Serakah

8 0 0
                                        

Dor!

Suara tembakan yang keluar dari pistol milik bos itu menggema di rumah itu.

Sopir yang tadi asik melecehkan selangkangan Don itu kini sudah tergeletak jatuh tak berdaya di hadapan Don dan bos itu. Kepalanya yang bolong akibat peluru yang bersarang itu kini telah keluar darah yang mengental dan kini membasahi bagian dahi dan berlanjut menggenang di lantai.

"Singkirkan tangan orang sombong itu dari milikku!" Lantas bos itu yang tangannya tidak memegang pistol itu menepis tangan Don yang memegang tangan sopir itu. Lalu Don pun reflek menjatuhkan tangan yang kini sudah terkulai tak berdaya itu jatuh ke atas lantai.

"Sekarang tidak ada lagi sopir sombong itu yang menguasai milikku. Selangkangan ini harusnya selalu menjadi milikku." Bisik bos itu di telinga Don.

Perlahan-lahan, pistol yang ujungnya telah selesai mengeluarkan asap itu di bagian mulutnya menelusuri setiap tubuh Don. Mulai dari mulut Don, jatuh ke arah leher, torso, dan akhirnya berujung di selangkangan Don.

"Dan lubang anus ini." Akhirnya mulut pistol itu mulai memasuki area pangkal paha Don. Don merasa kulitnya agak sensitif ketika mulut pistol yang masih panas itu tengah bergesekan dengan area yang seharusnya privasi ini.

"ini hanya milikku. Tidak ada seorangpun yang boleh menyiksa area ini selain aku!" Lantas mulut pistol itu kini menancap dalam di lubang anus Don.

Don hanya terdiam sambil memejamkan mata. Kini mulut pistol itu tengah asik bergesekan dengan bagian dalam lubang anusnya. Dan apabila ia sedikit saja melakukan kesalahan, bisa saja bos itu menembakkan peluru di dalam lubang anusnya itu.

Semakin lama gesekan dari mulut pistol itu semakin kencang dan dalam. Lagi-lagi Don merasa semakin tidak nyaman dengan perlakuan bos penipu itu.

"Aahhh...." Rintih Don yang berusaha tetap berdiri dan tidak menyentuh selangkangannya ketika bos itu semakin keras dan kasar menyiksa lubang anusnya dengan senjata apinya itu. Kepala pria telanjang bulat itu mendongak ke atas karena merasa sangat tidak nyaman.

Don berusaha menahan diri supaya tidak jatuh dengan menahan dua tangannya di sofa di depannya. Sedangkan kini satu tangan lainnya milik bos itu kini tengah asik mengocok-ngocok penis Don. Hingga akhirnya penis Don semakin membesar dan mengeluarkan cairan bening beraroma pandan itu di salah satu sisi sofa.

Tubuh Don kembali lemas setelah memuncratkan spermanya. Don pun membaringkan perutnya di ujung atas sofa dan bos itu melepaskan tubuh Don dengan membiarkan pistol itu masih menancap di lubang anusnya.

"Dan kamu!" Bos itu kini semakin memperdalam tancapan pistol itu di dalam lubang anus Don. "kamu jangan kemana-mana! Aku akan memanggil orang-orang ku untuk membersihkan mayat menjijikan ini." Ucap bos itu sambil mengorek-ngorek lubang anus Don dengan mulut pistol itu.

Sambil tetap membiarkan mulut pistol itu menancap di lubang anus Don, pria gendut itu pergi meninggalkan Don. Setelah derap langkah itu telah menghilang tanda orang itu benar-benar telah pergi, Don berdiri menegakkan badan dari sofa tempatnya berbaring barusan.

Don lalu berjalan mengangkang sambil tetap mengapit pistol itu di mulut lubang anusnya. Ia berjalan menuju mayat sopir itu yang kini sudah terbujur kaku, dan ia pun berjongkok mengangkang di bagian atas dada mayat yang terbujur kaku dalam keadaan telentang itu.

"Tadinya selangkanganku sudah begitu nyaman dengan tanganmu." Ucap Don sambil melihat tangan yang biasanya menggosok bagian selangkangan Don dan kini sudah terbujur kaku itu.

"Tadinya, aku ingin melindungimu saat kutahu kamu mempunyai seorang anak yang harus kamu perhatikan masa depannya." Don kini kembali menghadapkan tatapannya ke wajah sopir itu yang meninggal dalam keadaan mulut menganga.

"Tapi ternyata kamu tidak sebaik yang kupikirkan. Kamu justru menyia-nyiakan keluargamu, kamu terlalu brengsek kepada istrimu sendiri dan memilih para jalang sepertiku untuk memuaskan nafsu bejatmu. Kamu bahkan juga menyiksa dengan berbagai kekerasan terhadap anakmu satu-satunya. Dan kamu mengabaikan pendidikan dan rasa amannya hanya demi memuaskan nafsu bejatmu."

"Padahal seandainya kamu ternyata mencintai dan menyayangi keluargamu, selangkanganku dengan sukarela mau selamanya menjadi pemuas nafsu bejatmu. Dan menjadi objek pelecehan dan kekerasan seksual darimu."

Lantas Don pun mencondongkan tubuhnya membungkuk ke depan. Ia lalu memposisikan selangkangannya supaya berhadapan langsung dengan wajah sopir itu. Dan kini penis Don masuk secara sempurna di mulut sopir yang menganga itu.

Dengan mempertahankan posisinya itu, Don melenguh pelan ketika mulut sopir itu menjadi lubang Don memasukkan penisnya. Ia lalu semakin lama semakin dalam memasukkan penisnya ke dalam lubang itu dan menikmati lidah kaku yang kini tengah memberikan rasa dingin di batang kemaluannya itu.

Sambil tetap mempertahankan posisinya itu dengan kedua tangannya, Don menaik turunkan pinggulnya, seolah-olah ia sedang menyetubuhi mulut sopir itu. Tanpa ia sadari kini bos dengan ketiga anak buahnya kini tengah berdiri dihadapannya.

"Oh, ternyata kamu masih ingin menjadi budak seks mayat menjijikan itu!" Suara menggelegar bos itu membuat Don mendongakkan kepalanya.

Don melihat bos itu kini berjalan dan kini berada di belakang Don.

"Berdiri, kamu selangkangan murahan!" Lantas bos itu menusuk semakin keras pistol yang kini masih bersarang di lubang anus Don.

Don merintih kesakitan, matanya terpejam ketika hanya dengan mulut pistol yang ditancapkan itu, bos itu memaksa Don untuk berdiri dari posisinya saat ini.

Bahkan kini hanya dengan memegang pistol itu, Don dipaksanya untuk menyingkir dari mayat sopir itu.

"Aaahhh...." Rintih Don. Ketika pistol itu kini semakin kasar mengorek-ngorek lubang anus Don, bahkan kini mulut pistol itu sesekali meninju prostat Don.

"Sekarang singkirkan mayat itu! Aku tidak mau ketika keluar dari kamar, aku melihat sedikit pun bekas dari mayat sopir menjijikan yang mau mengambil barang pemuas nafsuku ini." Perintah bos itu kepada ketiga anak buahnya.

"Baik bos!" Jawab ketiga anak buah itu serentak.

Lantas mereka bertiga pun bergotong royong mengangkut mayat sopir itu. Dan satu lagi langsung mencari alat pel untuk membersihkan darah yang berceceran.

Sambil terus memegangi pistol yang menancap dalam di lubang anus Don, bos itu menuntun Don untuk pergi ke pintu kamar bos itu.

"Kenapa kamu tega pada anak buahmu?" Tanya Don ketika matanya masih melihat proses pembuangan mayat itu.

"Karena sopir itu telah lancang menyentuh selangkangan mainannku ini." Ucap bos itu sambil kembali mengorek-ngorek bagian dalam lubang anus Don. Dan Don pun bergenjit.

"Tapi kamu juga sama, sama menyiksa selangkanganku. Dan ketiga anak buahmu melakukan demikian. Ah..." Don merasa lubang anusnya semakin tidak nyaman. Namun ia sama sekali tidak diperbolehkan menggosokkan tangannya di selangkangannya sendiri.

"Aku melakukannya karena mau. Dan mereka bertiga melakukannya karena kuperintah." Jawab bos itu sambil tangan satunya merogoh kantungnya dan mengeluarkannya sebuah kunci kamar.

"Dan ketika kamu sudah memasuki kamar ini, jangan harap aku dapat memperlakukan selangkanganmu dengan lembut. Aku akan terus membuat selangkanganmu jauh lebih tersiksa dan tidak berguna, serta jauh lebih menjijikkan daripada malam itu." Bisik bos itu.

"Lakukan itu, bos. Dan jangan biarkan selangkanganku beristirahat. Buatlah lubang anus ini menjadi tempat sampah paling menjjikan yang pernah kamu lihat." Bisik Don yang membuat darah bos itu semakin berdesir. Dan lalu bos itu memandangi penis Don dengan tatapan mesum, dan lidahnya menjilati leher Don.

Guratan Kehidupan S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang