"Makasih ya bu sudah mau membuat janji temu dengan saya", saat ini Lala dan bu Angel bertemu di sebuah cafe atas permintaan Lala. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan mengenai pak Rangga dan juga Dewa.
"Iya, bicara lah, apa yang ingin kamu sampaikan", pinta bu Angel sambil meneguk teh hijau hangatnya.
"Hubungan antara pak Rangga dan Dewa yang kemarin ibu sebutkan, apa ada kaitannya dengan bu Suci dari Kilang Pride?", tanya Lala to the point.
"Kamu menebak lebih cepat dari dugaan ku", bu Angel tersenyum tipis menjawabnya.
"Dewa mengurus para wanita simpanan suami ku, dia memberi mereka uang dan membuat mereka meneken perjanjian. Dan hal - hal seperti itu. Dia sudah menangani banyak wanita sejauh ini. Kurasa dia cukup handal melakukannya", Lala tidak menyangka akan cerita bu Angel. Suaminya yang ia kenal lelaki baik, pekerja keras dan tidak pernah neko - neko ternyata melakukan pekerjaan sekotor itu.
"Kenapa kamu terkejut? Suami ku tidak memercayai orang lain selain Dewa, suami mu. Ku pikir suami ku merasa suami mu bisa di percaya. Terbukti, bahkan denganmu sebagai istrinya, seperti Dewa tidak pernah menceritakan pekerjaannya itu padamu. Bahkan suami ku membeli saham dengan nama pinjaman kalau - kalau nanti ada pertarungan warisan. Dan itu semua yang mengurusnya adalah suami mu. Saham itu memakai nama Suci dan suami mu. Kamu tidak tahu apa pun tentang suami mu". Lala merasa terhenyak mendengar semuanya, sungguh ia tidak mengetahui itu selama ini.
"Apa kamu mau membeberkannya?", tanya bu Angel sambil memberikan beberapa lembar foto perempuan yang berbeda - beda.
"Mengekspos perselingkuhan dan saham dengan nama pinjaman. Itu akan menghancurkan Dewa dan juga Yona sekaligus. Tidak kah kamu ingin menghancurkan mereka berdua?", tanya bu Angle tersenyum sinis pada Lala.
"Itu juga akan menghancurkan suami ibu", ucap Lala hati - hati.
**
Lala berselisih dengan Dewa saat ingin ke toilet dan Dewa berjalan menuju lift. Dewa menghentikan langkahnya berharap Lala akan menegur dirinya, Lala juga berhenti namun hanya untuk memandang Dewa dengan tatapan sinis dan merendahkannya.
Dewa merasa Lala yang masih sah menjadi istrinya itu telah berubah. Sudah tidak ada lagi tatapan cinta pada Lala seperti biasa untuk dirinya. Dewa terus menatap Lala yang berjalan memasuk toilet sebelum akhirnya Dewa kembali berjalan memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
Lift kembali terbuka saat berhenti di lantai 8. Dewa yang masih memikirkan Lala terus melamun dan tidak menyadari kalau yang memasuki lift adalah Yona.
"Gimana perjalanan kamu ke rumah ibumu mas?", hal itu spontan membuat Dewa terkejut dari lamunannya.
"Lancar", jawaban singkat itu tidak membuat Yona berhenti mengajak Dewa berbicara. Karena saat ini memang hanya mereka berdua saja yang ada di dalam lift.
"Bisakah mas mengajariku menyetir? Pak Rangga akan memberikan ku sebuah mobil", ucap Yona.
"Menyetir?", tanya Dewa takut salah mendengar.
"Iya, aku merasa segan kalau harus meminta mas mengantar jemput ku setiap ke kantor atau ke suatu tempat. Dan aku memang ingin belajar", sumringah Yona.
"Baik lah", Dewa mengangguk anggukkan kepalanya, Lala lantas bersandar di pundak Dewa.
"Bagaimana kalau weekend nanti? Jadi kita bisa sekalian jalan - jalan-", seketika pintu lift terbuka dan masuk 2 karyawan lain, membuat Yona buru - buru melepaskan diri dari pundak Dewa. Dewa dan Yona merasa gugup, sangat takut kalau ketahuan dengan karyawan yang lain. Karena saat ini status Dewa masih menjadi suami Lala.
**
Hari ini jadwalnya tim manajemen dan tim prestise kembali rapat.
"Pesta akan di adakan dalam bentuk acara amal, dan yang terkumpul akan di sumbangkan atas nama client kita", ucap Dewa membuka rapat hari ini.
"Jika akan melanjutkannya, kita butuh manajer proyek. Bagaimana kalau Raisa yang mengambil tugas itu", usul Lala.
"Terlalu banyak tanggung jawab untuk seorang pegawai rendahan seperti dia", cetus Agus dari tim prestise yang memang memandang rendah pada tim manajemen. "Lagi pula kami lebih berpengalaman, jadi kami akan mengambil tanggung jawab itu", ucapnya meminta persetujuan Dewa.
"Proposalnya kali pertama disarankan untuk tim manajemen, dan kami juga memiliki pengalaman. Selain itu, Raisa menunjukkan kemampuannya saat berhasil mengurus acara yang di adakan sebelumnya", bela Lala.
"Acara lebih besar membutuhkan tanggung jawab lebih banyak. Raisa bagaimana? Apakah sanggup?", tanya Dewa.
"Saya bisa melakukannya", jawab Raisa pasti, membuat tim manajemen merasa senang karena mereka yang akan memegang kendali.
"Baik lah, kalau begitu tuliskan rencana detail acara dalam bentuk proposl", titah Dewa dan di setujui Raisa.
"Materi promosi akan di satukan oleh Helena dan Rini", ucap Dewa.
"Saya setuju", suara Coki yang sangat bersemangat membuat yang lainnya menoleh padanya. Ia sangat bangga Helena yang saat ini menjadi pacarnya mendapatkan tanggung jawab yang begitu penting.
"Kita lanjut kan, karena jadwal kita akan padat. Jadi harus tetap siaga", ucap Dewa.
"Siap pak", jawab yang lainnya serempak.
**
"Pak Coki kita harus bicara", ucap Helena menahan langkah Coki yang akan keluar dari ruangan rapat setelah hanya mereka berdua saja di ruangan itu.
"Aku tidak bermaksud membuatnya kentara-", ucap Coki terbata karena takur Helena tidak nyaman dengan dirinya saat ini.
"Kamu mau ngga makan malam di rumah ku malam ini?", tanya Helena. Pertanyaan yang tidak di sangka - sangka oleh Coki.
"Rumah mu?", tanya Coki ragu dan Helena menganggukkan kepala.
"Dengan senang hati", jawab Coki tersenyum senang.
"Baik lah, sampai jumpa nanti", Helena meninggalkan Coki yang masih tersenyum senang sendiri.
**
"Halo Yona", Dewa menangkat panggilan telfon dari Yona saat ia sedang menemani pak Rangga makan malam bersama teman - temannya.
"Sayang, nanti makan malam di apartemen ku ya, aku sudah memasak kan makanan lezat untuk mu", ucap Yona dari sebrang telfon.
"Aku sedang menemani pak Rangga makan malam".
"Oh begitu", terdengar nada kecewa dari Yona.
"Maaf kan aku ya. Kamu istirahat saja", Dewa langsung menutup panggilan telfonnya lalu masuk lagi ke dalam ruangan dimana pak Rangga dan teman - temannya sedang asyik bercerita.
"Dari Lala ya? Semua orang tahu betapa kalian saling mencintai. Kurasa kalian berdua masih seperti pengantin baru", ucap salah satu teman pak Rangga yang hanya di tanggapi senyuman oleh Dewa.
"Mari kita lanjutkan minum lagi", ajak pak Rangga menanggat wine ditangannya agar mengalihkan perhatian temannya.
**
Di tempat lain, Baim menerima amplop coklat yang berisi banyak foto dan Dewa yang sedang berangkulan. Ia meminta seseorang untuk mengikuti Yona karena ingin menghancurkan pak Rangga yang sudah memecatnya. Ia memiliki rencana yang sudah ia susun sedari pemecatan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
