Karma

8 0 0
                                        

"Pak, jangan di sini." Dena merasa risih berusaha melepaskan tangan investor itu dari bagian tubuhnya.

"Kenapa? Huh?" Bisik pria yang usianya seharusnya sudah sepantasnya menjadi ayahnya Dena itu masih tidak mau melepaskan gerayangannya dari tubuh Dena. Bahkan kini tangan itu sudah mulai menurun ke lekuk lutut Dena.

"Bapak tidak mau, bukan nama bapak tercemar di kantor ini? Nanti para staff curiga dengan bapak yang tidak keluar-keluar dari ruangan ini. Padahal meeting sudah selesai sepuluh menit yang lalu."

Mendengar pernyataan Dena, pria yang sedari tadi menatap Dena dengan tatapan mesum itu melepaskan tangannya dari tubuh Dena.

"Tapi kamu harus melayaniku. Kalau tidak aku akan mencabut sahamku dan kamu akan mengalami kebangkrutan." Bisik pria itu. Dena pun merasa telinganya geli mendengar bisikan itu.

Lantas pria itu pun keluar dari ruang meeting itu diikuti oleh Dena. Mereka berdua bersikap biasa saja saat melewati ruangan staff dan sampai di parkiran mobil.

---

Dena duduk di bangku penumpang sebelah pengemudi ketika pria itu mengendarai mobilnya.

Ketika mobil itu berada di jalanan yang macet, pria itu dengan mesumnya kini tengah asik memandangi bagian belahan paha Dena yang terekspos sempurna karena perempuan itu menggunakan rok spans di atas lutut.

Dena yang risih melihat tatapan jelalatan pria itu berusaha menutupi pahanya dengan kedua tangannya, namun tiba-tiba pria itu menyingkirkan kedua tangan Dena dari pemandangan yang sedari tadi dinikmatinya itu.

"Santai saja, Dena. Jangan tegang begitu." Ucap pria itu selagi salah satu tangannya dengan lembut mengelusi bagian paha Dena.

"Pak. Jangan." Ucap Dena lirih. Ia merasa kegelian dan sangat tidak nyaman oleh perlakuan salah satu investornya itu.

Namun, pria itu tidak mengindahkan permintaan Dena. Kini tangan nakal itu mulai masuk ke dalam rok Dena dan menggesekkan tangannya di belahan antara paha dalam Dena.

"Penolakanmu adalah perintah, Dena. Kamu sudah biasa, kan melayani para pria hidung belang supaya mereka mau berinvestasi ke perusahaan mu?" Tanya pria itu yang dijawab gelengan oleh Dena. Kini matanya sudah mulai basah. Namun pria itu tidak peduli.

"Jujur saja. Mereka para pria itu pasti mau berinvestasi karena mereka semua sudah menikmati tubuh indahmu." Ucap pria itu dengan penuh seringai. Sedangkan lampu merah kini sudah berganti menjadi warna hijau, dan kini tangan nakal itu sudah berhenti mengganggu tubuh Dena.

"Bapak jangan asal berbicara. Saya tidak pernah menjual tubuhku untuk menarik para investor itu." Ucap Dena tegas. Namun pria itu sama sekali tidak peduli.

---

Kini mereka berdua sudah berada di parkiran sebuah hotel. Pria itu yang masih belum puas mengeluarkan hasratnya masih mengunci mobil itu dari dalam.

Pria mesum itu kini kembali bergerilya melancarkan aksinya ke tubuh Dena. Tangan nakal itu kini kembali menjalar masuk ke dalam rok Dena dan menggesekkan tangannya ke pangkal paha Dena.

"Sekarang kamu mengangkang di hadapanku" perintah investor itu.

Dena yang saat itu masih memikirkan nasib perusahaan dan karyawannya itu kini hanya bisa menuruti perintah pria mesum itu.

Ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap pria itu dan ia secara ragu-ragu mengangkang lebar di hadapan pria itu. Lantas tanpa ragu-ragu pria itu langsung melepaskan celana dalam Dena secara paksa.

Ketika celana dalam Dena sudah terlepas, pria itu dengan mesumnya menciumi aroma pakaian pelindung area sensitif Dena di hadapan perempuan itu. Dena melihatnya merasa sangat terlecehkan, namun pria itu kembali menyeringai menatap perempuan seksi itu.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang