Tidak Mau Kembali

4 0 0
                                        

Ayahnya Rani memandang heran anak perempuannya yang kini duduk di hadapannya.

Sambil terus tidak beranjak dari kursi kerjanya, pria yang paling ditakuti di dunia bawah tanah di kotanya itu mengerutkan dahinya, ketika Rani yang tiba-tiba datang dengan membawa koper besar yang kini berada di sebelah perempuan berpakaian formal itu.

Sedangkan Rani, dia terus memandang mantap ayahnya.

"Kenapa kamu masih di sini, Rani? Kamu mau minta apa?" Tanya ayahnya Rani setelah beberapa saat terbengong-bengong.

"Aku mau papa singkirkan Rino. Aku tidak mau tahu." Ucap Rani tegas.

Mendengar permintaan Rani, ayahnya Rani itu semakin kebingungan. Masalahnya pria itu walaupun terkenal kejam, namun ia tidak sembarangan menyakiti bahkan menyingkirkan seorangpun.

"Memangnya apa yang telah Rino lakukan kepadamu?" Ayahnya Rani kembali memerhatikan secara seksama tubuh Rani. Tubuh anak perempuannya itu kini terlihat semakin gempal, dan sama sekali tidak ada luka fisik di tubuh anak kesayangannya itu, fakta itu membuat  ayah Rani semakin kebingungan.

"Papa lihat, kamu sekarang semakin makmur semenjak tinggal bersama Rino. Apakah itu yang membuatmu tidak mau bersamanya?" Tanya ayahnya Rani lagi.

Mendengar pertanyaan ayah angkatnya itu, Rani yang kini kepribadiannya sekarang berubah menjadi mudah emosi itu kini mengepalkan tangannya. Ia harus menahan amarahnya apabila tidak ingin sesuatu terjadi padanya.

Melihat ekspresi wajah Rani yang menegang, ayahnya Rani itu meminta Rani untuk menenangkan diri.

"Nak, sebaiknya kamu duduk dulu. Dan tenangkan pikiranmu." Permintaan ayahnya Rani dituruti oleh Rani.

Selagi Rani berusaha menenangkan diri dengan segelas minuman mineral yang milik ayahnya diberikan kepadanya, Rani pun menundukkan kepalanya dan menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang.

Sedangkan ayahnya Rani menelpon Ari untuk datang ke ruangannya.

Beberapa saat kemudian, Ari datang ke ruangan kerja milik ayahnya itu, ia pun berdiri di hadapan ayahnya, dan di sebelah Rani.

"Ada apa, pa?" tanya Ari setelah terdiam sejenak melihat Rani yang sudah duduk sambil membawa koper besarnya.

"Ari, duduk dulu." Pinta kepala rumah tangga di keluarga itu.

"Ada apa, pa?" Tanya Ari lagi setelah ia duduk di sebelah Rani.

"Sekarang, Rani. Coba sekali lagi utarakan keinginanmu." Ucap sang ayah yang adalah bos mafia itu.

Rani pun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia lalu menatap tegas ke arah ayahnya, lalu ke arah Ari.

"Aku ingin supaya kalian singkirkan Rino. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi!" Ucap Rani dengan sangat tegas.

Ekspresi wajah Ari sama seperti ayahnya ketika mendengar permintaan Rani. Masalahnya, Ari juga sama sekali tidak mengerti mengapa Rani begitu menginginkan hal itu.

Ari pun semakin kebingungan, karena Rani sama sekali tidak mengalami kekerasan fisik, bahkan kini Rani terlihat semakin terawat dan semakin gemuk.

"Apa yang membuatku dan ayah harus menyingkirkan Rino dari hadapanmu, Rani?" Tanya Ari.

"Rino... Rino sudah membuatku sangat muak!" Intonasi suara Rani semakin keras.

"Tapi, Rani. Rino sama sekali tidak menyakitimu. Rino bahkan memperlakukan mu seperti menganggap kamu layaknya seorang ratu. Dia sangat sayang padamu, dia sangat memanjakan mu. Lantas apa yang membuatmu begitu muak padanya?" Tanya Ari. Rani menjadi curiga.

"Darimana kalian bisa tahu kalau pria itu begitu memanjakan ku?" Tanya Rani yang kini sudah menurunkan intonasi suaranya.

"Walaupun kamu tidak tinggal di sini, kami selalu mengawasi dan menjagamu, sayang. Jadi kami tahu semuanya, salah satunya tentang karirmu itu. Papa bersyukur denganmu yang memutuskan untuk tidak terlibat di dunia bawah tanah, seperti yang papa dan Ari geluti." Bos mafia itu tersenyum sayang ke arah Rani yang masih menatap nyalang itu.

"Dan karena saking sayangnya Rino ke kamu, dia yang dibantu temannya itu berusaha mewujudkan impianmu itu, walaupun memang mereka terlambat menyadarinya." Lanjutnya.

"Bahkan, aku tahu. Rino selama ini selalu memasakkan makanan kesukaanmu tiap hari, dan selalu mengantar jemput mu, bukan. Dia juga bahkan sama sekali tidak mengasari mu. Dan selalu berusaha memberikan hadiah manis untukmu. Lantas, kenapa kamu justru membencinya?" Tanya Ari lembut.

Rani terdiam sejenak. Apa yang dikatakan ayahnya dan Ari memang benar. Rino sama sekali tidak menyakitinya. Rino benar-benar sangat menyayanginya. Walaupun dirinya sama sekali tidak mengakui keberadaan pria itu selama di sisinya.

Walaupun begitu, Rani sesungguhnya sudah sama sekali tidak ingin pria itu muncul dan hadir lagi di kehidupannya. Ia sudah memutuskan untuk membuang sejauh mungkin pria itu.

Rani selesai menundukkan kepalanya. Matanya yang merah karena menahan tangis itu kini menatap wajah ayahnya.

"Aku... Aku sudah tidak mau menerima Rino lagi... Aku lebih memilih Lion daripada Rino... Aku ingin tinggal bersama Lion." Ucap Rani dengan nada bergetar.

"Tapi, nak. Rino sudah berusaha meraihmu kembali. Bukankah dulu kamu sangat menginginkan Rino untuk kembali kepadamu? Kenapa ketika ia kembali padamu, kamu justru menolak kehadirannya?" Tanya ayahnya Rani.

"Sedangkan Lion. Kamu tahu sendiri Lion itu hanya mengagumi dirimu. Dia tidak mencintaimu. Ia bahkan tidak tahu kebiasaan-kebiasaan dan hal-hal yang membuatmu bahagia dan senang. Lalu kenapa kamu justru lebih memilih Lion?" Tanya Ari.

"Pa... Kak... Apakah kalian lupa? Semenjak saat itu, Rino sudah menjadi milik Dena. Milik Dena sepenuhnya. Semenjak mereka berciuman di hadapanku, dan akhirnya mereka berdua menikah. Rino bagaimanapun sudah menjadi milik Dena." Ucap Rani.

Kini air matanya sudah tidak mampu dibendungnya kembali. Air mata itu meleleh dan membasahi pipinya. Dari sana sangat terlihat wajah Rani yang dipenuhi kekecewaan dan keputusasaan. Sama seperti tatapan ketika usai melihat insiden ciuman Rino dan Dena kala itu.

"Tapi Rani. Dena bahkan sudah berkata padaku dan papa. Dena akan menyetujui gugatan perceraian yang diajukan Rino, apabila kamu memang menginginkan Rino untuk kembali. Kamu bisa meraih Rino mu lagi. Kenapa kamu justru menolaknya?" Tanya Ari yang tidak terima.

"Sekali lagi aku tegaskan, Rino sudah menjadi milik Dena! Apapun yang terjadi! Aku sudah tidak mau kembali padanya! Pokonya papa dan kakak harus singkirkan pria itu dari hadapanku! Bila perlu kalian siksa pria itu sampai dia mati!" Rani kini membentak dua pria yang berada di ruangan itu. Lalu ia berdiri dari tempatnya duduk tadi.

"Tidak, Rani! Papa dan Ari tidak akan menghukum, menyiksa, bahkan menyentuh pria itu! Pria itu sama sekali tidak bersalah dan merugikan dirimu!" Ayahnya Rani kini membentak kembali Rani. Walaupun sesungguhnya di dalam hatinya ia tidak ingin melakukan itu.

"Papa tidak akan membiarkan seorang pun di bawah kekuasaan papa untuk mengotori tangan mereka dengan darah pria itu. Terserah kamu  mau menerima keputusan papa atau tidak." Ucapnya dengan intonasi suara yang memelan.

Rani semakin kecewa, permintaannya kembali ditolak oleh ayahnya. Ayahnya dan Ari dapat melihat dengan sangat jelas raut wajah penuh kecewa dari Rani. Lantas Rani memegang erat pegangan kopernya.

"Selamanya papa terus membela pria itu. Kenapa tidak pria itu saja yang menjadi anak angkat ayah? Kenapa harus aku?" Ucap Rani sinis.

"Rani! Apa-apaan kamu berbicara seperti itu!?" Rani sama sekali tidak menggubris pertanyaan ayahnya yang sudah tersinggung itu.

"Rani! Kembali kamu!" Bentak ayahnya Rani lagi. Namun Rani masih berjalan tegas meninggalkan ruangan itu.

"Yah. Tenangkan hatimu." Ucap Ari setelah Rani sudah tidak berada di ruangan itu lagi.

"Papa hanya ingin Rani bahagia." Ucap ayahnya Rani lagi.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang