"Dara. Syukurlah kamu sempatin dulu datang ke mejamu." Dara menatap bingung ke arah seorang perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen itu.
Perempuan yang juga adalah teman dekat Dara selama bekerja itu memperhatikan perempuan yang membawa dua buah buku itu dengan tatapan linglung. Sedangkan Dara yang ditatapnya itu hanya bisa bingung sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Kenapa panik? Padahal aku tidak ngapa-ngapain."
"Bagaimana aku tidak panik? Lihat. Lagi-lagi meja kamu itu penuh dengan hadiah."
Dara mulai menghampiri mejanya, di sana meja kerjanya sudah dipenuhi berbagai hadiah romantis. Mulai dari coklat beraneka ragam dan bentuk, bunga mawar dengan beraneka buket, bahkan ada juga yang mengirim boneka beruang kecil sambil memeluk hati.
Melihat banyak sekali hadiah manis yang diterimanya saat ini, Dara pun hanya bisa menghembuskan nafasnya. Masalahnya, tadi pagi ia juga telah menerima banyak sekali hadiah yang diletakkan begitu saja di atas mejanya. Bahkan, semenjak ia sudah mulai populer dengan statusnya ini, apalagi semenjak publik mengetahui kalau ia sampai saat ini masih belum mempunyai tambatan hati, setiap hari, setiap saat selalu saja ia menerima berbagai macam hadiah serupa dari para penggemarnya itu.
Dara pun akhirnya duduk di tempatnya, berusaha merapikan hadiah-hadiah tersebut sehingga tidak mengganggunya bekerja. Namun hal itu percuma saja. Karena hadiah yang ia terima saat ini sangat banyak.
"Hadiahnya, semuanya buat kamu saja, ya? Bagaimana?" Tanya Dara ke teman yang duduk di sebelahnya itu.
"Serius? Semuanya buat aku?" Dara mengangguk lesu. Masalahnya Dara sendiri juga sebenarnya sudah merasa sangat bosan diperlakukan terlalu istimewa seperti ini.
"maaf, Dara. Kali ini aku menolak, ya. Dan mulai saat ini jangan berikan hadiah-hadiah itu kepadaku." Lantas teman Dara itu membenarkan posisi bangkunya dan kembali bergelut dengan segala pekerjaannya yang sudah menumpuk itu.
"Kok nolak? Biasanya kamu senang-senang saja menerima hadiah-hadiah seperti ini." Dara mulai tidak terima dengan penolakan temannya itu.
Lantas temannya itu menengok lagi dara secara kasar, dengan tatapan dongkolnya.
"Asal kamu tahu, Dara. Penggemarmu itu sekarang sudah pada tahu ke mana kamu membuang hadiah-hadiah pemberian mereka kepadamu. Ya itu ke aku. Dan mereka yang tadi mengirimkan hadiah itu ke meja kamu selagi kamu diskusi dengan Rino, mereka menatapku dengan tatapan penuh amarah! Bahkan mereka sampai mengancam supaya aku tidak boleh menerima hadiah-hadiah yang mereka berikan kepadamu."
Mendengar penjelasan temannya itu, Dara pun terdiam. Ia melamun selagi temannya itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sebenarnya, Dara sangat senang apabila menerima hadiah-hadiah manis seperti ini. Namun, bukan orang-orang yang adalah penggemarnya itu yang diharapkannya untuk memberikan hadiah semacam ini. Ia sebenarnya berharap supaya orang yang memberikan hadiah manis ini adalah Dika.
Namun, Dara sadar diri. Seharusnya ia mampu melupakan Dika. Dika yang sudah bertunangan itu, saat ini sampai seterusnya adalah milik Dewi.
Dara yang masih teringat dengan pertanyaan Rino yang barusan membuatnya kembali mengingat perasaanya akan Dika. Namun, ia selama di kampus harus bersikap profesional. Jangan campur adukkan perasaan ketika sedang bekerja.
Dara membuka buku pelajaran milik Rani yang baru saja dipinjamnya dari Rino. Dara kemudian mulai tenggelam dalam konsentrasinya mempelajari segala macam pemecahan permasalahan yang dijabarkan oleh Rani. Hingga tanpa sadar, ia pun kini sudah tiba di halaman akhir, dan ia melihat tulisan impian Rani itu.
"Jadi sebenarnya ia ingin bekerja di lembaga antariksa?" Tanya Dara dalam hatinya. Dara tersenyum.
---
Walaupun Dara telah berhasil menyembunyikan luka di hatinya itu. Namun itu semua tidak akan pernah berhasil disembunyikan ketika ia berada di dalam kamarnya.
Di dalam kamar yang telah ditempatinya selama ia hidup itu, segala gundah gulana, penyakit hatinya, kekecewaannya, dan segala ekspresi itu ia tuangkan dalam tangisan di ruangan ternyamannya ini.
Waktu sudah sore. Menjelang malam. Dara masih bisa menahan rasa sakitnya, apalagi ketika teringat kembali pertanyaan Rino mengenai alasannya menggeluti dunia astronomi.
Namun, sesungguhnya Dara sama sekali tidak tertarik dengan tata Surya, bahkan di kamarnya ini, yang menghubungkan dirinya dengan segala benda di luar angkasa itu hanyalah sebuah rak buku dengan berbagai buku teori astronomi.
Selebihnya, tidak ada lagi.
Dara yang sudah meletakkan tasnya di atas tempat tidurnya, kini ia duduk di kursi belajarnya. Di sana, ia melihat sebuah pigura foto yang berisi foto Dika yang dulu ia ambil gambarnya secara diam-diam.
Dara memegangi pigura foto itu dengan senyum lirih. Ia pandangi lekat-lekat foto pria pujaannya itu dengan tatapan nanar. Air mata menggenang di matanya, netranya bergetar, hatinya terasa nyeri, namun bibirnya mengukir senyuman.
Ia tahu, selama sebelas tahun ia hanya bisa menyimpan perasaan sukanya secara rapat, dan menguburnya sedalam mungkin. Ia enggan untuk mengungkapkan secara langsung isi hatinya kepada Dika. Namun, apakah Dika sedikitpun pernah menyadari apa yang ada di dalam hatinya?
Lucunya, perasaan hatinya Dara saat ini sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dijelaskan secara logika. Bahkan ilmu sains pun tidak akan mampu memecahkan akar permasalahannya yang sudah bertahun-tahun dideritanya ini. Bahkan, tidak ada rumus apapun yang mampu menyelesaikan penderitaan hatinya ini.
Selamanya, Dika tidak akan pernah tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Dara kepada pria yang mampu ditatapnya secara jauh itu di dalam diamnya.
Dara lalu meletakkan kembali pigura foto itu, sambil satu tangannya lagi menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya untuk menenangkan hatinya.
Dara lalu membuka laci di meja belajarnya itu. Di sana, ia mengambil sebuah undangan pernikahan yang Minggu lalu diberikan Rino padanya.
Ia masih mengingat bagaimana Rino begitu antusias ketika mengetahui kalau Dara akhirnya diterima menjadi dosen S2 tetap di fakultas yang sama dengan dirinya. Rino dengan senangnya memberikan surat undangan itu kepada Dara. Dan Dara dengan senyum yang dipaksakan menerima pemberian Rino itu.
Namun, ketika ia melihat siapa yang akan menikah akhir pekan ini, jantung Dara tiba-tiba terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Namun, Dara lagi-lagi harus menahan rasa perih itu dengan senyuman. Karena bahkan sampai kapanpun, Rino juga sama sekali tidak tahu apa perasaan sesungguhnya dari seorang Dara.
Dara melihat, di undangan tersebut yang menikah adalah Dika dan Dewi.
Ketika senja menghilang menjadi malam, ketika kamar Dara mulai gelap karena matahari sudah berganti menjadi bulan, dan ia masih belum menyalakan lampu kamarnya, Dara kembali membaca undangan itu, dengan cahaya yang remang.
Lagi-lagi judul di kertas undangan pernikahan itu menyakiti hatinya.
Kali ini, di sini, Dara boleh menuangkan rasa sakit dan kecewanya. Dara boleh menangis di ruangan ini, bukan? Dara boleh menuangkan segala perihnya bukan? Ketika Dika, cintanya, sudah resmi menjadi milik Dewi. Dan selamanya Dika adalah kekasihnya yang tidak akan pernah sampai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomansaBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
