Pagi buta.
Nina terbangun dari tidurnya hendak untuk bersiap-siap membereskan rumah. Namun ketika ia baru saja membuka matanya, sesosok pria bertelanjang bulat tengah duduk membelakanginya.
Pria seksi berkulit sawo matang itu adalah suaminya. Nina bingung baru kali ini Don terbangun lebih awal daripadanya karena biasanya suaminya itu bangun satu jam setelah dirinya bangun tidur.
Nina lalu bergeser dan duduk di belakang Don. ia benar-benar begitu bingung dan penasaran mengapa Don kali ini begitu diam. Tidak seperti biasa yang tengilnya keterlaluan itu.
Lantas, Nina pun memeluk manja suaminya dari belakang. Ia menopangkan dagunya di bahu Don sambil matanya memerhatikan sebuah pesan masuk yang ada di handphone suaminya itu.
"Don, papa sudah tidak ada." Tulis pesan yang tertera dengan sangat jelas dari layar handphone Don. Dan yang mengirimkan pesan itu adalah seorang pria yang bernama Ari.
"Don." Ucap Nina lembut.
Don pun tersadar dari lamunannya setelah mendengar panggilan dari istrinya itu. Kepalanya ia dongakkan ke arah suara dan ia melihat wajah tembam Nina kini tengah bertengger di bahunya.
Don lalu meletakkan handphonenya di sebelahnya, lalu salah satu tangannya mengelusi kepala Nina.
"Papa? Papanya Ari? Ari itu siapa?" Tanya Nina yang benar-benar tidak tahu.
"Sayang. Bisakah kamu duduk di sampingku. Ada yang ingin ku ceritakan." Pinta Don dengan suaranya yang lirih.
Lantas Nina pun menuruti permintaan Don. Dan beberapa saat kemudian perempuan berbadan gempal itu duduk di sebelah Don.
"Ari itu temanku. Orang yang semalam melakukan acara resepsi pernikahan. Aku kenal ia karena misi yang mengharuskan diriku tinggal beberapa Minggu di kota saat itu." Ucap Don.
Nina menyimak perkataan suaminya itu. Walaupun ia sangat yakin tidak akan mengerti apa yang akan diceritakan Don padanya.
"Walaupun Ari yang tidak menyadari dan mengetahui hal ini karena ini adalah rahasia bagiku dan bapak, namun aku dulunya pernah melakukan sebuah kesalahan kepadanya."
"Saat itu, aku masih berpikiran yang penting bekerja. Aku sama sekali tidak memikirkan para penjahat yang kutangkap, karena aku lebih memihak warga sipil daripada para orang-orang di dunia bawah itu." Kali ini Don menggenggam tangan Nina dengan begitu erat.
"Aku sama sekali tidak memerhatikan mana yang sebenarnya orang jahat, dan mana yang baik. Bagiku saat itu perintah dari pemerintah adalah hal yang harus kulakukan. Orang-orang di dunia bawah yang menurut orang-orang sipil begitu meresahkan, harus kulenyapkan. Atau tidak kuhancurkan bisnisnya."
"Padahal, aku sama sekali tidak mengetahui dan berusaha mencari tahu mengapa mereka semua melakukan kejahatan seperti itu. Karena para pemerintah telah mencuci otakku kalau warga sipil itu semuanya adalah orang baik, dan mereka yang bekerja di bawah tanah adalah orang jahat sepenuhnya."
"Hingga aku bertemu dengan bapak, dan seseorang pria yang bernama Dani. Dani yang awalnya satu tim denganku justru menjadi pembelot setelah mengetahui kalau targetku adalah bapak. Sedangkan bapak adalah bos mafia yang terkenal sangat jahat dan keji."
"Namun, karena Dani menjadi pembelot, dan bapak adalah bos mafia, aku menganggap mereka berdua adalah orang jahat. Dan mereka berdua harus kumusnahkan. Namun misiku untuk menghancurkan bapak itu gagal, karena Dani selalu berusaha melindungi bapak. Sehingga aku pun akhirnya justru ditugaskan untuk membunuh Dani. Dan aku berhasil."
Tangan Don pun bergetar. Genggaman tangan pria itu semakin erat. Bahu Don bergetar. Nina yang penasaran melihat Don mulai berusaha menahan air matanya.
"Setelah aku mencari tahu, ternyata tidak semua orang yang berada di dunia bawah itu adalah orang jahat, sayang. Ada yang memang menginginkan kekayaan lebih, namun ada juga yang berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan memasuki dunia bawah tanah sebagai satu-satunya jalan."
"Bapak adalah salah satu orang yang tidak beruntung itu. Bapak terpaksa harus terjerumus ke dunia bawah karena itu adalah satu-satunya jalan supaya ia bisa makan. Tidak ada seorangpun yang menerimanya karena dia tidak mempunyai masa depan dan penampilannya sama sekali tidak menarik."
"Bahkan, sewaktu masih muda, bapak selalu dikucilkan oleh orang-orang di satu sekolahnya. Mereka semua begitu jahat kepada bapak sehingga apapun yang bapak inginkan dan butuhkan, walaupun sudah berusaha berbagai cara yang positif telah ia tempuh, namun dengan cara sangat liciknya, mereka semua selalu merebut segala sesuatu yang membuat bapak bahagia. Bahkan satu-satunya yang mengerti bapak, yaitu anjing liar peliharaannya, justru dijadikan bahan makanan bagi mereka." Don kini menghapus kasar air matanya.
"Sedangkan Dani. Saat itu Dani yang memang populer di sekolahnya sama sekali mengacuhkan bapak. Ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan bapak karena baginya saat itu, urusan pendidikan dan organisasi jauh lebih penting daripada memikirkan perasaan bapak. Bahkan hanya untuk sekedar memberikan perhatian kecil ke bapak."
"Setelah mengetahui dan menyaksikan sendiri satu-satunya hal yang paling berharga telah dikonsumsi oleh orang-orang sipil yang jahat itu. Malam itu bapak hanya bisa menangisi tulang belulang anjing liar itu. Dan besok paginya, bapak yang sebenarnya sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan bernaung lagi sudah tidak muncul di sekolah."
"Saat itu, bapak benar-benar telah menghilang bak ditelan bumi. Namun satu-satunya yang menyadari hilangnya bapak hanyalah Dani. Dani terus mencari keberadaan bapak, hingga akhirnya dirinya menyadari kalau ia selama ini sebenarnya telah menyimpan rasa ke bapak, justru ketika ia telah kehilangan pria terkasihnya itu."
Don pun terdiam beberapa saat. Ia menangis sesegukan sambil tangannya tetap menggenggam erat tangan Nina.
Setelah tangisannya reda, Don kembali melanjutkan ceritanya.
"Namun, semua itu telah berlalu. Masa-masa remaja saat itu semua warga sipil itu memang jahat. Namun ketika beranjak dewasa, orang-orang satu sekolah dengan bapak itu berubah."
"Mereka semua menyadari betapa jahatnya mereka kepada bapak saat itu. Mereka berusaha membantu Dani untuk mempertahankan bisnis bapak entah bagaimana caranya."
"Namun, bapak yang sudah dipenuhi dengan betapa kelamnya kehidupan sama sekali tidak mau menerima itu. Bapak marah, sangat marah karena mereka yang warga sipil membantunya itu, justru mereka semua yang dulu sangat jahat kepada bapak. Bahkan, ia jauh lebih marah kepada Dani karena Dani yang selalu pasang badan untuk melindungi orang-orang sipil itu."
"Setiap hari, bahkan setiap saat Dani selalu mendapatkan kekerasan fisik, dan kekerasan psikologis dari bapak. Bapak tidak hanya menyiksa tubuh Dani walaupun Dani tetap bertahan dan tidak jatuh tumbang. Bahkan Dani yang jelas-jelas sangat mencintai bapak setiap hari harus merasakan sakit hati karena secara terang-terangan bapak selalu menghabiskan hari dengan berbagai wanita pelacur di depan Dani. Dan mengotori ranjang bapak itu dengan peluhan bercinta."
"Hingga akhirnya Dani pun tiada, Nina. Setelah ia berhasil melindungi bisnis bapak."
"Don." Ucap lembut Nina. "Kamu sudah tahu, kan kalau bapak itu sebenarnya bukan pria jahat. Ia adalah korban keegoisan. Dan kamu yang saat itu bekerja untuk pemerintahan menutup mata dengan itu?" Don mengangguk.
"Kamu sudah minta maaf dengan bapak?"
"Sudah, Nina. Sudah. Walaupun aku tidak tahu bapak sebenarnya mengikhlaskan apa yang telah terjadi atau tidak."
"Sudah, Don. Setidaknya kamu sudah berusaha menebus kesalahanmu. Biarkan bapak beristirahat dengan tenang di sana."
Lantas Don pun memeluk erat Nina. Kepala pria itu disembunyikan di dada Nina dan saat itu Don benar-benar meluapkan tangisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomanceBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
