lebih bahagia ketika ia tinggal di desa itu. Di dalam pondok peninggalan mantan suaminya."
"Itulah yang disebut sungguh-sungguh cinta, Ari. Bahkan rela melakukan hal bodoh dan mengancam nyawa, demi yang dikasihinya." Tutup ayahnya Ari itu.
Ari terdiam lalu tersenyum. Walaupun ia masih belum tahu bagaimana perasaan sesungguhnya terhadap Santi, namun dari cerita ayahnya, ia tahu bagaimana sikap orang yang sungguh-sungguh mencintai seseorang.
"Pa. Terimakasih atas ceritanya. Aku ijin permisi dulu, ya. Melanjutkan pekerjaanku." Ayahnya itu mengangguk ketika Ari meminta ijin. Lalu putra itu pun pergi meninggalkan ruangan kerja milik bos mafia itu.
Suara pintu tertutup menandakan Ari telah pergi meninggalkan ruangan itu. Pria paruh baya itu kini kembali melamun akan arti dari kesungguhan cinta itu.
Sesungguhnya, kesungguhan cinta itu bukan sekedar cerita dari kisah cinta Don kepada Nina. Namun ia sendiri juga pernah mengalaminya. Ketika ia belum bertemu dengan mendiang istrinya itu.
Pria itu lalu membuka salah satu laci di meja kerjanya. Ia mengambil sebuah surat yang ia simpan selama hampir dua puluh tahun itu.
Senyumnya sendu membaca surat itu. Karena ia menyadari, bahwa penulis dari surat itu sampai kapanpun memang tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Karena dirinya memang bukanlah penyuka sesama jenis.
"Dani. Sampai detik ini aku masih tidak mencintaimu. Syukurlah kamu ternyata tidak mengharapkan cintaku." Batin pria itu ketika melihat setiap lekuk dari tulisan tangan di atas surat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomanceBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
