belum siap kehilangan

4.1K 99 0
                                        

   Di tempat yang sama, Gus Yusuf dan Rara tiba di rumah sakit.  Mereka langsung menghampiri ruangan tempat Bilqis dirawat.

"Assalamualaikum," ucap Gus Yusuf sambil tersenyum.

"Walaikumsallam," jawab Ummi Maryam.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Gus Yusuf.

"Alhamdulillah, dia sudah siuman.  Keadaan Bilqis sudah membaik," jawab Ummi Maryam.

"Alhamdulillah," ucap Gus Yusuf lega.

Gus Yusuf kemudian menghampiri Bilqis. Ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Bilqis.

"Iqis,  maafkan kakak," ucap Gus Yusuf dengan suara yang bergetar.

Bilqis terdiam.  Ia masih merasa sedih dan kecewa dengan kejadian yang telah terjadi.

"Kakak tidak bermaksud untuk menyakitimu," lanjut Gus Yusuf.

Bilqis kemudian menatap Gus Yusuf dengan tatapan yang sendu. Ia merasa sangat kecewa dengan Gus Al.

"Kakak,  Iqis tidak bisa memaafkan Gus Al," jawab Bilqis dengan suara yang lirih.

Gus Yusuf terdiam mendengar jawaban Bilqis.  Ia tidak tau harus berkata apa.  Ia merasa sangat sedih dan menyesal atas semua yang telah terjadi.

"Iqis,  kakak mohon kamu bisa memaafkan Gus Al.  Dia sangat mencintai kamu.  Dia sangat menyesali kesalahannya.  Dia tidak bermaksud untuk menyakiti kamu," ucap Gus Yusuf memohon.

Bilqis terdiam. Ia merasa sangat dilema.  Ia sangat mencintai Gus Al.  Tapi ia juga sangat kecewa dengan Gus Al.

"Kakak,  Iqis tidak bisa memaafkan Gus Al.  Dia telah menyakiti hati Iqis.  Dia telah membuat Iqis merasa takut," jawab Bilqis dengan suara yang lirih.

Gus Yusuf terdiam mendengar jawaban Bilqis. Ia merasa sangat sedih dan menyesal atas semua yang telah terjadi.  Ia tidak tau harus berkata apa lagi.

🍀😆🍀🍀😆🍀🍀😆

Gus Al meninggalkan sang istri bersama kedua orang tuanya. Ia berniat membeli susu ibu hamil tapi terhalang oleh Faizar yang menyerang secara tiba-tiba, entah apa permasalahannya.

Buuugghttt....

"Ah...aaahhhh," Gus Al tersungkur di jalan. Ia tidak menyadari kalau dirinya akan diserang secara mendadak oleh Faizar, kakak ipar sang istri.

"Lo...berani-berani menikahi Bilqis. Bilqisnya milik gue. Kenapa Lo ngotot ingin menikahi Bilqis hah?" Ucapnya memukul Gus Al secara membabi buta.

Semua keluarga pasien di rumah sakit Indah Harapan itu berteriak histeris ketika seorang pemuda dipukuli secara membabi buta. Seorang suster berlari ke arah ruang inap Bilqis.

Suster itu terengah-engah nafasnya karena ia berlari cepat kilat. Ia masuk, "Assamualaikum."

Semua orang kaget dengan kedatangan suster itu. "Walaikumsallam. Ada suster, kenapa sangat panik sekali?"

"Begini Ibu, suami pasien dipukuli sama seseorang," jawab suster itu.

Bilqis yang tadinya tidur di pelukan Ummi langsung bangun ketika mendengar ucapan suster itu. Bilqis lantas bangkit turun, ia berlari ke depan rumah sakit. Ia lupa kalau dirinya sedang hamil.

Setelah sampai di depan, Bilqis terkejut ketika melihat pemandangan yang tidak menyenangkan itu.

"Astaghfirullah, Kakak Faizar, udah. Jangan pukuli suami Iqis," Bilqis berlari ke arah suaminya.

"Awas, Bilqis. Jangan menghalangi saya untuk memukul dia," Faizar begitu marah sampai-sampai mendorong Bilqis sangat kencang sehingga ia hampir jatuh tersungkur ke jalan raya. Untung ada Gus Yusuf siap siaga menangkap tubuh mungil sang adik.

"Aaaa.....aaahhhh, Kakak," teriak Bilqis.

Gus Yusuf yang sudah memerah melihat perilaku Faizar, suami dari adiknya yang seenaknya itu.

"FAIZAR, APA YANG KAMU LAKUKAN? KAMU AKAN MEMBUNUH ADIK IPAR KAMU HAH!!  ASAL DASAR APA KAMU MEMUKUL GUS AL?  APA MAKSUD KAMU HAH.  KAMU TIDAK BERHAK MENGATUR KEHIDUPAN BILQIS.  DAN SATU LAGI KAMU GILA HAH HAMPIR MEMBUNUH SESEORANG," Bentak Gus Yusuf kepada iparnya yang tidak tau diri itu.

"Jangan ikut campur Kak Yusuf!"

"Saya perlu ikut campur termasuk ini. Kamu gak ada berhaknya untuk melarang Gus Al menikahi Bilqis. Asal kamu tau, saya diam saja karena saya masih menghargai kamu sebagai suami dari adikku Nova."

"Dan satu lagi kalau kamu berani menyakiti Gus Al atau adik kecilku Bilqis, kamu tau akibatnya."

Bilqis berlari ke arah suaminya yang jatuh pingsan mendapatkan serangan pukulan bertubi-tubi dan secara mendadak.

"Mas, bangun. Jangan buat Iqis khawatir. Jangan tinggalkan Iqis, Mas," teriak Bilqis pilu mengguncang bahu sang suami.

"Mas, bangun. Jangan tinggalkan Iqis.  Iqis belum siap kehilangan kamu Mas," ucap Bilqis.

Rara berjalan ke arah Bilqis. Ia mencoba menenangkan bumil yang satu ini. "Iqis sayang, tenang yah. Gus Al pasti akan baik-baik saja."

"Kakak, Mas Al gak bangun-bangun Iqis.  Takut kalau Mas Al meninggalkan Iqis yang sedang," jawab Bilqis dengan suara yang bergetar.

Gus Yusuf langsung memeluk sang adik yang begitu rapuh. Bilqis yang terus menerus menangis di pelukan sang kakak.  Ia tidak tega melihatnya. Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun harus menghadapi ini, yang menurutnya sangat berat, antara trauma, takut, dan khawatir melihat Bilqis yang begitu muda harus menjalani masalah sangat rumit ini.

"Sayang, hey... kamu jangan menangis lagi. Semoga suami kamu baik-baik saja ya. Kakak akan panggil orang untuk mengangkat tubuh suamimu," ucap Gus Yusuf menatap sang adik yang duduk lemah di jalan.

"Iqis, sabar. Kamu pasti kuat.  Ingat di dalam sini butuh kalian semua," bisik Rara kepada adik kesayangan suaminya.

"Kakak, Iqis takut Mas Al kenapa-kenapa! Karena ulah Kakak ipar Iqis. Iqis belum siap kehilangan suami Iqis Kak," jawab Bilqis sambil menunduk, air matanya kembali menetes.

"Iya, Dek.  Kamu harus doakan suami baik-baik saja ya," ucap Gus Yusuf memeluk sang adik yang rapuh.

"Berawal dari sebuah luka, kadang kita belajar memaknai kesalahan, dalam tangis, kesakitan, kesendirian, kelemahan, bisa jadi semakin menguatkan langkah kita untuk menyambut setiap kejutan. Hingga akhirnya mengerti, bahwa dibalik semua air mata yang pernah tertumpah, ternyata Allah ingin menghantarkan pada episode lain yang tak pernah terkira keindahannya. Karena itu tak sepantasnya ketika kita menerima kesusahan seketika menyalahkan keadaan, sebab bisa jadi itu cara Allah mempersiapkanmu untuk dihantarkan dalam sebuah ruang kebaikan dan kebaikan. Maka tetap bersabarlah dalam setiap babak episode kehidupanmu, yakinlah, Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan..." Gus Yusuf panjang lebar.

Bilqis menatap sang kakak dengan mata sembab karena kelamaan menangis.

"Sayang, Allah memberi kita sebuah ujian, seperti sekarang suami kamu mengalami musibah seperti ini. Terus sekarang kamu, diuji lewat suami kamu sayang. Allah juga memberi ujian ini sebatas kemampuan kita," ucap Rara dengan lembut.

"Iya, Iqis. Rara yakin Iqis bisa menghadapi ujian ini dengan kesabaran.  Coba Iqis jalani, keluar dari cobaan ini semua,"  ucap Rara.

Bilqis hanya menganggukan kepalanya, ia bingung harus menjawab apa. Ia merasa lelah menghadapi semua ujian ini.  Tapi ia akan tetap kuat demi Gus Al dan calon anak mereka.

"Iqis, kamu tenang dulu ya.  Kakak panggil ambulans dulu yah," ucap Gus Yusuf menenangkan Bilqis.

"Iya, Kak," jawab Bilqis dengan suara yang gemetar.

Gus Yusuf kemudian menghubungi ambulans. Ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Gus Al.  Ia sangat berharap Gus Al bisa segera sadar dan ia sangat berharap Gus Al bisa kembali pulih.

 

Di tempat yang sama, Faizar merasa sangat marah.  Ia sangat kecewa karena rencananya untuk memisahkan Gus Al dan Bilqis gagal.  Ia tidak akan pernah membiarkan Gus Al dan Bilqis bersama.

"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia dengan Bilqis," ucap Faizar dengan penuh amarah.

Faizar kemudian berlari meninggalkan rumah sakit.  Ia  bertekad untuk  menghancurkan  kebahagiaan  Gus  Al  dan  Bilqis.

Dihamili Anak KyaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang