"Aku ingin menagih uang dari debitur"
Helena yang mendengar dan menyaksikan itu memalingkan wajahnya berharap para debitur itu tidak melihatnya. Pria itu pun terus saja berjalan masuk walaupun lewat terus saja mencoba menahannya.
"Permisi, jangan asal masuk" Dewa terus menghalangi pria itu untuk masuk ke dalam ruangan yang akan di gunakan untuk shooting.
Stella yang melihat kejadian itu nampak tidak senang. Ia pun segera menghampiri pria yang menerobos masuk.
"Kita harus bicara di luar" ucap Stella ke pria berbaju hitam itu.
Helena yang sedari tadi panik dan memaling kan wajahnya seketika merasa lega, ia pikir pria pria tadi itu deptcollector yang ingin menagih hutang Mamanya.
Lantas pria-pria itu pun mengikuti Stella keluar ruangan.
*****
"Aku akan meminjam 300 juta lagi" ujar Stella saat ia dan ke empat pria berbaju hitam tadi sudah berada di satu ruangan khusus yang di pinjam kan oleh Dewa.
"Aku datang untuk mengambil uang ku, tapi kamu malah meminjam 300 juta lagi" ucap rentenir sambil menyerahkan surat perjanjian pinjaman. Stella pun langsung menandatangani surat kontrak tersebut.
"Ingat, bahkan jika kamu mati aku akan mengikuti mu untuk mendapatkan uang ku kembali" ucap rentenir itu mengingatkan Stella.
Stella hanya menghembuskan nafas nya sambil menatap tidak suka ke arah rentenir yang baru saja meninggalkan ruangan itu.
*****
"Stella tampak nya mengalami masalah keuangan" ucap Helena yang tiba-tiba saja dan itu membuat seluruh rekan tim kerjanya terkejut.
"Kenapa kamu enggak bilang dari awal?" Dewa yang tampak terkejut membelalakkan mata nya.
"Sumbernya tidak akurat, jadi aku enggak bisa bilang, aku minta maaf" Helena menundukkan kepala.
"Apa menurut kamu kita bisa melanjutkan acara ini?"tanya Lala ke Coki dan juga Dewa.
Dewa yang terlihat tampak panik menggaruk-garuk kepalanya sendiri walaupun kepalanya tidak gatal.
"Segera beri tahu aku begitu kamu mendengar kabar" Dewa menepuk pundak Coki lalu meninggalkan ruangan yang akan di gunakan untuk shooting.
*****
"Maaf acaranya jadi tertunda, aku minta maaf" seru Stella ke Helena usai menyelesaikan urusannya dengan rentenir.
"Kamu harus membatalkannya, kamu enggak perlu melakukan ini jadi segera bayar mereka" ujar Helena meminta ke Stella untuk tidak melanjutkan acara itu.
Stella hanya melengos pergi meninggalkan Helena untuk kembali menuju ruangan shooting.
"Kamu tahu betapa menakutkannya uang, mereka akan mengikuti mu sampai kamu mati" Helena terus mengejar Stella.
Stella pun berhenti dan membalikkan badan menatap ke arah Helena dengan tatapan yang tajam. "Kurasa aku jauh lebih tahu betapa menakutkannya uang dari pada dirimu. Aku mempertaruhkan hidupnya untuk ini. Aku enggak bisa mundur sekarang", dengan nada yang datar Stella mengatakan itu ke Helena. Ia sangat yakin orang-orang seperti Helena ini tidak akan mengerti betapa sulitnya memutar keuangan demi mencukupi kehidupan.
"Kamu tidak mengerti ya", dengan helaan nafas Helena memalingkan wajah ke samping.
Stella membalas dengan helaan nafas. "Kamu tahu pepatah itu kan, cari kematian dan kamu akan hidup. Jadi jika kamu berfikir akan mati, kamu akan hidup. Jika aku enggak bersedia mati melakukan bisnis ini, aku enggak akan sampai di sini. Lebih baik aku mati daripada kembali ke masa lalu", tetap dengan nada datar dan sinis setelah mencoba menyampaikan kalau ia akan tetap melanjutkan acara itu walaupun ia harus meminjam uang ke rentenir.
"Kamu mungkin akhirnya akan benar benar sekarat--" ucapan Helena langsung di potong oleh Stella.
"Mari kita liat aku akan hidup atau mati. Mari kita coba liat apa aku masih beruntung. Udah ayo". Stella enggak bisa menunda ini lebih lama. Stella meninggalkan Helena begitu saja.
*****
Stella dan Helena kembali memasuki ruangan shooting. Dewa ingin menahan Stella untuk masuk kembali, tetapi Helena mencoba memberikan penjelasan ke Dewa agar membiarkan saja Stella untuk melanjutkan acara shooting produknya.
Lala yang fokus memperhatikan Stella saat memulai shooting review produk, tidak menyadari kalau sedari tadi Dewa terus menatap ke arahnya. Pandangan dewa di alihkan oleh Raisa yang tiba-tiba saja menghampirinya. Terlihat Raisa menunjukkan sesuatu di layar handphone nya. Dewa pun terlihat fokus mendengar Raisa berbicara, dan juga tidak di sadari oleh Dewa, Lala seketika memperhatikan mereka berdua.
*****
"Haaaah seketika gue merasa lebih tua 10 tahun", acara shooting telah berakhir maka saat ini Rini dan tim sedang membersihkan ruangan yang di pakai setelah untuk shooting tadi. "Syukurlah acaranya berakhir dengan baik, tapi jika video Stella tidak banyak di lihat orang, maka Stella akan bangkrut, begitu juga dengan produk yang sudah kita stock. Dia enggak akan gagal kan?" Rini mencoba memastikan ke Dewa.
"Aku akan terus memantaunya", untuk saat ini hanya itu yang bisa Dewa lakukan.
*****
"Helena kamu hebat hari ini", Coki menghampiri Helena sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Aku enggak akan iseng lagi, aku hanya bicara sebagai kolega, kamu tampak sangat keren karena sudah bekerja keras itulah perasaan tulus ku" Coki terus memuji Helena.
Helena hanya acuh tak acuh mendengar perkataan Coki, sambil membereskan beberapa barang. Lalu ia meninggalkan Coki begitu saja. Sambil terus berjalan Helena kembali mengingat perkataan Coki barusan. "Helena kamu hebat hari ini" terngiang di telinga Helena. "Sudah lama aku tidak bekerja sekeras ini" ujar Helena sendiri.
*****
Lala dan dewa sedang berada di perjalanan pulang menuju apartemen. Di dalam mobil Lala hanya diam sedari tadi Dewa yang merasa istrinya itu sedang memikirkan sesuatu mencoba membuka obrolan.
"Mau makan sesuatu sebelum pulang enggak yng?" tawarnya ke lala berharap dengan mereka makan terlebih dahulu sebelum pulang akan membuat mood Lala baik.
"Enggak usah yng aku enggak nafsu makan", Lala menolak tawaran Dewa, dia hanya ingin cepat sampai di apartemen.
"Tapi kamu harus makan sesuatu yng, mau makan sushi kesukaan kamu enggak", Dewa mencoba membujuk dan memilih menu makanan favorit Lala.
"Aku bilang enggak ya enggak", Lala menaikkan nada bicaranya satu tingkat membentak Dewa. Dewa yang mendengar itu langsung menatap Lala dan terdiam.
"Jangan berusaha terlalu keras, semuanya butuh waktu", Lala kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Lalu Lala membuka handphone saat ia merasa handphone-nya bergetar.
Terlihat ada pesan masuk dari Dustin.
Dastin: "Aku butuh beberapa hari, tapi mereka bisa menyelidikinya"
Lala: "Tolong selidiki itu ya Dustin"
Lala langsung membalas pesan Dustin. Ia merasa ada titik terang untuk pencariannya mengenai pesan teks yang ia terima beberapa bulan lalu yang mengganggu pikirannya.
Sambil menyetir Dewa memperhatikan Lala yang sedang membalas pesan di handphone-nya.
*****
"Videonya sudah di unggah", Stefan berseru kepada rekan-rekannya di ruangan itu. Stefan mencoba memberi tahu kalau video yang kemarin di kerjakan oleh Stella sudah di upload di media sosial.
Lala Helena Raisa dan juga Yona menghampiri meja Stefan yang sedang memutar video Stella. "Secepat itu" ucap mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
Storie d'AmoreLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
