Sebuah hall indoor di dalam sebuah gedung mewah. Hall tersebut dihiasi oleh berbagai dekorasi bunga-bungaan yang begitu indah.
Di depannya, terlihat berbagai makanan yang telah disediakan. Tidak lupa ujung sudut ruangan yang menjadi pusat perhatian itu, terdapat altar tempat para pengantin dan kedua orangtua pengantin itu duduk.
Acara prosesi pernikahan Dika juga Dewi berlangsung dengan begitu indah. Ada banyak sekali tamu undangan yang menghadiri acara resepsi pernikahan itu.
Dika dan Dewi yang adalah raja dan ratu di acara tersebut dengan gagah dan anggunnya memasuki ruangan itu dan berjalan menempati tempat duduk mereka yang telah disediakan.
Sedangkan para tamu undangan yang telah berdiri berjejeran di bagian kiri dan kanan jalanan yang akan dilewati oleh kedua mempelai itu menatap kagum oleh kedua orang yang berjalan beriringan itu.
Walaupun banyak tamu yang begitu antusias dengan acara pernikahan Dika dan Dewi, namun di sudut lain, dengan jarak yang lumayan jauh, seseorang menatap upacara pernikahan itu dengan senyuman kecil dan bahagia.
Seseorang berkacamata besar, dengan gaun hitam yang begitu elegan dan tidak banyak perhiasan. Perempuan seusia Dika dan Dewi itu hanya diam. Tidak ada seorangpun yang detik itu berdiri di sampingnya.
Perempuan itu menatap kedua mempelai yang tengah berbahagia itu. Terutama teruntuk Dika, ia sama sekali tidak mau merusak acara yang paling membahagiakan ini, juga yang paling menyakiti hatinya ini.
Perempuan sendu bernama Dara itu sesungguhnya merasakan sangat pedih, ketika sosok yang menjadi mempelai Dika itu adalah Dewi, bukan dirinya. Namun, ia sadar diri. Karena bagaimanapun ia tidak akan pernah mampu mengungkapkan seluruh perasaannya kepada Dika. Berbeda dengan Dena yang mampu merebut Rino dengan cara yang sangat jahat saat itu. Dan Santi yang sebenarnya memang tidak punya perasaan dengan Rio.
Dara semakin meremas erat tas pesta yang dibawanya. Hatinya semakin sakit melihat Dika yang berciuman dengan Dewi dengan sangat romantis dan erat. Bahkan mereka berdua tidak malu-malu melakukan hal pembuktian cinta itu di depan umum.
Sesungguhnya, Dara benar-benar sudah tidak kuat untuk tetap berada di ruangan ini. Namun, ia tetap berusaha bertahan lebih lama di ruangan ini. Setidaknya sampai ia mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua.
Karena bagaimanapun, Dika dan Dewi memang selama ini tidak pernah mengusik keadaan dirinya. Namun memang dirinya dan hatinya yang telah salah. Karena telah mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih.
"Dara! Ayo ke sini!" Seru Santi ketika acara upacara pernikahan itu telah selesai.
Di sana, Dara melihat para rombongan tamu undangan berdiri mengantri untuk mengucapkan selamat kepada para mempelai. Di sana juga, Santi yang kini berdiri bersama Dena memanggil Dara supaya bisa mengucapkan salam secara bersamaan.
Dara dengan senyum kecilnya menghampiri Dena dan Santi, ia pun berdiri di antara kedua temannya itu. Sedangkan tanpa Santi sadari, seseorang pria telah menatapnya dengan tatapan penasaran dan terpesona.
"Santi, Dena. Maaf ya aku kayaknya gak bisa lama-lama di acara ini. Setelah aku ucapkan selamat ke Dika dan Dewi, aku langsung pulang, ya." Pinta Dara dengan senyum kecilnya.
"Lho? Kamu gak mau makan malam dulu, di sini?" Dara menggelengkan kepalanya dengan anggunnya, menjawab pertanyaan Santi.
"Kamu sakit, ya Dara? Nanti biar aku antarkan pulang, ya?" Dena yang mulai kuatir dengan keadaan Dara menawarkan tumpangannya. Namun lagi-lagi Dara menggeleng.
"Aku gapapa, kok. Kalian gak usah kuatir. Aku cuman kepikiran sama tugas-tugas mahasiswa ku yang belum kuperiksa." Dara memberikan alasannya dengan kekehannya.
Padahal sebenarnya Dara sudah sama sekali tidak tahan dengan keadaannya saat ini. Ia benar-benar sedang sangat ingin pergi meninggalkan tempat ini.
---
"Itu siapa?" Tanya Ari yang kini tengah berdiri dengan Lion. Ari melihat seorang perempuan yang berdiri berdua dengan Dena.
"Itu Santi. Waktu SMA Santi memang sahabatan dengan Dena. Dan sekarang dia menjadi asistennya Dena." Lion menjawab, lalu menyesap sedikit minuman yang kini dipegangnya.
"Memangnya kenapa, kak?"
"Aku sering melihatnya, ketika papa sedang mengadakan pertemuan dengan Dena. Pantas saja dia selalu dekat dengan Dena, ya." Jawaban Ari disertai anggukan lagi oleh Lion.
"Dia masih belum punya pasangan, kok. Selain itu, Santi kini sudah terlihat semakin cantik."
"Aku tidak mau melangkahimu. Kalau kamu memang menginginkan Santi, kuberikan ia padamu." Padahal saat ini wajah Ari tengah bersemu merah ketika melihat sosok perempuan yang sedari tadi ditatapnya itu tengah bercengkrama dengan riangnya dengan Dena.
"Aku masih setia dengan istriku, kak. Walaupun kini dia tengah bersama dengan pria impiannya."
Lion menyadari tatapan Ari ke arah Santi. Ia pun tersenyum sambil melihat sosok perempuan lain yang saat ini tengah berdiri sambil memakan sesuatu di piringnya. Perempuan yang adalah istrinya itu, yang saat ini tengah dikerumuni oleh Rino, Dewi, Dika, Rio, dan Dea.
Lion pun menaruh gelasnya yang telah ia tengguk sampai habis. Lalu ia menatap lagi cincin pernikahannya yang telah menghias manis di jari manisnya.
---
"Kamu ambil makanan itu banyak sekali Rani." Celetuk Rino ketika pria itu melihat Rani mengambil sebuah makanan dengan porsi yang begitu banyak di piringnya.
Rani yang ketahuan makan banyak itu hanya bisa tersipu malu. Namun ia tidak dapat mengungkiri kalau makanan yang diambilnya dengan porsi banyak itu memang menurut lidahnya sangat enak.
Sedangkan Dea, Dewi, Dika dan Rio terkekeh melihat kelakuan Rani. Dan Rino pun penasaran dengan bagaimana rasa makanan kesukaan Rani itu.
"Aku cicipi, ya. Siapa tahu aku bisa memasakkan ini untukmu." Tanpa persetujuan oleh Rani, Rino langsung mengambil sendok Rani, dan mencicipi makanan itu. Ia lalu berpikir sejenak, dan mengeluarkan ponselnya. Ia tengah mencatat bumbu apa saja yang digunakan, dan bagaimana cara memasaknya. Dengan mengandalkan Indra pengecapannya itu.
"Kamu serius mau masakin ini? Untukku?" Tanya Rani yang sambil meraih kembali sendoknya.
"Apa, sih yang enggak buat kamu?" Rino lalu memberikan sendok itu ke Rani.
"Untung semenjak sudah nikah ini, aku sama Dewi sudah tidak tinggal satu flat lagi sama kalian." Sindir Dika.
---
Saat ini, Dara sudah sampai di kamarnya. Dara yang sudah menginjakkan kakinya di lantai kamarnya melepaskan sepatu heels nya dan melemparkannya pelan. Lalu ia juga melempar tas pestanya di atas tempat tidurnya.
Dara dengan wajah datarnya duduk di bangku meja rias. Ia membersihkan wajahnya dari make up yang menempel itu. Sebelumnya ia melepaskan kacamatanya.
Tatapannya kosong. Hatinya kosong. Ia merasa hidupnya di sini sudah percuma. Dan ia sudah tidak mengharapkan siapapun lagi.
Saat ini, ia benar-benar ingin menghilang selama-lamanya.
Dara lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya. Matanya sembab karena selama membersihkan wajahnya, ia terus menangis.
"Untuk kali ini. Kali ini saja Dara. Sebelum kamu menghilang. Berbuatlah sesuatu." Batin Dara berteriak sekencang-kencangnya ketika menyadari hati dan otaknya kosong.
Lantas otaknya pun bekerja. Ia masih mengingat impian sesungguhnya dari Rani. Ia ingin mencoba mewujudkan impian perempuan itu. Sebagai percobaan dan kebaikan hatinya untuk terakhir kalinya di tempat ini, di lingkungan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomantizmBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
