"Gue hanya bisa menerimanya karena Lala adalah tipe wanita yang hanya mencintai satu pria, gue pikir lo juga begitu, lo harus seperti itu juga", ucap Helena dengan perlahan kepada Dewa.
"Helena--",
"Hentikan ini", Helena memotong ucapan Dewa, "Sebelum terlambat tolong hentikan, jangan menyakiti Lala", Helena pun pergi meninggalkan ruangan Dewa.
Dewa hanya terpaku melihat kepergian Helena. "Apa Helena tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumah tanggaku dengan Lala", batin Dewa.
Saat helena sudah kembali ke meja kerjanya, ia teringat pada malam itu saat ia memutuskan kembali ke kantor untuk mengambil kunci lokernya yang ketinggalan dan tidak sengaja ia melihat Dewa masih berada di ruangannya.
Saat Helena berjalan mendekati ruangan Dewa, Dewa mengunci ruangannya karena pada malam itu hanya ruangan Dewa yang lampunya masih menyala. Jadi Helena dapat melihat dengan jelas keberadaan Dewa di ruangan yang hanya dibatasi dengan kaca.
Tidak sengaja Helena menjatuhkan sesuatu lantas ia pun kembali ke luar dan bersembunyi karena melihat dan meyakini Dewa pasti mendengar suara itu.
Saat itu juga ia mengintip Dewa keluar untuk mengecek suara dari luar ruangannya dan kembali ia melihat Dewa di dalam ruangan itu seperti tidak sendirian. Tidak begitu jelas, karena sebagian ruangan Dewa tertutup dengan tirai jadi ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang saat itu berada di dalam ruangan Dewa.
"Kenapa gue bersembunyi", ucapnya sendiri sambil menghela nafas. "Gue ambil besok saja". ucapnya pelan dan Helena pun pergi meninggalkan kantor.
*****
Helena memutuskan untuk makan malam di pinggir jalan dekat kantor sebelum kembali ke apartemen.
Selesai makan dia berinisiatif untuk menghubungi Lala.
"Halo La, lo di mana?", tanyanya saat Lala sudah mengangkat panggilan.
"Mau di mana lagi, gue di apartemen".
"Bagaimana dengan Dewa?", tanya Helena lagi.
"Dia masih di kantor".
Helena pun menghelanafasnya.
"Oh begitu".
"Ibu mertuaku datang".
"Yauda temani lah dia", Helena pun menutup panggilan teleponnya dengan Lala.
"Kalau Lala di rumah, berarti siapa yang saat ini sedang berada dengan dewa di ruangannya", batin Helena.
Tidak lama ia melihat mobil Dewa melintas, tetapi di mobil itu hanya ada Dewa sendiri.
Saat pandangannya ke arah kantor, ia melihat Yona baru saja keluar dari kantor itu.
"Bukannya Yona sudah duluan pamit pulang saat sore hari tadi bersamaan dengan Raisa?", pikirnya, "Terus, kenapa saat ini Yona baru saja keluar dari gedung perkantoran ya. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini".
Tetapi disisi yang lain ia melihat Raisa jugab baru saja menyetop taksi persis di depan kantor, yang mana artinya Raisa juga baru saja akan pulang.
Helena menatap Yona dan juga Raisa satu persatu pergantian, "Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Lala kalau Dewa saat ini sedang berselingkuh, apa mungkin diantara Yona ataupun Raisa yang menjadi selingkuhan Dewa", Helena terus bergumam di batinnya.
*****
"Ibu datang, aku pikir bu Lala enggak bisa masuk hari ini", tanya Steven saat melihat Lala masuk ke kantor. Seketika pikiran Helena buyar.
"Aku sudah mengurus semuanya", ucap Lala Sambil tersenyum tipis.
Dewa yang melihat Lala dari ruangan kerjanya lantas keluar untuk menghampirinya.
Lala hanya tersenyum ke Dewa. Sedangkan Helena hanya melirik Dewa dengan tatapan kecewa.
*****
Seharian ini Yona menemani Lala mendampingi klien penting perusahaannya untuk berkeliling ke beberapa museum dan tempat bersejarah lainnya sesuai permintaan klien mereka.
Yona terus saja mengamati Lala. Menurutnya Lala adalah perempuan yang sangat baik, punya tutur kata yang lembut, ramah dan bisa mengatasi beberapa masalah dengan baik.
Apalagi tadi Yona sempat terjatuh bahkan membuat pergelangan kakinya terluka dan tidak ia sangka ternyata Lala memperhatikannya dan memberikan obat untuk dirinya.
Bahkan Lala tidak sungkan memegang kakinya untuk mengobati padahal Lala adalah atasan dirinya di kantor.
"Aku senang ada apotek di dekat sini", ucap Lala sambil menghembus luka Yonauntuk mengurangi sedikti rasa perih yang dirasa Yona.
"Bukankah seharusnya ibu ikut dengan mereka?", tanya Yona yang merasa seharusnya Lala masih harus mendampingi kliennya itu, tetapi ia malah memilih mengobati kaki Yona.
"Mereka akan pergi 30 menit lagi, jadi kita bisa mengobati kakimu sebentar. Ini lukanya dalam, temuilah dokter jika masih sakit. Itu bisa saja infeksi", ucap Lala perhatian ke Yona.
"Terima kasih. Ini hari yang sibuk ya bu?", ucap Yona setelah Lala sudah selesai mengobati kakinya.
Lala duduk disamping Yona. "Itulah sifat pekerjaan ini, bom tidak terduga meledak di setiap langkah, seperti sama halnya dengan klien penting ini, yang datang secara tiba-tiba. Kamu tahu bahwa hidup tak pernah berjalan sesuai keinginanmu", ucap Lala sambil tersenyum.
"Ini menarik, orang sepertiku bisa melihat orang seperti ibu dari dekat, rasanya menarik. Ibu seperti malaikat", ucapan Yona membuat Lala sedikit kebingungan dengan arti kalimatnya.
*****
Dewa menjemput Lala untuk pulang bersama setelah Lala mengantarkan klien ke penginapan yang sesuai dengan keinginan klien penting perusahaannya itu.
"Kerja yang bagus kamu hari ini sayang", ucap Dewa untuk menyemangati Lala.
"Itu usaha tim, bukan hanya usahaku sendiri", ucap Lala.
"Ibumu akan baik-baik saja", ucap Dewa yang mengerti kegundahan Lala saat ini.
*****
Sepulang kerja Helena memutuskan pergi ke cafe untuk menenangkan pikiran.
"Aku enggak memesan ini", ucapnya kepada bartender yang memberikannya segelas minuman.
"Ini dari pria itu", tunjuk bartender ke arah pria yang duduk tidak jauh dari mejanya saat ini.
Helena pun menoleh ke arah yang ditunjuk bartender yang melihat seorang pria berpakaian rapi menggunakan jas berwarna hitam tuxedo yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
"Bukankah lebih baik jika ada yang menemani?", tanya pria itu ke Helena. Helena hanya menatapnya dengan sinis lalu tersenyum kecil dan menghabiskan minuman yang tadi diberikannya dalam sekali tenggak.
"Terima kasih atas minumannya", lalu Helena mengambil tasnya di atas meja. "Kamu punya cara yang lucu memikirkan pelanggan", ucap Helena lalu segera pergi berlalu meninggalkan pria itu.
Tangan Helena dicekal oleh pria tadi, "Aku bukan serangga menyebalkan", ucapnya dan Helena membalikkan badan melihat tangannya yang saat ini sedang di pegang oleh pria itu.
"Maaf karena terlambat", ucap Coki yang tiba-tiba datang dan langsung melepaskan tangan pria itu dari tangan Helena sambil emnatap mata Helena.
Helena hanya menatap Coki sebentar lalu pergi meninggalkan keduanya.
Coki melihat sinis pria yang tadi mengganggu Helena dari atas sampai bawah.
"Apa?", tanya pria itu tapi Coki hanya melengos dan berlalu meninggalkannya untuk mengejar Helena.
"Sayang tunggu", panggilnya agar lebih meyakinkan pria tadi kalau Helena adalah kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
