Bab 10

468 12 0
                                        


Raisa teringat percakapannya kemarin dengan Lisa, salah satu temannya dari Divisi yang bekerja dibawah kepemimpinan pak Baim. Lantas ia mengambil satu kopi dari tangan Yuri dan berlari keluar ruangan mengejar pak Baim yang baru saja berlalu pergi dari ruangan rapat tadi.

"Pak Baim, terimakasih atas perhatian bapak" Raisa menyerhakan 1 cangkir kopi itu ke Baim. Baim menerimanya dengan senyuman tipis dan keheranan,

"Siapa namamu tadi?" tanya Baim ke Raisa.

"Raisa pak dari Tim Manajemen" Raisa memperkenalkan dirinya ke Baim.

"Baiklah, terimakasih kopinya" ucap Baim sambil berlalu pergi meninggalkan Raisa yang menunduk hormat kepadanya. Helena melihat itu dari ujung lorong di depan toilet.

Saat Raisa membalikkan badan hendak menuju kembali ke ruangan rapat, ia melihat Helena yang sedang memeprhatikannya.

*****

"Bu Lala, maaf, suamiku menelfon seharusnya ia yang akan menjemput anak-anak, tapi dia bilang akan terlambat, kurasa aku ngga bisa ikut memeriksa ke lapangan" Raisa mendatangi meja kerja Lala untuk meminta pengertian dan izin.

"Oh begitu ya, baiklah aku akan mencari orang lain" walaupun Lala sedikit berat memakluminya.

"Maafkan aku ya bu" Raisa menampilkan wajah menyesal karena sudah bersikap tidak profesional.

"Ya mau gimana lagi, ini mengenai anakmu" jawab Lala sambil tersenyum tipis.

*****

Akhirnya jam pulang kantor tiba, Lala bergegas merapihkan barang ke tasnya karena Dewa sudah menunggunya untuk pergi makan malam ke restoran oliver yang sudah mereka pesan untuk malam ini.

"Anda sudah memesan tempat?" tanya pelayan ramah saat Lala dan Dewa sudah sampai di pintu masuk restoran.

"Iya sudah mba, atasnama Lala dan Dewa" jawab Lala sambil menunjukkan bukti reservasi yang tadi berikan Rini.

"Baik bu, akan saya tunjukkan tempat duduk kalian" pelayan menyilahkan Lala dan Dewa untuk berjalan mendahuluinya.

"Bisakah kami duduk di dekat Presdir Joe? Saya dengar ia juga memesan untuk makan malam hari ini" Dewa berkata kepada pelayan itu yang di tatap Lala dengan heran.

"Dia ayah temanku, jadi aku ingin menyapanya" sambung Dewa lagi saat melihat raut kebingungan di wajah istrinya.

"Baik pak akan saya pindahkan kursi kalian" jawab pelayan itu dan Dewa mengucapkan terima kasih. Lala hanya mengikuti suaminya berjalan di belakang dengan masih kebingungan, karena niatnya ingin makan malam saja ebrdua dengan sang suami.

Pada saat makan, Lala terlihat begitu gelisah. "Yang kamu lagi kurang enak badan ya?" tanya Dewa menyadari kegelisahan Lala sedari tadi.

"Aku cuma mengkhawatirkan sesuatu kok" Lala mengambil gelas yang berisi air mineral di hadapannya dan meminumnya.

"Dia datang" ucap Dewa saat melihat Presdir Joe menduduki kursi tidak jauh dari mereka. Tetapi presdir Joe terlihat datang bersama seorang wanita muda yang tidak ia kenal. Dewa kembali memakan hidangan yang ia pilih dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan, Lala hanya menatap Dewa dengan wajah khawatir.

Di perjalanan pulang, Lala membuka obrolan dengan wajah tetap menatap ke jalanan. "Dia sering keluar karena punya selingkuhan?" tanyanya ke Dewa.

"Tepat sekali" jawab Dewa datar.

"Istrinya orang hebat padahal" lalu keheningan terjadi sampai mereka tiba di apartemen.

"Kamu harus mandi air hangat ya yang, karena kamu terlihat kurang sehat hari ini" ucap Dewa sesampainya mereka memasuki apartemen.

"Sayang, kita harus bicara" Lala membalikkan badan dan menatap lekat Dewa.

Dewa dan Raisa pun duduk berhadapan di meja makan yang berada di dapur. Sudah beberapa menit tidak ada satu pun yang memulai berbicara, hanya keheningan di antara keduanya.Terlihat handphone Dewa yang berdering bertuliskan "Coki memanggil". Lala dan Dewa melirik ke arah handphone yang berada di atas meja itu.

Dengan mimik wajah gugup dan sedih, Lala menyuruh Dewa untuk mengangkatnya. "Angkat lah yang" pintanya ke Dewa

"Sebentar ya yang" Dewa mengambil handphone itu dan berjalan menuju ruangan tamu untuk mengangkat panggilan masuk di handphonennya.

"Nggapapa yang, angkat di sini saja" pinta Lala menghentikan langkah Dewa. Dewa menatap Lala tanpa mengangkat panggilan telepon itu hingga berhenti berdering.

Hanpdhone Dewa pun kembali berdering. Dewa memutuskan untuk menggeser layar handphonenya ke mode angkat panggilan. "Halo Coki" sapa Dewa mengangkat panggilan telepon itu.

Lala menjulurkan tangan kanannya ke Dewa, tanda ia meminta handphone itu ke Dewa. "Aku ingin menyapanya" pinta Lala.

Dengan ekspresi terkejut, Dewa menatap Lala. Ia memberikan handphonenya dan diterima Lala.

"Halo" Lala menyapa pemanggil di handphone suaminya itu.

"Halo Lalaaa, apa kabar? Kamu baik-baik aja?" jawab suara lak-laki disebrang sana dengan ramah dan riang. Lala mendengar itu tergagu sebentar.

"Iya aku baik, kamu juga baik kan? Kudengar kamu sedang berada di Singapore" Lala bertanya balik ke Coki.

"Aku udah balik tadi malam, maaf ya aku mengganggu Dewa di jam pulang kerja begini, aku kelabakan mengatur sendiri hasil perjalanan bisnisku" suara Coki masih terdengar santai seperti biasanya.

Lala yang jadi merasa tidak enak dengan Coki "Iya ngga apa-apa, lain waktu kita harus makan malam bersama" tawar Lala ke Coki untuk menutupi perasaan bersalahnya. Coki menyetujuinya melalui sambungan telfon itu. "Baiklah sampai jumpa, ini aku serahkan kembali telfonnya ke Dewa ya" Lala memberikan handphone itu ke Dewa kembali.

Dewa terus memandangi istrinya yang terlihat begitu gelisah. "Ada apa denganku?" batin Lala di dalam hati sambil menggigiti pelan kuku jari tangannya.

"Apa kau berselingkuh?" Lala tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan itu langsung ke Dewa.

Dewa masih menatap istrinya dengan pandangan yang datar, tanpa ekspresi. Ia tidak menyangka istrinya akan menanyakan pertanyaan itu padanya. Lama Dewa hanya diam sambil tetap menatap istrinya yang terus saja gelisah.

"Kamu pasti terkejut aku menanyakan itu" ucap Lala kembali dengan nada yang dibuat ceria. "Kenapa aku bersikap seperti seorang istri pencemburu" lanjut Lala dengan gestur yang awkward. "Ini karena pesan aneh yang ku terima tempo lalu" katanya lagi.

Dewa menaikkan sebelah alisnya heran, "Pesan teks?" tanyanya ke Lala.

"Bukan apa-apa, aku hanya lelah dan ingin mandi" jawab Lala cepat menanggapi keheranan Dewa. Dewa masih duduk di kursi meja makan sambil melihat Lala yang bergerak meninggalkannya menuju kamar mandi. Dia masih bingung bagaimana istrinya bisa tiba-tiba mempertanyakan itu kepadanya.

Lala yang sudah berada di kamar mandi pun masih menyesali pertanyaannya tadi kepada Dewa. Sedangkan Dewa yang masih duduk di kursi meja makan terlihat sedang menghubungi seseorang melalui panggilan telefon.

"Halo Coki" sahutnya saat panggilan telfonnya terjawab, "Makasih ya" lanjut Dewa.

Terdengar suara helahan nafas, "Gue ngelakui ini karena lo yang memintanya" jawab Coki dari sebrang panggilan, "Entah apa yang gue lakuin ini benar apa engga" lanjutnya.

"Tenang aja, gue tutup ya" jawab Dewa sambil mengakhiri panggilan telfonnya karena tidak ingin kalau sampai istrinya mengetahui ini semua.

Orang Ketiga Dalam Rumah TanggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang