Kejutan Membahagiakan

4 0 0
                                        

"Tapi, Lion. Aku masih ngerasa gak enak ke kamu kalau ternyata anak yang kukandung ini adalah dari benih Rino. Apa kita tes DNA saja, ya?" Tanya Rani yang tatapannya masih mengawang di atas atap. Sedangkan kini kepalanya tengah bersandar di bahu Lion.

"Tidak usah, Rani. Kalaupun ternyata anak yang kamu kandung adalah anak Rino, tapi kamu masih ingin merawatnya, aku akan ikut merawatnya juga." Lion makin menggenggam erat jemari Rani. "Lagipula harga tes DNA itu mahal. Lebih baik biayanya ditabung saja untuk masa depan kita. Kamu tentu tahu juga, kan profesiku yang hanyalah seorang petani sayuran hidroponik."

"Aku bisa minta biayanya ke papa. Papa, kan banyak uangnya." Rani menatap polos ke arah suaminya yang kini pandangannya juga ikut mengawang di atap tembok rumah sakit itu.

"Aku gak mau kita nyusahin papa. Kalau bisa, kita hidup mandiri. Bukannya aku gak ngehargain papa, walaupun papa memang seroyal itu sama kamu, tapi kita yang sudah dewasa tentunya merasa sangat malu apabila masih mengandalkan uang orangtua." Lion pun terkekeh. "Lagipula seharusnya kita berdua sudah membahagiakan papa, dan mengusahakan supaya papa tidak perlu terlalu sibuk bekerja lagi."

"Iya juga, ya." Rani tertegun. "Tapi soal bisnis papa, papa sudah mewariskannya ke kak Ari, kok. Kak Ari yang akan menjadi penerus papa ketika papa pensiun nanti."

Lalu pasangan suami istri itu kembali terkekeh.

"Lalu bagaimana caranya kita memberitahu papa dan Kak Ari tentang kehamilanmu?" Tanya Lion lagi.

Lantas Rani pun menegakkan kembali tubuhnya dan mengeluarkan handphonenya. "Kita video call saja papa dan Kak Ari saat aku pemerikasaan USG." Lantas Rani pun menelpon papanya.

"Halo, nak?" Terdengar suara rendah dari seorang pria setelah beberapa saat sambungan telepon.

"Pa. Aku sama Lion sekarang lagi di rumah sakit." Ucap Rani dengan nada riang gembira.

"Kamu lagi di rumah sakit? Tapi kenapa kamu senang?" Tanya pria di sambungan itu. Suara pria itu terdengar datar, padahal sebenarnya merasa kebingungan. Rani sangat bisa menyadari itu, jangan ditanya bagaimana ia bisa tahu.

"Iya, pa. Soalnya aku sama Lion mau kasih kabar gembira untuk papa dan Kak Ari. Nanti aku pas sambungan video call, di sana harus sudah ada papa dan Kak Ari, ya. Pokoknya untuk satu jam ini papa harus kosongin jadwal papa dan Kak Ari dulu. Kali ini papa harus nurutin permintaan aku." Ucap Rani dengan nada suara yang terdengar manja dan tegas, seperti seorang anak gadis kecil yang meminta dibelikan mainan.

"Hahaha" akhirnya setelah sekian lama, Rani mendengar papanya bisa tertawa renyah, Rani sangat senang mendengarnya. "Iya, nak. Nanti papa panggilkan Ari."

"Sudah, ya Pa. Aku tutup dulu teleponnya."

"Iya, nak. Papa tunggu kejutan dari kamu." Lantas ayah angkat Rani itu menutup sambungan teleponnya.

Rani pun menaruh kembali handphonenya dan menatap Lion di sebelahnya dengan tatapan senyuman mantap. Entah mengapa karena teleponnya dengan papanya itu, rasa ragu-ragu dan ketakutan Rani menghilang begitu saja.

---

Setelah mendapatkan ijin dari dokter kandungan, Lion yang kini memegang handphone Rani menyambungkan video call dengan mertuanya itu.

Setelah sambungan beberapa saat, panggilan video call itu diangkat oleh ayahnya Rani. Di sana Lion bisa melihat dengan sangat jelas ayahnya dan kakaknya Rani itu sudah berada di layar handphone Rani.

"Mana Rani, Lion?" Tanya ayahnya Rani.

"Papa, lihat aku." Rani melambaikan tangannya ke arah video call itu, di sana ayahnya dan Kak Ari melihat Rani yang tengah berbaring di atas tempat tidur, sedangkan di sebelahnya terlihat seorang dokter dan sebuah layar USG.

"Rani? Kamu kenapa berbaring di sana?" Tanya Kak Ari.

"Aku mau memeriksa kandungan, kak. Aku barusan dinyatakan sedang mengandung." Jawab Rani dengan penuh semangat. Lion melihat senyuman kecil dari kedua pria yang berada di dalam layar handphonenya Rani.

Lion yang menyadari suasana berbahagia di dua tempat itu langsung mendekatkan kamera handphone itu ke arah Rani. Di sana, walaupun hanya dengan sambungan dari jarak jauh, Bos mafia dengan putra kandungnya itu melihat dengan sangat jelas wajah bahagia Rani ketika sang dokter mengoleskan gel dan lalu menempelkan kamera transducer di bagian perut samping Rani. Sedangkan di layar USG itu, terlihat sebuah bongkahan kecil yang sangat dapat dimengerti kalau itu adalah janin yang tengah dikandung Rani.

"Usia kandungan kamu masih berusia 3 Minggu, ibu Rani. Jadi belum dapat dipastikan apakah jenis kelamin anak ibu itu laki-laki atau perempuan." Ucap dokter kandungan itu.

"Tapi anakku sehat, kan dok? Tidak ada kendala?" Tanya Rani sambil tatapannya tidak mau terlepas dari layar USG itu.

"Sejauh ini, bayi ibu sehat-sehat saja. Pasti ibu selama ini selalu mengkonsumsi makanan yang sehat, ya?"

"Iya, dok. Suamiku selalu memberiku makanan sayur-sayuran sehat." Lion yang mendengar pengakuan Rani tersenyum kecil.

Lantas setelah pemeriksaan USG itu telah selesai, Lion pun menghadapkan sambungan video call itu ke arahnya.

"Begitu, pa, kak kejutan dari Rani. Jadi sebenarnya Rani sedang mengandung anak kami." Ucap Lion ke arah video call itu.

"Baguslah kalau begitu. Akhirnya papa sebentar lagi punya cucu." Ayahnya Rani itu terkekeh. Sedangkan Ari juga ikut tersenyum senang.

Sedangkan di lain sisi, Rani masih saja mengobrol dengan dokter kandungan itu.

"Pa. Papa kira-kira mau punya cucu perempuan atau laki-laki? Lagipula itu tadi janinnya Rani hanya satu. Sepertinya Rani akan melahirkan seorang anak."

"Papa gak mau milih perempuan atau laki-laki. Terserah kehendak Tuhan saja. Yang penting papa senang, ternyata Rani terlihat sangat bahagia semenjak tinggal bersamamu."

"Tapi, Lion." Ari tiba-tiba ikutan berbicara. "Kok Rani sekarang terlihat kurusan, ya? Tapi ia terlihat lebih segar, bersinar, dan sehat."

"Ah, itu rahasianya sangat sederhana, kak." Lion pun menggaruk kepala yang tidak gatal. "Itu karena semenjak Rani tinggal bersamaku, aku selalu menghindarinya dari makanan-makanan yang tidak sehat. Jadi dia itu sekarang ini ikutan menjadi seorang vegetarian karena aku." Ucap Lion ditutup dengan tawa renyah.

"Ah iya. Kamu, kan petani sayuran hidroponik. Papa lupa." Lalu ketiga pria itu pun tertawa. "Lalu bagaimana dengan bisnis sayuran kamu itu? Papa perlu suntik dana? Atau apa papa perlu siapkan tempat yang bagus supaya lahan pertanianmu lebih luas?" Tanya ayahnya Rani.

"Tidak perlu pa. Apartemenku saja sudah cukup. Lagipula, Rani juga terlihat sangat senang karena profesiku ini, bagian interior apartemenku sudah seperti kebun yang begitu sejuk dan hijau. Jadi katanya Rani, otaknya langsung fresh ketika sampai di apartemen. Ini juga rencananya aku mau memperbanyak sayuranku yang bisa kutanam di bagian dalam ruangan ku. Hitung-hitung sebagai ekperimen dan pengembangan kemampuanku dalam ilmu botani." Jelas Lion.

"Bagus, lah kalau begitu. Tapi kalau benar-benar kamu butuh suntikan dana, papa siap bantu. Kamu jangan sungkan-sungkan, ya bilang ke papa." Ucap ayahnya Rani.

"Iya, pa." Lalu Lion melihat Rani yang sudah berjalan menuju pintu keluar bersama dokter kandungan itu. "Sudah, ya pa, kak. Aku dan Rani sudah selesai pemeriksaan. Papa dan kakak selamat bekerja kembali." Ucap Lion.

"Iya, Lion. Sekali lagi terimakasih atas kejutannya." Ucap ayahnya Rani. Lalu sambungan video call itu terputus. Dan Lion menyusul Rani dan dokter kandungan itu di depan pintu masuk ruangan pemeriksa kandungan itu.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang