Buket Bunga

3 0 0
                                        

Di dalam mobil Don, keadaan di sana sudah cukup larut. Aroma khas Don yang begitu seksi dan maskulin itu menyeruak di interior mobil itu.

Sangat berbeda dengan Don yang biasanya begitu seksi dan menggoda di tengah-tengah kemisteriusannya, Don kini terlihat seperti seorang ayah yang begitu syok karena kedua putri kecilnya itu justru bertingkah laku seperti seorang dewasa yang sudah mengerti arti cinta.

Tidak hanya Don. Tetapi Doni, Dion, dan Roni juga berpikiran yang sama. Mereka bertiga selama bertahun-tahun sudah mendidik Putri justru tidak menyangka kalau anak-anak jaman sekarang pemikirannya bisa jauh lebih dewasa daripada di usia mereka yang seharusnya.

Bahkan kini Putri dan Erika baru saja kedapatan habis menjodohkan Dara dengan seseorang pria anak buah bos mafia itu yang sedari tadi dipanggil paman itu.

Bahkan, dari seluruh penumpang di mobil itu, Dara justru yang paling syok. Dia sama sekali tidak menyangka telah mendapatkan kado manis ini lagi. Padahal saat ini ia sudah tinggal di desa dan sudah lama tidak menerima kado manis seperti buket bunga yang berada di genggamannya.

"Bu guru, Bu guru!" Seru Erika sambil menarik-narik ujung lengan dress Dara.

"Iya kenapa Erika?" Tanya Dara yang berusaha menghilangkan wajah semunya. Untung saja lampu dalam mobil Don itu sedang mati, jadi wajah merah itu tidak terlihat.

"Buket bunga ibu guru paling besar daripada kami berdua, Bu." Ucap Erika secara terang-terangan. Putri lalu menengok buket bunga yang sedari tadi dipegang Dara.

"Iya, buket bunga Bu guru Dara jauh lebih besar daripada punya kami." Ucap Putri. Lalu ia melihat buket bunga miliknya dan milik Erika lalu membandingkannya. "Bahkan punya Bu guru Dara jauh lebih indah dan lebih banyak bunganya daripada punya kami." Ucap Putri secara terang-terangan.

Dara melihat buket bunga pemberian pria yang sedari tadi dipanggil paman itu. Iya, memang buket bunga itu memang sangat indah. Sama seperti buket bunga yang biasa diterimanya saat ia masih mengajar sebagai dosen dulu.

Namun entah mengapa, saat ini hati Dara sangat senang menerima buket bunga itu. Padahal dulu ia sangat biasa saja, bahkan muak menerima hadiah seperti ini.

Apa mungkin karena Dara melihat seseorang yang memberikan bunga itu begitu spesial? Namun karena apa? Lagi-lagi Dara bingung. Dan kebingungan ini sama sekali tidak bisa dijelaskan dan diselesaikan dengan teori sains.

Padahal, kalau menuruti berdasarkan logika, pria itu tidak lebih tampan daripada para dosen dan para mahasiswa yang dulu pernah menjadi penggemarnya, pria itu juga tidak lebih pintar dan justru ia baru mengenali pria itu di malam ini. Itu pun juga karena ulah Erika dan Putri.

Bahkan, Dara juga sebenarnya sama sekali tidak tahu seluk beluk kehidupan pria yang memberikan buket bunga ini, selain pria itu adalah salah satu anak buah bos mafia yang anak lelakinya menikah di tempat itu.

Namun, entah mengapa perasaan Dara begitu senang dan berbunga-bunga karena menerima buket bunga ini dari pria itu. Dan bahkan ia sampai berharap supaya bisa bertemu dengan pria itu. Walaupun rasanya sepertinya sangat tidak mungkin.

Lamunan Dara yang begitu manis langsung buyar ketika menyadari kini kedua gadis kecil itu kembali berceloteh memecahkan suasana hening di mobil itu.

"Aku sangat senang melihat buket bunga punya Bu guru Dara." Ucap Putri dengan terang-terangan.

"Iya. Aku juga sangat senang. Punya Bu guru Dara sangat cantik." Ucap Erika.

"Ini. Kalau kalian mau buket bunganya buat kalian saja, ya. Tapi jangan rebutan." Ucap Dara sambil menyerahkan buket bunga itu ke Putri. Namun putri menolaknya.

"Tidak, Bu guru Dara. Aku dan Erika sudah punya buket bunga sendiri. Lagipula itu kan pemberian paman, dan paman berharap ibu guru menerima buket bunga itu." Ucap Putri.

"Lagipula, kata mama, barang yang sudah diberikan oleh orang lain dengan sepenuh hati, harus diterima dengan senang hati. Dan jangan diberikan kepada orang lain. Harus dinikmati oleh penerimanya." Lanjut gadis kecil yang duduk di sebelah kanan Dara.

"Iya, Bu guru Dara. Pak guru Doni juga ngomong begitu. Kalau kita menerima sesuatu yang spesial dari orang lain, kita tidak boleh memberikannya kepada orang lain. Harus dinikmati sendiri." Ucap Erika yang kini duduk di sebelah kiri Dara.

Lantas Dara kembali memegang buket bunga pemberian paman itu dan meletakkannya di pangkuannya. "Oh iya. Itu memang benar. Jadi seharusnya buket bunga ini ibu guru simpan di pondok ibu. Bukan untuk diberikan ke orang lain." Lantas Dara pun wajahnya kembali bersemu dan hatinya semakin senang karena menerima kado manis itu.

"Iya, Bu." Ucap Putri dan Erika secara bersamaan.

---

Waktu sudah semakin larut. Celotehan Putri dan Erika sudah tidak ada. Ternyata kedua gadis kecil itu kini tengah tertidur pulas sambil memeluk buket bunga ciptaan Dara masing-masing.

Kedua kepala gadis kecil itu beralaskan paha Dara. Sedangkan Dara terlihat sangat keibuan saat mengelusi dua kepala gadis kecil itu.

Sambil memperhatikan kedua wajah gadis kecil itu, Dara merasa hatinya masih begitu bersemu. Entah mengapa ia rasanya juga sangat menginginkan memiliki seorang anak. Walaupun sebenarnya ia masih belum kepikiran untuk menikah.

"Putri, Erika. Ayo bangun. Sekarang sudah sampai." Ucap Dara yang membangunkan dua tubuh mungil kedua gadis itu.

Lantas mereka berdua pun mengulet pelan. Wajah kedua gadis itu terlihat begitu berantakan dan mengantuk seperti orang yang baru bangun tidur.

"Kita sudah sampai Erika." Ucap Putri yang baru saja melihat jendela kaca mobil yang memperlihatkan pondok rumah milik keluarga kecil Don.

Lantas mereka semua yang berada di mobil Don itu turun dan berpisah. Don dengan kedua gadis kecil itu masuk ke dalam pondok, sedangkan Dara kini pergi meninggalkan pondok tersebut ditemani oleh Doni, Dion, dan Roni.

"Wah, sepertinya sebentar lagi akan ada yang menyusul Santi, nih." Goda Doni kepada Dara.

"Lho? Memangnya ada pengaruhnya buket bunga ini sama pernikahan?" Tanya Dara.

"Ada mitos yang berkata. Kalau ada seseorang yang menerima buket pernikahan, berarti orang itu sebentar lagi akan menikah, Dara. Jadi ditunggu undangannya, ya." Goda Doni lagi.

"Hahaha, kalian masih percaya sama mitos seperti itu? Selama itu tidak bisa dijelaskan secara sains dan logika, aku sama sekali tidak percaya." Ucap Dara yang meremehkan mitos tersebut. Padahal dalam hatinya ia benar-benar berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi.

"Baru kali ini aku bertemu perempuan yang lebih mengandalkan logika daripada perasaan." Celetuk Dion.

---

Setelah Dara sudah diantarkan ke pondoknya oleh ketiga pria itu, perempuan cantik berkacamata besar itu meletakkan buket bunga itu di dalam vas bunga yang berisi air.

Setelah selesai membersihkan dirinya dan akan tidur, Dara masih saja menengok buket bunga yang berada di nakas itu.

Hati Dara sangat senang. Ia merasa sangat bahagia. Dan kini Dara rupanya telah membuka hati kepada pria itu.

Lantas dengan senyum bahagianya, Dara pun langsung tertidur pulas. Berharap di mimpinya ia bertemu dengan pria itu lagi.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang