Esok harinya di kantor, Lala teringat kalau ia pernah memberitahu rekan-rekan kerjanya kalau mereka bisa menggunakan laptop miliknya dalam keadaan mendesak.
"Gunakan ini hanya saat kalian butuh izin darurat, aku akan di hukum jika tim keamanan tahu, jadi aku akan menyimpannya di bawah pot kecil ini untuk tim kita", ucap Lala sambil menunjukkan secarik kertas berukuran kecil dan ia tempelkan di bawah pot bunga yang selalu berada di atas meja kerjanya. Secarik kertas itu berisi username dan password untuk masuk ke laptop pribadi miliknya bekerja.
Ia berfikir apa di saat itu seseorang mengirimkan pesan teks untuk memberi tahu kalau suaminya berselingkuh melalui laptop pribadi miliknya,
Kata-kata Dustin terus terngiang. "Komputer yang di pakai untuk mengirim pesan itu adalah milik mu".
Lala memandangi satu persatu rekan kerja mulai dari Raisa, lalu beralih ke Steven dan juga Yona. "Siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan teks itu padaku malam itu", batin Lala dalam hati.
"Hai pagi", sapa Helena ceria yang baru saja sampai di kantor.
"Pagi Bu Helena", terlihat Steven yang menyahuti sapaan Helena, yang lain hanya tersenyum.
Helena yang melihat Lala saat itu memandanginya, seketika mengalihkan pandangannya dan terus berjalan menuju meja kerjanya. Raisa memerhatikan itu dan ia merasa ada sesuatu yang janggal di antara Helena dan juga Lala.
*****
"Ayo kita rapat", Dewa berjalan tergesa-gesa menghampiri timnya untuk mengajak rapat mendadak dengan tim pemasaran.
Melihat situasi rapat yang tidak kondusif, karena Helena dengan timpemasaran berbeda pendapat dan sedikit berdebat, sampai akhirnya Dewa memilih mengalah dan mengakhiri perdebatan Helena dengan tim pemasaran.
"Aku mengerti, kami akan membahas detailnya dan mengabarimu", ucap Dewa untuk mengakhiri rapat tersebut, tim pemasaran pun mengerti.
"Aku percaya padamu ibu Lala, kita lebih bisa bicarakan ini", ucap asisten manajer tim pemasaran. "Kita melakukan ini demi perusahaan, bukan untuk diri sendiri kan?", lanjutnya kembali.
"Benar, kami akan memeriksanya", jawab Lala ramah sambil menganggukan kepala. Tim pemasaran pun berjalan duluan ke luar ruangan meninggalkan tim manajemen.
"Katakan aja enggak", ucap Helena ke Lala. "Mereka masuk tanpa bertanya dan ingin menilai staff kita. Itu artinya mereka akan ikut campur dalam tugas kita mulai sekarang, jika kita menyerah mereka akan menilai kita pelayan mereka", Helena melanjutkan pendapatnya sambil menatap melekat ke Dewa.
"Kita mendapat perintah dari direktur, kita enggak bisa menolak begitu saja", Lala yang mendengar itu langsung mengarahkan pandangannya ke Dewa.
"Bagaimana kalau kita terima semua permintaan tim pemasaran, jika itu perintah dari direktur, mereka tidak akan menyetujui kondisi yang lain", Lala memberi masukan.
"Lo di tusuk dari belakang jika lo percaya begitu saja, terkadang lo harus melawan dengan keras", Helena membuang muka dari Lala saat di tatap tajam sewaktu ia mengungkapkan pendapatnya.
"Aku menghargai kejujuranmu, tapi aku ingin kamu menjaga sopan santun mu", ucap Lala pelan kepada Helena. Helena langsung kembali menatap Lala dan meminta maaf karena ia sudah terlalu keras.
Raisa yang melihat itu semakin curiga kalau ada sesuatu yang terjadi diantara Helena dan juga Lala.
*****
Raisa menghampiri meja kerja Lala sambil memberikan file yang memang akan ia serahkan.
"Bu Lala", panggilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomansaLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
