"Halo Yona", Dewa menangkat panggilan telfon dari Yona saat ia sedang menemani pak Rangga makan malam bersama teman - temannya.
"Sayang, nanti makan malam di apartemen ku ya, aku sudah memasak kan makanan lezat untuk mu", ucap Yona dari sebrang telfon.
"Aku sedang menemani pak Rangga makan malam".
"Oh begitu", terdengar nada kecewa dari Yona.
"Maaf kan aku ya. Kamu istirahat saja", Dewa langsung menutup panggilan telfonnya lalu masuk lagi ke dalam ruangan dimana pak Rangga dan teman - temannya sedang asyik bercerita.
"Dari Lala ya? Semua orang tahu betapa kalian saling mencintai. Kurasa kalian berdua masih seperti pengantin baru", ucap salah satu teman pak Rangga yang hanya di tanggapi senyuman oleh Dewa.
"Mari kita lanjutkan minum lagi", ajak pak Rangga mengangkat wine ditangannya agar mengalihkan perhatian temannya.
**
Acara makan malam bersama pak Rangga membuat Dewa meminum banyak wine yang mengakibatkan dirinya mabuk. Ia menyetop taksi yang lewat dan meminta untuk mengantarkannya ke alamat apartemen Lala.
Saat sudah berdiri tepat di kamar apartemen Lala, ia teringat kalau saat ini ia sudah tidak di perbolehkan pulang kesana. Kembali Dewa teringat saat pertama kali menempatin apartemen itu bersama Lala.
Flashback On
"Akhinya kita punya kamar apartemen sendiri ya sayang", ucap Lala setelah menutup pintu saat jasa pindahan selesai mengantar barang -barang pindahannya.
"Iya sayang, kita ngga perlu mengontrak lagi", jawab Dewa menghampiri Lala.
"Kita bahkan belum membongkar barang tapi aku sudah lelah", Lala merenggangkan tubuhnya, sangat capek saat mengemasi barang untuk pindahan rumah.
"Sini sayang aku pijitin", Dewa memijit bahu Lala dari belakang.
"Bagaimana rasanya memiliki apartemen sendiri seperti ini sayang?", tanya Lala.
"Aku sangat senang sayang, walaupun kamu bersikeras tidak ingin membelinya pakai uangku", ucap Dewa.
"Haha dari dulu aku hanya ingin memiliki apartemen dari hasil jerih paya ku. Lagipula kita sudah menikah, jadi ini milik kita bersama. Aku sangat senang", ucap Lala lagi.
"Kamu tahu rumah tangga kita selalu berdebat soal hal - hal kecil, tapi saat di hadapkan dengan keadaan yang sulit bahkan itu tidak membuat kita renggang. Saat aku memilih menerima lamaran mu, aku merasa kamu adalah lelaki terbaik setelah ayahku dalam hidup ku. Sekarang kita akan semakin sering bertengkar, berbaikan, dan punya anak - anak disini. Kita sudah punya keluarga sendiri. Aku senang kamu menjadi suami ku", ucap lembut Lala.
"Aku lebih senang menjadi suami mu", ucap Dewa sambil menarik Lala kedalam rengkuhannya.
"Mari kita hidup bahagia sampai rambut kita putih", ucap Lala dan dibalas kecupan juga pelukan erat dari Dewa.
Flashback Off
Lala membuka pintu apartemen dari dalam karena ingin keluar membeli makan malam. Namun Lala sangat terkejut melihat Dewa yang sedang berdiri tepat di luar kamarnya dan dalam keadaan mabuk, tercium dari bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuhnya.
"Maaf, sepertinya aku salah memberi alamat pada supir taksi tadi. Aku terlalu banyak minum", ucap Dewa.
"Pergi lah. Kamu sudah ngga di terima lagi disini", ketus Lala. Dewa menurut langsung melangkah kan kakinya untuk pergi meninggalkan apartemen Lala.
"Kamu tahu, ku kira setidaknya kamu bukan orang jahat", Dewa membalikkan badan kembali karena mendengar perkataan Lala. "Tapi kini aku tidak tahu seperti apa dirimu sebenarnya", lanjut Lala lalu berjalan mendahului Dewa yang masih terdiam di tempatnya.
Lala memilih membeli makanan siap saji yang suda tersedia di alfaindo disamping apartemennya jadi tinggal di hangatkan saja sebentar di microwave untuk di makan di apartemen.
**
Acara yang di nantikan pun tiba hari ini. Acara untuk menjamu calon client yang nantinya akan bekerjasama dengan PT. Future Bright.
"Steven", panggil Helena, namun Steven terus berjalan dengan cepat sambil menundukkan kepala.
"Stev, kenapa sembunyi", panggil Helena lagi lalu berhenti saat Steven sudah berhenti di sudut aula.
"Iya bu? Aku tidak bersembunyi", jawab Steven gugup. Ia tadi melihat 2 orang temannya yang memang menjadi salah satu calon client yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. Ia tidak ingin identitas di ketahui atau bahkan di rendahkan teman - temannya karena bekerja sebagai karyawan biasa sedangkan orangtuanya adalah orang hebat di negri ini.
"Kenapa? Kamu takut di kenali sebagai putra mentri?", tanya Helena yang membuat Steven terkejut darimana Helena bisa mengetahuinya.
"Identitas mu saat ini Steven yang menjadi pegawai, jadi ayo kita bekerja secara profesional", ajak Helena tegas namun ramah lalu berjalan meninggalkan Steven.
"Astaga, kenapa tidak ada rahasia di sini", keluhnya berbicara sendiri.
Para tamu sangat menikmati acara hari ini. Mulai dari lagu yang di putar, makanan yang di hidang dan lainnya membuat tamu enjoy.
"Hei lihat, bukan kah itu wanita yang di kabarkan adalah anak dari masa lalu presdir dari perusahaan ini?", suara seorang wanita menunjuk Yona yang sedang menjamu tamu lainnya.
"Dia sudah menyingkirkan gaya kampungannya", sambung wanita lainnya yang berada di satu meja dengannya.
"Setelah dia terlihat lebih bersih, dia mendekati selera wanita ku", ucap suara cowok yang ada di meja yang sama.
"Kalau begitu, rayu dia", tawa pelan si cewek.
"Mungkin penampilannya lebih baik, tapi dia tetap orang kampung yang tidak berpendidikan", sahut cowok lainnya.
"Iya juga ya kamu benar", setuju yang lainnya.
"Dia pasti akan menjadi wanita yang selalu tidak sopan", tawa pelan yang lainnya. Ternyata pembicaraan mereka di dengar langsung oleh Yona. Yona yang merasa dirinya saat ini sedang di bicarakan langsung berjalan menjauh dari meja itu.
**
Bu Irma dan Lala menikmati acara itu dari lantai atas yang viewnya dapat melihat keseluruhan acara yang ada di bawah.
"Lihat lah anak - anak pada saling merayu dan membanggakan kehidupannya masing- masing", ucap bu Irma membuat Lala tersenyum mendengarnya.
"Aku juga pernah seperti itu. Menikah atas dasar cinta akan membuat mu sadar, bahwa cinta tidak dapat menaklukkan semuanya. Dan menikah demi uang dan status akan membuat mu sadar bahwa hidup lebih dari itu". Lala hanya diam mendengarkan cerita bu Irma.
"Kami rela bertindah sejauh apa?", tanya bu Irma menatap Lala.
"Maksudnya bu?", tanya Lala yang kurang mengerti arah pembicaraan bu Irma.
"Balas dendam dengan Dewa. Aku pribadi berharap kamu akan menyelesaikan hubungan mu dengan Dewa", ucap bu Irma.
"Tapi, bagaimana cara menyelesaikannya?", tanya Lala ragu.
"Intinya keadaan akan segera berubah", senyum lembut bu Irma menguatkan Lala. "Aku akan membantu mu, aku tidak suka melihat wanita di anggap lemah dan mudah di permainkan. Kamu harus kuat dan hadapi semuanya dengan smart", lanjut bu Irma.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga
RomanceLala mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, memberitahu bahwasanya suaminya tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan yang berada di tim yang sama dengan dirinya. Mulai dari situ Lala berusaha mencari tau satu persatu dan betapa ia sangat...
