"Aku sudah memeriksa hasil pekerjaan Rani." Dara menggeserkan buku pelajaran milik Rani yang sudah dipinjamnya itu ke arah Rino.
"Lalu bagaimana hasilnya?" Rino menerima buku pemberian Dara sambil tatapannya terus menghadap perempuan yang kini tengah duduk di depannya.
"Kamu lihat sendiri." Lantas Rino membuka buku pelajaran milik Rani. Beberapa ada catatan berwarna merah dan hasil pengoreksian yang tertulis dengan tinta berwarna merah. "Aku semakin penasaran dengan dia. Apakah dia bisa masuk ke dalam objek penelitianku?"
"Penelitian? Kamu mau menjadikan dia kelinci percobaan? Atas dasar apa? Kamu ada dendam sama dia yang dulu?" Rino yang tidak senang dengan kata "percobaan kepada Rani" itu menutup buku itu dengan kasar. Tatapannya menyalang ke arah Dara yang masih duduk dengan tenangnya.
"Kamu jangan asal marah kepadaku, Rino. Sebaiknya kamu lihat halaman terakhir dari buku latihannya itu. Di sana terdapat impiannya." Lantas Rino pun segera membuka halaman terakhir dari buku latihan Rani. Di sana tertulis impian perempuan pemilik buku itu yang ingin bekerja di lembaga antariksa.
Dengan pelan Rino pun menutup buku itu lagi. Lalu ia kembali menatap Dara.
"Maksud kamu apa, Dara? Apa hubunganmu menjadikan dia objek penelitianmu dengan impiannya itu?"
"Aku ingin mencoba mewujudkan impiannya. Tapi yang aku penasaran, apakah ia mampu mewujudkan impiannya sebelum ia berulang tahun di tahun ini. Karena sesungguhnya kita tahu sendiri, jurusan yang kita berdua dalami ini tergolong dalam jurusan tersulit. Sedangkan, kalaupun Rani memang benar-benar menginginkan supaya masuk ke lembaga itu, kemampuannya harus setara dengan orang lulusan S3 Astronomi." Tatapan Dara berubah menjadi serius ketika menatap Rino. Wajah dan tubuh Rino berubah menjadi kaku.
"Sedangkan di sini. Aku penasaran, apakah seseorang yang benar-benar berminat untuk mempelajari suatu hal bisa menguasai ilmu yang dipelajarinya itu, jauh lebih cepat daripada orang-orang yang tidak begitu berminat. Seperti yang kita tahu. Orang yang tidak mempunyai bakat namun mempunyai minat apabila ia tekun berlatih bisa menandingi orang yang berbakat walaupun sedikit berusaha. Kamu setuju dengan teori itu, bukan? Kamu sudah membuktikan itu berkali-kali." Ucapan Dara dijawab anggukan oleh Rino.
"Dan kamu juga tahu sendiri, Rani pernah tinggal kelas karena kualitas otaknya. Namun karena minatnya kepada astronomi, ia menjadi andalan di kelasnya waktu itu, dan bahkan dengan nilai semesternya di mata pelajaran itu yang sempurna, ia bahkan hampir mau didaftarkan ke OSN cabang Astronomi, seandainya waktu itu Dena tidak membuat ulah sehingga membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Kamu ingat itu, bukan?" Lagi-lagi Rino mengangguk.
"Dan yang membuat alasanku semakin kuat kenapa memilih dia, walaupun ia sudah tidak menyentuh ilmu astronomi selama sepuluh tahun, namun ketika aku memeriksa hasil, dan bagaimana caranya memecahkan contoh kasus di buku paket kelas 2 SMA itu, aku melihat sepertinya dia masih tidak melupakan teori dan rumus dasar ilmu Astronomi. Sedangkan yang ia pelajari saat itu setara dengan ilmu semester 2 di jurusan ini saat ini."
"Bahkan, katanya dia ingin mempelajari lebih dalam lagi ilmu astronomi? Kenapa tidak aku dan Rani coba saja apakah ia masih sanggup atau tidak?"
Rino merenungi presentasi Dara mengenai maksud penelitiannya itu. Ia memang sudah tahu sejak awal berpacaran dulu, mengenai impian Rani. Namun ia sama sekali tidak menyangka kalau Dara lah yang ternyata benar-benar serius menanggapi impian Rani itu.
"Hanya beberapa bulan saja, Rino. Target waktu penelitianku sampai hari ulang tahun Rani. Bagaimana?" Dara memohon kepada Rino dengan matanya yang berbinar-binar.
Rino yang ditatap seperti itu langsung menyadari atmosfir yang berada di sekitarnya. Bulu kuduknya sesungguhnya terasa berdiri, ketika semua dosen yang berada di ruangan yang sama dengannya menatapnya dengan tatapan tajam. Seolah-olah mereka tidak suka dengan kedekatannya dengan primadona kampus yang akhir-akhir ini dekat dengannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomansBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
