"sebentar-sebentar. ini Doni yang waktu sama dulu itu juga kan? Yang trio populer itu?" Tanya Santi memastikan pria yang kini berdiri di sebelah Dara.
"Iya, lho. Ini Doni yang trio populer itu. Yang dulu satu geng dengan Dion dan Roni." Jawab Dara dengan penuh semangat.
"Memangnya kami dulu seterkenal itu, ya?" Tanya Doni yang tidak percaya. Karena pada saat itu ia juga Dion dan Roni hanya fokus mencari tumbal sehingga tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
Sedangkan Don yang sedari tadi tidak mengerti pembicaraan keemoat orang itu hanya diam tidak tahu mau melakukan apa.
"Tunggu dulu. Di dekat sini ada kafe. Kalian bisa reunian di sana. Lagipula sekarang KBM sudah selesai, bukan jadi kalian berdua sudah bebas?" Ucap Don yang mencoba mengeksistensikan dirinya di ruangannya sendiri.
Lantas keempat orang tamunya Don itu menoleh ke arah pemilik ruangan.
"Oh, iya Don maaf kelupaan. Jadi begini. Kita boleh duduk dulu?" Tanya Santi.
"Iya silahkan duduk di sofa yang telah disediakan." Ucap Don lantas kelima orang itu duduk di sofa.
"Ini." Santi mengeluarkan sebuah kertas undangan. Di sana tertera sampul undangan pernikahan atas nama Ari dan Santi.
"Wah. Jadi akhirnya kalian menikah juga?" Tanya Don yang menerima undangan itu.
"Iya, Don. Acaranya sabtu ini. Tadinya aku mau mengundang Dara juga, tapi aku kehilangan kontak. Nah, aku ada juga versi digitalnya, nanti aku sebarkan ke kamu, ya Dara. Juga Doni. Sekalian kita ngumpul-ngumpul, ya di kafe setelah urusan ku dan Dena dengan Don selesai." Ucap Santi.
"Iya, Santi." Jawab Dara.
"Oh, iya Doni." Santi menengok ke arah Doni. "kamu sampai sekarang masih berhubungan dengan Dion dan Roni?"
"Iya, kok masih. Sekarang kan Dion dan Roni juga bekerja sebagai pengajar di sekolah tempatku dan Dara mengajar." Ucap Doni. Dara ikut mengangguk.
"Syukurlah. Jadi nanti acara pernikahanku bisa jadi ajang reunian juga. Kalian semua datang, ya." Ucap Santi dengan senyum sumringah.
"Iya, tapi... Bagaimana dengan akomodasinya?" Tanya Doni ragu-ragu.
"Untuk itu jangan kuatir. Mobil ku bisa menampung sampai tujuh orang. Jadi kalian nanti ikut mobilku saja." Ucap Don menawarkan diri.
"Oh, oke Don. Terimakasih." Ucap Doni. "Kalau begitu kami berdua permisi dulu, ya."
"Omong-omong, Dena, Santi, Sampai ketemu nanti di kafe, ya. Aku tunggu di sana." Ucap Dara ketika sepasang guru itu sudah di depan pintu masuk ruangan Don.
---
Acara pernikahan Ari dan Santi berjalan dengan begitu hikmat dan mewah. Setelah mengalami drama menyebalkan yang disebabkan oleh Don, akhirnya Erika dan Putri bisa ikut ke acara pernikahan yang tentu saja dipenuhi oleh orang dewasa berpakaian glamor itu.
Di dalam ruangan indah tersebut, Don melihat banyak sekali orang-orang mafia yang bernaung di bawah pemerintahan bos mafia itu. Namun Don sama sekali tidak peduli. Ia hanya memenuhi undangan pernikahan Ari dan Santi.
Namun berbeda dengan Dena, Dara, Doni, Dion, Roni, Rino, dan Santi. Acara pernikahan tersebut rasanya seperti acara reunian saat mereka SMA dan satu kelas itu.
Sedangkan kini, Erika dan Putri justru malah asik dengan dunia mereka sendiri. Erika asik memperkenalkan Putri ke paman-paman dan bibi-bibinya yang selama di mansion selalu mengasuh dirinya.
"Putri. Lihat di sana." Ucap Erika sambil menunjuk ke arah mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang berdiri di atas panggung.
"Iya, itu yang menikah bukan?" Tanya Putri dengan tatapan yang berbinar-binar. "Mereka adalah raja dan ratu di acara ini, bukan?"
"Iya. Mereka yang menikah, Putri. Itu yang menikah namanya Paman Ari, dan Bibi Santi." Lalu Erika menunjuk seorang pria paruh baya yang duduk di kursi sebelah mempelai pria. "dan itu kakek. Kakek itu sangat baik. Yuk aku kenalkan." Ucap Erika dengan penuh semangat.
Setelah mendapatkan anggukan dari Putri. Lantas Erika yang sudah sangat bersemangat itu menggenggam tangan sahabatnya itu dan membawanya ke arah kakek asuhnya dulu itu.
"Kakek." Erika yang sudah datang ke arah bos mafia itu langsung memeluk dan meminta dipangku oleh pria renta itu.
"Erika." Ucap bos mafia itu sambil memeluk Erika yang sudah berada di pangkuannya. "kamu terlihat semakin cantik dan bersinar, sayang. Apakah keluarga asuhmu sangat baik kepadamu?"
"Tentu saja, kakek. Mereka sangat baik kepadaku." Ucap Erika yang dengan penuh semangat memeluk leher seorang pria yang sudah sangat baik kepadanya.
"Ah iya, kek." Erika sambil tetap berada di pangkuan bos mafia itu menggenggam erat lengan Putri. "Kenalkan kek, dia namanya Putri. Teman Erika selama tinggal di rumahnya om Don. Putri tidak hanya pintar, kek. Tapi putri juga sangat baik."
"Halo kakek." Ucap Putri sopan sambil menyalim tangan bos mafia itu.
Bos mafia itu memerhatikan gaun yang dipakai oleh Putri dan Erika. Mereka berdua memakai gaun putih yang begitu cantik dan sama persis. Mereka juga memakai mahkota bunga hiasan yang dibuat dengan tangan secara langsung.
Seketika bos mafia itu terkekeh dan tersenyum senang. Melihat kedua gadis kecil itu seperti melihat dua peri kecil yang sangat cantik.
"Ah, bahkan kakek kira kalian lah yang tadi memegang bunga saat prosesi pernikahan Ari dan Santi. Tapi kakek baru sadar kalau kalian baru datang saat acara resepsi pernikahan ini." Ucap bos mafia ia terkekeh-kekeh.
"Kakek. Kok bisa lupa?" Tanya Erika cemberut.
"Habisnya kalian berdua terlihat begitu cantik." Ucap bos mafia itu sambil mengeratkan pelukannya kepada Erika. Erika sangat senang diperlakukan seperti itu karena merasa sangat disayangi. Dan Putri sangat senang melihat Erika tersenyum bahagia.
"Oh, iya kek. Ada satu lagi yang kakek harus tahu." Ucap Erika tegas.
"Oh, ya apa?" Tanya bos mafia itu penasaran.
"Ternyata Om Don itu aslinya sangat nakal, kek." Ucap Erika yang kini sudah mulai bergosip.
"Iya betul, kek! Papa itu sudah seperti monster yang sangat menjengkelkan!" Putri ikut bergosip dengan menggebu-gebu.
"Padahal kukira Om Don itu orangnya sangat baik, tapi..." Ucapan Erika terputus.
"Tapi kamu tidak kenapa-napa, kan sayang?" Tanya bos mafia itu kuatir.
"Iya, kek. Kami berdua tidak kenapa-napa. Papa itu tidak jahat. Tidak suka menyakiti orang. Tapi papa itu sangat menyebalkan. Dia itu monster papa!" Putri kembali mengompori. Bahkan kini Putri sudah mulai minta supaya dipangku oleh kakek yang sedari tadi memangku Erika.
"Coba cerita ke kakek. Om Don memangnya habis melakukan apa?" Tanya bos mafia itu penasaran.
"Tadi itu, kami lama persiapan karena gaun kami yang cantik ini habis diumpetin sama papa. Padahal sudah dari siang kami siapkan di atas tempat tidur. Ya, kan Erika?" Tanya putri yang meminta dukungan temannya itu.
"Iya, betul kek. Tadi Om Don nyembunyiin gaun kami. Makanya, tuh nyebelin banget monster om itu." Adu Erika.
Sedangkan Don yang melihat kedua anak gadis itu tengah dipangku oleh bos mafia itu hanya pura-pura tidak lihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
RomanceBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
