"Balas dendam dengan Dewa. Aku pribadi berharap kamu akan menyelesaikan hubungan mu dengan Dewa", ucap bu Irma.
"Tapi, bagaimana cara menyelesaikannya?", tanya Lala ragu.
"Intinya keadaan akan segera berubah", senyum lembut bu Irma menguatkan Lala. "Aku akan membantu mu, aku tidak suka melihat wanita di anggap lemah dan mudah di permainkan. Kamu harus kuat dan hadapi semuanya dengan smart", lanjut bu Irma.
**
"Kamu kenapa La terlihat sedih?", tanya Dewa yang sedari tadi ia perhatikan wajahnya tampak muram.
"Aku ngga apa - apa. Lanjut kan saja bekerja", Lala menjawab tanpa melihat wajah Dewa. Ia terus saja memerhatikan suasana di acara yang sedang berlangsung.
"Baik lah, kalau ada apa - apa kamu masih bisa bercerita padaku", tawar Dewa lembut.
"Nanti kita harus bicara setelah acara malam ini selesai", ajak Lala. "Ada yang ingin aku katakan".
"Baik lah", Lala berlalu meninggalkan Dewa, memilih berjaga dari posisi yang jauh dari Dewa. Sedang dari kejauhan Yona memerhatikan Lala dan Dewa yang sedang berbicara berdua, saat di lihatnya Lala sudah menjauh, ia berjalan mendekati Dewa.
"Mas, mau makan malam dengan ku tidak setelah acara ini?", tanya Yona pelan, takut terdengar dengan yang lain.
"Hmm. Aku masih ada yang harus di urus setelah acara ini selesai. "Lihat nanti ya", ucap Dewa lalu lanjut fokus memperhatikan acara yang sedang berlangsung.
**
"Hei Steven", tegur seorang pria saat melihat Steven sedang berbicara di talkie walkie. "Apa itu? Gue dengar lo mendapat pekerjaan, jadi rupanya bekerja disini?", tanya seseorang itu yang tidak lain adalah teman lamanya Steven.
"Iya gue kerja disini sekarang", jawab Steven kagok karena belum siap.
"Ckck, pegawai harus bekerja keras agar perusahaan berjalan lancar. Semangat", temannya menepuk pundak Steven dan berlalu meninggalkannya.
**
"Menurut lo apa yang sedang mereka bicarakan?", tunjuk Rini menggunakan dagunya ke arah sepasang wanita dan pria yang saat ini duduk tidak jauh dari mereka berdiri menjaga.
"Menurut lo apa yang di obrolin saat PDKT, itu lah yang mereka sedang bicarakan", jawab Helena.
"Gue punya hotel. Keluarga lo punya apa? Oh keluarga gue punya mall. Astaga kita benar - benar berjodoh. Semacam itu", ucap Rini mencontoh kan gaya berbicara orang - orang kaya.
"Jauh dari itu. Justru rasanya tidak sopan jika berterus terang", ucap Helena.
"Wahh mantan gadis kaya. Lo tahu beberapa hal ya", tawa Rini. "By the way uangnya akan di sumbangkan kepada siapa?", tunjuk Rini pada kotak amplop yang di letakkan di depan pintu masuk.
"Masih belum memutuskan. Baru di putuskan usai acara", jawab Helena.
"Begitu rupanya", Rini mengangguk - anggukkan kepala tanda mengerti.
"Kalian ada yang melihat Yona ngga?", tanya bu Fatma yang mendatangi Rini dan Helena.
"Tim prestise seharusnya ada di dalam gedung acara saat ini. Kemungkinan dia ada disana bu", jawab Helena sopan.
"Oh begitu, baiklah terimakasih saya akan mencarinya", bu Fatma berjalan ke dalam gedung mencari Yona.
"Ada apa tuh tuan putri di cariin makcombang acara ini", ucap Rini.
"Abiskan dulu makanan di mulut lo baru deh jelas kalau ngomong", sahut Helena.
**
"Dia ingin menemui aku?", tanya Yona terkejut saat bu Fatma menyampaikam ada seorang pria yang ingin di kenalkan dekat dengannya.
"Sepertinya pak Gio mendapat kesan pertama yang baik tentang mu", angguk bu Fatma membenarkan.
"Kurasa tidak tepat kalau aku bergabung di sana bu. Aku juga tidak bisa pergi karena saat ini sedang bekerja. Bilang saja ya bu kalau aku tidak bisa", Yona menolak ingin di kenalkan dengan seorang pria, karena menurutnya cukup Dewa yang ada di hatinya saat ini.
"Ini hanya percakapan ringan. Kenapa kamu tidak menemuinya saja daripada berpikir itu sulit? Kalau menolaknya sekarang, kamu mungkin skan menyakiti hati calon client perusahaan mu sendiri. Bukan kah salah satu tujuanmu acara ini selesai dengan sukses?", bujuk bu Fatma. "Sebenarnya pak Gio itu bukan seseorang yang bisa kamu temui dengan mudah. Kalau kita membahas ini dengan latar belakangmu. Ini juga akan menjadi kesempatan bagus untuk kamu", mendengar itu mau tidak mau membuat Yona menyetujui permintaan bu Fatma.
**
"Tolong berhenti memberikan alkohol pada pak Haris", pinta bu Fatma pada Agus salah satu karyawan prestise yang mendapat tugas menghandle minuman beralkohol untuk pesta malam ini.
"Apa?", tanya Agus yang masih belum paham dengan permintaan bu Fatma.
"Tidak banyak yang tahu kalau pak Haris kecanduan alkohol. Jadi cari munuman lain untuk mencegahnya minum", karena sedari tadi bu Fatma melihat Agus terus memberi pak Haris alkohol.
"Baik lah bu saya paham".
**
Flashback On
"Sebenarnya mama merasa bersalah saat ini untuk berjumpa dengan kamu", ucap mamanya Dewa terus menunduk. "Dia bukan tipe orang yang melakukan hal itu, kenapa? Lala, mama akan membuatnya sadar kembali. Jadi bisakah kamu memaafkannya kali ini saja?", pinta mamanya Dewa pada Lala.
"Maaf kan Lala ma, Dewa dan Lala tidak bisa melewati ini. Semua sudah berakhir", ucap lembut Lala.
"Lala, tolong dengarkan ibu", mamanya Dewa hendak bersujud pada Lala namun Lala cepat membantu mamanya Dewa untuk kembali duduk bersampingan dengannya di sofa.
"Mama, jangan sampai seperti ini", ucapnya.
"Mama minta maaf atas namanya. Mama akan berlutut", tangisnya.
"Mama, tolong jangan lakukan ini", usap Lala lembut pada tangan mamanya Dewa.
"Ini semua salah mama, maaf kan mama. Sungguh mama mohon, seharusnya dia tidak seperti itu".
"Ini bukan salah mama, sudah ma jangan menangis lagi".
"Tidak, ibu saat ini sedang di hukum. Andai saja ibu bersikap benar. Ini terjadi kepadamu karena ibu tidak pantas. Ibu dulu menjadi istri simpanan laki - laki itu sampai memiliki Dewa. Ini pasti karma untuk mama, anak mama malah memiliki wanita simpanan", tangis mamanya Dewa semakin pecah.
"Engga ma, itu bukan salah mama. Ini bukan karma. Kalau dulu mama ngga tahu kalau mama di jadikan yang kedua. Bahkan mama berani meninggalkan laki - laki itu agar dia kembali kepada istri sahnya. Namun keadaan Lala dan Dewa saat ini berbeda ma. Kami juga sudah sama - sama setuju ini semua berakhir. Dewa yang sangat ini kami bercerai. Namun Lala memang belum ingin bercerai, walaupun saat ini kami tinggal terpisah. Jadi tolong, mama jangan seperti ini", Lala memeluk mamanya Dewa yang masih menangis.
"Lala maafkan mama ini semua salah mama. Karena dia di besarkan oleh orang seperti mama. Karena mama adalah wanita simpanan. Mama lah pendosanya. Ini semua salah mama", Lala membiarkan mamanya Dewa terus menangis sampai bisa tenang sambil terus memeluk dan mengusap pelan pundak mamanya Dewa.
"Dia pernah bersumpah untuk tidak hidup seperti ayahnya. Dia bilang akan menjalani kehidupan yang berbeda. Jadi tentu saja ini salah mama", lanjutnya lagi.
Flashback Off
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
