Ibu boleh peluk

671 19 0
                                        

Setelah sampai di rumah, Bilqis menuntun Arkhan duduk di ruangan makan. Biqls dengan telaten menyajikan makanan di piring untuk Arkhan yang masih panas itu.

Arkhan (duduk dengan patuh)

Bilqis mengambilkan nasi dan makanan kesukaan Arkhan.

"Sepertinya kamu memang cocok menjadi nyonya pertama keluarga Assegaf," ucap Arkhan (tersenyum lalu makan dengan lahap).

"Kakak, sini Iqis suapi, tangan kakak pasti sakit," jawab Bilqis.

Arkhan (menggeleng) "Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri, Bilqis. Bilqis, saya senang jika kamu ingin menyuapi saya. Tapi, tunggu sampai saya jadi mahram kamu. Saya ingin menghormati kamu sebagai wanita yang belum jadi milik saya." Ucap Arkhan. (Tersenyum lembut)

Bilqis menatap sendu, sedih dan kecewa ketika Arkhan menolak untuk disuapin.

Arkhan (menghela napas) "Baik. Kamu boleh suap saya (tersenyum tak berdaya)."



"Kakak," panggil Bilqis pada Arkhan.

"Iya?" Tanya Arkhan masih menatap mata cantik Bilqis.

"Ini siapa?" Tanya balik Bilqis.

"Ah? Yang mana?" Ucap Arkhan.

"Ini kak," jawab Bilqis.

"Kamu nemu ini dimana?" Tanya Arkhan menatap bingkai foto di tangan Bilqis.

"Di sana," jawab Bilqis (menunjuk bilqis murung).

"Kenapa? Cemburu?" Tanya Arkhan. (Mengangkat alis).

Bilqis memilih pergi, entah kenapa hatinya sakit, baru pertama kali merasakan hal ini.

Arkhan (memeluk Bilqis) "Maaf jika lancang. Tapi saya tidak tega melihat kamu murung. Jangan memasang wajah sedih, Bilqis. Hati saya sakit," ucap Arkhan. (memeluk erat).

Bilqis masih tetap sama, diam tanpa berbicara. Ia enggan menjawab ucapan Arkhan, ia merasa bingung dengan perasaan yang tumbuh dihatinya.

"Bilqis? Haruskah saya buktikan? Bagaimana jika besok kita ke rumah utama untuk bertemu Ibu saya?" Tanya Arkhan.

"Kakak jangan tinggalin Iqis, cukup dia dan ortuku meninggalkan Iqis," jawab Bilqis menangis.

"Saya tidak akan, Bilqis. Kecuali kematian, tidak ada yang bisa memaksa saya meninggalkan kamu. Saya bersumpah," Ucap Arkhan.

"Iqis udah nyaman sama kakak, jangan tinggalin Iqis kak," jawab Bilqis.

"Iya sayang. Janji saya tidak akan ninggalin kamu. Jangan sedih lagi yah?" Ucap Arkhan.

"Iya terimakasih kak, kakak mau jadi calon imam Iqis," jawab Bilqis.

"Sama-sama, Bilqis (Melepas pelukan). Maaf tadi saya lancang memeluk kamu. Tapi saya tidak ingin kamu pergi meninggalkan saya. Kamu takut ditinggalkan oleh saya, yang mustahil saya lakukan. Tapi Bilqis, saya lebih takut kamu ninggalin saya saat suatu hari kamu menyadari saya tidak pantas untuk kamu," ucap Arkhan (tersenyum sedih).

"Kakak, Iqis udah nyaman bersama kakak jadi Iqis akun selalu ada di sisi mu kak. Izinkan Iqis jadi istri kakak suatu saat," Jawab Bilqis.

"Kamu akan. Saya juga nyaman sama kamu. Jangan pernah pergi, Bilqis. Saya takut kehilangan kamu." Ucap Arkhan.

"Terimakasih kakak, aku sangat bersyukur temu kakak," jawab Bilqis.

"Saya juga bersyukur bertemu dengan kamu," ucap Arkhan. (tersenyum lalu menepuk kerudung Bilqis).

"Kakak jangan tepuk kerudung Iqis terus," rengek Bilqis.

"Maaf, Bilqis. Itu kebiasaan saya jika gemas," ucap Arkhan. (tersenyum).

"Tapi kerudungku berantakan kak, ulah kakak," jawab Bilqis (cemberut di balik cadar).

Arkhan (terkekeh) "Iya. Tapi saya nggak janji nggak akan ulangi. Itu kebiasaan yang sulit dirubah, Bilqis," ucap Arkhan. (tersenyum lembut)

"Ih, kakak jangan diulang terus tau," jawab Bilqis rengeknya.

Arkhan hanya tertawa lepas melihat rengekan Bilqis kaya anak kecil minta lollipop pada ayahnya.

Arkhan (terkekeh)

"Kakak," panggil Bilqis.

"Hmm? Kenapa, Bilqis?" Tanya Arkhan.

Bilqis sangat bahagia dapat kabar dari pengacara almarhum ayahnya.

"Mendapatkan kabar bahagia kak."

"Apa itu?" Tanya Arkhan.

"Ini coba kakak baca," ucap Bilqis.

"Ini?" Tanya Arkhan. (membaca)

"Iya kak, itu dari pengacara kak Yusuf, jadwal pengadilan besok," ucap Bilqis.

"Butuh bantuan?" Tanya Arkhan.

"Iqis butuh bantuan kakak di samping Iqis hehe," jawab Bilqis godain Arkhan.

"Kalau itu pasti, Bilqis. Saya akan jadi pilar terkuat kamu," ucap Arkhan (tersenyum lembut).

Bilqis terus-terusan menggoda Arkhan, "Kakak cocok sama dia," sambung Bilqis. (berlalu pergi meninggalkan ruang makan)

Arkhan (mengejar Bilqis lalu menghadang Bilqis). "Bilqis, kamu lucu saat cemburu (tersenyum). Tapi, dia Ibu saya. Itu foto Ibu saya. Jangan melihat tampangnya, kelihatan muda. Dia sudah sangat tua. Anaknya saja sudah tujuh," ucap Arkhan. (terkekeh).

Bilqis masih diam tanpa menjawab, ucapan Arkhan. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa hatinya sakit melihat foto itu, foto itu Arkhan bersama ibunya.

"Bilqis....? Tolong jangan diami saya. Saya tidak suka." Ucap Arkhan.

Bilqis hanya menantap wajah tampan Arkhan.

"Bilqis. Tolong jangan diami saya. Saya tidak nyaman," ucap Arkhan (memeluk erat Bilqis).

"Maafkan Iqis kak, buat Kaka tidak nyaman, Iqis sangat cemburu melihat postingan ini," jawab Bilqis.

"Tidak apa-apa Bilqis. Saya mengerti. Kamu harus percaya sama saya. Jika ada yang mengganjal di hati kamu, kamu hanya perlu bertanya. Saya tidak akan membiarkan kamu ragu, oke?" Ucap Arkhan.

Bilqis masih sama, diam. Ia ingin tahu berapa besar Arkhan mencintainya.

"Kakak cocok sama dia," jawab Bilqis.

"Tapi dia Ibu saya," ucap Arkhan. (terkekeh)

"Ini siapa kak?? Iqis sakit lihat Kakak dekat dengan dia," jawab Bilqis.

"Ibu saya Bilqis. Dia Ibu kandung saya. Ibu yang melahirkan saya. Kamu tidak percaya? Kita ke rumah utama, mau? Sekalian kamu bertemu calon mertua kamu," ucap Arkhan meyakinkan Bilqis.



Di kamar tamu terlihat jelas Ustadzah Annisa sangat ketakutan melihat Naufal menahan amarahnya di hadapan wanita di depannya.

"Saya tidak marah sama kamu. Saya marah sama pria itu. (Menatap kissmark itu tajam lalu mengambil salep di kotak P3K) Kayaknya salep ini bisa digunakan (menggaruk kepalanya). Ini...saya bantu oleskan? Atau kamu oleskan sendiri?" Tanya Naufal (Memerah malu).

Ustadzah Annisa malah memandangin salep itu.

"Ada apa?" Tanya Naufal. (Menggaruk pipinya bingung)

"Saya gak bisa lihat bagaimana ngolesinnya Mas," jawab Ustadzah Annisa.

"Eh? (Mengerjap bingung) Itu....tapi....apa tidak papa saya yang olesi? Saya laki-laki lho?" Tanya Naufal. (Menunujuk diri sendiri)

Ustadzah Annisa masih diam, ia bingung harus menjawab apa, benar kata Naufal.

"Emm. Ustadzah Annisa?" Panggil Naufal.

"Mas saja," jawab Ustadzah Annisa.

Sebenarnya Naufal bingung antara mengoleskan salep itu, tapi ia paham dengan kondisi Ustadzah Annisa.

"Emm...oke. Maaf jika tidak nyaman." Ucap Naufal. (Mengoleskan salep dengan lembut)

"Iya Mas, mau tolongin Annisa gak?" Tanya Ustadzah Annisa memandang wajah tampan Naufal.

Naufal (fokus mengoleskan obat) "Tolong apa? Saya akan berusaha menolong kamu," ucap Naufal.

"Mas mau jadi suami Annisa, Annisa gak mau dijodohkan sama pilihan ibu," Jawab Ustadzah Annisa.

Naufal (mengerjapkan mata pelan) "Kamu yakin? Sebenarnya, saya mau melamar kamu. Tapi, saya takut kamu terkejut. Apalagi musibah baru saja menimpa kamu. Dan lagipula ini pertemuan pertama kita (meringis). Agak aneh jika baru pertama kali bertemu dan saya langsung melamar," ucap Naufal. (menggaruk kepalanya)

"Saya sangat yakin Mas," jawab Ustadzah Annisa.

"Kalau itu mau kamu, maka saya tidak akan segan. Tapi, kamu harus janji sama saya untuk sembuh. Bagaimana?" Tanya Naufal.

"Emang Mas mau nikah sama Annisa? Asal Mas bantu Annisa untuk sembuh," jawab Ustadzah Annisa.

Naufal sebenarnya sudah tertarik dengan Ustadzah Annisa, ia sudah berjanji untuk melindungi Ustadzah Annisa dan menikahinya.

"Saya sih iya saja. Jika kamu tidak keberatan menikah dengan saya. Apalagi kita baru kenal, bukan?" Tanya Naufal.

Ustadzah Annisa (murung setelah mendengar jawaban Naufal) "Hmm, emang kita baru ketemu Mas. Tapi ya sudah lah, aku ingin pulang besok acara perjodohan aku, setelah itu aku mau menemani Bilqis lomba."

Naufal (mengangkat alis) "Hey, saya hanya bertanya. Jika kamu tidak keberatan, saya akan langsung ke rumah kamu melamar. Bukannya saya nolak permintaan kamu," ucap Naufal (menggaruk kepala).

Annisa merasa tidak percaya dengan ucapan Naufal, ia merasa ragu dengan perkataannya. Tapi ia juga merasa takut harus menerima perjodohan dari kedua orang tuanya.

"Udah, aku mau pulang saja," jawab Ustadzah Annisa.

"Hey hey (menghalangi) Tidak bisa gitu dong! Kamu harus tanggung jawab! Kamu meminta saya menikahi kamu. Jadi jangan lari," ucap Naufal. (cemberut)



Bel rumah berbunyi dan seorang wanita cantik masuk ke dalam rumah Arkhan.

"Arkhan Sayang~ Kamu dimana? Naufal bilang kamu punya kabar baik buat Ibu---Eh?" Tanya Diana (Terkejut saat melihat Arkhan memeluk seorang wanita).

Arkhan (melepas pelukan dengan Bilqis) "Bu? Mengapa kemari?" Tanya balik Arkhan pada sang ibu.

"Oh? Jadi sekarang masuk ke rumah anak Ibu sendiri nggak boleh yah?" Ucap Diana menggoda sang putra.

"Bukan gitu maksud Arkhan, Bu," jawab Arkhan. (memijat kening)

Diana (berjalan perlahan mendekati Arkhan dan Bilqis).

"Bu..." Ucap Arkhan (melindungi Bilqis dibelakangnya).

Diana (mendorong Arkhan menjauh sampai hampir jatuh, lalu memeluk Bilqis) "Astaga. Hey gadis kecil yang manis. Jadi ini kabar baiknya? Ah, calon menantu Ibu, nama kamu siapa? Kenalin nama Ibu Diana. Kamu bisa manggil saya Ibu saja yah? Akhirnya anak pertama Ibu yang Ibu kira akan menikahi dokumen di kantornya bisa membawa pulang wanita. Ibu kira anak Ibu nggak akan tertarik dengan siapa-siapa sebelumnya. Ibu sudah mempersiapkan diri, dia membawa pulang dokumen sebagai istri. Untungnya dia membawa pulang perempuan cantik," ucap Diana (menghela napas lega sambil mengelus dada).

Arkhan (menepuk jidad karena tahu ini akan terjadi jika Ibunya tahu dia sudah punya objek cinta).

Bilqis sangat syok, dipeluk tiba-tiba oleh ibu Kak Arkhan.

"Assalamualaikum, Bu. Senang bisa bertemu dengan Ibu malam ini. Nama saya Bilqis," Ucap Bilqis.

"Waalaikumsalam cantik (Melepas pelukan). Senang bertemu denganmu, Nak Bilqis. Ngomong-ngomong, Arkhan (menatap Arkhan) Kapan kalian menikah? Ibu tidak sabar ingin mempersiapkan pernikahan kalian," jawab Diana (menatap Arkhan tersenyum)

"Hehe doain aja semoga dan semoga cepat he," ucap Bilqis.

"Ya pasti Ibu doain. Lagipula anak Ibu sudah tua sekali tapi belum ngasih Ibu menantu. Ibu bahkan pernah berpikir dia tidak akan menikah. Jujur, diantara anak Ibu, Arkhan yang paling mengkhawatirkan. Dia belum pernah dekat dengan perempuan sejak dulu," jawab Diana (menggeleng tak berdaya).

Bilqis sangat beruntung bisa kenal keluarga besar Arkhan, begitu baik padanya dan putrinya. Bilqis sempat ada rasa takut kalau keluarga Kak Arkhan tidak bisa menerima dirinya sepenuhnya.

"Terimakasih Bu, doanya Iqis senang bisa kenal Ibu Kak Arkhan. Tapi kenapa kakak gak pernah kenal sama perempuan." Ucap Bilqis.

Diana (mengangkat bahu) "Entahlah. Tapi mungkin karena kesibukan. Dan karena sebagai anak tertua, dia harus menggantikan peran Ayahnya untuk menjaga adik-adiknya," jawab Diana. (tersenyum sedih).

Sedangkan Arkhan baru saja menjelaskan apa yang terjadi di antara Bilqis dan mantan suaminya itu.

"Bu (memijat pelipisnya) Bilqis masih baru saja berpisah dengan suaminya. Arkhan sedang menunggu Bilqis lepas sepenuhnya supaya Arkhan bisa memiliki Bilqis seutuhnya. Jangan mendesaknya, Bu. Lagipula, daripada mempercepat pernikahan Arkhan, bukankah lebih baik mencari calon untuk Naufal, Keenan dan Haikal? Setidaknya Arkhan sudah punya calon menantu untuk Ibu." ucap Arkhan menatap sang ibu.

"Emang betul Bu, kakak ingin Iqis lepas terlebih dahulu sama mantan suami Iqis. Jadi kalau udah selesai urusan Iqis insyaallah kita akan menikah." Jawab Bilqis.

"Kakak, gak rebut Iqis dari mantan suami Iqis Ibu. Kebetulan pas ketemu Kak Arkhan dari Kak Ainun membantu Iqis dari cekraman kakak ipar Iqis. Yang mencintai Iqis." Sambung Bilqis.

"Syukurlah jika begitu (mengelus dada). Saya tidak mau anak saya melakukan sesuatu yang membuat orang lain terluka. Cukup Ayahnya yang melukai saya. Saya selalu mengajarkan anak-anak saya untuk menghormati wanita agar kejadian yang terjadi pada saya tidak terulang pada wanita lain. Apalagi jika penyebabnya adalah putra saya sendiri," jawab Diana (tersenyum sedih).

"Bu...Berhenti mengingat pria itu," jawab Arkhan. (Mengerutkan kening)

"Maaf, Ibu Iqis buat Ibu teringat antara Ibu dan Ayah. Tapi Iqis merasa tidak pantas berada di antara kalian, tapi, putriku tidak bisa jauh dari putra pertama Ibu," ucap Bilqis menundukan kepalanya.

"Tidak apa-apa. Jangan merasa seperti itu, Nak Bilqis. Ibu bersyukur kamu ada disini. Arkhan menjadi lebih ekspresif karena keberadaan kamu....Eh! Kamu punya anak? (Membulatkan mata) Astaga (menutup mulut). Itu artinya Ibu punya cucu dong," ucap Diana (tersenyum lebar).

"Bu tidak keberatan," jawab Bilqis.

Arkhan (terkekeh saat melihat Ibunya berlari pergi) "Ibu tidak akan keberatan. Beliau bisa menerima keberadaan anak-anak angkat Ainun. Tentu saja Ibu tidak akan keberatan dengan keberadaan Alyssa," ucap Arkhan. (tersenyum lembut)

"Bu, Alyssa anak Bilqis dan mantan suaminya," jawab Arkhan (memutar mata).

Arkhan berusaha memberitahu sang ibu kalau Bilqis mempunya seorang putri cantik dari mantan suaminya.

"Terus? (Mengangkat alis). Bilqis calon istri kamu kan? Artinya anak dia, anak kamu juga! Mana peduli Ibu darah yang mengalir darah kamu atau bukan. Intinya Ibu punya cucu lagi! Dimana dia sekarang?" Tanya Diana.

"Rumah Ainun, Bu," ucap Arkhan.

Diana (langsung pergi dengan cepat) "Ibu kerumah adik kamu ketemu cucu-cucu Ibu dulu. Dadahhh," jawab Diana. (bergegas pergi dengan lari kecil)

"Bu! Jangan lari-lari nanti jatuh! (Teriak) Astaga (memijat kening) Apa Ibu tidak ingat umur?" Tanya Arkhan. (Bergumam pelan)

"Iya iya. Ngomong-ngomong Ibu ke rumah Ainun dulu, yah? Kangen sama cucu-cucu Ibu. Ibu permisi yah Bilqis?" Ucap Diana. (Mentap Bilqis lembut)

"Ibu kenapa buru-buru pergi, di rumah Kak Ainun ada Baby Alyssa," jawab Bilqis.

Arkhan (terkekeh) "Ibu paling ingin bertemu cucu-cucunya. Alyssa juga cucunya, Bilqis. Walau bukan dengan darah, Ibu tidak peduli. Yang dia pedulikan, dia punya cucu untuk dimanjakan," ucap Arkhan (menggeleng tak berdaya).

"Baik kak kalau begitu," jawab Bilqis.

"Ah? Jadi Bilqis baru saja berpisah dari suaminya (menatap Arkhan tajam). Kamu merebut istri orang, Arkhan? Bilqis, apa Arkhan memaksamu, sayang? Jika iya, Ibu akan bantu kamu memukulnya (menatap Bilqis lembut)

Arkhan: (mengangkat alis) "Apa Arkhan akan melakukan hal serendah itu, Bu?" Tanya Ibu Diana.

Diana (mengangkat bahu) "Siapa tahu kan. Oh, dan soal Naufal, dia udah punya calon juga. Tadi entah kenapa dia menjadi gila pas ke rumah utama dan meminta Ibu mempersiapkan mahar pernikahan. Ibu hampir dibuat jantungan oleh anak satu itu," sambung Diana (memutar mata bosan).

"Hmmm, begitu yah Bu," jawab Bilqis.

"Nak Bilqis, saya titip putra tertua saya ke kamu yah? Tolong jangan sakiti dia. Dia kelihatan kuat. Aslinya hatinya rapuh. Dia mudah terluka. Kehilangan Aidan dan Delysa pernah menghancurkan hidupnya. Saya tidak ingin melihat putra saya terpuruk lagi," ucap Diana (tersenyum sedih).

"Iqis gak bisa nyakiti Kakak Arkhan Bu, Iqis mulai sayang kakak," jawab Bilqis.

"Kalau begitu, Ibu lega," ucap Diana. (tersenyum)

"Hehe iya Ibu. Terimakasih udah mau melahirkan kaka," jawab Bilqis.

"Tidak perlu berterima kasih, Bilqis. Itu tugas saya sebagai Ibunya," ucap Diana. (terkekeh)

Semenjak bersama, entah kapan datangnya perasaan yang tumbuh dari mereka berdua, Bilqis lebih suka jujur tentang perasaannya pada Ibu Diana ataupun dari Arkhan.

"Ibu, Iqis sempat cemburu ketika kakak duduk sama Ibu di foto itu," ucap Bilqis.

"Hahaha. Kamu lucu sekali, nak," jawab Diana. (tertawa).

"Hehe entah kenapa Bu, Iqis sangat cemburu sekali pada Ibu di foto itu. Tapi ini siapa Bu, perempuan ini?" Ucap Bilqis.

"Oh, itu? (Menatap foto yang dipajang) Itu putri tertua Ibu. Delysa. Saudari kembar Arkhan (tersenyum sedih). Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu (menghela napas berat). Bilqis, kamu tidak perlu cemburu. Arkhan tidak akan menyimpan foto wanita di rumahnya, kecuali foto keluarganya," jawab Diana (menepuk pelan bahu Bilqis).

"Maaf Ibu, Iqis gak tau kenapa Bu, Iqis sangat cemburuan," ucap Bilqis.

"Itu karena cinta. Terkadang cinta memang membuat cemburu. Tapi, Bilqis, kurangi kecemburuan kamu nak. Karena itu akan menyakiti dirimu sendiri dan Arkhan. Kecemburuan yang tak beralasan akan menyebabkan kesalahpahaman yang dapat merusak hubungan (tersenyum miris). Itu yang terjadi antara Ibu dan mantan suami Ibu yaitu Ayahnya Arkhan dan yang lain," ucap Diana. (menghela napas lembut).

"Iya Bu, Iqis akan ingat nasehat Ibu. Bu Iqis paham perasaan Ibu saat ini," jawab Bilqis pada Ibu Diana.

Diana (tersenyum lembut) pada Bilqis.

"Ibu boleh Iqis peluk sebelum ke rumah Kak Ainun," ucap Bilqis.

"Tentu saja, Nak," jawab Diana (memeluk Bilqis).

Bilqis (memeluk Ibu Diana).

Diana (mengelus kepala Bilqis lembut).

Bilqis (tersenyum lalu melepaskan pelukan).

"Yaudah, Ibu pamit yah. Assalamualaikum Nak, Bilqis, Arkhan." Jawab Diana. (Berlalu pergi).

Entah mengapa Bilqis sangat sekali cemburu melihat foto ibu dan anak, dan foto satu lagi. Ia merasa hatinya sakit sekali. Perasaan apa ini yang ada di hatinya.

"Aku jatuh cinta kepadanya di saat aku tidak ingin jatuh cinta kesiapapun. Dia hadir disaat aku sedang mati rasa. Dia mengambil kembali perasaan hatiku yang telah hilang. Jatuh cinta kepadanya, sungguh diluar kendaliku, dan aku tau bahwa perasaan ini ada karenanya. Aku sungguh mencintainya. (Menatap tulus Kak Arkhan)."

Arkhan (tersenyum lembut menatap Bilqis).

Diana (menatap Arkhan dan Bilqis bergantian) "Kalau begitu, Ibu lega. Setidaknya satu kekhawatiran Ibu sudah teratasi. Arkhan, kamu jaga Bilqis. Jangan sampai kamu nyakitin dia. Ibu nggak pernah ngajarin kamu nyakitin perempuan. Ingat. Perempuan di keluarga Assegaf kita selalu harus diperlakukan dengan baik. Mengerti?" ucap Ibu Diana.

"Bu, Arkhan paham," jawab Arkhan. (mengangguk serius)

"Kenapa kakak malah tersenyum," ucap Bilqis.

Arkhan (berbisik di telinga Bilqis) "Kakak senang kamu bilang suka kakak," jawab Arkhan. (terkekeh)

"Kakak, ini pertama kali Iqis bilang suka sama kakak," ucap Bilqis. (berbisik ke telinga Arkhan pelan)

"Ya, dan itu membuat kakak bahagia, Bilqis," jawab Arkhan. (berbisik pelan).

"Hmm, Iqis senang kalau kakak bahagia. Jangan nakal nanti kalau kakak udah aktif kerja," ucap Bilqis. (bisik Bilqis tersenyum di balik cadarnya)

"Iya, Bilqis," jawab Arkhan. (tersenyum)

"Iya kakak tampan," ucap Bilqis.

Arkhan (terkekeh).

"Tapi takut kakak mukanya gitu," ucap Bilqis.

"Muka saya kenapa? Memang semenakutkan itu?" Tanya Arkhan (memegang pipi kanannya).

"Kalau mukanya datar," ucap Bilqis.

Arkhan (terkekeh) "Tapi kan kakak nggak pernah muka datar ke kamu, Bilqis (tersenyum)."

"Itu kak, lihat di cermin," ucap Bilqis.

Arkhan (menatap cermin) "Saya rasa saya tidak semenakutkan itu," ucap Arkhan. (menghela napas pura-pura sedih).

"Hmm, kakak maaf, Iqis gak bermaksud menjadi kakak sedih," jawab Bilqis.

Arkhan (melirik Bilqis lama lalu tertawa kecil) "Bilqis, kamu sangat lucu. Saya tidak sedih. Saya rasa kamu benar. Mungkin karena sebelumnya saya jarang tertawa, jadi bahkan jika tidak sedang marah, wajah saya tetap menakutkan," ucap Arkhan. (terkekeh)

"Kakak harus banyak tersenyum, tapi tidak buat wanita lain," Jawab Bilqis.

"Iya, Bilqis. Sebelum mengenal kamu, saya hanya tersenyum kepada keluarga saya. Sekarang, saya akan berbagi senyum saya untuk kamu. Saya tidak akan tersenyum kepada perempuan lain selain kamu dan anggota keluarga saya," ucap Arkhan. (terkekeh).

"Jangan kak, Iqis gak ridho Kaka tersenyum pada wanita lain. Meskipun kita belum ada ikatan," jawab Bilqis.

"Iya Bilqis. Saya tidak akan tersenyum kepada wanita lain. Saya hanya akan tersenyum kepada kamu dan keluarga saya," ucap Arkhan (mengelus kepala Bilqis pelan).

"Kakak, marah sama Iqis," jawab Bilqis.

"Tidak, Bilqis. Saya tidak akan marah sama kamu karena hal sepele seperti ini," ucap Arkhan. (mengelus pucuk kepala Bilqis).

"Hmmm, kakak," panggil Bilqis.

"Hmm, iya kakak kesayanga ibu," jawab Arkhan.

Arkhan (terkekeh).

"Hm? Kenapa, Bilqis?" Tanya Arkhan.

Bilqis sangat bahagia dapat kabar dari pengacara almarhum ayahnya.

"Mendapatkan kabar bahagia kak."

"Apa itu?" Tanya Arkhan.

"Ini coba kakak baca," ucap Bilqis.

"Ini?" Tanya Arkhan. (membaca)

"Iya kak, itu dari pengacara Kak Yusuf, jadwal pengadilan besok," ucap Bilqis.

"Butuh bantuan?" Tanya Arkhan.

"Iqis butuh bantuan kakak di samping Iqis hehe," jawab Bilqis godain Arkhan.

"Kalau itu pasti, Bilqis. Saya akan jadi pilar terkuat kamu," ucap Arkhan (tersenyum lembut).


Dihamili Anak KyaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang