Info dari Jordy

5 0 0
                                        

"Permisi, Rani? Lion?" Sahut seseorang yang berada di luar pintu apartemen Lion.

"Lho, Jordy. Akhirnya kamu datang juga." Sahut Lion ketika sang empunya unit apartemen itu membuka pintu. Ia melihat pria berhoodie hitam itu datang sambil menggeret koper besar.

Rani melihat tamu Lion itu sambil tetap duduk di tempatnya itu.

"Jordy. Kamu baru datang, ya?" Rani pun pelan-pelan datang ke pintu masuk itu. Namun Lion menahannya.

"Rani. Kamu jangan ke sini. Biar aku bantu Jordy saja." Sahut Lion. Rani yang pagi itu sudah siap untuk berangkat kerja itu kembali duduk di tempatnya.

Jordy melihat Rani kini terlihat agak kurusan, namun tampak sangat sehat dan cerah. Ia juga melihat Rani begitu penurut terhadap Lion.

"Nggg... Rani. Kita langsung berangkat saja ke tempat kerjamu? Atau nanti saja?" Tanya Jordy yang masih berdiri di depan pintu masuk.

"Kamu masuk dulu saja ke sini. Aku baru mau sarapan sama Lion." Jawab Rani.

Lantas Rani pun melambaikan tangan ke arah Jordy. Jordy pun mengangguk dan berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu bangku kosong yang tersedia di sana.

Tak lama kemudian, Lion yang sudah membawa koper Jordy masuk ke dalam ruangan utama apartemen itu bergabung di meja makan.

Jordy sekilas tertegun melihat bagian interior apartemen Lion. Suasana hijau yang begitu dominan karena berbagai sayuran hidroponik itu membuat mata Jordy terasa sangat segar.

"Kamu beneran cuman punya lahan di dalam unit apartemen ini, Lion? Padahal pelanggan kamu banyak sekali, lho. Dan kamu selama lebih dari sebelas tahun sama sekali tidak kekurangan lahan?" Tanya Jordy sambil matanya terus jelalatan memerhatikan banyaknya tanaman-tanaman hidroponik milik Lion yang begitu segar dan gemuk.

"Ya. Ini hasil eksperimen ku, Jordy. Aku ternyata tidak kekurangan lahan untuk tanaman-tanaman sayuranku." Ucap Lion sambil tersenyum bangga melihat lahan pertanian di dalam ruangan itu. "bahkan di sini ada banyak space kosong yang bisa kutanam berbagai jenis sayuran lainnya. Bahkan kalaupun sebenarnya ada sayuran yang harus terkena sinar matahari, aku bisa mengakalinya dengan cahaya lampu bohlam."

"Apakah itu berhasil?"

"Tentu saja. Selama ini berhasil." Ucap Lion sambil tersenyum bangga. "Tapi aku akan mencari cara lain juga, bisa saja mereka bisa diakali tanpa harus menggunakan cahaya panas."

Sedangkan Lion dan Jordy sedang membicarakan tentang ilmu botani, Rani hanya bisa memerhatikan sambil terus mengunyah makanannya. Rani bisa melihat sangat jelas sorot mata Lion yang begitu berbinar-binar ketika ia membicarakan tentang ilmu botani. Benar-benar sangat terlihat kalau suaminya sangat menggemari ilmu tumbuh-tumbuhan itu.

---

"Jadi kamu menjadi supir pribadiku dengan mobil ini, ya?" Tanya Rani setelah mereka berdua tengah berada perjalanan menuju tempat kerja Rani.

"Iya, Rani." Jawab Jordy sambil pandangannya tetap menuju ke arah jalan.

"Ini, kan salah satu mobil papa. Papa yang nyuruh kamu pakai mobil ini?"

"Iya, papa yang nyuruh. Soalnya biar bisa ngelacak mobil ini juga, jadi papa di tempatnya tetap bisa mengawasi kamu." Lanjut Jordy lagi.

Rani sama sekali tidak marah dengan alasan papanya meminta Jordy menggunakan mobil ini. Justru karena diawasi, Rani merasa lebih nyaman karena begitu diperhatikan.

"Oh, iya Rani. Selamat, ya akhirnya kamu bisa bekerja sesuai dengan impianmu." Ucap Jordy lagi setelah beberapa saat mereka berdua terdiam.

"Iya, Jordy. Terimakasih. Sayangnya, aku gak bisa ketemu sama orang yang sudah bikin aku sesukses ini." Raut wajah Rani menjadi sendu.

"Lho? Memangnya siapa orang itu? Bukan Rino?"

"Bukan, Jor. Bukan Rino. Tapi Dara. Kamu ingat dia, kan?"

"Iya, aku ingat dia. Dia itu salah satu temannya Dena. Memangnya apa hubungannya dia dengan impianmu ini?"

"Jadi, Jor. Dara itu ternyata adalah dosen S2 ilmu Astronomi. Dan dia itu lulusan S3 Astronomi. Aku gak tau kenapa, tapi dia yang waktu itu tahu impianku justru berusaha untuk mewujudkan impianku itu. Lantas, ia begitu sabar mengajariku sehingga aku mempunyai ilmu astronomi setara dengan S3 sehingga aku direkrut sebagai salah satu peneliti di tempat kerjaku itu." Tatapan Rani mengawang ke arah langit. Dia begitu bangga akan temannya itu yang sangat cantik, baik, dan hebat itu.

"Tapi, Jor. Aku gak tahu kenapa, setelah aku keterima di lembaga antariksa itu, Dara tiba-tiba menghilang begitu saja. Dia mengundurkan diri dari profesinya sebagai dosen itu, bahkan dia juga tidak lagi mengunjungi lembaga antariksa. Sampai saat ini pun aku sama sekali tidak tahu keberadaannya ada di mana." Rani pun kini menundukkan kepalanya.

"OOO, jadi itu sebabnya kamu sangat bersyukur telah berteman dengan Dara?" Tanya Jordy yang dijawab anggukan oleh perempuan berjas lab itu.

"Kamu jangan sedih, Rani. Kalau kamu memang rindu sama Dara, kamu tinggal datang saja ke desa. Dia sekarang tinggal di sana, kok. Sebagai seorang guru pedalaman. Dia sekarang bahagia di sana." Rani tercengang mendengar jawaban Jordy.

"Kok kamu tahu? Kamu ngawasin dia, ya?"

"Untuk apa aku mengawasi dia? Dia tidak macam-macam, kok." Sergah Jordy.

"Lalu?"

"Kamu tahu, Rani. Semenjak keluargaku tahu kalau aku ini pengedar narkoba, keluargaku mengusirku. Dan aku kini tinggal di desa sebagai kampung halamanku. Jadi ketika aku libur panjang, bapak dan Kak Ari mengijinkanku untuk pulang ke desa." Jawab Jordy.

"Dan untungnya." Jordy pun tersenyum. "Ria ternyata yang juga tahu sisi gelap ku sama sekali tidak menolakku. Dia menerimaku apa adanya. Dan dia bersama anak-anak kami tinggal di desa."

"Lalu beberapa Minggu yang lalu sebelum kamu mulai bekerja di lembaga antariksa, aku mendengar kabar dari Ria, kalau di desa sudah kedatangan guru baru. Katanya guru itu adalah seorang perempuan cantik yang sangat cerdas. Dan yang menjadi identitasnya adalah kacamata besarnya yang selalu ia pakai." Lanjut Jordy.

"Dan ternyata, ketika aku pulang ke desa, aku pun melihat kalau ternyata guru baru itu adalah Dara. Dan aku melihat, Dara itu orangnya sangat ramah dan baik, sehingga para penduduk sangat menyukainya. Bahkan ia langsung menjadi guru favorit bagi para siswa. Bahkan Don juga sangat senang karena orang sehebat Dara justru mau mengabdi kepada para penduduk di desa itu, walaupun gaji yang diterimanya tidak sebesar saat ia menjadi dosen S2."

"Ah, begitu, ya. Tapi aku tidak heran. Dara itu orangnya memang sangat baik dan cerdas." Rani pun tersenyum senang. "Baiklah, kapan-kapan kalau aku libur kerja, aku ingin pergi ke desa untuk menemui Dara." Jordy tersenyum mendengar betapa antusiasnya Rani.

"Oh, iya Jordy. Semenjak kamu jadi pengawal papa, apa kamu masih menjadi pengedar narkoba?" Tanya Rani yang mulai mengganti topik pembicaraan.

"Tidak, Rani. Semenjak aku jadi pengawal bapak. Aku sudah tidak lagi menjajakan barang tersebut." Jawab Jordy.

"Lalu bagaimana dengan para pelangganmu?"

"Sudah dipindahtangankan ke orang lain." Rani pun ber oh ria mendengar jawaban Jordy.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang