Hari berganti dan akhirnya waktu pun berlalu. Sudah beberapa bulan Rani dan Rino tinggal bersama di apartemen Rino.
Senyum Rani telah pudar hilang ke mana. Sudah 12 tahun lebih Rino sudah tidak melihat senyum Rani. Rani selama tinggal bersama Rino, tapi Rani sama sekali tidak menganggap kalau sosok Rino itu ada.
Walaupun begitu, Rino sama sekali tidak menyerah. Walaupun dirinya berusaha untuk terlihat tegar dan menunggu Rani untuk kembali menyambut dan mengakui keberadaannya, namun hatinya sangat pedih dan kosong.
Setiap hari, Rino memperlakukan Rani bak seorang ratu. Ia selalu mengantar Rani ke lembaga penelitian itu, dan selalu menjemput Rani apabila ia tidak ada kelas malam, setiap hari ia juga selalu memasakkan makanan kesukaan Rani, dan Rani selalu memakan masakan Rino.
Namun itu semua tidak membuat Rino bahagia. Rani sama sekali tidak mengeluarkan suaranya untuk Rino. Rani sangat enggan berbicara dengan Rino.
"Rani, kita perlu berbicara." Ucap Rino setelah mereka berdua selesai sarapan. Hari ini hari Minggu.
Rani yang juga selesai membantu Rino membersihkan alat makan itu menengok ke arah Rino. Rino pun menggenggam erat tangan Rani, dan mengantarkan perempuan itu ke salah satu bangku meja makan. Setelah itu Rino duduk di depan Rani.
Pandangan Rino terlihat serius menatap Rani. Sedangkan Rani saat ini membuang muka entah melihat apa.
"Waktuku tidak banyak. Apa yang kamu mau bicarakan." Tanya Rani setelah beberapa bulan ia tidak mengeluarkan suaranya.
Mendengar suara Rani, Rino pun tergagap, ia akhirnya mendengar suara perempuan yang kini duduk di hadapannya itu. Melihat gelagat Rino, Rani pun jengah. Ia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari bangku itu, namun suara Rino menahannya.
"Duduk dulu. Ada yang ingin kubicarakan. Ini penting." Ucap Rino sambil berusaha bersikap tegas.
Dengan malas, Rani pun kembali duduk dengan kasarnya di bangkunya lagi. Perempuan itu, pun menyilangkan tangannya di dadanya dan menatap Rino dengan jengkel.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Rani dengan nada suara menyindir.
"Aku ingin membicarakan tentang kita. Sudah beberapa bulan kita tinggal berdua, namun kenapa kamu sama sekali bertindak acuh padaku? Bukannya kamu sangat menginginkanku?"
Mendengar pertanyaan Rino yang menurut Rani terlalu percaya diri, Rani pun menyunggingkan senyum miringnya.
"Kenapa kamu terlalu percaya diri, Rino? Bukannya yang benar-benar menginginkanmu itu Dena?"
"Sekali lagi aku katakan. Kita tidak sedang membicarakan soal Dena. Tapi soal kita. Tentang kamu dan aku." Rino berusaha untuk tidak terpancing emosi.
Rino memang berusaha untuk menahan emosinya supaya tidak marah, karena ia benar-benar takut kehilangan Rani. Namun, Rani benar-benar merasakan perasaan Rino saat itu. Perempuan berbadan gempal yang kini berpakaian rapi itu berhenti menyunggingkan senyum miringnya, ia lalu menatap pria tampan itu dengan tatapan serius. Tubuhnya ia condongkan ke arah Rino.
"Dena masuk ke dalam urusan ini. Begitupun Lion." Ucap Rani dengan intonasi suaranya yang pelan namun tegas. Lalu perempuan itu menyandarkan punggungnya di punggung kursi makan itu.
"Aku memang saat itu sangat menginginkanmu, Rino. Tapi itu dulu, sebelum akhirnya kamu lebih memilih Dena dan menikah dengan perempuan itu." Ucap Rani. Lalu ia pun menunjukkan cincin pernikahannya yang masih menghias manis di jari manisnya.
"Dan seharusnya kamu tidak lupa, Rino. Semenjak kamu menikah dengan Dena, aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk dapat memilikimu. Bahkan walaupun aku masih menginginkanmu."
Lantas Rani pun masih menunjukkan cincin yang masih terhias manis di jari manisnya itu ke arah Rino. Dan membiarkan Rino masih berusaha keras mengontrol emosinya.
"Seandainya kamu tidak terhasut, dan memilih perempuan sempurna itu, aku masih dapat memberikanmu kesempatan. Namun itu sudah terlambat, dan itu semua bukan karena kesalahanmu. Karena bagaimanapun kamu adalah manusia biasa, Rino."
"Tapi Rani..." Rino yang tadinya menahan emosi, kini rasa amarahnya menghilang mendengar penjelasan Rani. Wajahnya yang sedari tadi menahan amarah, kini berubah menjadi memelas.
"Kamu tahu, bukan dengan cincin yang melingkar manis di jariku ini, ini adalah bukti kalau aku telah menikah. Aku telah memilih Lion dan aku sampai detik ini pun sama sekali tidak menyesali keputusanku menerima lamaran Lion saat itu." Lantas Rani pun berhenti memamerkan cincinnya, ia lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Rino. Aku tahu, sangat tahu, kalau kamu itu sangat pintar. Namun kenapa untuk urusan ini, saat ini kamu justru memilih hatimu untuk mengajakku berdebat saat ini? Sungguh keputusanmu hari ini, detik ini membuatku semakin mengasihani dirimu." Sangat terlihat dari intonasi suaranya, Rani kini sudah tidak lagi menyindir Rino.
"Rino. Kamu tahu, kan apa yang orang-orang katakan kalau melihat kita sekarang tinggal berdua seperti ini? Apabila mereka tahu status kita? Kamu telah menikah, Rino. Begitupun aku. Kita telah mempunyai pasangan masing-masing yang sampai detik ini pun masih terikat dalam hubungan pernikahan." Ucap Rani setelah menghela nafas panjang.
"Dan kamu juga seharusnya sadar diri, Rino. Apa yang telah kamu paksa padaku, itu artinya kamu telah memaksa aku untuk berzinah, walaupun dari saat aku telah sembuh seutuhnya, sampai detik ini kamu sama sekali tidak menyentuhku, dan menghargai status pernikahanku."
"Namun, apa kata para mahasiswamu? Apa kata universitas ketika mereka tahu kenyataan ini? Kamu mungkin bisa mengelabui mereka semua dengan tidak menyematkan cincin pernikahanmu dengan Dena di jari manismu. Entah dengan alasan apa, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Namun apabila mereka semua sampai tahu, bukan hanya statusmu sebagai dosen yang akhirnya tercemar, dan kamu bisa dipecat karena urusan ini, karena kamu tahu kampus tempatmu mengajar itu sangat menjunjung tinggi norma sosial di negara ini. Tapi, pihak universitas juga namanya tercoreng dengan kasusmu ini."
"Dan tidak hanya itu. Julukanmu sebagai legenda OSN yang sampai saat ini masih melekat di dirimu juga bisa mencoreng prestasi para pemenang OSN lainnya, terutama di bidang matematika. Seharusnya kamu juga memikirkan itu, Rino." Lantas Rani pun kini berdiri dari tempat duduknya, sedangkan Rino yang kini sudah sangat puas mendengar suara Rani hanya bisa duduk dengan kepala menunduk menghadap meja.
Melihat Rino saat ini, Rani tahu perkataannya ternyata sangat keras dan menyinggung perasaan Rino. Namun, memang seharusnya Rani mengucapkan kata-kata keras itu dan menampar pria dihadapannya ini dengan kenyataan.
"Kamu sangat pintar, Rino. Kamu sangat pintar karena lebih memilih Dena yang memang adalah perempuan cantik yang begitu sempurna, sehingga banyak pria yang menginginkannya. Kamu sudah tahu itu, bukan karena terlihat sangat jelas semenjak kita SMA dulu? Dan justru perempuan sempurna itu memilih dirimu, karena menurut Dena kamu adalah pria yang sepadan padanya. Sebaiknya kamu kembali ke Dena, dan biarkan aku kembali pada Lion." Lalu Rani pun meninggalkan Rino sendirian di meja makan itu.
Beberapa saat kemudian, Rani masuk ke dalam kamarnya dan suara pintu kamar Rani berbunyi. Beberapa saat kemudian, Rani keluar dari kamar itu sambil menggeret koper besar miliknya. Dan meletakkan kunci kamarnya di hadapan Rino.
Ketika pintu masuk unit apartemen Rino terbuka dan mengeluarkan suara menutup, ditambah dengan suara langkah Rani yang semakin lama semakin tidak terdengar, Rino tanpa sadar kini air matanya yang sedari tadi ditampungnya akhirnya menetes.
Lagi, dan lagi, Rani meninggalkan Rino.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guratan Kehidupan S2
CintaBaca Guratan Kehidupan S1 dulu, ya. supaya lebih mengerti alur ceritanya. penyesalan terbesar bagi Dena adalah merebut paksa Rino, dengan berbagai cara, dari pelukan Rani. Walaupun Dena kini sudah berhasil mendapatkan Rino, bahkan seluruh semesta me...
