"Lo mau ketemu sama seseorang?", tanya temannya saat melihat Lucky membawa paper bag yang berukuran sedang ke dalam ruangan kerja.
"Ini untuk istri gue. Apa yang ada di pikiran lo?", tanya Lucky sedikit kesal dengan temannya itu. "Bisa gak lo kalau mau nanya di pakai akal sehat itu?", kesal Lucky.
"Kenapa lo membeli sesuatu untuk istri lo kalau ini bukan hari yang istimewa?", tanya temannya lagi masih kepo.
"Dia sudah melalui banyak hal. Gue mau menghiburnya", Lucky terus memandangi kotak sepatu yang akan ia berikan untuk Raisa.
"Lo tiba - tiba jadi dewasa. Lo mau mau masuk surga ya?", seru temannya.
"Pigi lo sana", geram Lucky menepuk punggung temannya.
****
Flashback On
Saat malam di club, setelah kejadian Raisa nyaris di lecehkan Baim.
"Kenapa kamu mau di manfaatkan hanya untuk promosi jabatan?", ucap Lucky marah dan juga sedih mendengar alasan Raisa menuruti permintaan Baim.
"Menurut mu berapa lama lagi aku akan bertahan di kantor dengan posisi ku yang begini gini aja?", tanya Raisa balik.
"Kamu bisa berhenti saja bekerja", kesal Lucky karena ia tidak pernah meminta Raisa untuk bekerja. Cukup menjaga anak - anak saja di rumah.
"Apa?", tanya Raisa berharap ia salah mendengar apa yang di katakan suaminya itu.
"Berhenti saja bekerja! Aku pasti bisa menghidupi keluarga kita bagaimana pun caranya", tegas Lucky.
"Kamu gak paham rasanya jadi aku", Raisa menghela nafasnya perlahan.
"Kamu bilang kerja itu merepot kan mu karena sulit untuk membagi waktu bekerja dengan mengurus anak - anak. Jadi dari pada begini, kamu berhenti lah bekerja-",
"Jangan meminta sembarangan!", sanggah Raisa dengan bentakan. "Menurut kamu kenapa aku berusaha keras untuk tetap bekerja? Kenapa menurut ku? Padahal aku merasa tidak enak kalau terus meninggal kan anak - anak. Aku juga terus bertanya - tanya pada diri ku sendiri kenapa aku harus tetap mempertahankan pekerjaan ini. Terkadang aku merasa tidak yakin apa benar yang selama ini aku mau dan lakukan", Lucky hanya menatap istrinya itu dengan tatapan nanar.
"Tapi jika aku meyerah, aku mungkin tidak akan bisa berbuat apa - apa. Itu sebabnya aku tetap mempertahankan pekerjaan ini. Aku tahu dengan aku bertahan dengan tetap bekerja, tidak akan membuat perubahan pada anak - anak. Tapi, apa yang harus aku lakukan jika aku tidak bisa memikirkan cara lain?. Setelah bekerja selama tiga belas tahun sejak aku tamat sekolah, hanya ini satu - satunya harapan ku untuk tetap bisa bertahan hidup. Aku ngga ingin nasib ku sama seperti ibu ku, saat di tinggalkan ayah ku, ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan. Membuat kami anak - anaknya menjadi susah bahkan untuk makan sehari - hari. Jadi bagaimana aku bisa berhenti bekerja?", tumpah sudah tangis Raisa menatap Lucky. Berharap Lucky bisa mengerti alasannya tetap ingin bekerja.
"Aku kuliah sambil tetap bekerja paruh waktu untuk bisa membayar uang kuliah dan makan ibu ku. Sampai akhirnya aku bekerja keras dan bisa bekerja di perusahaan itu. Kalau aku berhenti sekarang, semua waktu dan usaha yang aku lakukan dalam hidup ku akan menghilang seperti fatamorgana. Tapii kekhawatiran itu membuat ku kehilangan diri ku juga. Itu terus membuat ku takut", Lucky menarik tubuh Raisa untuk memeluknya.
"Tentu saja menjadi seorang ibu sangat berharga untuk ku. Tapi aku juga ingin memiliki kehidupan sebagai diri ku sendiri. Apa menurut mu aku terlalu egois?", ucap Raisa mengendurkan pelukan Lucky agar bisa melihat wajah Lucky.
"Tentu saja tidak bu, sudah jangan menangis lagi", ucap Lucky menghapus air mata di pipi Raisa. "Sudah lah, semuanya akan baik - baik saja seiring bejalannya waktu
Flashback Off
*****
Bu Irma memperhatikan Yona yang hanya duduk seorang diri, ia terus memperhatikan arah pandang Yona yang tertuju ke Dewa. Saat melihat Lala yang berjalan keluar, Irma menghampiri Lala.
"Lala", panggil bu Irma membuat Lala menghentikan langkahnya dan menyapa bu Irma dengan sopan.
"Saya sudah mendengar banyak tentang kamu dan semuanya adalah sebuah pujian", senyum bu Irma dan di respon Lala tersenyum juga .
"Terima kasih bu", ucap Lala.
"Kedepan nanti saya akan membutuh kan bantuan dari mereka yang berbakat dan kompeten. Saya ingin merekrut mu", ucap Irma dan Lala mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya bu Irma kembali berjalan meninggalkan Lala.
*****
Raisa menemani anak - anaknya makan siang setelah selesai membuatkan menu makan siang kesukaan Yoga dan Sony.
"Ini enak bu, bahkan ayah saja tidak bisa memasak nasi yang enak", ucap Sony dengan nada yang lucu membuat Raisa tertawa senang mendengarnya.
"Apa kalian suka jika ibu terus memasakkan kalian makanan seperti ini?", tanya Raisa dan membuat anaknya mengangguk senang dengan keadaan mulut penuh makanan.
"Apalagi kalau ibu juga membuatkan kami cemilan setiap sore", angguk Sony setuju.
"Oh ya? Jadi setiap sore kalian ingin memakan cemilan buatan ibu?", tanya Raisa semangat.
"Mauuuu", girang anak - anaknya.
"Tapi bu, apa kita akan jatuh miskin?", tanya Yoga tiba - tiba dengan mimik sedih di ikuti Sony.
"Maksudnya?", Raisa mengerutkan dahinya bingung dengan yang barusan Yoga katakan.
"Kata teman ku di sekolah ibu di pecat dari pekerjaan dan itu membuat ibu saat ini bisa terus menamani kami sehari. Namun itu justru membuat uang ibu habia, yang artinya kita akan segera menjadi miskin", jelas Yoga tertunduk.
Mendengar itu membuat Raisa merasa lucu. "Tidak sayang, kita tidak akan jatuh miskin hanya karena ibu saat ini tidak bekerja. Ayah mu masih tetap bekerja. Ayah mu tetap menghasil kan uang jadi tidak perlu ada yang kalian khawatirkan. Kalian mengerti?", Raisa mencoba memberi pengertian pada anak - anaknya. Dan syukurnya Yoga dan Sony paham dan senyum kembali menghiasi wajah keduanya.
"Sekarang ayo lanjut kan makannya", seru Raisa lagi.
*****
Krakkk.
Helena menutup layar laptopnya keras membuat Steven terlonjak kaget mendengarnya. Ia melihat Helena dengan penuh tanda tanya.
"Seseorang di tim kita di unjuk menjadi kepala untuk divisi terbaru", ucap Helena kesal.
"Maksudnya?", Steven memang belum mengecek forum perusahaannya, lantas ia segera membuka dan membacanya. Sangat terlihat jelas Yona di tunjuk sebagai kepala dari tim prestise, yaitu divisi terbaru untuk menghandle para client - client penting.
"Apa maksudnya semua ini?", Rini berjalam cepat memasuki ruangan tim management. "Kenapa bisa Yona tiba - tiba mendapat jabatan sepenting ini? Apa karena dia orang dalam? Lalu apa pentingnya tim kalian ini sekarang kalau ada divisi baru itu!", geram Rini karena sudah membaca pengumuman yang di posting di forum perusahaan
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
