Di kediaman Gus Al, suasana terasa mencekam. Gus Al terlihat murung, menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Keputusan yang harus dia ambil terasa berat. Di satu sisi, ia terikat dengan tradisi keluarga yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Di sisi lain, ia merasa bertanggung jawab untuk mendukung kebahagiaan adiknya, Ning Alena.
"Abi, Ummi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Aku tidak setuju dengan rencana perjodohan antara Ning Alena dan teman kedua orang tuanya. Saya percaya bahwa pernikahan harus didasarkan pada cinta dan kesepakatan antara dua orang yang terlibat," ucap Gus Al secara tiba-tiba.
"Kenapa kamu tidak setuju, Gus Al? Perjodohan adalah bagian dari tradisi keluarga kita, dan kami berpikir bahwa pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah pihak," jawab sang Abi.
"Abi, saya memahami tradisi keluarga kita, tetapi saya juga percaya bahwa setiap individu memiliki hak untuk memilih pasangan hidup mereka sendiri. Ning Alena harus memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dan menemukan cinta sejati. Memaksakan perjodohan hanya akan menyebabkan ketidakbahagiaan dan ketidakharmonisan dalam pernikahan mereka," ucap Gus Al kekeh dengan pendiriannya.
"Tapi, Gus Al, perjodohan juga bisa membawa stabilitas dan keuntungan bagi keluarga kita. Kami berpikir bahwa teman kedua orang tuanya adalah pilihan yang baik untuk Ning Alena," jawab Ummi Maryam pada sang putra.
"Ummi, saya mengerti bahwa Ummi memikirkan kepentingan keluarga, tetapi kebahagiaan dan kebebasan Ning Alena juga harus dipertimbangkan. Saya tidak ingin dia merasa terikat dalam pernikahan yang tidak dia inginkan. Saya percaya bahwa dia harus memiliki kesempatan untuk mengejar impian dan mencari cinta yang sejati," ucap tegas Gus Al.
"Baiklah, Gus Al. Kami mendengarkan pendapatmu dan menghargai keinginanmu. Kami akan mempertimbangkan ulang rencana perjodohan ini dan berbicara dengan Ning Alena untuk mendengarkan pendapatnya. Kesejahteraan dan kebahagiaannya adalah yang terpenting bagi kami," jawab sang Abi pada akhirnya.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Saya berharap kita dapat mencapai kesepakatan yang menghormati keinginan dan kebahagiaan Ning Alena. Mari kita dengarkan dan hargai pendapatnya sebelum membuat keputusan akhir," ucap Gus Al.
Gus Al merasa lega karena kedua orang tuanya mau mendengarkan pendapatnya. Ia berharap bahwa mereka akan bersedia untuk merelakan tradisi keluarga demi kebahagiaan Ning Alena.
Gus Al memutuskan untuk menghubungi Ning Alena. Ia ingin berbicara dengannya dan mendengar pendapatnya tentang rencana perjodohan itu.
"Halo, Ning Alena. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tidak setuju dengan rencana perjodohan antara kamu dan teman kedua orang tuaku," ucap Gus Al.
"Oh, Gus Al. Apa yang membuatmu tidak setuju? Aku pikir itu adalah keputusan yang baik untuk kebaikan keluarga kita," jawab Ning Alena.
"Aku mengerti bahwa itu adalah keputusan yang berdasarkan tradisi keluarga kita, tapi aku percaya bahwa pernikahan harus didasarkan pada cinta dan kesepakatan antara dua orang yang terlibat. Aku tidak ingin kau merasa terikat dalam pernikahan yang tidak kau inginkan," ucap Gus Al.
"Tapi, Gus Al, aku pikir perjodohan ini bisa membawa stabilitas dan keuntungan bagi kita. Teman kedua orang tuaku adalah orang yang baik dan cocok untukku," jawab Ning Alena.
"Aku menghargai pendapatmu, Ning Alena, tapi aku juga ingin kau memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupmu sendiri dan menemukan cinta sejatimu. Aku tidak ingin kau merasa terpaksa dalam pernikahan yang tidak kau inginkan," ucap Gus Al.
"Aku mengerti apa yang kau maksud, Gus Al. Aku juga ingin menemukan cinta sejatiku sendiri. Aku akan berbicara dengan orang tuaku dan mencoba menjelaskan perasaanku," jawab Ning Alena.
"Terima kasih, Ning Alena. Aku berharap mereka akan mendengarkan dan menghormati keinginanmu. Kita harus memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri," ucap Gus Al.
Gus Al merasa lega karena Ning Alena mau mendengarkannya. Ia berharap bahwa Ning Alena akan berani menolak rencana perjodohan tersebut dan memilih untuk menemukan cinta sejatinya sendiri.
Gus Al kemudian menanyakan keberadaan Ning Alena. Namun, Ning Alena menolak untuk memberitahunya.
"Halo, Ning Alena. Aku ingin tahu dimana keberadaanmu sekarang. Bisakah kau memberitahuku?" tanya Gus Al.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
De TodoBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
