Jam dinding di ruangan milik CEO itu menunjukkan waktu pukul sepuluh malam. Dena yang adalah pemilik ruangan itu merasakan kalau waktu itu kini sudah terlalu malam.
Perempuan itu mengecek software komunikasi yang dibuat khusus oleh kantornya. Ia melihat di sana ternyata Rino masih sibuk bekerja.
Dena yang saat itu sudah menyelesaikan pekerjaannya memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangannya. Lagipula, malam ini begitu mencekam untuk dirinya.
Karena sebelumnya, salah seorang investornya akhir-akhir ini telah sering menggodanya dengan pesan-pesan yang tidak senonoh. Bahkan akhir-akhir ini ia juga tengah dikuntit oleh seseorang.
Di luar ruangannya, Dena melihat ruangan staff yang kini sudah kosong melompong. Tidak ada seorangpun di sana. Sedangkan di ujung sana, ruangan aktuaris itu lampunya masih menyala. Lantas perempuan CEO itu pun dengan terburu-buru langsung pergi menuju ruangan itu.
---
Ruangan aktuaris, tempat Rino bekerja itu sedari pagi sampai malam larut ini masih sangat hening. Dena bingung, mengapa akhir-akhir ini Rino sama sekali tidak mengeluarkan amarahnya.
Pintu ruangan itu tidak dikunci, walaupun begitu, Dena masuk secara perlahan-lahan ke dalam ruangan itu supaya tidak mengganggu Rino yang masih sangat sibuk bekerja.
Rino sama sekali tidak memedulikan perempuan di depannya yang kini duduk dihadapannya. Pria itu masih terlihat begitu serius dengan sesekali memijit keningnya. Tatapannya terlihat begitu pusing dengan kertas-kertas laporan yang sudah hampir seminggu itu telah diterimanya.
Beberapa saat kemudian, Rino yang benar-benar letih itu mengistirahatkan matanya dan mengalihkan pandangan dari deretan angka-angka itu. Kepalanya ia dongakkan ke atas dan beberapa saat kemudian ia menghadapkan wajahnya ke arah bosnya itu.
"Kamu belum pulang?" Tanya Rino.
"Aku nungguin kamu pulang saja, ya." Ucap Dena ragu-ragu.
"Ini sudah larut malam. Tidak baik bagi seorang perempuan untuk pulang selarut ini." Dena tertegun mendengar pesan yang barusan dikatakan suaminya itu. Ia baru sekali ini diperhatikan oleh suaminya.
"Tapi aku yakin. Kamu pasti bisa jagain aku." Jawab Dena.
"Jadi aku boleh ya pulang sama kamu." Bujuk perempuan itu.
Sedangkan Rino. Entah mungkin ia mulai melihat istrinya ini, atau memang baru pertama kali ia melihat Dena seperti ini. Rino mulai merasa kuatir dengan ekspresi ketakutan yang dikeluarkan oleh Dena. Pria itu membereskan berkas-berkas yang seharian ini membuat kepalanya begitu pusing dan penuh tanda tanya. Dan ia pun mematikan komputernya.
Melihat suaminya beberes untuk pulang, Dena tersenyum sumringah.
"Baiklah, kita malam ini pulang bersama." Ucap Rino yang sambil berdiri dari mejanya. "Tapi aku meminta sesuatu padamu."
"Apa itu?" Dena begitu antusias ketika Rino akhirnya meminta sesuatu darinya. Ia berharap Rino meminta sesuatu yang begitu romantis darinya.
"Aku minta seluruh data pemasukan dan pengeluaran selama investor itu menginvestasikan dananya ke perusahaan ini. Mulai dari awal ia investasi, sampai saat ini." Dena agak kecewa dengan permintaan dari Rino. Ternyata perkiraannya salah. Namun, Rino yang sebenarnya sudah terlihat letih itu tidak memerhatikan perubahan ekspresi wajah dari perempuan itu.
"Siapa investor itu?" Tanya Dena.
"Pria yang akhir-akhir ini mengganggu dirimu. Kamu tahu jelas siapa orangnya." Jawab Rino acuh. Namun Dena terkejut.
Dena sama sekali tidak menyangka, kalau selama ini ternyata Rino juga memerhatikan dirinya. Bahkan sampai sebegitu melindungi dirinya.
Wajah perempuan itu memerah. Ia merasa mungkin ini sikap romantis yang ditunjukkan suaminya kepadanya.
Perempuan itu walaupun tidak berjalan bersampingan dengan suaminya, walaupun suaminya tidak mau disentuh di tempat umum, namun sikap mengawasi secara diam itu membuat hatinya berdebar-debar karena dicintai. Ia memandangi kagum punggung pria yang sedari tadi berjalan di depannya.
"Rino. Kamu terlihat begitu letih. Lebih baik kamu istirahat di dalam mobil, ya. Biar aku saja yang menyetir." Ucap Dena ketika mereka berdua tengah berada di parkiran mobil gedung perkantoran itu.
Dena juga yang melepaskan jaket yang dikenakan oleh Rino, dan mengambil tas kerja suaminya itu. Sedangkan Rino, ia hanya menurut. Ia sekarang benar-benar tengah letih.
Sedangkan lagi-lagi, di saat perjalanan, suasana hening tengah menghiasi bagian interior mobil Dena. Dena memang sengaja membiarkan suara deru mobil terdengar di dalam mobil itu, tidak ada suara tape atau musik apapun, sedangkan Rino hanya tertidur pulas.
---
Beberapa saat kemudian mereka berdua pun sudah sampai di dalam rumah mewah milik Dena. Waktu saat itu sudah menunjukkan waktu yang semakin larut. Dena yang sudah selesai mandi itu langsung mengenakan lingerie untuk tidur.
Rino pun beberapa saat kemudian juga selesai membersihkan diri. Pria yang bertubuh kurus kering itu hanya mengenakan celana panjang ketika sedang tidur. Dena sesungguhnya masih belum bisa tidur karena terus memikirkan suaminya itu.
Di satu sisi, Dena bingung bagaimana pria itu bisa tahu kalau akhir-akhir ini dirinya tengah diganggu oleh salah satu investornya, Dena juga merasa sedih ketika melihat tubuh suaminya itu dan ingin sekali membuat tubuh suaminya kembali seperti saat masih SMA dulu.
Mata Dena sendu sambil tidur-tiduran dengan mata masih menatap punggung pria itu. Namun tatapan sendu itu berubah menjadi penasaran campur senang.
Dena melihat, Rino ternyata sedang mengubah kebiasaannya. Pria itu malam ini entah mengapa tidak menyuntikkan obat tidur. Tidak seperti biasanya. Lalu pria itu justru membaringkan tubuhnya setelah mematikan lampu, dan langsung tidur.
Dalam waktu kurang dari satu menit, Rino mulai tertidur pulas. Dena semakin tersenyum melihat peningkatan dari suaminya. Ia lalu secara perlahan-lahan mendekatkan tubuhnya ke arah pria yang tengah tidur telentang itu.
Dena mencoba untuk memeluk lembut pria yang adalah suaminya itu, namun pria itu tidak bergeming dan terus tertidur dengan mengeluarkan dengkuran halusnya.
Dena tahu, suaminya pasti sangat letih. Namun Dena senang dengan itu. Pria itu ternyata telah bekerja keras demi perusahaannya. Lantas Dena pun mencoba membaringkan kepalanya di atas dada suaminya. Sambil matanya terus menatap wajah Rino.
Sesaat kemudian, Dena masih belum puas dan masih merasa tengah berada di dalam mimpi. Ia pun dengan lembut mengecup ujung bibir Rino. Rino sama sekali tidak bergeming, namun Dena masih sangat senang. Ia lalu memainkan ujung bibir Rino dengan jarinya dan lalu mengelusi bagian rahang dan pipi pria itu dengan jarinya.
Senyum bangga dan bahagia mewarnai hatinya dan wajahnya. Lalu Dena pun kembali menyandarkan kepalanya di atas dada Rino yang tengah telanjang itu. Perempuan itu memeluk bagian pinggang Rino, sedangkan matanya berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
Dalam hatinya, entah mengapa kondisinya saat ini membuat dirinya begitu aman. Dekat dengan Rino entah mengapa membuatnya begitu aman. Walaupun ia tahu kalau teror penguntitan itu sampai malam ini masih terus menghantuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomansaBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
