sidang perceraian

1.3K 34 6
                                        

Disisi lain, Ning Alena mendapatkan kabar bahwa Gus Al, kakaknya, sedang bersidang perceraian dengan Bilqis.

"Pak, Pak Jendral, saya bisa selesaikan ini sekarang juga," ucap Ketua Hakim.

"Sidang perceraian antara Bilqis Aulia Aulfa dan Muhammad Albizar Azka, putra saya putuskan kalian sekarang bukan suami istri lagi. Sidang kalian resmi bercerai," sambung Ketua Hakim.

"Saya keberatan Hakim," ucap Gus Al tiba-tiba.

Arkhan (menatap tajam pada Gus Al) "Keberatan? Jika anda keberatan, lalu mengapa menyia-nyiakan Bilqis sejak awal? Sebagai seorang pria, harusnyalah anda bisa menjaga hati wanita anda. Bukan menyakitinya. Anda seorang Gus. Anda harusnya tahu seberapa mulia seorang perempuan."

"Udah kak yah," jawab Bilqis berdiri di samping Arkhan.

Arkhan (mengambil napas) "Maaf, Bilqis. Saya hanya tidak suka dengan gayanya berbicara. Seakan-akan kamu itu tidak berharga sama sekali," (menyindir).

"Iya kakak, aku gak berharga di mata dia, tapi aku berharga di mata orang yang tepat. Dan bisa menghargai hati perempuannya. Bukan malah menyakitinya," jawab Bilqis tersenyum.

"Bilqis, saya sudah bilang. Tidak ada perempuan yang tidak berharga. Dia saja yang matanya rabun. Jangan pernah mengatakan dirimu tidak berharga. Saya tidak suka," ucap Arkhan. (sedih)

"Iya saya tau itu. Tapi saya keberatan kalau Bilqis bersama anda," ucap Gus Al menatap tajam Arkhan.

Arkhan (mengangkat alis) "Memang kenapa? Saya rasa ini pertama kalinya kita bertemu. Saya juga tidak mengenal anda. Lagipula, apa hak anda? Yang punya hati itu Bilqis. Bukan anda," jawab Arkhan (menatap tajam).

"Karena anda mengambil mereka berdua dari saya," Ucap Gus Al menatap tajam Arkhan.

"Sejak kapan? Saya tidak pernah mengambil mereka. Mereka bukan benda yang bisa diambil dan dibuang. Saya hanya menjaga mereka sejak awal. Salah jika dari perasaan menjaga itu saya mulai menyukai Bilqis dan putrinya? Selain itu, bukan saya yang meminta Bilqis bercerai. Tapi anda yang terlalu tidak tegas dan menyebabkan Bilqis ingin berpisah dari anda. Harusnya anda sadar. Jika anda bisa memberikan Bilqis rasa aman, maka Bilqis tidak akan pernah pergi dari hidup anda. Tapi faktanya, anda tidak bisa memberinya rasa aman sedikitpun," ucap Arkhan menatap tajam Gus Al.

"Bukan, salah Mas, itu kak. Membuat Bilqis nyaman dan keponakan aku nyaman itu salah kakak, kenapa sia-siakan Bilqis. Sekarang lupakan Bilqis kak. Itu udah keputusan kakak untuk menikah Ning Aluna dan kalian sudah resmi cerai," Alena.

Arkhan (terkekeh) "Adik kamu saja setuju Tuan Albizar. Sebaiknya anda ingat. Anda kehilangan Bilqis karena diri anda sendiri. Bukan saya atau orang lain. Jika anda belum berdamai dengan masa lalu, sebaiknya jangan membuka lembaran baru. Sekarang lihat? Anda kehilangan bidadari seperti Bilqis. Ingat ini. Jika anda berani datang ke hadapannya lagi dan menyakiti Bilqis, saya tidak akan tinggal diam (menatap Gus Al dengan wajah dingin). Bilqis, ayo pergi. Ainun sudah menunggu. Dia pasti khawatir dengan hasil sidang (menatap Bilqis lembut).

"Aku setuju apa yang di bilang Mas ini. Kakak jangan ganggu lagi Bilqis, Alen gak segan-segan jauhi kak dan gak akan pulang ke rumah lagi," jawab Ning Alena.

"Ayo kak kita pulang saja, saja Iqis udah muak lihat ini," Ucap Bilqis.

Arkhan (mengangguk) "Ayo pulang."

"Ayo kak, kakak terimakasih selalu ada buat Iqis," ucap Bilqis.

"Tentu, Bilqis," jawab Arkhan. (tersenyum)

Gus Al kaget mendengar suara adiknya di ponselnya. Tiba-tiba ia tidak tenang kalau bersangkutan dengan Ning Alena, ia sangat menyayangi Bilqis mantan istrinya.

"Kakak apa maksud kakak," jawab Ning Alena.

"Maafin kakak Dek," ucap Gus Al.

"Kenapa? Atau gara-gara dia kakak berubah tega menceraikan Bilqis dan meninggalkan buah hati kalian, hah Alen kecewa sama Kaka," jawab Ning Alena.

Arkhan (memutar mata mendengar Hakim yang bernama Abian, yang sebenarnya adalah temannya itu memanggilnya Jendral).

Abian (hanya tersenyum).

Arkhan (menatap tajam lalu menghela napas tak berdaya dengan tingkah temannya).

"Kenapa Hmm, mukanya kaya kenebo kering saja," ucap Abian.

"Kakak," rengek Bilqis.

"Ada apa?" Tanya Arkhan.

"Dia kembali," jawab Bilqis menangis.

"Siapa?" Tanya Arkhan.

"Dibelakang kakak," jawab Bilqis.

Arkhan (melihat ke belakang) "Dia siapa, Bilqis?"

"Itu kak, awas," jawab Bilqis (menarik lengan Arkhan untuk menghindar).

Arkhan (mengikuti tarikan Bilqis).

Bilqis sangat panik ketika ada sekolompok berjas hitam menyerang mereka bertiga secara tiba-tiba. Mereka musuh bebuyutan keluarga Arkhan.



Di tempat lain, Ning Alena beriri sendirian. Ada sekolompok geng yang telah menanggu Ning Alena.

Haikal (baru saja lewat lalu menghampiri geng tersebut) "Halo (tersenyum manis). Sepertinya kalian tidak ada kerjaan? (Bersidekap dada lalu terkekeh kemudian menarik Alena ke belakangnya). Nona, diam di sini dan jangan kemana-mana yah? Kalau takut tutup mata (mengedipkan satu matanya lalu tersenyum manis)."

Sedangkan Ning Alena, ia hanya patuh ucapan Haikal. Ia menutup mata ketika Haikal menghajar geng itu.

Kemudian Haikal berbalik dengan wajah tanpa ekspresi melihat geng tersebut. Haikal kemudian menghajar mereka satu persatu sampai mereka lari terbirit-birit.

"Eh, kamu terluka? Sini Alen obatin dulu sudut bibir kamu." Ucap Ning Alena.

"Ck. Pengecut (mengelap darah di sudut bibirnya lalu berbalik menatap Alena dengan senyum ramah). Nona, anda tidak apa-apa?" Ucap Haikal. (Mengangkat alis).

"Tolong lain kali jangan kaya gini bahaya tau." Jawab Ning Alena.

"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil kok Nona (tersenyum lebar). Ngomong-ngomong ini jalan ke kompleks Assegaf. Apa anda akan ke sana?" Tanya Haikal. (Mengangkat alis).

"Iya, saya mau ketemu dengan santriwati saya bernama Bilqis kak," Jawab Ning Alena.

"Ah? Bilqis? Kebetulan sekali saya juga tinggal di kompleks Assegaf. Mari ikut saya. Akan lebih baik daripada anda sendiri. Hati-hati ketemu preman kayak tadi lho," ucap Haikal (mencoba menakuti).

"Iya dia tinggal di sini bersama Ainun kak, baiklah mari," jawab Ning Alena menundukan kepalanya.

"Kebetulan Ainun adik saya," ucap Arkhan (terkekeh lalu berjalan ke kompleks Assegaf).

"Benarkah, ayo saya mau ketemu Bilqis, soalnya udah lima tahun kami gak ketemu," jawab Ning Alena bersemangat mendengar itu.

"Kalau begitu ayo, Nona. Oh. Ngomong-ngomong nama Nona siapa? Supaya lebih muda memanggilnya," ucap Haikal (tersenyum).

"Baik, ayo Mas. Oh iya, hampir lupa nama saya Alena Mas." Jawab Ning Alena.

"Nama yang cantik," ucap Haikal. (tersenyum).

"Mas bisa aja, eh iya nama Mas siapa?" Tanya Ning Alena.

"Haikal Fathan Assegaf. Panggil aja Haikal, Ikal atau apapun yang bikin kamu nyaman. Boleh saya panggil kamu Lena saja? Lebih singkat hehe," ucap Haikal.

"Baik Mas Haikal, boleh terserah saja," jawab Ning Alena tersenyum.

Sedangkan Ning Alena baru pertama mengobrol dengan pria bukan muhrimnya.

"Oke, Lena. Ayo ikut saya. Saya antar kamu ke kompleks," ucap Haikal. (tersenyum)



Di tempat lain, pengacara almarhum ayah Bilqis sedang memenuhi pengadilan untuk menghadiri sidang perceraian antara Bilqis dan Gus Al. Disana juga ada keluarga dari Gus Al hadir.

Bilqis berjalan berdampingan dengan Arkhan masuk ke ruangan pengadilan, tiba-tiba berpapasan dengan Gus Al dan Ummi Maryam, dan Ning Alena.

"Kenapa Nak kalian gak bisa selesaikan ini dengan cara baik-baik saja," Ucap Ummi Maryam.

"Maaf Ummi, Bilqis gak bisa, mempertahankan rumah tangga Bilqis. Bilqis capek Ummi, harus pura-pura kuat dan bahagia. Jujur Ummi, Bilqis udah terlanjur kecewa," Jawab Bilqis pada Ummi Maryam.

"Tapi Nak---" ucapan Ummi Maryam langsung terpotong oleh Bilqis.

"Maaf Ummi, Bilqis gak bisa, cukup sampai di sini hubungan Bilqis dan Gus Al. Semoga kalian bahagia tanpa aku," ucap Bilqis.

"Apa kamu, Sayang berubah gara-gara pria yang di samping kamu," Ucap Gus Al menatap Bilqis.

"Jangan salahkan Kak Arkhan, Gus, dia tidak ada kaitannya," Jawab Bilqis menatap tajam Gus Al.

"Kenapa kamu memberi izin putri kita digendong sama dia," Ucap Gus Al.

"Karena tau kalau putriku tau kalau Kak Arkhan pria baik, membuat putriku nyaman. Dibandingkan ayah kandungnya sendiri, tidak ingin melihat atau memberi perhatian pada putrinya. Dia sibuk dengan perempuan itu," jawab Bilqis menatap tajam Gus Al dan Ning Alena.

Arkhan (menggendong Alyssa) "Bisakah kita selesaikan sidang ini lebih cepat? (Menatap Hakim tajam lalu menatap Alyssa yang rewel dan menenangkannya dengan lembut). Stt, tidak apa-apa si kecil. Kamu lapar? Hm? " (Meminta botol susu pada asisten di belakangnya lalu meminumkan susu pada Alyssa).

"Kakak, biar si kecil Iqis gendong," jawab Bilqis.

Arkhan (menggeleng) "Biar saya saja, Bilqis."

"Tapi kakak pasti repot," jawab Bilqis.

Arkhan (menggeleng) "Saya lebih suka repot daripada melihat kamu lelah, Bilqis."

"Tapi kakak juga harus banyak istirahat, kasihan nanti kecapean," Jawab Bilqis.

"Saya tahu, Bilqis. Tapi sekarang saya nggak lelah oke?" Tanya Arkhan.

"Kakak lihat putri kita," jawab Bilqis mengambil foto lewat ponsel Arkhan.

Arkhan (terkekeh tapi tetap menggendong Alyssa).

"Putri Bunda anteng sayang Hmm," Ucap Bilqis.

"Yaya yah...." Panggil Beby Alyssa pada Arkhan.

"Si kecil aktif sekali, hm?" Tanya Arkhan (Mencium pipi Alyssa).

"Ya ya yah," panggil Beby Alyssa (mencium bibir Arkhan).

Beby Alyssa sangat jail sekali, main ambil ciuman pertama calon ayah kamu Nak, nanti Bunda kamu cemburu. Author senyum sendiri.

Arkhan (terkekeh) "Si kecil, kamu mengambil ciuman pertama saya lho," (tertawa)

"Xixi, Yaya tah," Beby Alyssa. (memeluk erat leher Arkhan).

Arkhan (tertawa lalu mencium pipi Alyssa karena gemas).

Beby Alyssa hanya tersenyum lalu mencium kembali pipi kanan Arkhan.



Ning Alena mendapatkan kabar bahwa Gus Al, kakaknya, sedang bersidang perceraian dengan Bilqis.

"Pak, Pak Jendral, saya bisa selesaikan ini sekarang juga," ucap Ketua Hakim.

"Sidang perceraian antara Bilqis Aulia Aulfa dan Muhammad Albizar Azka, putra saya putuskan kalian sekarang bukan suami istri lagi. Sidang kalian resmi bercerai," sambung Ketua Hakim.

"Saya keberatan Hakim," ucap Gus Al tiba-tiba.

Arkhan (menatap tajam pada Gus Al) "Keberatan? Jika anda keberatan, lalu mengapa menyia-nyiakan Bilqis sejak awal? Sebagai seorang pria, harusnyalah anda bisa menjaga hati wanita anda. Bukan menyakitinya. Anda seorang Gus. Anda harusnya tahu seberapa mulia seorang perempuan."

"Udah kak yah," jawab Bilqis berdiri di samping Arkhan.

Arkhan (mengambil napas) "Maaf, Bilqis. Saya hanya tidak suka dengan gayanya berbicara. Seakan-akan kamu itu tidak berharga sama sekali," (menyindir).

"Iya kakak, aku gak berharga di mata dia, tapi aku berharga di mata orang yang tepat. Dan bisa menghargai hati perempuannya. Bukan malah menyakitinya," jawab Bilqis tersenyum.

"Bilqis, saya sudah bilang. Tidak ada perempuan yang tidak berharga. Dia saja yang matanya rabun. Jangan pernah mengatakan dirimu tidak berharga. Saya tidak suka," ucap Arkhan. (sedih)

"Iya saya tau itu. Tapi saya keberatan kalau Bilqis bersama anda," ucap Gus Al menatap tajam Arkhan.

Arkhan (mengangkat alis) "Memang kenapa? Saya rasa ini pertama kalinya kita bertemu. Saya juga tidak mengenal anda. Lagipula, apa hak anda? Yang punya hati itu Bilqis. Bukan anda," jawab Arkhan (menatap tajam).

"Karena anda mengambil mereka berdua dari saya," Ucap Gus Al menatap tajam Arkhan.

"Sejak kapan? Saya tidak pernah mengambil mereka. Mereka bukan benda yang bisa diambil dan dibuang. Saya hanya menjaga mereka sejak awal. Salah jika dari perasaan menjaga itu saya mulai menyukai Bilqis dan putrinya? Selain itu, bukan saya yang meminta Bilqis bercerai. Tapi anda yang terlalu tidak tegas dan menyebabkan Bilqis ingin berpisah dari anda. Harusnya anda sadar. Jika anda bisa memberikan Bilqis rasa aman, maka Bilqis tidak akan pernah pergi dari hidup anda. Tapi faktanya, anda tidak bisa memberinya rasa aman sedikitpun," ucap Arkhan menatap tajam Gus Al.

"Bukan, salah Mas, itu kak. Membuat Bilqis nyaman dan keponakan aku nyaman itu salah kakak, kenapa sia-siakan Bilqis. Sekarang lupakan Bilqis kak. Itu udah keputusan kakak untuk menikah Ning Aluna dan kalian sudah resmi cerai," Alena.

Arkhan (terkekeh) "Adik kamu saja setuju Tuan Albizar. Sebaiknya anda ingat. Anda kehilangan Bilqis karena diri anda sendiri. Bukan saya atau orang lain. Jika anda belum berdamai dengan masa lalu, sebaiknya jangan membuka lembaran baru. Sekarang lihat? Anda kehilangan bidadari seperti Bilqis. Ingat ini. Jika anda berani datang ke hadapannya lagi dan menyakiti Bilqis, saya tidak akan tinggal diam (menatap Gus Al dengan wajah dingin). Bilqis, ayo pergi. Ainun sudah menunggu. Dia pasti khawatir dengan hasil sidang (menatap Bilqis lembut).

"Aku setuju apa yang di bilang Mas ini. Kakak jangan ganggu lagi Bilqis, Alen gak segan-segan jauhi kak dan gak akan pulang ke rumah lagi," jawab Ning Alena.

"Ayo kak kita pulang saja, saya udah muak lihat ini," Ucap Bilqis.

Arkhan (mengangguk) "Ayo pulang."

"Ayo kak, kakak terimakasih selalu ada buat Iqis," ucap Bilqis.

"Tentu, Bilqis," jawab Arkhan. (tersenyum)

Gus Al kaget mendengar suara adiknya di ponselnya. Tiba-tiba ia tidak tenang kalau bersangkutan dengan Ning Alena, ia sangat menyayangi Bilqis mantan istrinya.

"Kakak apa maksud kakak," jawab Ning Alena.

"Maafin kakak Dek," ucap Gus Al.

"Kenapa? Atau gara-gara dia kakak berubah tega menceraikan Bilqis dan meninggalkan buah hati kalian, hah Alen kecewa sama Kaka," jawab Ning Alena.

Arkhan (memutar mata mendengar Hakim yang bernama Abian, yang sebenarnya adalah temannya itu memanggilnya Jendral).

Abian (hanya tersenyum).

Arkhan (menatap tajam lalu menghela napas tak berdaya dengan tingkah temannya).

"Kenapa Hmm, mukanya kaya kenebo kering saja," ucap Abian.

"Kakak," rengek Bilqis.

"Ada apa?" Tanya Arkhan.

"Dia kembali," jawab Bilqis menangis.

"Siapa?" Tanya Arkhan.

"Dibelakang kakak," jawab Bilqis.

Arkhan (melihat ke belakang) "Dia siapa, Bilqis?"

"Itu kak, awas," jawab Bilqis (menarik lengan Arkhan untuk menghindar).

Arkhan (mengikuti tarikan Bilqis).

Bilqis sangat panik ketika ada sekolompok berjas hitam menyerang mereka bertiga secara tiba-tiba. Mereka musuh bebuyutan keluarga Arkhan.

Arkhan (menarik Bilqis ke belakangnya sambil mengeluarkan pistol) "Bilqis, kamu di belakang saya. Alyssa juga di belakang saya," ucap Arkhan (menatap tajam ke arah musuh).

"Baik kak," jawab Bilqis (memeluk Alyssa erat).

Arkhan (menembakan pistol ke arah musuh).

"Kakak, hati-hati!" teriak Bilqis.

Arkhan (tersenyum dan terus melawan musuh-musuh yang menyerang).

Arkhan (memegang tangan Bilqis lalu menariknya menjauh dari tempat itu).

"Bilqis, kamu tidak apa-apa?" Tanya Arkhan.

"Kakak!" Jawab Bilqis dengan mata berkaca-kaca.

"Ayo, Bilqis! Mereka ingin melukai kamu!" Ucap Arkhan. (Menarik Bilqis berlari).

Bilqis (berlari sambil memegang Alyssa) "Kakak!"

Mereka berdua berlari secepat kilat dan melompat ke dalam mobil.

"Astaghfirullah, kakak." Ucap Bilqis (menangis).

"Bilqis, kamu nggak papa? Si kecil nggak papa?" Tanya Arkhan.

"Iqis baik-baik saja kak, cuma Alyssa yang kaget." Jawab Bilqis.

"Tenang saja. Mereka tidak akan bisa menyakiti kamu dan Alyssa. Saya akan melindungi kalian. Percaya pada saya, Bilqis?" Ucap Arkhan.

"Iya, kak. Iqis percaya sama kakak." Jawab Bilqis.

Arkhan (menghela napas) "Saya harus membawa mereka berdua ke tempat yang aman. Lain kali, saya harus lebih berhati-hati."

Bilqis (menangguk mengerti) "Iya, kak."

"Bilqis, kamu harus ingat. Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu. Saya akan selalu ada untuk kamu dan Alyssa. Percaya pada saya." Ucap Arkhan.

"Iya, kak. Iqis percaya. Kakak jangan tinggalin Iqis. Iqis takut sendirian." Jawab Bilqis.

Arkhan (tersenyum) "Saya akan selalu bersama kalian. Janji?"

"Iya, kak. Janji." Jawab Bilqis.

Arkhan (mencium kening Bilqis lembut) "Saya sayang kamu, Bilqis."

Bilqis (menundukan kepala) "Iqis juga sayang kakak."

Mereka berdua berpelukan dan melepaskan rasa takut dan sedih mereka.

"Sekarang, ayo kita pulang. Saya akan menelepon Ainun. Dia pasti khawatir dengan kita," ucap Arkhan.

Bilqis (mengangguk).

Mereka berdua saling menatap dalam diam dan penuh kasih sayang.

"Kakak," panggil Bilqis.

"Hm?" Jawab Arkhan.

"Terima kasih selalu ada buat Iqis." Ucap Bilqis.

"Sama-sama, Bilqis," jawab Arkhan. (tersenyum).

Bilqis (tersenyum kembali) "Kakak, jangan marah sama Iqis. Iqis takut."

"Tidak, Bilqis. Saya tidak akan pernah marah sama kamu. Kamu tahu saya tidak tega melihat kamu sedih. Sekarang, ayo kita pulang. Saya kangen sama Alyssa," jawab Arkhan.

"Iya, kak." Jawab Bilqis.

Mereka berdua pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Dihamili Anak KyaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang