Reinkarnasi Papa

2 0 0
                                        

Suasana resepsi pernikahan Ari dan Santi sudah selesai. Sedari tadi para anggota mafia itu sama sekali tidak curiga dengan bos mafia yang sedari tadi duduk tertidur pulas di bangkunya.

Ari dan Santi yang sudah cukup letih dengan acara pernikahannya hendak ingin pulang ke mansion. Lantas ketika Santi sudah berdiri meninggalkan panggung itu, Ari justru ingin membangunkan ayahnya.

"Pa. Papa bangun. Acaranya sudah selesai." Ucap Ari yang sambil menggoyangkan bahu ayahnya.

Namun entah mengapa tubuh ayahnya itu sangat kaku. Wajah Ari memucat.

"Yah... Ayah bangun..." Ari semakin kencang menggoyang-goyangkan bahu pria renta itu. Namun pria itu hanya terbujur kaku dengan mata masih tertutup.

"Hei kamu!" Panggil Ari ke salah satu anak buahnya.

"Iya, tuan muda?" Tanya pria yang dipanggil itu. Dengan langkah bergegas pria yang dipanggil Ari naik ke panggung.

"Papa kenapa?" Tanya Ari yang berusaha menutupi rasa takutnya.

"Coba saya cek, ya tuan." Ucap pria itu, lantas Ari pun memberikan ruang kepada pria itu.

Lantas pria itu pun menggoyangkan bahu bos mafia itu, namun ternyata tubuh pria itu kaku. Wajah panik sangat terlihat di pria yang kini memeriksa keadaan bos mafia itu. Lalu ia pun dengan berusaha tenang meletakkan jari telunjuknya di salah satu lubang hidung bos mafia itu untuk mengecek pernafasan. Dan ternyata ia sama sekali tidak merasakan hembusan nafas pria itu.

Tidak mau menyerah, pria itu kini memegang pergelangan tangan pria renta itu untuk mengecek denyut nadi bos mafia. Namun denyut itu ternyata telah berhenti.

"Tuan muda, gawat. Kita harus menyelamatkan bapak. Sepertinya serangan jantung bapak kumat." Ucap pria itu dengan panik.

---

Malang tidak bisa diundur. Bahkan tidak bisa ditawar. Setelah mengalami malam yang begitu indah karena telah menikah dengan Santi. Justru Ari kini harus merelakan kehilangan satu-satunya sosok yang menjadi panutannya selama ini.

Alih-alih merayakan pernikahannya dengan malam pertama bersama Santi di sebuah kamar hotel mewah. Kini pria yang masih berpakaian formal khas pengantin pria itu duduk di salah satu bangku di rumah sakit di kota itu.

Ari memaksakan dirinya untuk sendirian saja di ruangan depan UGD itu. Ia saat ini sama sekali tidak ingin seorangpun ada di sampingnya. Walaupun itu adalah Santi, sang istri tercinta.

Air matanya menetes deras. Sedangkan wajahnya kini ditutupi oleh kedua tangannya. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau penyakit jantung stadium akhir yang selama ini diidap oleh ayahnya itu kini akhirnya berhasil merenggut pria yang paling berkuasa di dunia bawah itu saat ini juga. Di hari pernikahannya juga.

Setelah puas menangis sesegukan sendirian. Mata merah yang habis mengeluarkan banyak air mata itu menatap kosong tembok rumah sakit yang ada di hadapannya. Ia masih ingat dengan sangat jelas perkataan ayahnya yang terakhir kali diterimanya. Walaupun hari ini adalah hari terakhir bagi ayahnya, namun setidaknya ayahnya itu meninggal dunia dengan wajah penuh kebahagiaan.

Ternyata, permintaan ayahnya untuk melihat secara langsung pernikahan Ari dan Santi adalah permintaan terakhir ayahnya. Dan Ari telah menyanggupi itu.

Bahkan, yang paling mengharukan bukan hanya tentang pernikahan Ari. Tetapi justru pada saat-saat terakhir ketika ayahnya akan menutup mata untuk selamanya.

Sebelumnya, putri dan Erika, dua gadis kecil itu bercengkrama dengan ayahnya. Ari saat itu melihat dengan sangat jelas bagaimana bahagianya ayahnya ketika ia sedang memangku kedua gadis kecil itu. Bahkan ketika ayahnya selesai memangku kedua gadis kecil itu dan membiarkan mereka pergi, pria renta yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya mengaku kalau ia sangat bahagia karena seperti telah merasakan mempunyai cucu.

Lagi-lagi, mata yang memerah itu kembali meneteskan air matanya. Sedangkan kini jasad ayahnya itu tengah berada di kamar mayat. Menunggu waktu untuk dipulangkan ke mansion untuk melakukan upacara pemakaman.

---

Masih di rumah sakit yang sama. Keadaan Rani yang belum pulih benar karena pasca melahirkan itu membuat ibu yang baru saja melahirkan itu tidak bisa beranjak kemana-mana.

Selama ini, selama Rani dirawat di rumah sakit untuk masa-masa persalinan, Lion yang adalah suami dari Rani selalu berjaga di sisi istrinya itu.

Rani sama sekali tidak memegang handphone sehingga segala informasi yang ia terima mulai dari pernikahan kakak angkatnya dengan mantan kakak kelasnya itu ia terima dari Lion.

Bahkan tentang kabar terbaru Rani yang akhirnya sudah melahirkan anak laki-laki itu Lion juga yang memberitahukan ke seluruh keluarga besar anggota mafia itu.

Namun kini, Rani semakin lemas. Namun Rani terlihat sangat tegar dibandingkan sebelumnya. Rani sama sekali tidak mengeluarkan air mata ketika mendengar kabar bahwa ayah angkatnya itu telah meninggal dunia.

Bahkan, dilihat dari waktunya, ayahnya Rani itu meninggal di waktu yang sama persis ketika anak laki-laki yang dikandungnya hampir sembilan bulan itu lahir ke dunia.

Lion melihat wajah pucat Rani yang begitu datar. Lion sama sekali bingung kenapa Rani tidak menangis histeris atau menunjukkan raut wajah kesedihan atas meninggalnya seseorang yang begitu berjasa bagi istri dan idolanya itu.

"Kamu tidak bersedih, Rani?" Tanya Lion yang bingung. Sedangkan Rani yang terbaring di ranjang menatap kosong ke arah tembok atas rumah sakit itu.

"Lion." Ucap Rani.

"Iya, Rani?" Tanya Lion.

"Aku sedih. Sangat sedih karena papa meninggal. Bahkan papa pergi sebelum papa melihat cucunya sendiri." Ucap Rani. Lantas tiba-tiba air mata jatuh begitu saja dari ujung mata Rani.

Lion lalu mengusap sangat lembut air mata Rani.

"Tapi. Begini kan hidup, Lion? Bahkan hal seperti ini bisa dijelaskan secara sains. Apalagi kamu sangat menyukai pelajaran biologi. Jadi semua ini terasa begitu masuk akal, bukan?"

Lion merenung. Walaupun ia sebenarnya memang lebih menyukai ilmu botani daripada hewan atau manusia, namun pernyataan Rani memang sangat masuk akal. ketika ada seseorang lahir ke dunia, di saat itu juga ada juga seseorang yang menghembuskan nafas terakhirnya di dunia.

Walaupun hal ini sangat-sangat kebetulan dan jarang terjadi, namun kelahiran putranya dengan meninggalnya ayah angkat Rani yang di mana berarti mertuanya, itu semua sangat masuk akal.

Bahkan, tidak hanya dalam ilmu biologi, pada kerohanian hal seperti ini juga sangat masuk akal. Ketika ada seseorang yang lahir ke dunia, ada juga di saat itu orang itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Bahkan, dalam beberapa kepercayaan, bisa saja ayahnya Rani itu mengalami reinkarnasi. Di mana jiwa ayahnya Rani yang meninggalkan tubuh renta itu, justru kini muncul di tubuh anak yang kini menjadi anggota baru di keluarga kecilnya.

"Iya, Rani. Semua ini memang masuk akal." Ucap Lion sambil mengelusi rambut Rani yang berantakan itu. Kini kepala Lion tengah tidur-tiduran beralaskan bantal yang tengah dibaringkan kepala Rani. Dengan wajah yang menghadap ke arah Rani.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang