Walaupun kedua kakinya terasa sangat kebas karena telah menjadi tempat duduk dua gadis kecil itu, bos mafia yang masih duduk di sebelah bangku pengantin itu merasa sangat puas.
Senyum senangnya mengembang karena setelah bermain dan mendengarkan cerita-cerita kekanak-kanakan dari kedua gadis kecil itu. Ia walaupun sebentar lagi akan dikaruniai seorang cucu dari Nina, namun apa yang dilakukannya bersama seorang gadis kecil yang pernah diasuhnya juga teman si gadis kecil itu benar-benar membuatnya serasa telah memiliki seorang cucu.
"Papa sudah sangat puas, nak." Senyum senang dan bahagianya terpampang sambil mengajak berbicara Ari yang di sebelahnya.
"Puas kenapa, pa?" Tanya Ari yang begitu senang karena ayahnya kini tersenyum senang setelah beberapa bulan lalu hanya menampilkan wajah penuh dukanya.
"Setidaknya papa sudah merasakan telah mempunyai cucu. Walaupun hanya beberapa saat saja." Ucap bos mafia itu.
"Tapi, pa. Sebentar lagi, kan Rani akan melahirkan. Papa akan menghabiskan banyak waktu papa yang tersisa untuk bermain dengan cuci papa itu." Ucap Ari sambil mengelusi punggung tangan ayahnya. Santi yang melihat adegan itu memeluk lengan Ari dengan senyum sayangnya kepada bos mafia itu.
Namun, bos mafia itu menutup matanya sambil tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di ujung kursi tersebut.
Saat itu. Ari masih berpikiran positif, mungkin ayahnya sedang merasa letih.
Sedangkan saat ini, Rani tengah berjuang di ruang persalinan. Sehingga pasangan Rani dan Lion saat ini tidak bisa menghadiri acara pernikahan Ari.
---
"Bu guru, Bu guru!" Seru Erika saat Erika dan Putri tengah berada di dekat Dara.
Dena yang sedang berada di dekat Dara melihat dengan senyum senangnya karena Dara tengah didatangi oleh kedua gadis kecil yang adalah anak didik sahabatnya itu.
"Iya kenapa sayang?" Ucap Dara sambil menjongkok dan mengelusi ujung kepala Erika.
"Bu guru dapat salam dari paman itu!" Ucap Erika dengan polosnya ke arah seorang pria berbadan kekar yang kecolongan telah memerhatikan Dara dengan malu-malu.
Lantas Dara pun juga melihat ke arah pria yang ditunjuk oleh Erika. Dara tersenyum formal ke arah pria itu. Namun anak buah bos mafia itu langsung membuang muka karena sudah tidak kuat merasa malu.
Melihat kelakuan pria itu yang menurut Dara begitu manis dan lucu, Dara pun terkekeh pelan.
"Sudah, bilangin ke orang itu. Dapat salam dariku." Ucap Dara sambil tersenyum manis.
"Bu guru! Aku mau bunga. Bunga itu cantik sekali." Ucap Putri sambil menunjukkan dekorasi bunga asli itu.
"Aku juga mau, Bu guru!" Pinta Erika yang juga menginginkan permintaan Putri.
"Ya sudah. Ayo ibu guru buatkan buket bunga kecil ke kalian. Masing-masing dapat satu, ya." Ucap Dari sambil berdiri kembali. Kedua tangannya masing-masing dipegang oleh Erika dan Putri.
"Dena, kutinggal, ya." Ucap Dara sambil menoleh ke arah Dena.
"Iya, Dara." Ucap Dena sambil tersenyum manis ke arah ketiga perempuan itu.
Selagi Dena memerhatikan Dara mengambili dan merangkai kecil bunga-bunga asli dekorasi itu, perempuan yang mempunyai karir yang begitu gemilang itu merasa Dara terlihat begitu cocok untuk menjadi seorang ibu kandung.
Dena melihat Dara yang begitu mengayomi kedua anak didiknya itu. Sedangkan Putri dan Erika juga terlihat sangat senang menerima buket bunga kecil yang sudah dirangkai oleh Dara.
Sedangkan di sisi lain, pria yang sedari tadi tetap mencuri pandang ke arah Dara kini kembali memandangi dengan penuh kagum dari jarak jauh perempuan cantik berkacamata besar itu.
Setelah mendapatkan masing-masing buket bunga kecil dari Dara, Putri dan Erika dengan langkah kecilnya terus berlarian kesana kemari mengelilingi tiap sudut aula pernikahan itu. Mereka berdua sudah seperti para peri kecil yang tengah bermain ruang kesana kemari seolah-olah aula pernikahan itu adalah sebuah taman bunga yang sangat indah.
Sehingga, suasana pernikahan Ari dan Santi yang sebenarnya sebagian besar dihadiri oleh orang-orang yang terlibat dalam dunia bawah tanah itu justru terlihat tidak ada suasana menyeramkan sama sekali. Suasana tersebut justru terlihat sangat hangat dan bahagia.
"Paman, paman!" Seru Erika ketika gadis kecil itu dan temannya kini sudah berada di dekat paman yang dulu mengasuhnya dulu.
Seorang pria yang disebut paman itu terbuyar lamunannya setelah begitu berkhayal dapat dekat dengan perempuan berkacamata besar yang ditaksirnya dari pandangan pertama itu. Ia lantas menengok ke bawah, melihat Erika yang sedari tadi menarik ujung kemeja yang dipakainya.
"Ada apa Erika?" Tanya paman itu dengan suara yang lembut dan ramah.
"Paman dapat salam balik dari ibu guru Dara." Ucap Erika dengan polosnya. Putri mengangguk mengiyakan.
"Jadi nama perempuan cantik itu Dara?" Tanya paman itu yang begitu penasaran.
"Iya, paman. Namanya Bu guru Dara." Ucap Putri.
Lantas wajah pria dewasa itu langsung memerah kembali. pria itu berusaha menutupi wajah merahnya dengan senyum malu sambil membuang wajahnya. Namun tidak berhasil karena Erika dan Putri yang begitu penasaran terus berusaha melihat wajah paman itu.
"Paman wajahnya kenapa merah?" Tanya Erika dengan polosnya ketika berhasil melihat wajah semu paman itu.
"Eh iya, paman. Wajah paman memerah." Ucap Putri dengan penuh selidik. "Kata monster papa, kalau seseorang wajahnya memerah setelah melihat seseorang, berarti orang itu sedang jatuh cinta, Erika." Ucap Putri dengan polosnya membeberkan pernyataannya.
Mendengar pernyataan dari Putri, wajah paman itu semakin memerah. Dan Erika kembali lagi memastikan wajah paman yang pernah mengasuhnya itu. Erika melihat wajah pria dewasa itu semakin memerah.
"Berarti paman naksir sama ibu guru Dara?" Tanya Erika dengan polosnya. Namun Paman tersebut yang sudah tidak tahu mau menaruh wajahnya di mana hanya diam. Ia benar-benar sangat malu ketika perasaanya secara terang-terangan berhasil dibongkar oleh kedua gadis kecil yang tengah mengurungnya itu.
Dengan sabar, Erika dan Putri masih menunggu jawaban paman itu. Sedangkan sang paman sama sekali tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Anak-anak yang manis. Sekarang sudah malam, kenapa tidak pulang ke rumah?" Tanya paman itu sambil menahan rasa gugupnya.
"Om Don, Bu guru Dara, pak Guru Doni, pak guru Dion, dan pak Guru Roni masih di sini, paman. Kalau mereka sudah mau pulang dari sini, berarti waktunya kami berdua juga untuk pulang." Ucap Erika.
"Iya, paman." Putri mengkonfirmasi pernyataan Erika.
Namun tiba-tiba karena secara tidak sadar sebuah buket bunga raksasa telah jatuh tepat di tangan paman itu. Wajah paman itu semakin memerah, sedangkan Putri dan Erika yang melihatnya semakin bersemangat.
"Ya! Selamat mas yang di sana telah mendapatkan buket bunganya! Sekarang silahkan naik ke panggung bersama kekasihnya." Ucap pembawa acara pernikahan Ari dan Santi.
"I... Ini buat kalian saja!" Ucap paman itu yang benar-benar sudah merasa wajahnya semakin panas.
"Kami sudah punya buket bunga, paman. Paman. Kasih ke ibu guru cantik itu saja! Bukannya paman menyukainya?" Ucap Putri sambil menarik-narik ujung kemeja paman itu.
Lantas paman itu melihat Dara yang menatapnya dengan penuh penasaran. Lantas karena sudah tidak tahan lagi, pria itu langsung menghampiri Dara.
"D... Dara...." Ucap pria itu terbata-bata sambil membawa buket bunga itu.
"Iya?" Ucap Dara dengan polosnya.
"A... Aku tidak tahu... Statusmu masih sendiri... Atau sudah punya seseorang..." Wajah pria itu semakin tertunduk. Sedangkan Dara kini sudah malu karena sudah menjadi pusat perhatian.
"Tapi..." Paman itu berlutut sambil menyodorkan buket bunga itu ke Dara. "Terimalah bunga ini dariku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomanceBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
