Gagal Dapatkan Buruan

8 0 0
                                        

Di sebuah restoran, Ari yang sedang bersama Dena, Santi dan Rino tengah makan siang bersama.

Di tengah canda tawa dan saling bercengkrama itu, anak dari bos mafia itu melihat seseorang berpakaian serba hitam itu sedari tadi memandangi mereka.

Tatapan pria misterius itu mengepal erat, sedangkan di sudut lain, Ari juga melihat pria yang menjadi target dirinya dan Don itu terus mengawasi Dena dan Santi.

Namun, Rino, Dena, dan Santi justru sama sekali tidak menyadari tatapan itu.

Ari tersenyum penuh kemenangan.

"Hei semuanya." Ari berusaha berbaur dengan celotehan mereka bertiga yang sama sekali tidak dirinya mengerti.

"Kenapa, RI? Bete karena ngerasa dicuekin?" Ledek Santi sambil mencolek lengan Ari.

"Bukan. Bukan itu. Tapi sedari tadi kita diperhatikan oleh bos itu." Ucap Ari sambil memberikan petunjuk arah dari gerakan kepalanya. Ketiga orang yang satu meja dengan pria itu menoleh dan mereka melihat pria gembul itu sedari tadi mengawasi mereka. Dan mereka juga melihat sosok pria misterius berpakaian serba hitam.

"Tapi jangan takut. Selama ada aku dan Rino, mereka tidak akan berani mendekat sedikitpun." Lanjut Ari santai yang ditutup dengan tawa.

"Oh, iya RI? Don bagaimana kabarnya?" Tanya Dena.

"Don? Aman-aman saja. Nanti sore dia aku jemput, kok." Jawab Ari santai.

"Memangnya kamu tahu dia di mana?" Tanya Rino. Ari mengangguk sambil mengunyah makanannya.

Lantas Ari selesai mengunyah dan langsung menatap Rino.

"Don sekarang masih ada di rumah investor penipu itu. Tapi tugas dia untuk mengumpulkan data sudah selesai. Dan soal pelecehan seksual yang selalu didapatnya itu, siang ini dia lagi libur. Karena pelakunya lagi ngawasin kita." Terang Ari.

"Tadi pagi Don ada bilang juga kalau nanti sore kemungkinan para penguntit predator itu akan pulang. Jadi palingan nanti malam aku dan anak buah papa akan menangkap mereka semua."

"Tapi kamu sampai sekarang ini masih berkomunikasi dengan Don?" Tanya Santi.

"Tidak, sayang. Aku tadi pagi sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Don. Sudah putus komunikasi karena alat komunikasinya sudah dirusak. Toh sekarang Don sudah tidak ada urusan lagi di tempat itu." Ucap Ari santai.

"Lalu bagaimana caranya kita tahu keadaan Don yang sekarang?" Tanya Dena yang sudah mulai kuatir.

"Itu tidak penting, Dena. Palingan dia sekarang lagi istirahat." Ucap Ari menenangkan Dena. "Atau kalau kamu masih kuatir, besok pagi pria itu kusuruh datang ke kantor. Bagaimana?" Ucap Ari yang sebenarnya sudah mulai geregatan akan Dena. Namun ia masih menjaga sikap.

"Iya, iya. Aku percaya. Kamu janji, ya bawa Don besok pagi ke kantor." Dena memastikan perkataan Ari.

"Aku janji." Tutup Ari.

---

BRAK

Suara pintu kamar dibuka sekeras mungkin. Don yang kini tengah tidur siang langsung terbangun.

Don melihat waktu sudah sore, pertanda dari pria yang pemilik kamar itu telah sampai di kamarnya.

Don melihat jam yang berada di dinding, masih pukul setengah tiga sore. Lantas Don pun kembali melihat wajah pria yang baru datang itu yang sedang dipenuhi amarah.

"Kenapa, bos?" Tanya Don yang pura-pura bingung dengan ekspresi wajah pria yang sedang dipenuhi oleh amarah itu.

Pria yang sudah menutup dan mengunci kamarnya itu berjalan menuju koleksi alat Penyiksaan elektrik nya itu.  Dan lalu mengambil salah satu benda tidak lazim itu.

Don tanpa rasa takut akan benda yang sebentar lagi akan menyiksa bagian pencernaannya itu mulai beranjak dari tempat tidurnya. Namun ditahan oleh pria yang sudah memegang alat penyetrum itu.

"Siapa yang menyuruhmu beranjak dari tempat tidur itu?" Tanya pria itu yang kini sedang berjalan menuju ranjang bagian Don terbaring.

Lantas Don pun mengurungkan niatnya. Ia kembali telentang di atas tempat tidur sambil matanya mengawasi pria yang berjalan mendekatinya.

"Ah!" Pekik Don ketika alat penyetrum itu sedikit menempel di bagian perut Don.

"Aku gagal mendapatkan salah satu dari perempuan itu." Ucap pria itu sambil terus menyetrum area torso Don. Don terus menggelinjang.

"Dan kamu. Kamu harus menuntaskan nafsuku!" Geram pria itu sambil menusuk area pangkal paha Don dengan alat penyetrum yang masih menyala itu.

"Aaahhh!!!" Erang Don yang merasa tubuhnya kini mulai tersetrum.

Don terengah-engah melihat pria yang kini penuh amarah itu. Don melihat tatapan pria itu yang tadinya emosi kini dipenuhi nafsu liar. Don mengerti apa yang saat ini diinginkan oleh pria mesum itu.

"Sekarang, tunjukkan lubang anus murahanmu itu, selangkangan!" Perintah pria itu.

Don tanpa merasa takut membuka lebar-lebar kedua kakinya di atas dan menahannya dengan kedua tangannya. Sedangkan kini dihadapan pria mesum itu, lubang anus Don tengah terpampang dengan sangat sempurna.

Saliva pria yang sedari tadi memegang alat penyetrum itu kini menetes dari arah mulutnya. Lantas pria itu dengan tangannya yang lain menghapus air liur yang masih berceceran di ujung mulutnya itu.

Tatapan pria itu begitu lapar melihat lubang anus yang selama tiga hari ini menjadi mainannya itu. Dan tanpa aba-aba, ujung alat penyetrum yang berbentuk lonjong itu langsung masuk secara kasar ke dalam lubang anus Don.

"Aaahhhh!!!!" Erang Don sekencang-kencangnya, matanya terpejam dan wajahnya terlihat sangat kesakitan karena alat penyetrum itu kini tengah menyetrum dinding bagian dalam lubang anus Don.

Namun alih-alih kasihan, melihat tubuh Don yang tengah mengejang karena disetrum itu, dan wajah Don yang memerah karena menahan rasa sakit, juga erangan dan ekspresi wajah kesakitan Don itu justru membuat pria yang alat privasinya itu tengah disiksa secara brutal itu terlihat sangat seksi daripada biasanya.

Melihat itu, kini bos tersebut melupakan rasa kesalnya. Ia semakin gemas melihat Don yang tersiksa seperti itu dan kini menyiksa area privasi Don itu dengan semakin brutal.

---

Beberapa jam berlalu. Pria itu sudah puas menyiksa lubang anus Don dengan beberapa alat Penyiksaan elektrik koleksinya yang tidak lazim itu. Don melihat pria itu dengan mata sayunya dan kini lubang anus yang sedari tadi terpampang jelas di hadapan investor penipu itu mengeluarkan asap.

Pria itu sudah sangat puas menyiksa lubang anus Don. Dia lalu meletakkan alat Penyiksaan yang terakhir dipegangnya itu ke tempat pajangan koleksinya itu.

Setelah itu, pria itu kembali duduk di sebelah Don yang masih mempertahankan posisinya itu walaupun terasa sangat lelah dan lemas.

"Aku mungkin gagal mendapatkan tubuh Dena atau Santi. Tapi tak apa." Lalu pria itu menggosokkan tangannya di selangkangan Don yang masih menganga lebar itu. "Selama Selangkangan ini hanya aku yang bisa memainkan dan menyiksanya." Ucap pria itu lagi sambil menepuk-nepuk selangkangan Don. Don merintih kesakitan.

DUK DUK DUK

"Bos, gawat! Kita sudah terkepung!" Sahut seorang anak buah itu berteriak di luar pintu kamar bos itu.

"Sial!" Erang bos itu lalu pergi beranjak dari tempat tidur dan langsung keluar dari kamar.

Don kini terasa agak bebas sekarang. Ia lalu menjatuhkan kedua kakinya dan terus memegangi perut bawahnya yang kini terasa semakin sakit karena penyiksaan elektrik itu.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang