Setelah empat puluh lima menit, Bilqis sudah siap untuk pergi meninggalkan pasantren dan rumah mertuanya. Bilqis dapat balasan chat dari Kak Ainun.
Bilqis: Iya Iqis tunggu di luar yah, kayanya udah aman keluar pasantren.
Ainun: Iya, Qis. Tunggu yah. Ini udah jalan mobilnya.
Bilqis: Iya kak, aku ke luar sekarang kak.
Ainun: Kamu siap-siap yah. Kakak ke rumah kamu sekarang. Ini diantar sama Kak Arkhan dan Kak Naufal. Kamu tenang di sana. Jangan nangis.
Bilqis: Iya kak, aku mau bersiap bersama putri ku.
Ainun: Kalau besok, Gus Al chat atau telepon kamu atau bahkan nanya di grup, abaikan aja.
Kekhawatiran Ainun pada Bilqis membuat Bilqis tersenyum mendengarnya.
Bilqis: Iya kak, tapi kak jangan kasih tau Mas Al yah.
Ainun: Paling besok dia tahu karena baca chat. Tapi tenang. Rumah kakak punya anti penyusup dan anti sadap. Jadi Gus Al nggak akan pernah bisa nemuin rumah kakak kecuali kalau kakak share loc.
Setelah siap, Bilqis segera keluar dari pasantren. Ia mendapatkan kembali chat dari Kak Ainun.
Bilqis: Aku udah berhasil keluar kak, diam-diam.
Ainun: Tunggu yah, Qis.
Ketika Ainun sudah dalam perjalanan, ia menanyakan di nama pasantren tempat Bilqis menuntut ilmu dan tinggal di rumah mertuanya.
Ainun: Qis, nama pesantrennya apa?
Bilqis: Pasantren Al-Huda kak.
Ainun: Aku dah didekat persimpangan, Qis. Mobil putih.
Bilqis: Udah kak, aku udah jauh dari pasantren. Aku tunggu di depan mini market yah. Iya kak.
Ainun: Oke. Kalau kamu nemu mobil putih nomor plat 1212 itu kakak yah.
Bilqis: Iya kak, bentar kak ku cari mobil milik kak.
Ketika Bilqis melihat mobil yang ditunjukkan oleh Ainun, ia langsung chat Ainun.
Bilqis: Iya kak, Iqis berdiri di depan minimarket kak.
Ainun: Iya.
Setelah mobil Ainun melewati minimarket di mana tepat Bilqis berdiri.
Bilqis: Kakak kelewatan Iqisnya.
Ainun: Ah? Tunggu ini putar balik.
Bilqis: Kaka yang barusan lewat bukan?
Ainun: Iya, Qis. Udah lihat kamu.
Tepat di mana Bilqis berdiri, ada sebuah mobil milik kakak ipar Bilqis. Yaitu Faizar yang sudah tahu akar permasalahan mereka berdua, maka Faizar mempunyai niat untuk menculik Bilqis.
Bilqis: Kakak tolong…
Ainun: Kenapa?
Bilqis: Tolong kak, Iqis mau diculik Kak Faizar.
Ainun: Kamu yang pakai hijab itu kan?
Bilqis: Aku pakai hijab pink dan cadar senada kak.
Ainun: Oke. Ketemu.
Sebelum Ainun benar-benar datang, Bilqis diseret paksa oleh Faizar kakak iparnya. Karena tahu dia akan keluar malam ini. Bilqis berusaha menelepon Kak Ainun.
“Tolong kak,” teriak Bilqis saat melihat Ainun.
“Kenapa Qis?” Tanya Kak Ainun.
“Ada Kak Faizar,” jawab Bilqis.
“Sembunyi,” teriak Kak Ainun.
“Kak cepat tolong Iqis takut,” jawab Bilqis.
“Cepat,” ucap Kak Ainun.
“Gak bisa kak, di paksa aku masuk mobil dia,” jawab Bilqis terus memberontak.
Ainun meminta Arkhan memarkirkan mobilnya di depan supermarket dan menghampiri Bilqis yang dipaksa oleh seorang pria.
Ainun: Iqis! (Menghampiri Iqis dan menarik Iqis menjauh dari Faizar)
Bilqis: Kakak tolong, Kakak Iqis takut.
Ainun: (Menarik Iqis dibelakangnya) Kamu tetap di belakang kakak.
Ainun kemudian menghajar Faizar sampai babak belur. Sebagai juara karate internasional, dan pemegang sabuk hitam taekwondo, menghajar Faizar adalah hal mudah bagi Ainun. Itulah salah satu alasan Ainun ditakuti dikampusnya. Setelah membuat Faizar babak belur, Ainun membawa Iqis ke mobilnya.
Ainun: Kita kerumah kakak yah? (memeluk Iqis)
“Lo siapa? Jangan ikut campur urusan gue sama adik ipar gue,” ucap Faizar.
“Bukan urusan lo gw siapa. Tapi Iqis adek gw. Jadi dia urusan gw,” jawab Ainun.
“Lo, kembalikan Bilqis, sekarang juga atau--” ucapan Faizar terputus oleh Arkhan.
“Iqis takut kak,” racau Bilqis.
Arkhan berjalan menghampiri Bilqis yang masih dalam pelukan Ainun,
“Atau apa? Kalau berani sama cowok. Jangan sama cewek. Dek, bawa teman kamu dan anaknya ke mobil,” jawab Arkhan menatap tajam Faizar.
Arkhan meminta sang adik Ainun membawa Bilqis masuk ke dalam mobil agar menjauhi dirinya dan Faizar ketika bertarung.
“Iya Kak. Ayo Qis,” ucap Ainun.
“Lo akan menyesal berurusan dengan gue. Lo kembalikan Bilqis sekarang juga.” Jawab Faizar.
“Bilqis, kamu berlindung sama dia. Kemana suami Lo, pasti di bosen sama Lo maka dia buang Lo.” Sambung Faizar tertawa.
Bilqis terus berlindung di antara Ainun dan Arkhan. Ia sangat takut ketika melihat Faizar.
“Oh? Kamu yang akan menyesal. Memangnya anda siapa? Bahkan jika anda keluarga presiden, saya tidak takut,” Ucap Arkhan.
“Suami? Heh. Kamu tanya sendiri sama saudara kamu dimana dia sekarang. Beraninya ngebuat Iqis nangis,” jawab Ainun.
“Iqis gak mau ikut Kakak ipar,” ucap Bilqis.
“Iqis, ikut pulang kerumah kakak. Sini (memeluk Bilqis),” jawab Ainun.
“haha… Sekarang Lo jadi pahlawan kemalam hah, Bilqis Lo selingkuh sama dia hah?” Tuduh Faizar.
Faizar tertawa lepas ketika mendengar akan Bilqis kepada Arkhan dan Ainun.
“Selingkuh? Bukannya saudara kamu yang harus dipertanyakan?” Tanya Ainun.
“Si Al bukan saudara gue,” jawab Faizar.
“Terus? Apa hak lo narik Iqis tadi?” Tanya Ainun.
“iya kak Ainun,” jawab Bilqis.
“Dia siapa, Qis?” Tanya Ainun.
“Bukan urusan kakak, Faizar, kakak sana pulang jangan buat Kak Nova, kakak perempuan ku salah paham lagi.” Ucap Bilqis.
“Gara-gara Nova kakak Bilqis memanteran inta untuk menikahi dia gak akan seperti ini. Bilqis wanita yang aku cintai,” jawab Faizar.
“Heh. Bukan siapa-siapa ternyata. Qis, ikut aku kerumah aku. Abaikan dia. Kak Arkhan bisa ngurus dia. Ayok masuk mobil,” ucap Ainun.
Ainun menatap tidak suka ketika Faizar berlebihan kepada Bilqis.
“Dia suami kak Nova kakak,” jawab Bilqis.
“Faizar kan? Lu yakin cinta sama Iqis? Kalau lu cinta, lu gak akan nyakitin dia.” Ucap Ainun.
“Serahin disini sama kakak. Kamu masuk ke mobil dulu dek,” jawab Arkhan pada Ainun.
“Iya kak, tapi kakak Ainun, kakak Ainun bagaimana? Iqis gak mau dia terluka gara-gara nolongin Iqis,” ucap Bilqis.
Bilqis entah bagaimana perasaannya berbeda ke Arkhan, ia merasa nyaman dan ada yang bisa melindungi dia dan anaknya.
“Iqis,” panggil Ainun.
“Tidak perlu khawatir tentang saya. Saya bisa mengatasinya,” jawab Arkhan.
Bilqis masih berdiam diri di tempat itu, enggan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
“Gw lakuin ini buat melindungi dia,” ucap Faizar.
“Kak, tap-” ucapan Bilqis terpotong oleh Ainun.
“Gpp Qis. Kak Arkhan pernah jadi prajurit. Gak selemah yang kamu kira,” jawab Ainun.
Bilqis menganggukan kepalanya saat mendengar penjelasan Ainun.
“Lindungi? Lo cuma nyakitin,” sambung Ainun.
“Tapi Iqis gak mau dia terluka karena saya. Seharusnya Iqis gak libatkan kalian,” ucap Bilqis.
Bilqis terus menatap Arkhan yang siap bertarung dengan Faizar.
“Iqis, gak papa. Aku yang mau terlibat. Udah yah? Masuk ke mobil habis itu kita kerumah kakak. Kasihan Alyssa kedinginan. Ini udah malam banget, Qis,” jawab Ainun.
Bilqis memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mobil Arkhan, tapi ia tetap berkata apa yang membuat tidak nyaman ketika duduk satu mobil dengan bukan muhrimnya.
“Baik, tapi kak masuk mobil Iqis gak nyaman ada pria satu mobil dengan Iqis,” ucap Bilqis.
“Gak kok. Kak Arkhan nyetir, Kak Naufal di co pilot. Aku sama kamu di belakang. Lagipula anggap aja mereka berdua kakak kamu sendiri,” jawab Ainun.
Setelah mendengar itu dari Kak Ainun, Bilqis tersenyum mendengar ucapan Kak Ainun tentang Arkhan dan Naufal.
“Kakak Ainun jangan percaya omongan dia. Kalau mau lindungi Iqis atau cinta Iqis, gak mungkin kakak ingin melecehkan Iqis waktu itu,” Ucap Bilqis menatap Ainun.
“Apa? Ngelecehin? (mengepalkan tangan) Cowok brengsek! (Meninju Faizar dengan emosi)
Bilqis: Baik, kak tapi Ning Alyssya terus menoleh kak Arkhan, Tapi beralih kak, kak itu. (Menunjuk Bilqis)
Ainun: (Selesai menghajar Faizar) Ayo kita pergi, Qis.
Bilqis: Iya kak, tapi baby Allysa rewel. Mungkin Beby Alyssya mengira kak Arkhan atau kak Naufal ayahnya. Ini pertama kali baby Alyssya rewel.
Bilqis: Ya kak, aku takut.
Arkhan: Sini saya gendong bayinya.
Bilqis: Iya ayo kak.
Bilqis: Tapi bagaimana kak nyetir.
Ainun: Ada kak Naufal kok.
Bilqis: Kakak, boleh setelah nginep di tempat kak, Iqis akan cari kosan saja.
Setelah menginap, Bilqis memutuskan untuk berniat pergi meninggalkan kediaman Kak Ainun. Tapi sayang sang putri malah tidak mau berpisah dengan Arkhan.
Naufal: Aku aja yang nyetir.
Bilqis: Baik kak, ayo pergi.
Ainun: Jangan dong, Qis. Kamu dirumah aku aja. Eh aku lupa bilang ke kamu. Aku tinggal terpisah sama saudara-saudara aku. Cuman satu komunitas. Dan komunitas itu emang wilayah keluarga kami.
Bilqis: Sayang maafin bunda yah harus pergi dari ayah kamu. Kamu jangan rewel digendong om yah.
Arkhan: (menggendong Alyssa)
Ainun: Iqis gak mau merepotkan. Kalian semua. Iqis masih punya tabungan kok kak buat kos atau beli rumah.
Bilqis (memandang bayi nya lalu menundukan kepalanya lagi)
Ainun: Iqis, kamu tinggal bareng kakak aja. Lagipula, kakak juga sendiri di rumah. Kakak bakal senang kalau punya teman. Yah?
Bilqis: Tapi kak, aku gak mau nysahin kak.
Ainun: Nggak nyusahin. Malah kakak senang soalnya nggak akan kesepian di rumah besar sendirian.
Bilqis: Kak kok sendirian, kemana anak-anak?
Naufal: Terus anak-anak kamu apa dek? Bukan orang?
Ainun: (menatap Naufal tajam) Yah maksudnya yang udah besar kak.
Bilqis tersenyum di balik cadarnya. “Kalian lucu, tapi Iqis gak nyaman kak.”
“Lagipula, anak-anak kakak pasti bahagia dapat teman baru,” jawab Ainun (mengelus pipi Alyssa).
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
AcakBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
