Lala yang melihat mobil suaminya berhenti di depan sebuah hotel dan dengan jelas melihat Dewa berjalan memasuki mobil itu pun tampak tak menyangka.
Lala meminta sopir taksi untuk berhenti tidak jauh dari belakang mobil dewa, Lala pun langsung membayar ongkos taksi sesuai dnegan argo yang tertera di dalam taksi tersebut. "Ini pak, trimakasih banyak ya pak" sambil menyerahkan duit Lala mengucapkan trimakasih dengan pak sopir tetapi matanya tidak lepas masih melihat Dewa yang sedang berjalan memasuki hotel.
"Entah ini lebih baik, tapi ini bukan sesuati yang nantinya bisa kamu lupakan" ucap sopir taksi itu sambil mvenevrima duit bayaran dari Lala. Lala yang mendengar itu termenung sejenak mendengar kata-kata sang sopir taksi. Lalu ia membuka pintu taksi itu dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat sedikit berlari kecil memasuki hotel.
Dewa yang sudah memasuki lobby hotel itu terlihat mengedarkan pandangganya untuk mencari seseorang yang ingin ia temui malam ini. Lalu terdengar bunyi handphonenya menandakan ada pesan teks yang masuk.
"Hari ini sepertinya bukan hari yang baik, aku akan pergi sekarang"
begitu bunyi pesan teks yang sedang Dewa baca. Dewa yang sedikit kecewa menghembuskan nafasnya perlahan. Tidak lama ia mendapatkan panggilan telefon dari istrinya. Dewa pun terlihat bimbang antara mau mengangkat telfon itu atau tidak.
Lala yang sambil berjalan ia mencoba menghubungi Dewa lewat sambungan telefon.
"Halo sayang" terdengar Dewa mengangkat panggilan itu.
"Sayang, kamu dimana?" Lala langsung menanyakan keberadaan Dewa. Karena saat ini ia sudah memasuki lobby hotel tetapi tidak dapat menemukan suaminya di sana.
"Wakil Presdir Rangga masih minta di temanin minum, aku akan segera pulang" sahut Dewa tanpa memberitahukan keberadaannya ke Lala yang sudah pasti itu sebuah kebohongan.
"Apa kamu masih bersamanya?" tanya Lala kembali ingin memastikan kalau Dewa benar berbohong tentang Wakil Presdir Rangga.
"Iya, tapi aku udah mau pulang, kamu mungkin lelah, jadi jangan menunggu" pada saat bersamaan Dewa mengatakan itu, Lala dan Dewa saling berhadapan berjarak 3 meter di lobby hotel itu. Dewa yang melihat istrinya itu seketika terasa panik, lain hal dengan Lala yang merasa sedikit lega bisa melihat sang suami tidak sedang bersama dengan perempuan lain seperti yang ia pikirkan sedari tadi tetapi ada rasa kecewa juga karena sudah dibohongi oleh suaminya. Lala pun melepaskan handphone yang sedari tadi ditempelkannya di telinga, begitu pun dengan Dewa.
Sebelum memutuskan untuk pulang, Lala mengajak Dewa untuk duduk di restaurant yang berada di lantai 1 hotel itu.
"Jelaskan situasi ini padaku" ucap Lala dengan nada yang begitu kecewa terhadap Dewa. Dewa yang ditatapnya masih saja terdiam sambil menatap Lala balik dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. "Kau sungguh punya wanita lain" tembak Lala ke inti pemikirannya saat ini. "Jika kau menyangkalnya, aku akan mempercayaimu" dengan suara yang bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca, Lala mengatakan itu. Terlihat Dewa yang sebelumnya tertunduk kemudian menatap Lala kembali dengan kaget.
"Lala" ucap Dewa dengan nada yang rendah, karena tidak mempercayai perkataan istrinya barusan.
"Aku akan percaya, sangkal saja" Lala masih terus mengatakan kalau ia akan mempercayai itu.
"Sudah berakhir" ucap Dewa sambil menggelengkan kepalanya. Terlihat air mata Lala yang sudah menetes ke pipinya mendengar pengakuan suaminya. "Sayang" ucap Dewa sambil mengambil tangan Lala dan di genggamnya lantas langsung saja ditepis oleh Lala. Lala mencoba menahan air matanya agar tidak semakin deras mengalir, "Aku mau pulang" ucapnya smabil berjalan meninggalkan Dewa yang masih duduk dengan rasa bersalah yang dalam. Tidak lama Dewa pun berdiri dan mengejar langkah Lala yang hampir menuju pintu untuk keluar hotel. Lala yang meilhat suaminya mengikutinya pun mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan hotel dengan menyetop taksi yang secara kebetulan melintas di depan hotel itu. Dewa yang tidak bisa menahan kepergian istrinya pun lantas segera menuju ke mobilnya di parkiran dan menuju ke apartemen mereka.
Sesampainya di apartemen, Dewa menggedor pintu kamar yang dikunci Lala dari dalam. Terus ia memanggil Lala meminta agar dibukakan pintunya karena ia ingin berbicara. Tetapi Lala di dalam sana hanya menangis dan tidak ingin membuka kan pintu untuk suaminya itu.Pagiharinya Dewa yang sedang berada di dapur membuatkan sarapan untuknya dan Lala, tujuannya agar Lala bisa sedikit memaafkan kesalahnnya tadi malam. Terlihat Lala baru saja keluar dari dalam kamar dengan mata yang begitu sembab, sudah berpakaian rapi serba hitam menggunakan stelan yang biasa ia gunakan jika ingin menggunakan motornya, berjalan melewati Dewa begitu saja walaupun Dewa yang sudah berusaha memanggil dan menahan agar Lala berhenti dan mau mendengarkan penjelasannya. Lala tetap berjalan keluar meninggalakan apartemennya dan mengambil motornya di parkiran besmen apartemennya. Tujuannya adalah ingin motoran dengan club motornya di pagi ini. Dengan kecepatan maksimal Lala mengendari motonya, padahal teman-temannya sudah mengingatkan Lala untuk plan-pelan dalam mengendari motor di jalan itu. Secara bersamaan ada mobil yang melaju begitu kencang dibelakang kumpulan motor teman-temannya itu, dan terlihat sudah melewati Lala dan Lala sedikti oleng. Syukurnya tidak terjatuh, hanya saja ia menahan beban itu dengan sebelah kakinya. Seketika teman-teman motornya pun juga ikut berhenti menghampiri Lala untuk memastikan keadaannya.
"Jika lo mau mati, cari jalan lain saja" ucap Dastin ketua club motor itu kepada Lala dengan sedikit kesal.
"Maaf, aku akan berhati-hati" Lala membuka helmnya dan menundukkan kepala tidak berani menatap Datin yang terlihat sedang marah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dastin yang di iyakan oleh Lala. "Kamu pulang saja, ngga baik berkendara saat sedang gelisah seperti itu" ucap Dastin kembali mengkhawatirkan keadaan Lala. Karena Lala yang tidak ingin pulang, Dastin pun mengajak Lala untuk duduk di kedai kecil pinggiran pantai yang tidak jauh dari lokasi dimana mereka tadi sedang bermotoran.
"Kenapa semua orang yang kucintai akhirnya meninggalkan ku?" tanya Lala yang mulai ingin menceritakan kegelisahannya kepada Dastin. "Padahal aku benar-benar yakin kalau dia tidak akan meninggalkan ku" masih Lala mengucapkan itu dengan air mata yang menggenang di matanya.
"Lo bodoh, lo gak boleh mempercayai orang lain selain dirimu sendiri" ucap Dastin agar Lala sadar.
"Benar sekali, kenapa aku melakukan itu" sambil meminum jus semangka yang ia pesan sebelumnya Lala mengatakan itu. Dastin masih saja menatap iba ke Lala.
"Tolong jangan beritahu ke ayah gu--" ucap Lala yang langsung saja di potong Dastin.
"Iya gue tahu apa yang harus di lakuin, gue gak akan memberitahunya." timpal Datin langsung memotong arah tujuan pembicaraan Lala saat ini. Ia tahu betul kalau tidak ada seorang ayah yang ingin melihat anak perempuannya disakiti oleh laki-laki.
"Astaga, s1al, dasar berandal itu" Dastin menumpahkan kekesalannya ketika sudah mengetahui kelakukan Dewa yang baru saja di ceritakan oleh Lala. "Hei udah gak apa-apa, lo gak boleh mati hanya karena itu" tegas Dastin mengatakan itu ke Lala.
"Menurut mu begitu?" Lala menanggapi dengan helaan nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
