Selama makan siang itu berlangsung, Dewa selalu memperhatikan lebih dengan percakapan antara mama dan istrinya. Dewa masih tidak mengerti kenapa Lala masih tetap ingin mempertahankan rumah tangganya, bahkan secara tidak langsung Lala ingin memberitahu mamanya kalau Dewa sedang bermain api dengan wanita lain.
Setelah makan siang, Dewa dan Lala menyiapkan teh dan juga buah untuk di nikmati bertiga bersama mamanya.
Dewa menghampiri Lala yang sedang memotong buah di dapur.
"Terima kasih untuk hari ini. Sekarang--", ucapan Dewa segera di potong oleh Lala.
"Aku datang untuk menunjuk kan. Jika kita bercerai, mama mu, ayah ku, seluruh keluarga akan tersakiti. Itu yang ingin kamu lakukan. Perhatikan baik-baik hal yang telah kamu hancurkan", ucap Lala tajam dengan nada mengintimidasi yang membuat Dewa menatap Lala dengan tidak percaya.
"Kamu butuh sesuatu La?", tiba-tiba saja mama Dewa menghampiri mereka di dapur untuk menawarkan bantuan.
"Sudah selesai kok ma, ayo kita duduk di meja ruang tengah menikmati buah-buah ini. Tapi Lala sebentar ke toilet ya ma", ucap Lala sambil tersenyum kepada mama Dewa.
"Oh yaudah La buru sana ke toilet", mama Dewa mengelus pelan pundak Lala sembari tersenyum. Tinggal lah Dewa dan juga mamanya berjalan ke arah ruangan tengah sambil membawa buah yang tadi sudah di kupas dan potong oleh Lala.
"Nak, apa kamu.. Sudah lah lupakan saja. Mama bersikap konyol. Kamu tidak akan melakukan itu setelah mengetahui perbuatan papa mu", ucap mama Dewa. Dewa menatap sendu ke mamanya. Pasalnya dia sudah melakukan hal yang sama seperti papanya dulu yang menyakiti mamanya akibat orang ketiga. Dia sungguh merasa menyesal saat ini.
"Kok belum di makan ma buahnya? Perlu Lala ambil kan yang lain?", tanya Lala saat sudah keluar dari toilet.
"Ngga ada sayang, duduk lah sini", ucap mama Dewa sambil menepuk sofa di sampingnya duduk.
*****
Sore harinya, Dewa di hubungi pak Rangga dan di minta untuk memindahkan Yona ke apartemen yang lebih elite, guna menghindari Yona dari para wartawan yang sudah mengetahui keberadaannya. Dewa pun segera menjemput Yona.
"Boleh kah aku mengunjungi ibuku?", tanya Yona ke Dewa saat sedang dalam perjalanan menuju apartemen yang akan segera ia tempati.
"Boleh", Dewa memutar balik arah kemudinya untuk ke rumah sakit di mana tempat ibunya Yona di rawat.
*****
"Sopir pak Rangga akan tiba satu jam lagi, dia yang akan mengantarmu ke apartemen yang baru nanti. Keamanannya lebih ketat jadi wartawan tidak akan bisa masuk ke apartemen itu", Dewa menyerahkan kartu akses apartemen baru itu ke Yona. Ia menjaga tutur katanya agar tidak menjadi kecurigaan orang di sekitar rumah sakit tentang hubungannya dengan Yona yang saat ini orang-orang tahu Yona anak dari Wakil Presdir di perusahaan PT. Future Bright tempat dimana Dewa bekerja.
Yona menerima kartu akses itu.
"Kalau begitu aku permisi", ucap Dewa lagi lalu meninggalkan ruangan ibunya Yona.
"Seharusnya aku tidak memulai semua ini. Maka tidak akan terlalu sakit seperti saat ini", ucap Yona membuat langkah kaki Dewa berhenti sebentar, namun Dewa tetap melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan rawat itu.
*****
"Astagaa, tidak mungkin", ucap Rini saat melihat artikel di website perusahaannya memberitakan kalau Pak Baim di turun pangkatkan dari posisinya saat ini. Bahkan menurut Rini posisi yang akan di tempatin Pak Baim adalah posisi yang sepele di perusahaan ini.
"Apa mungkin dia akan di usir dari perusahaan secara perlahan?", tanya Rini pada dirinya sendiri. Rini segera memasuki ruangan kerja Tim Manajemen.
Di lihatnya hanya Lala dan Dewa yang belum tiba di kantor. Tetapi tidak lama terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan dan itu adalah Dewa.
"Selamat Pak Dewa atas kenaikan jabatan di kantor ini", Rini bertepuk tangan memberikan selamat ke Dewa. Begitu juga dengan Helena, Raisa, Steven dan juga Yona.
"Legenda perusahaan ini terlahir, mari beri pak Dewa tepuk tangan meriah", seru Rini bersemangat. Tampak juga Yona tersenyum senang melihat Dewa berhasil naik jabatan di kantor itu.
"Tidak apa-apa Rini, tidak perlu berlebihan seperti ini, sebelumnya terima kasih", ucap Dewa menghentikan keheboan Rini.
"Pak, aku penasaran apa istri bapak sudah mendengar kabar ini", tunjuk Rini ke Lala yang terlihat baru saja akan memasuki ruangan kerja Tim Manajemen. Maka pandangan mereka semuapun beralih ke Lala.
Lala memasuki ruangan kerja Tim Manejeman. Di lihatnya rekan-rekan timnya sudah berada di sana. Bahkan ia melihat Rini yang sedang bermain ke ruangannya.
Dengan tatapan tajam ke arah Yona, Lala berjalan ke arah Dewa yang masih berdiri di ruangan itu.
Yona sendiri merasa sedikit takut melihat tatapan mata Lala yang tidak seperti biasa kepadanya.
Lala tersenyum ceria sambil mengucapkan selamat ke suaminya atas kenaikan jabatan.
"Selamat sayang", sambil mengulurkan tangannya ke Dewa Lala mengucapkan selamat.
Dewa terkejut melihat sikap Lala yang tidak seperti belakangan ini yang selalu dingin terhadapnya.
*****
FLASHBACK ON
Lala memperhatikan sebuah brosur kesehatan yang ada di atas meja resepsionis. Ia teringat dengan brosur yang sama yang ada di atas meja kerja Dewa yang ada di apartemennya. Dan teringat kembali dengan cerita Dewa yang mengatakan kalau ia bertemu dengan wanita itu awalnya karena sebuah pekerjaan dan Dewa jadi tahu seperti apa kehidupannya.
Kembali di lihatnya nama yang tertera di depan pintu kamar rawat ibunya Yona tadi. Namanya persis seperti nama yang tertera di lembar pembayaran yang ia jumpai di atas meja kerja Dewa saat itu. Tiba-tiba saja Yona keluar dari ruangan rawat dan itu membuat Lala terkejut.
"Sepertinya aku harus mampir ke suatu tempat Kamu bisa ke kantor sendirian?", tanya Lala ke Yona karena Lala ingin memastikan sesuatu sebelum kembali ke kantor.
"Baiklah Bu", jawab Yona sedikit heran karena tadi Lala sudah setuju mereka akan kembali bersama ke kantor tetapi kenapa mendadak Lala merubah rencana itu.
"Sampai nanti di kantor", Lala berjalan meninggalkan Yona.
Lala segera melajukan mobilnya menuju apartemennya untuk memastikan sesuatu. Setelah sampai ia segera menuju ke ruangan kerja Dewa. Ia kembali memeriksa lembaran kertas bertuliskan rumah sakit yang sama dengan ibunya Yona tadi yang sebelumnya ia lihat di atas meja.
Di situ tertera bukti pembayaran pengobatan atas nama Ibu Hana, yang mana nama itu sama dengan nama ibunya Yona.
Lala kembali keluar apartemen menuju mobilnya, ia teringat kalau Dewa memakai mobilnya saat acara kantor itu. Lala mengecek kamera yang ada di dalam mobil dan memutar rekaman di hari itu.
Terlihat Yona yang sedang menangis dan memeluk Dewa dari belakang untuk mencegah kepergian Dewa di depan sebuah gang.
Dewa melepaskan pelukan Yona lalu berdiri menghadap Yona.
"Jangan pergi. Aku tahu harusnya aku pergi menghilang. Seharusnya ini berakhir. Ini salah aku tahu. Bu Lala adalah orang yang hebat dan baik. Bahkan aku sendiri tidak percaya dengan perbuatanku padanya. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menghentikan hatiku untuk mencintaimu. Aku belum pernah mendambakan apa pun dalam hidupku. Belum pernah sekalipun. Tapi sekali ini saja, tidak bisakah aku bersikap serakah dan egois sekali ini saja? Aku tidak akan menginginkan hal lain lagi. Aku akan menerima hukuman apa pun yang datang padaku. Jadi kumohon jangan tinggalkan aku", ucap Yona sambil terus menangis dan menggenggam tangan Dewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomansaLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
