Setelah makan siang sebelumnya dengan keluarga pak Rangga, Lala memutuskan balik ke apartemen, menatap kembali foto pernikahannya dengan Dewa yang terpajang di ruangan tv. Lalu dia melangkah kan kakinya menuju satu ruangan yang sudah tidak pernah ia maupun Dewa membukanya.
Lala memutuskan untuk memasukkan kunci untuk membuka ruangan itu dengan perlahan. Terlihat satu ruangan yang berisi seluruh perlengkapan bayi, mulai dari box tidur bayi, lemari pakaian yang berisi keperluan bayi serta wallpaper dinding yang bernuansa anak-anak.
Perlahan Lala berjalan mengitari box tidur bayi, memutar knop di mainan yang di gantungan tepat di atas box tidur bayi itu mengeluarkan bunyi khas untuk menenangkan bayi. Lalu Lala duduk di sofa yang berhadap dengan box tidur bayi, terduduk dan menangis begitu dalam memikirkan kehidupannya yang begitu sakit ia rasakan saat ini.
*****
FLASHBACK ON
2 Tahun Yang Lalu.
"Mungkin karena kami sudah lama berusaha, tapi aku tetap gugup setiap kali datang ke sini", ucap Lala ke dokter sambil bangkit untuk duduk di atas brankar setelah dokter selesai melalukan USG di perut buncitnya yang sedang mengandung.
"Semua berjalan lancar kok bu", jelas dokter sambil menjelaskan lebih rinci kondisi janin yang sedang di kandung Lala.
Setelah melakukan USG Lala memutuskan kembali pulang ke apartemen tidak sabar untuk merias kamar untuk buah hatinya dengan Dewa.
"Kamu sudah menggantung mainan gantung padahal masih lima bulan lagi? Kamu terlalu bersemangat Yng", ucap Lala tersenyum senang melihat Dewa yang sangat bersemangat membantunya merias kamar untuk anak mereka.
"Sudah, selesaiii", ucap Dewa senang sambil memutar knop mainan gantung agar berbunyi. "Jika kamu mendengarnya dari rahim, ini akan terdengar tidak asing saat akhirnya kamu tiba di sini", ucapnya sambil mengelus lembut perut istrinya yang sudah membesar.
"Gadis kecil ini sudah mengendalikan mu", ucap Lala seraya tersenyum ikut mengelus perutnya sendiri.
"Gadis? Dia perempuan?", tanya Dewa senang. Lala menganggukan kepalanya tersenyum manis mengiyakan.
"Sayang ku, kesayangan ayah, kamu perempuan?", tanyanya lagi seolah-olah berhadapan langsung calon putrinya di perut Lala. Lalu Dewa pun memeluk erat Lala.
2 Bulan Kemudian.
"Lala, buka pintunya, Lala", Dewa menggedor pintu kamar calon anaknya yang terkunci dari dalam.
"Tolong buka pintunya Yng", gedor Dewa terus menerus.
Sedangkan Lala yang berada di ruangan itu dalam keadaan lampu padam, terus saja menangis terduduk di lantai sambil bersandar di box tidur calon bayi mereka. Terus saja mengingat perkataan dokter.
"Bayinya mengalami gagal jantung, sepertinya kita harus menginduksi persalinan".
"Lala, sayang", gedor Dewa lagi.
Anak yang di kandung Lala, mengalami kegagalan jantung yang membuat mereka harus segera melakukan induksi persalinan. Mereka kehilangan anaknya yang masih berada di kandungan. Sejak saat itu Lala seperti tidak memiliki semangat hidup walaupun ia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Kamu seharusnya mengambil cuti beberapa hari lagi", ucap Helena saat melihat Lala begitu tidak bersemangat.
"Ku dengar itu resiko pada kehamilan geriatris. Kamu selalu bisa mencoba lagi kan?", ucap Pak Samba atasannya saat itu.
"Apa-apaan..", Helena hendak membantah perkataan Pak Samba.
"Dewa", sapa pak Samba saat melihat Dewa memasuki ruangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
