Bab 62

169 6 0
                                        

"Aku tidak menyangka ini tahun kesepuluh kita berada di kantor ini. Waktu berlalu dengan cepat. Dulu, ngga pernah tebersit sedikit pun kita akan seperti ini dalam sepuluh tahun", ucap Helena. Saat ini ia sedang bersama Lala di dalam ruangan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan hanya ada mereka berdua di ruangan itu yang belum pulang.

"Kamu benar", respon Lala sendu. Melihat itu membuat Helena tersenyum.

"Bagaimana keadaan mu sekarang? Pasti sulit untuk terus menemuinya di kantor", ucapan Helena membuat Lala menatapnya.

"Ku rasa mereka saling menemui lagi", ucap Lala.

"Mereka gila", seru Helena kesal.

"Aku hancur sekarang. Apa menurutmu saat ini mereka sedang bahagia?", tanya Lala. "Aku ingin semuanya di hancurkan", Lala menarik nafas dalam untuk sedikit menenangkan hatinya. "Kata mu ada yang ingin kamu katakan. Beritahu aku. Apa terjadi sesuatu?", tanya Lala kembali ke alasan Helena yang tadi memintanya jangan pulang lebih awal.

"Lala, Raisa saat ini mengalami apa yang tahun lalu aku alami", ucap Helena cepat.

"Apa?", Lala sungguh tidak menduga apa yang dia dengar saat ini. "Dengan orang yang sama?", tanya Lala dan Helena menganggukkan kepalanya.

"Apa menurutmu aku ungkapkan saja kejadian di tahun lalu kepada semua orang?", Helena meminta pendapat Lala.

"Kamu gila? Itu bisa membuatmu di remehkan sekantor. Kamu sangat tahu, saat ini justru korban pelecehan yang di cemooh orang - orang ketimbang pelakunya", jelas Lala.

"Aku gak perduli. Aku ingin melindungi Raisa. Rumah tangganya tidak boleh hancur karna ini. Baim sialan itu mengancam pasangan suami iatri itu, akan menjebloskan Lucky ke penjara kalau sampai berani buka mulut soal kejadian itu. Karna Lucky saat itu menghajarnya habis - habisan", jelas Helena.

"Apa? Jadi Lucky juga sudah tahu? Ini gila", umpat Lala.

"Justru itu, biar aku yang menyebarkan aibnya tahun lalu. Kita lihat apa hukuman yang akan dia dapatkan. Dan ku pastikan nama Raisa dan Lucky tidak akan ikut terseret", Helena sudah sangat yakin dengan keputusannya saat ini.

Helena mengeluarkan ponselnya, dan membuka forum resmi perusahaannya untuk membeberkan kejadian tahun lalu yang dilakukan Baim terhadapnya.

*****

Pagi ini kantor di gegerkan dengan tulisan yang di posting Helena tadi malam di forum perusahaannya. Saat Helena sampai di kantor, semua orang yang ia lewati memandangnya dengan berbagai perasangka. Namun Helena cuek saja tetap berjalan seperti biasanya menuju ruangan kerjanya.

Berbeda dengan Baim yang belum tahu apa - apa mengenai postingan itu, karena ia memang sangat jarang melihat forum perusahaannya itu. Lantas saat ia di panggil oleh atasannya juga tidak ada hal yang janggal menurutnya.

"Seseorang mengunggah ini kemarin di forum perusahaan kita", pak Seto selaku atasan dari pak Baik mencampakkan HP miliknya yang menampilkan halaman forum. Baim yang terkejut pun langsung mengambil HP tersebut untuk mengeceknya langsung.

'Aku korban percobaan pemerkosaan Pak Baim dari perusahaan Future Bright. Aku Helena dari Tim Management. Saat malam, tanggal 15 Maret tahun lalu. Aku menjadi korban percobaan pemerkosaan pak Beny di hotel yang berada di Pusat Kota. Pada saat itu aku adalah seseorang yang ingin berkembang. Ia menanya kan ku apakah aku suka minum atau tidak. Karena ada sesuatu yang ingin aku capai, aku pun mengatakan kalau aku suka minum. Dan ia mengatakan suka dengan keambisiusan ku. Namun ia terus saja memberikan ku minuman, hingga aku merasa sudah tidak tahan dan memuntahkan semuanya. Lalu aku pamit untuk pulang karena aku takut akan mabuk kalau harus terus menurutinya untuk minum bareng. Aku kira semuanya sudah baik - baik saja. Namun aku salah, aku sedikit sempoyongan dan saat itu juga pak Beny menelfon ku untuk menyerahkan berkas saat ini ke sebuah hotel  yang harusnya besok siang aku selesaikan. Ia beralasan harus rapat malam ini juga dengan rekan bisnis. Maka ia langsung memerintahkan ku untuk langsung saja menuju kamar. Saat aku menyerahkan berkas itu ke dalam kamar pak Baim, aku menanyakan dimana keberadaan rekan bisnisnya, karena aku melihat tidak ada siapa pun di dalam kamar itu. Lantas ia langsung menutup pintu kamar sambil berkata kalau ia menunda rapat karena khawatir aku akan lama mengantar berkas itu. Ia mempersilahkan ku untuk duduk sebentar. Aku masih menurutinya demi menghargai dirinya. Tidak ku sangka ia kembali menawari ku minuman dan menggeser duduknya tepat disamping. Ia berusaha memegang pahaku, dan langsung ku tepis saat itu juga. Namun ia terus saja memaksa ku dan menjatuhkan tubuhku ke sofa yang berada di dalam kamar itu. Semakin berani ia terus mencoba menggerayangi tubuhku walaupun aku terus mencoba lepas darinya, sampai mataku tertuju pada botol kaca minuman yang tadi ia minum, langsung saja aku ambil botol itu dan memukulkannya ke kepalanya. Membuat dia otomatis kesakitan dan melepaskan ku dari tubuhnya. Kesempatan itu tidak ku sia - siakan dan aku langsung berlari keluar kamar. Aku berniat melaporkannya atas kejadian itu, tapi rasa takut menguasai ku. Jadi, akhirnya aku memilih untuk lari. Aku bicara sekarang, setahun kemudian karena aku menyadari saat ini pak Baim melecehkan orang lain. Tahun lalu sangat menyiksa ku. Korban lain pasti akan merasakan hal yang sama. Aku tidak bisa membiarkannya melecehkan lebih banyak korban. Karena itu, aku memutuskan untuk berbicara'.

Setelah membaca itu, Baim memundurkan langkahnya. Ia tidak menyangka kalau Helena senekat itu untuk membeberkan semuanya. Ia khawatir karirnya akan hancur saat ini juga. Berkali - kali ia menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya ini semua.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?", tanya atasannya itu.

Baim mengembalikan ponsel milik atasannya itu ke atas meja kerja.

"Itu tidak benar pak. Dia mendekati ku untuk promosi kenaikan jabatan yang di tolak, jadi dia membalas dendam", ucapnya mengelak dari kenyataan.

"Kamu tahu situasinya sekarang!", bentak atasannya itu kencang.

"Bagaimana kamu bisa terlibat dalam skandal seperti itu?" marahnya.

"Akan aku bereskan pak", ucap Baim sambil membungkungkan tubuhnya tanda hormat. "Akan ku pastikan kalau itu konspirasi dan aku tidak bersalah. Beri aku waktu", ucap Baim sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan atasannya dan kembali keruangan kerja pribadinya.

Baim menghubungi seseorang dan memerintahkan untuk menyebarkan hal negatif mengenai Helena di masa lalu. Agar orang - orang bisa mengubah persepsi mengenai dirinya dan juga Helena.

**

Coki terus saja memperhatikan Helena melalui kaca pembatas ruangan kerja Helena. Ia sangat tidak menyangka Helena mengalami kejadian yang amat pahit seperti itu.

Rini yang baru saja sampai di kantor langsung mendatangi ruangan dimana Helena saat ini berada. Tujuan pertamanya adalah ingin menemui Lala.

"Apa ini?", tanya Rini melihat Lala yang hanya bisa menunduk tidak berani melihat dirinya. "Ada apa ini? Jadi kamu sudah tau La?", tanyanya sedikit teriak ke Lala. "Heh Helena!", teriaknya lagi.

"Bagaimana bisa kamu menyimpan ini..", ia pun menangis tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia sungguh tidak menyangka ternyata alasan Helena menghilang selama setahun terakhir karena ia menjadi korban pelecehan atasannya sendiri.

Orang Ketiga Dalam Rumah TanggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang