“Ah, itu..... (menatap ke segala arah) Err.... hahhhh (menghela napas). Jangan beritahu Bang Arkhan kalau aku yang kasih tahu kamu yah? Aku tidak ingin dihukum (Menatap memohon). Bang Arkhan biasanya di arena latihan saat ini. Jika sedang menyalahkan diri sendiri, dia akan membuat dirinya kelelahan sampai pingsan dengan berbagai macam latihan keras. Jika kamu ingin kesana, aku akan temani. Tapi hanya sampai di depan. Aku takut dimarahi. Bagaimana?" Tanya balik Naufal.
Bilqis mengikuti Naufal pergi ke ruangan latihan, dimana pria tampan itu sedang menghukum dirinya sendiri di sana.
"Baik, kak, Iqis janji gak akan kasih tau sama kak Arkhan kalau Iqis tau dari Kakak." Ucap Bilqis menatap Naufal.
"Kakak bisa antarkan Iqis ke sana," ujar Bilqis.
"Kakak, Iqis gak akan marah sama kalian semua. Asal kakak antar Iqis ke sana sekarang juga," sambung Bilqis.
"Makasih dek Bilqis. Maaf yah kami melakukan ini tanpa izin kamu. Ngomong-ngomong Ustadzah kamu ada di ruang tamu. Dia masih pingsan karena syok," jawab kak Naufal.
"Sama-sama kak!! Boleh Iqis bertanya," ucap Bilqis.
"Tanya apa, dek?" Tanya Naufal.
"Hmmm kan udah kakak jawab barusan," ujar Bilqis.
"Hahaha, oke," jawab Naufal.
"Kakak lucu," ucap Bilqis.
"Hahaha. Makasih dek. Btw, itu...(muka memerah) Ustadzah kamu punya pasangan nggak?" Tanya Naufal.
"Sama-sama, kakak sini cobain dulu ini enak gak. (Bilqis masih sibuk masak makanan kesukaan Arkhan sebelum mengobati tangan Arkhan)," ucap Bilqis.
"Enak. Pasti Bang Arkhan suka haha. Btw, kakak duluan yah? Kakak ada pekerjaan, dek. Ingat jangan ngasih tau Bang Arkhan soal kakak yang kasih tau kamu yah? Ini rahasia oke?" Jawab Naufal pergi.
"Siap pak komandan hehe. Semangat kak," ucap Bilqis.
Naufal (terkekeh).
"Ustadzah Annisa maksud kak," Ucap Bilqis.
"ah... iya (memerah)," jawab Naufal.
"Belum kak, sana lamar sebelum diambil orang," kata Bilqis.
"Yah nggak langsung dilamar juga, dek (memerah). Kakak cuma mau mengenal dulu. Kalau cocok, kakak pasti lamar. Kakak nggak suka nunda-nunda kalau urusan cinta, dek (terkekeh),” jawab Naufal.
"Jangan kerja terus kak nikah sana," Ucap Bilqis.
"Dih, jangan kaya gitu kak. Nanti Ustadzah Annisa diambil orang kakak nangis terus, ngiring diri di kamar," ucap Bilqis.
“Iya juga sih (memerah malu). Selagi Ustadzah kamu disini, mau bantu kakak dekat sama dia dek? (Puppy eyes),” jawab Naufal.
“Boleh kak, sebenarnya Ustadzah Annisa gak mau dijodohkan kak dengan pilihan ibunya, tapi ayah Ustadzah Annisa memberi syarat pria mana saja yang datang kerumah akan menjadi suami Ustadzah Annisa. Perjodohan mereka akan dibatalkan,” Ucap Bilqis.
“Ada hal seperti itu? (Membelalak) Astaga. Dek, Kakak izin pergi dulu yah. Kakak mau ke rumah utama buat minta Ibu persiapkan mahar. Dadah dek. Semoga berhasil menenangkan Bang Arkhan yah (Lari dengan cepat ke arah rumah utama),” jawab Naufal.
Bilqis (Masih bengong mendengar ucapan Kak Naufal) “Dasar bucin,” teriak Bilqis.
“Gak papa bucin dekk. Yang penting kan kakak serius. Ibuuuu, anakmu mau nikah, buuuu (balas teriak sambil tetap lari ke rumah utama),” jawab Naufal.
“Baik, kak nanti Iqis ke sana. Kakak, apa kalian sudah makan?” Ucap Bilqis.
“Aku sama yang lain udah. Tapi kalau Bang Arkhan belum. Kamu bujuk dia makan, yah?” jawab Naufal.
“Baik, kak makan kesukaan Kak Arkhan apa kak, biar Iqis masakin. Sekalian bawa baby Alyssa,” ucap Bilqis.
“Bang Arkhan suka seafood. Terutama udang. Tapi, Bang Arkhan alergi kepiting. Dan, Bang Arkhan juga paling suka terong asam manis. Faktanya, di keluarga kami, hanya Haidar yang nggak suka terong (terkekeh),” jawab Naufal.
“Baik kak, Iqis masakin dulu tapi ada bahannya kak,” Ucap Bilqis.
“Ada dek. Banyak. Disana supermarketnya. Kamu tinggal ambil gak perlu bayar (menunjuk ke supermarket). Faktanya disini lengkap. Dan semua atas nama keluarga Assegaf. Oh iya, sekedar info, rumah abu-abu di depan supermarket itu rumah Bang Arkhan,” Jawab Naufal.
“Sultan mah mau ini, itu tinggal ambil,” ucap Bilqis.
“Hahaha. Kamu benar dek. Sayangnya semua orang disini nggak pernah ngerasa diri mereka kaya (menggeleng). Makanya walau harta keluarga tidak akan habis tujuh turunan delapan tanjakan, mereka masih fokus kerja kerja dan kerja,” jawab Naufal.
“Karena mereka gila kerja. Sebenarnya Iqis juga punya apartemen di sekitar sini kak. Tapi aku gak tau kalau aku kampus putriku sama siapa,” ucap Bilqis.
“Begitulah (mengangkat bahu). Kamu tinggal disini aja, dek. Putri kamu pasti ada yang jaga. Di sini, anak-anak kecil hanya anak-anak angkat Ainun. Jadi, Alyssa pasti populer. Sedikit bocoran dek. Keluarga Assegaf suka anak-anak. Tapi karena kesibukan, kami nggak bisa adopsi anak. Takut membuat anak-anak yang kami adopsi kurang kasih sayang,” jawab Naufal.
“Jangan kerja terus kak nikah sana,” Ucap Bilqis.
“Hahahaha, siap Yang Mulia (menunduk ala ksatria),” jawab Naufal.
Bilqis (terasa lepas mendengar ucapan Kak Naufal).
Naufal, terdiam beberapa saat setelah mendengarkan ucapan Bilqis, ia memutuskan untuk mengantar Bilqis ke ruang latihan.
“Ayo, ikut aku. (Membawa Bilqis ke arena latihan yang sangat luas). Ini tempatnya. Jika kamu tidak ketemu Bang Arkhan di arena, cari di ruang istirahat,” Jawab Naufal pada akhirnya.
“Terimakasih kak, Iqis akan cari Kak Arkhan di sini. Eh tunggu kak, kenapa Kak Arkhan sering kaya gini. Apa karena Iqis hadir di kehidupannya jadi seperti ini?” ucap Bilqis pada Kak Naufal.
“Dulu Bang Arkhan gak kayak gini. Setelah kematian Aidan, saudara kembar Ainun, Bang Arkhan selalu nyalahin diri karena nggak jadi kakak yang becus. Tapi Bang Arkhan biasanya kayak gini menyangkut soal adik-adiknya. Jadi, baru kali ini Bang Arkhan kayak gini gara-gara orang lain selain adik-adiknya (tersenyum tipis),” jawab Naufal.
“Kenapa bisa seperti itu kak, apa kehadiran Iqis membuat Kak Arkhan seperti ini? Mending Iqis pergi saja kak dari kalian,” ucap Bilqis.
“Qis, kamu tahu? Semenjak ketemu kamu, Ini pertama kalinya Bang Arkhan senyum dan ketawa lebih banyak. Pertama kalinya dia minta cuti setelah sebelumnya dia bener-bener fokus ke pekerjaannya. Jadi, aku harap kamu nggak menjauh dari kami. Aku tahu ini kedengeran salah. Tapi andai aja Bang Arkhan ketemu kamu sebelum suami kamu, Bang Arkhan mungkin akan berusaha mengambil hati kamu (terkekeh),” jawab Naufal.
“Ih apa sih kak. Mungkin kebetulan saja, tapi kalau takdir memperjodohkan kami atau orang lain kita syukuri kak.
Bilqis, jangan sebut dia lagi, Iqis benci dia. Tapi entah kenapa Kak Arkhan tadi kaya marah mendengar Iqis ingin menerima perjanjian sama Kak Faizar,” ucap jujur Bilqis.
“Iya maaf. Dan soal Faizar, bahkan aku juga gak suka, Qis. Wanita adalah sosok yang harus dijaga seorang pria. Bukan disakiti. Di keluarga Assegaf, kami memperlakukan semua wanita sebagai ratu dan putri. Makanya jika kami melihat wanita diperlakukan salah, kami tidak senang,” jawab Naufal.
“Hmm, Masyaallah. Iqis tau kak, tapi kalau Iqis tidak menerima itu putriku jadi korbannya kak, Iqis takut,” Ucap Bilqis.
“Tenang aja, dek. Di sini aman kok. Nggak ada yang bisa nyakitin kamu selama kamu disini. Komunitas ini terkenal dengan keamanan tingkat tingginya. Jadi sekarang kamu hanya perlu menenangkan diri di sini. Masih banyak rumah kosong yang bisa kamu tinggali. Pilih aja dek. Dan jangan takut karena disini semua penghuninya keluarga Assegaf. Dan yang disana (menunjuk ke bagian tengah Komunitas yang terdapat rumah yang sangat besar) Itu rumah utama. Disana tempat Ibu, nenek dan kakek kami tinggal. Kami hanya kesana di akhir pekan (tersenyum),” jawab Naufal tersenyum manis.
“Masyaallah Iqis sangat bahagia bisa kenal sama kalian kak,” ucap Bilqis kagum.
“Iya, dek. Kami juga senang kenal dengan kamu dan anak kamu. Setidaknya kami akan memiliki penghuni baru disini. Disini sangat sepi. Terkadang itulah resiko menjadi keluarga dengan harta. Sulit mencari teman. Rata-rata penghuni disini hanya berteman dengan satu atau dua orang. Jadi kami jarang membawa masuk orang luar ke komunitas ini,” jawab Naufal.
Bilqis (kekeh) “Tapi kenapa kalian bawa Iqis, kan baru kenal.”
“Karena teman Ainun, teman kami (terkekeh). Ainun punya intuisi yang kuat. Karena dia bisa sayang ke kamu hanya dalam beberapa jam, dijamin kamu pasti anak baik. Ainun jarang salah memahami karakter orang. Makanya dia itu temannya paling banyak dan semua temannya baik-baik,” jawab Naufal.
Bilqis (kekeh) “Emang aku orang jahat kak,” ucap Bilqis.
“Eh nggak gitu maksudnya dek (menggaruk kepala bingung),” jawab Naufal.
“Aku bercanda kak kok segitunya,” Ucap Bilqis.
Bilqis terus menerus berkeliling ruangan latihan, disana tidak ada sosok pria yang Bilqis cari. Akan tetapi langkah Bilqis terhenti ketika melihat pria yang dicari sedang berada di salah satu ruang.
Ruang Istirahat
Arkhan (menatap diri di cermin lalu tiba-tiba memukul cermin hingga pecah sampai tangannya berdarah) “Sial… (menutup mata kesal).”
Bilqis berlari ke arah ruang istirahat, ia begitu syok melihat banyak darah keluar dari tangan Arkhan.
“Kakak kenapa lukai diri kakak sendiri? Iqis mohon hentikan,” ucap Bilqis.
Arkhan (membuka mata) “Bilqis? (Menyembunyikan tangan di belakang punggung). Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Kenapa kamu disini? (Tersenyum kecil).”
“Sini tanganya, bagaimana luka kecil ini, serius kak. Kenapa kakak kaya gini?” Tanya Bilqis.
Arkhan (menggeleng pelan) “Ini tidak parah, Bilqis. Shhh (meringis saat Bilqis mencabut pecahan kaca di tangannya),” ucap Arkhan.
“Jangan ngeyel, kak ini sangat bahaya. Sini tanganya. Iqis bersihkan. Tolong jangan menolaknya kak,” jawab Bilqis menangis.
Arkhan (menatap Bilqis lama) “Baik. Tapi tolong jangan menangis. Saya tidak tahu cara menghibur orang. Tolong jangan menangis (mengusap air mata Bilqis dengan tangan kirinya yang tidak terluka).”
“Sini kak, tanganya kenapa kak seperti ini? Iqis mohon jangan kaya gini. Iqis gak mau kakak luka diri kakak karena kehadiran Iqis di sini.”
“Bukan salah kamu. Saya hanya menyalahkan diri saya sendiri. Bilqis, maaf. Maaf karena saya mengambil keputusan tanpa meminta pendapat kamu (tersenyum sedih),” ucap Arkhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
RawakBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
