Rino dan Dena menyaksikan acara penghormatan terakhir itu. Kini sepasang suami istri itu masih duduk di bangku yang telah disiapkan.
Rino memerhatikan setiap orang yang berpakaian hitam itu mengantri saling memberikan penghormatan itu. Namun Rino tiba-tiba terdiam terpaku.
Matanya terpaku pada seorang perempuan yang berjalan saja dipapah oleh pria di sebelahnya. Perempuan itu berjalan dengan sangat pelan dengan raut wajah yang memperlihatkan rasa sakit dan kesedihan. Sedangkan pria di sebelahnya terus dengan lembutnya mengelusi bahu perempuan tersebut.
Rino tidak dapat memungkiri. Dirinya ternyata masih memiliki rasa dengan perempuan itu. Walaupun kini perempuan tersebut terlihat lebih kurus dan lebih sehat daripada saat terakhir masih bersamanya.
Rino ternyata masih mencintai Rani. Dan perempuan kurus itu adalah Rani.
Seketika melihat Rani yang diperlakukan dengan sangat romantis oleh Lion membuat Rino cemburu. Namun ia sadar diri. Dirinya tidak akan pernah bersanding dengan perempuan yang ternyata sampai saat ini masih bertahta di hatinya itu.
Sesaat tangan Rino mengepal. Namun kepalan itu menghilang. Rino hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menghindari perhatian dari Rani dan Lion. Namun, Dena yang menyadari kehadiran masa lalu Rino dengan kekasihnya saat ini telah memperhatikan reaksi Rino.
Dena terdiam. Dena ingin kembali menunjukkan eksistensinya kepada Rino. Namun ia sadar di sini bukan tempat dan waktu yang tepat. Tangan Dena yang tadinya ingin menggenggam erat tangan Rino, kini ia urungkan.
---
Kecemburuan Dena semakin menjadi saat berada di mansion tadi.
Dena seringkali memergoki Rino yang tidak mampu melepaskan pandangan penuh cinta ketika hanya mampu memandangi Rani dari kejauhan. Dena bahkan bisa merasakan betapa sakitnya Rino ketika suaminya itu melihat Rani yang tengah bermain-main dengan bayi kecilnya yang berada di pelukan Lion.
Dena bisa merasakan betapa irinya Rino kepada Lion karena sudah berhasil mendapatkan hati Rani dengan sepenuhnya. Walaupun pemandangan itu hanya singkat, namun ternyata pemandangan yang menyakiti hati Rino itu benar-benar membekas selama beberapa Minggu ini.
Berkat pemandangan itu, Rino yang tadinya bersikap sangat lembut dan hangat kepada Dena, kini berubah kembali menjadi sosok yang dingin. Bahkan, Rino kini sama sekali tidak membalas perlakuan penuh cinta dari Dena selama melakukan aktivitas ranjang itu.
Rino memang sudah tidak mengkonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi lagi. Namun, Rino benar-benar sudah sangat berubah.
Dena sama sekali tidak merasakan cinta lagi oleh Rino. Namun Dena masih ingin memiliki suaminya itu.
Di malam, itu. Entah malam dari Minggu keberapa dari pertemuannya dengan Rani saat itu, Dena sama sekali tidak bisa tidur. Diam-diam air matanya kembali mengalir.
---
Melihat Rino yang sudah seperti kehilangan hidupnya, Dena sadar kalau dirinya yang adalah perebut kebahagiaan Rino. Dena yang saat itu sudah sungguh-sungguh mencintai Rino tidak akan mengekangnya lagi untuk dirinya sendiri. Ia akan memilih membiarkan Rino bebas.
Di malam itu, Dena yang sudah membeli satu lingerie itu memasukkan satu tetes obat perangsang ke gelas yang berisi minuman yang biasanya selalu Rino minum ketika akan tidur.
Dena tidur-tiduran sambil menunggu Rino duduk di ranjang untuk tidur. Ia melihat pria bertelanjang dada itu kini tengah meminum air di gelas yang telah Dena isi cairan itu. Dan lalu Rino pun tanpa memandangi wajah Dena terlebih dahulu, Rino memejamkan matanya.
Dena menunggu obat itu bereaksi. Dan beberapa saat kemudian reaksi obat perangsang itu muncul di tubuh Rino. Rino terlihat agak kepanasan dan ia lalu melepaskan saja selimutnya dan melepaskan celananya.
Mata Rino terbuka dan dengan pandangan penuh nafsu, tiba-tiba Rino memandangi Dena. Rino memandangi Dena yang memakai pakaian minim itu dengan tatapan lapar. Dena mengerti obat itu telah beraksi dan Dena langsung menyerang Rino.
Dan tak lama kemudian Rino yang sadar dalam keadaan pengaruh obat perangsang itu kini sudah tidak mampu mengontrol tubuhnya. Lantas ia pun mengabiskan malam yang sangat panas itu kepada Dena di malam itu.
---
"Apa yang semalam telah kamu lakukan, Dena?" Tanya Rino dingin saat mereka berdua tengah berada di meja makan.
"Apa?" Tanya Dena yang pura-pura tidak tahu.
Rino lalu membanting kertas koran yang dibacanya itu di atas meja. Tatapan pria itu menatap perempuan di depannya dengan tatapan tajam penuh emosi. Dena sedikit bergidik, namun ia menahan rasa takutnya dan berusaha bersikap normal.
"Apa yang telah kamu masukkan ke dalam gelas itu?" Tanya Rino dengan pelan namun penuh penekanan.
"Aku..."
"Jangan mentang-mentang kamu menguasai diriku, kamu bisa melakukan hal seenaknya seperti itu kepadaku. Kamu memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku." Ucap Rino pelan.
"Kupikir kamu sudah berubah, Dena. Kupikir dengan dewasanya dirimu yang saat ini, kamu jadi mengerti kalau yang kamu butuhkan saat ini dariku adalah cinta. Bukan nafsu."
"Kupikir kamu sudah tidak lagi bernafsu dengan tubuhku, namun kamu mengharapkan rasa nyaman dan aman dariku."
"Tapi aku salah, Dena. Ternyata kejadian yang dilakukan investor penipu itu sama sekali tidak membuatmu belajar. Ternyata kamu masih mengandalkan seks untuk mengikatku. Aku kecewa, Dena. Aku kecewa." Ucap Rino yang kini menjadi lirih.
"Kamu padahal sangat berharap jika aku menyentuh tubuhmu dengan cinta. Bukan lagi dengan bantuan obat perangsang itu. Bukankah itu yang selama ini kamu harapkan semenjak setelah sepuluh tahun yang lalu itu?"
"Rino.... Aku sengaja melakukan itu.... Aku sengaja di malam itu memberikan obat perangsang itu untukmu..." Tanya Dena. Kini suaranya mulai bergetar.
"Kenapa, Dena? Padahal kamu sangat tahu aku membenci obat itu karena pemerkosaan yang kamu lakukan padaku saat itu." Tanya Rino.
"Karena aku sangat mencintaimu, Rino... Namun aku sangat tahu sampai kapanpun kenyataannya... aku tidak akan pernah bisa memilikimu... Bahkan aku tidak bisa memiliki hatimu... Semenjak acara penghormatan terakhir kepada bapak... semenjak aku melihat dengan mata kepalaku sendiri... betapa rasa cinta yang begitu dalam darimu kepada Rani... yang bahkan dari tatapan mata saja sudah sangat terlihat jelas... aku sadar kalau sampai kapanpun di hatimu hanya ada Rani." Ucap Dena dengan matanya yang kini sudah berkaca-kaca.
"Aku sangat tahu di hatimu sampai kapanpun hanya ada Rani... Aku rela, Rino.... Aku rela... Semua ini memang dari salahku dan nafsu bejatku yang begitu besar kepadamu saat SMA dulu... Sehingga aku dengan teganya memisahkan dirimu dari Rani."
"Tapi Rino... Aku hanya berharap aku bisa memiliki sesuatu darimu... Aku begitu mencintaimu... Walaupun aku memang kenyataannya tidak akan bisa memiliki dirimu... namun biarkan aku tidak merasa kesepian karena telah memiliki seorang anak darimu... Iya, Rino... Anak darimu..." Dena lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahu bergetar menunjukkan kalau Dena kini tengah menangis sesegukan.
Namun Rino justru pergi meninggalkan ruangan itu. Dan tanpa berlama-lama, Rino pergi meninggalkan ruangan itu dengan membawa koper besar. Meninggalkan Dena sendirian di rumah itu. Dan pergi entah kemana dengan mobil pribadinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomanceBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
