Rencana Jarak Jauh

8 0 0
                                        

"Tunggu dulu. Lantas kalau aku akan bertelanjang bulat selama misi ini, bagaimana aku akan memberikan laporan?" Tanya Don sambil memegangi tangan Ari yang kini masih asik meremasi selangkangannya.

"Ah, tenang saja, Don." Lalu Ari pun berhenti meremasi area sensitif Don dan lalu merogoh kantongnya. Ia lalu memberikan kotak softlens itu kepada Don.

"Kamu selalu pakai softlens ini, Don." Jawab Ari sambil memberikan kotak tersebut. Lalu Don menerimanya dan membukanya.

"Softlens itu sudah dirancang oleh orangku supaya apa yang kamu lihat selama investigasi, dan apa pembicaraan-pembicaraan yang berlangsung, aku dapat merekamnya di ruangan ku. Jadi, kita akan bekerja sama dalam jarak jauh. Dan aku juga yang akan memberikan laporan kepada Dena selama konsisten." Terang Ari.

"Bagus, juga. Jadi mereka tidak curiga." Don pun membungkukkan badannya dan memasang softlens bening itu ke kedua matanya. Lantas, kotak itu pun diberikan kepada Ari.

"Namun apakah ini aman kalau aku pakai selama lebih dari seminggu? Tanpa ada jeda melepaskannya?" Tanya Don. Dan kini Ari melihat mata Don yang sama sekali tidak ada perubahan, padahal pria di depannya sudah memakai alat pelacak itu.

"Tenang saja. Semuanya sudah kurancang sedemikian rupa. Jadi tidak ada efek samping akan kamu terima." Jawab Ari. Don pun mengangguk.

Tok tok tok

"Don, Ari? Kalian masih di sini?" Tanya Santi yang berada di depan pintu masuk ruangan meeting. "Dena mengajak kalian makan siang bersama karena sebentar lagi jam makan siang, kalian ikut?" Tanya Santi lagi.

"Oh, maaf Santi. Aku dan Don juga sudah selesai urusan dan akan langsung pergi dari kantor ini. Jadi kami tidak ikut makan siang bersama." Jawab Ari sambil mengatupkan kedua tangannya.

"Oh, baik Ari. Terimakasih." Lantas Santi pun pergi meninggalkan ruangan meeting itu.

---

"Sudah menunggu lama?" Tanya Ari kepada sopir itu ketika pria itu dan Don sudah berada di parkiran mobil.

"Iya, lumayan." Jawab sopir itu. Lantas mata sopir itu kembali jelalatan melihat tubuh Don yang kini kembali berdiri dihadapannya.

"Don. Sesuai yang tadi dibicarakan, kamu mulai saat ini sudah tidak lagi berpakaian. Jadi lepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhmu saat ini." Perintah Ari dan Don pun tanpa ekspresi apapun segera menanggalkan pakaiannya.

Selagi Don melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya, sopir itu melihat tubuh atletis Don yang sangat seksi itu sambil menahan salivanya. Matanya tidak mau berhenti menatap tubuh Don yang begitu menggoda dan menantang siapapun untuk menyiksanya itu.

Dan tangan pria itu terus menerus mengelusi bagian mobil di dekatnya itu, karena sebenarnya sudah tidak tahan ingin menyentuh dan menyiksa tubuh pria yang kini sudah bertelanjang bulat itu.

"Ini, pakaianku. Ambillah." Jawab Don sambil menyerahkan pakaian itu. Lalu Ari pun menerimanya.

"Dan tas milikmu di mobil itu, tolong diambilkan dan serahkan padaku." Perintah Ari lagi.

Lantas Sopir itu dengan sigap membuka pintu belakang mobil dan mengambil tas besar milik Don. Lalu tas itu diserahkan kepada Ari lagi.

"Sudah, urusan kalian sudah selesai. Jadi kalian bisa pergi meninggalkan tempat ini. Untuk tempat tinggalmu nanti, Don. Sopir yang akan mengantarkan mu." Ucap Ari. Don pun menatap pria itu tanpa ekspresi.

Lalu sopir itu pun membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Don. Don pun masuk ke dalamnya.

Selagi Don sudah masuk ke dalam mobil, Ari pun menepuk-nepuk pundak sopir itu.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang