Mengingat Rani

4 0 0
                                        

Biasanya, kalau Rani ke sini, Rino pasti langsung menjemput Rani.

Namun, kini sudah jalan beberapa bulan. Rani semakin hari semakin kerasan berada di apartemen Lion. Rani sama sekali tidak mengeluh apabila Lion lebih mementingkan tanaman-tanaman hidroponiknya dibandingkan harus mengantar jemput Rani dari tempat kerjanya. Bahkan Rani pun justru terlihat lebih mandiri dengan tidak berusaha membebani Lion.

Bagi Lion, Rani seperti tanaman yang tidak manja. Lion begitu mudah merawat Rani, Rani yang ia lihat hanyalah seorang perempuan mandiri yang hanya memerlukan tempatnya untuk tinggal, dan tetap berada di sisi Lion apapun yang terjadi.

"Rani, kamu tidak dicariin Rino? Tumben." Ucap Lion membuka obrolan di acara makan malam mereka.

Rani yang saat itu sudah pulang ke rumah, dan selesai bersih-bersih itu kini duduk di hadapan Lion. Ia menghabiskan dahulu kunyahan makanan vegetarian yang disuguhkan Lion sebelum menjawab pertanyaan suaminya itu.

"Kenapa kamu malah nyariin Rino? Bagus, dong kalau pria itu tidak datang ke sini lagi. Berarti tidak ada seorangpun yang menggangguku." Jawab Rani acuh, lalu ia menyuap lagi sesendok makanannya.

Jawaban acuh Rani membuat Lion kehabisan kata-kata. Ia bingung harus membicarakan topik apa lagi ke istrinya.

---

Omongan menyakitkan Rani di kala itu benar-benar membekas di hati Rino.

Sebelumnya, ayah angkat Rani, dan kakak Rani itu mengatakan kalau Rani kini berada di apartemen Lion, apabila pria itu ingin menjemput Rani kembali.

Namun, Rino menyadari kesalahannya. Ia tidak mungkin akan menjemput Rani kembali, walaupun ia tahu Rani kini berada di apartemen Lion.

Apabila biasanya Rino langsung menjemput Rani, namun kini semenjak perkataan Rani yang benar-benar menginginkan kembali ke pelukan Lion, Rino menjadi sadar diri. Tidak seharusnya dirinya terus mengejar-ngejar istri orang lain, sedangkan dirinya sudah mempunyai pasangan.

Hal itu yang membuat Rino selalu mengurungkan niatnya untuk menjemput perempuan kesayangannya itu. Walaupun rasa rindu itu sudah berbulan-bulan hinggap di hatinya, yang setiap saat semakin menyakitinya.

Pagi itu sebelum berangkat mengajar. Rino yang kini penampilannya sudah terlihat seperti tidak terurus memandangi balkon apartemennya yang kini tengah memamerkan pemandangan langit biru keabu-abuan yang dihiasi awan putih yang terlihat begitu buram, tidak jelas bentuk garisnya.

Matanya kosong memandangi pemandangan yang baru muncul itu. Warna keabu-abuan karena sebentar lagi akan hujan seperti mewarnai hatinya dan hatinya saat ini. Begitu kelabu dan dingin.

Bahkan, secangkir teh manis hangat yang menjadi sarapannya pagi ini tidak pernah mampu menghangatkan hatinya. Kumpulan soal-soal rumit yang baru selesai ia cek hari ini juga bahkan tidak mampu melupakan sosok Rani yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang di hati dan otaknya.

Ia bingung, apakah soal-soal yang akan ia ujikan ke para mahasiswanya ini sebenarnya terlalu mudah, atau justru karena ingatannya akan Rani yang memang begitu kuat dan lebih menyulitkan daripada kumpulan soal matematika S3 ini.

---

Satu-satunya orang yang menyadari perubahan Rino adalah temannya yang sudah dari kuliah S1.

Perempuan berkacamata tebal dan berambut kuncir kuda itu merasakan perubahan Rino yang semakin menjadi.

Tidak seperti biasanya. Perempuan yang juga adalah dosen S3 itu yang biasanya begitu acuh dengan kehadiran Rino yang baru datang di tiap pagi itu, ia justru langsung memerhatikan lekat-lekat pria yang kini baru datang dengan tumpukan soal yang berada di genggamannya.

Pria di sebelah perempuan itu sudah beberapa bulan ini hari demi hari terlihat semakin kurus, wajahnya yang semakin tirus itu terlihat seperti tidak mempunyai semangat hidup. Sifat pendiamnya selama berada di kampus terlihat semakin menjadi. Rino semakin irit bicara.

"Kenapa melihatku seperti itu. Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Ucap Rino tanpa memandang balik perempuan yang berada di dekatnya. Ia kini sibuk menata mejanya dengan barang-barang bawaannya.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini terlihat berbeda, Rino?" Tanya perempuan itu setelah tersadar dari lamunannya.

"Beda kenapa?"

"Kamu sekarang terlihat lebih tidak terurus. Terlihat jauh lebih pendiam dan tertutup. Bahkan tatapanmu dan sikapmu itu terlihat semakin dingin daripada biasanya."

"Darimana kamu tahu hal itu? Bukannya setiap hari selama di kampus aku selalu seperti ini?"

"Tapi ini jauh lebih berbeda daripada biasanya. Setelah beberapa bulan ini. Kamu sebenarnya ada masalah?" Pertanyaan temannya Rino itu semakin antusias. Namun Rino masih tidak peduli.

Rino langsung menjatuhkan secara keras lembaran soal yang akan menjadi ujian bagi para mahasiswa nya itu. Ia melampiaskan kekesalannya dengan kumpulan lembaran soal itu. Melihat itu, perempuan itu menjadi kaget.

"Sekarang jelaskan kepadaku, secara logika. Bagaimana kamu bisa melihat perubahan sikapku selama beberapa bulan ini."

Perempuan itu tergagap-gagap. Pertanyaan Rino itu sama sekali tidak bisa ia jawab karena ia melihat itu dengan perasaannya. Tidak ada data secara jelas dan kongkret mengenai perubahan Rino.

"Itu... Itu hanya perasaanku. Apakah perubahan sikap itu bisa dijelaskan secara logika?"

Rino semakin tidak dapat menahan emosinya. Daripada ia akan meluapkan amarahnya di pagi itu, lebih baik ia menyimpannya nanti saat mengajar.

"Apa kamu lupa? Kita ini dari fakultas MIPA! Tidak ada yang namanya perasaan dalam ilmu sains dan matematika! Semuanya menggunakan logika!" Ucap Rino tegas dengan emosinya yang tertahan.

"Kalau kamu masih mengandalkan perasaan, lebih baik kamu pindah jurusan ke psikologi. Tidak usah kamu andalkan perasaan itu ke dalam bidang keilmuan ini." Rino pun memelankan suaranya. Ia lalu mengambil lagi lembaran soal itu dan beranjak meninggalkan tempatnya itu. Meninggalkan temannya yang masih syok karena baru saja diomeli oleh Rino.

---

Sial bagi Rino. Ia bahkan tidak mampu mengaplikasikan perkataannya barusan ke hatinya saat ini.

Seharusnya ketika berada di kampus, ia harusnya bergelut dengan berbagai logikanya, mengingat ia mengajar di salah satu keilmuan sains.

Namun nyatanya, kini perasaannya yang tengah memporak-porandakan hatinya, otaknya, dan keadaannya saat ini.

Itu karena secara tidak sengaja, ketika ia akan menuju ke kelas tempatnya mengajar, ia justru melewati ruangan jurusan Astronomi.

Melihat jurusan itu, jurusan yang menjadi bidang Dara saat itu, ia justru menjadi teringat akan Rani.

Setiap mendengar dan melihat kata Astronomi, ia justru semakin ingat akan Rani. Ia begitu ingat bagaimana perjuangan dirinya dan Dara demi mewujudkan impian Rani di dalam ilmu astronomi itu.

Mengingat astronomi, ia jadi semakin mengingat akan kebiasaan Rani yang begitu mencintai apa saja benda-benda yang ada di daerah kolong langit, dan semua yang ada di tata Surya.

Mengingat astronomi, ia justru menjadi teringat bagaimana Rani yang begitu tekun mempelajari ilmu sains itu sehingga ia berhasil membuat dirinya dan Dara bangga dengan prestasinya. Bahkan sampai saat ini perempuan kesayangannya itu kini bekerja di lembaga penelitian astronomi milik negara itu.

Mengingat astronomi, hatinya semakin memberontak meneriakkan nama Rani. Otaknya terus memutarkan kenangan-kenangan manisnya bersama Rani.

Sungguh, ia semakin tidak tahan berada di kampus ini. Dengan semua kenangan yang seharusnya mampu ia lupakan.

"Aku harus mengundurkan diri, secepatnya. Aku semakin tersiksa." Ucap Rino di dalam hati.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang