Mau keluar sebentar

626 21 0
                                        

“Iqis, abaikan kakak-kakak aku. Kamu ambil keputusan apapun yang kamu inginkan oke?” Tanya Ainun pada Bilqis.

“Iya kak,” jawab Bilqis.

Bilqis hanya tersenyum di balik cadarnya saat mendengar perdebatan mereka bertiga.

“(menghela napas) Baiklah jika kamu bersikeras (Lesu karena akan berpisah dengan Alyssa),” ucap Arkhan pada akhirnya.

“Maafkan Iqis yah kak,” Jawab Bilqis merasa serba salah.

“Tidak apa-apa.  Tapi, apa saya boleh bertemu dan berkunjung dengan Alyssa?” Tanya Arkhan pada Bilqis.

Setelah melihat ekspresi Arkhan, Bilqis tidak tega.  Bilqis lalu memutuskan untuk tinggal bersama mereka dan berkata.

“Kakak boleh bertemu dengan putriku.  Dia sangat menyayangimu. Aku gak akan memisahkan kalian lagi. Aku yang akan mengalah demi kebahagiaan putriku.”  Ucap Bilqis pada akhirnya.

“Ah?  Maksud kamu, Qis?”  Tanya Ainun.

“Aku akan tetap di sini sesuai keinginan Kak Arkhan, putriku juga menolak untuk pisah sama Kak Arkhan, aku jadi serba salah kak.  Aku harus bagaimana di sini, aku akan semakin terluka,” ucap Bilqis.

“Kamu tinggal sebulan saja. Hanya untuk menenangkan diri. Saat ini kamu dalam keadaan emosi.  Keputusan yang akan kamu ambil pasti akan berdasarkan emosi kamu. Saya tidak melarang kamu pergi ke luar negeri. Saya hanya meminta kamu menenangkan diri sementara waktu.  Mantapkan keputusan kamu dan jangan tergesa-gesa mengambil keputusan,” Jawab Arkhan.

“Iya, baiklah aku akan tetap tinggal di sini kak.  Tapi boleh minta tolong satu kali ini.” Ucap Bilqis.

“Ada apa? Saya akan berusaha membantu,”  Jawab Arkhan.

“Iqis minta tolong jagain baby Alyssya.” Ucap Bilqis.

“Maksud kamu?”  Tanya Arkhan.

“Iqis akan ikut lomba hafidz Qur’an besok,  mau bawa baby Alyssya tapi gak ada yang jaga di sana,”  ucap Bilqis.

“Berapa lama?” Tanya Arkhan.

“Sekitar tiga, atau empat hari.  Kak.  Tapi aku akan tetap bawa putriku,” jawab Bilqis.

“Baik.  Kalau begitu saya akan minta Sekertaris mengosongkan jadwal saya empat hari kedepan.  Kamu fokus saja dengan lomba kamu.  Saya akan menjaga si kecil,” ucap Arkhan.

“Terimakasih kak,  tapi biar putriku ikut,  dia gak bisa minum susu formula,” jawab Bilqis.

“Dimana lombanya? Di luar kota?”  Tanya Arkhan.

“Didaerah Lombok kak,  kalau gak diubah jadwalnya. Soalnya akan diubah pas barusan baca chat Ustadzah Annisa,” Jawab Bilqis.

Bilqis sangat tidak enak,  seolah merepotkan Arkhan,  kalau saja putrinya tidak menangis saat jauh dari Arkhan, ia akan tenang di ajak ikut lomba.

“Kalau gitu saya temani kamu.  Ainun,  kamu mau ikut?  Kakak dan Bilqis bukan muhrim. Tidak baik jika kakak pergi hanya berdua. Jika kamu tidak mau ikut, kakak ajak Naura dan Inara,”  Ucap Arkhan.

“Kakak bisa pergi bersama Ning kecil, biar Iqis bersama kak Yusuf perginya,” jawab Bilqis.

“Yusuf? (Mengerutkan kening)” ucap Arkhan.

“(memutar mata bosan)  Bukan dia kak. Ini Yusuf sepupu Bilqis,” Jawab Ainun.

“Oh.” Ucap Arkhan singkat.

“Iya Gus Yusuf kak.  Nanti aku berangkat sama dia saja,” ujar Bilqis.

“Oh. Baiklah,”  Ucap Arkhan.

“Iya kak, biar Kakak gak mengganggu aktifitas adik-adik kak,”  jawab Bilqis.

“Malah mereka yang suka mengganggu saya,”  Ucap Arkhan.

“Hmmm,  baiklah,  tapi mukanya jangan gitu Iqis takut,” Jawab Bilqis.

Bilqis merasa tidak enak ketika dirinya lomba, Arkhan direpotkan dengan putrinya.  Ia merasa serba salah sekarang.

“Kakak, kalau sibuk gak papa,  aku bisa bawa Ning kecil lomba,” sambung Bilqis.

“Tidak apa-apa. Lagipula saya sudah lama tidak beristirahat dari pekerjaan,” ucap Arkhan.

“Jangan kerja terus,  nikah sana biar ada yang ngurusin,” jawab Bilqis.

“Saya belum menemukan yang cocok,” Ucap Arkhan.

“Mau menemukan bagaimana? Kerja mulu kamu kak,”  Jawab Bilqis.

“Iya. Maaf,”  Ucap Arkhan.

“Hmm, ya gak papa,” jawab Bilqis.

“Jika saya tidak kerja, bagaimana saya memanjakan istri saya kelak? Saya kerja untuk mencari modal sehingga jika suatu saat saya bertemu dengan wanita yang membuat saya jatuh cinta, saya bisa memanjakannya,” Ucap Arkhan.

“Masyaallah, wanita itu nanti sangat beruntung,” jawab Bilqis.

“Itupun jika saya bertemu dengannya. Tidak ada yang tahu jodoh manusia seperti apa,”  Ucap Arkhan.

“Hmm,  iya Iqis doakan kakak dapatkan jodoh wanita sholehah yah.  (Menatap sang putri yang tadinya tidur, menangis mendengar ucapan Arkhan)”  jawab Bilqis.

“Aamiin. Terima kasih, Bilqis,” ucap Arkhan.

“Amin Allahuma amin.  Sama sama kak,” jawab Bilqis.

Naufal: ...........

Ainun: ...........

“(menghela napas) Kayaknya kita udah jadi nyamuk, dek,”  ucap Naufal pada Ainun.

“Situ aja yah.  Aku mah lagi chattan sama Kak Dika (fokus baca hp),”  jawab Ainun.

Naufal (memutar mata kesal) Dasar bucin (berbisik pelan)

“(menatap kak Naufal)  Kakak cari teman hidup gih,” ucap Bilqis.

“(menghela napas) Cari dimana dek Bilqis?  Saya dapat libur dari atasan aja jarang (tertawa),”  jawab Naufal.

“Hmm, mau dikenalin kakak sama Ustadzah Annisa,”  Ucap Bilqis.

“Oh?  Boleh.  Jika saya tidak cocok,  masih ada adik saya si kembar Haikal dan Keenan.  (Tersenyum)” jawab Naufal.

“Iya kak,  sana bawa Kak Arkhan pergi, Iqis gak mau lihat dia,”  ucap Bilqis pada Naufal.

“Pft hahaha, maaf dek. Bang Arkhan tuh galak.  Aku aja takut dek,” jawab Naufal.

“Gak takut,  sana bawa dia pergi Kak Naufal atau aku pergi saja dari sini bersama baby Alyssa,  biar kalian gak bisa ketemu kami lagi,” Ucap Bilqis.

“Tau ah,” sambung Bilqis.

“Bagaimana perasaan kamu sekarang? Udah mendingan? Nggak seburuk tadi lagi kan?  (Tersenyum sambil mengangkat alis)”  ucap Arkhan.

Sedangkan Ainun dan Naufal saling pandang, satu sama lain.  Entah apa yang dilakukan mereka.

Ainun: ........... (menatap Arkhan)

Naufal: ......... (menatap Arkhan)

“Ada apa? (Mengangkat alis)” ucap Arkhan pada kedua adiknya.

Ainun dan Naufal (menggelengkan kepala)

“Serius ini Kak Arkhan gak kerasukan? Si Gila kerja minta cuti?” Tanya Ainun pada sang kaka.

“Panggil Ustadz dek.  Ini sih Bang Arkhan yakin lagi kemasukan jin nih,” Ucap Naufal.

“Hmm,” hanya itu keluar dari mulut Kak Arkhan.

“fttt,” Naufal.

“Hehehe,” Ainun tersenyum.

“Kakak Naufal emang Kak Arkhan gila kerja?” Tanya Bilqis.

“Iya, Qis.  Sumpah gila kerja banget. Kamu tahu? Dalam 24 jam tuh,  20 jamnya dia kerja.  Tidurnya cuma 4 jam setiap hari. The real kerja,  kerja dan kerja. Lama-lama tumbang tuh orang,” ucap Naufal.

“Bilqis (menatap dalam mata Kak Arkhan lalu menundukan kembali) jangan kerja terus kak,  nanti sakit.  Kerja boleh tapi kesehatan itu penting,” Jawab Bilqis.

“(tersenyum kecil lalu refleks mengelus kepala Bilqis, tapi langsung menarik kembali secepatnya)  Maaf.  Saya refleks karena setiap Ainun mengatakan hal yang sama, saya mengelus kepalanya. Maaf jika kamu tidak nyaman,” Ucap Arkhan.

“(masih menundukan kepalanya, ia tidak tau kenapa jantungnya ingin lompat rasanya) Iya kak, gak papa.  Kalau kakak kaya gini satu kali ini Iqis ancam kakak harus tanggung jawab,” jawab Bilqis.

“(terkekeh) Boleh.  Tapi saya tanggung jawabnya ke Alyssa aja yah? (Tersenyum kecil)” ucap Arkhan.

“Ya deh terserah Kakak saja,” jawab Bilqis.

Arkhan: (tersenyum tipis).

Bilqis: (membuang muka ke samping)

“(terkekeh) Kamu lucu juga yah,” ucap Arkhan.

“Gak ada yang lucu,” jawab Bilqis.

“Tapi, kamu lucu (tersenyum kecil),” ucap Arkhan.

“Terserah lah,” jawab Bilqis pura-pura ngambek.

“(Terkekeh tak berdaya)” Arkhan.

“Bilqis (Memalingkan wajah ke samping)”

Setelah memutuskan tetap tinggal di Indonesia, Bilqis juga tidak tega melihat putrinya menangis hanya ia ucap akan pergi dari sini atau Arkhan, respon putrinya menangis.

“Terimakasih kak, udah mau nolong Iqis,” Ucap Bilqis menundukan kepalanya.

“Iya.  Sama-sama, Iqis,” jawab Ainun tersenyum.

Tiba-tiba Kak Naufal menanyakan Bilqis  "(Fokus menyetir)  Kamu pesan penerbangan jam berapa?"

“Sebelum kalian jemput aku, tapi aku gak tega melihat putriku menangis sekencang ini,”  jawab Bilqis.

“Kalau gitu, kamu tinggal aja dulu.  Kalau gak bisa sebulan, seminggu, Qis. Kasihan Alyssa nya nangis,” ucap Ainun.

Baby Alyssa: (semakin menangis mendengar ucapan bundanya.)

“Kalau gitu, kamu tinggal aja dulu.  Kalau gak bisa sebulan, seminggu, Qis. Kasihan Alyssa nya nangis,” ucap

“Si kecil. Jangan menangis. Ayo cantik.  Jangan menangis.  Cup cup (menenangkan Alyssa dengan suara lembut),”  ucap Arkhan menenangkan Beby Alyssya yang menangis.

Baby Alyssa: (menatap Arkhan dengan tatapan yang sulit diartikan.)

(Menenangkan Alyssa dengan sabar sampai Alyssa berhenti menangis) Arkhan.

“Kak, Sini aku gendong,”  Ucap Bilqis.

“(mencoba menyerahkan Alyssa tapi Alyssa kembali menangis). Tidak apa-apa. Biar saya saja. Kasihan putri kamu sudah nangis daritadi. Nanti dia sakit jika terlalu banyak menangis.” Jawab Arkhan tidak tega melihat si kecil menangis.

“(hanya memandang wajah cantik sang putri) Hmm,  baik aku gak akan maksa baby Alyssa lagi,” Ucap Bilqis sedih melihat putrinya menangis.

“Sabar, yah Qis. Anak-anak aku kalau sama Kak Arkhan juga gitu waktu seumuran Alyssa.  Nempel mulu hahaha,” jawab Ainun menghibur Bilqis.

“Iya kak,  titip baby Alyssya yah,” ucap Bilqis.

Bilqis hanya menganggukan kepalanya, bingung harus menjawab ucapan Ainun, takut salah membuat putrinya menangis lagi.

“Kak,  Beby Alyssya udah tidur?” Tanya Bilqis.

“Iya. Sudah,” Ucap Arkhan.

“Alhamdulillah kalau udah tidur,”  jawab Bilqis.

“Iya,” ucap Arkhan.

 

Tak terasa sudah sampai di rumah Kak Ainun, semua merasa bahagia bisa pulang bersama Bilqis dan si kecil.

“Ngomong-ngomong, kita sudah sampai,”  Ucap Naufal.

“Eh?  Sudah sampai? Gak terasa hehehe,”  Jawab Ainun.

Mereka kemudian sampai di sebuah komunitas yang sangat besar. Didalamnya rumah-rumah berjejeran indah.  Mobil berhenti di sebuah rumah di dekat gerbang. Mereka kemudian keluar dari mobil.

“Qis, rumahnya kan masih belum bersih. Jadi, Iqis malam ini tidur di rumah aku aja yah? Besok rumahnya dibersihkan. Gpp, kan Qis?”  Tanya Ainun.

“Iya kakak, gak papa kok,”  Jawab Bilqis.

Ainun membawa Bilqis ke dalam rumahnya,  diikuti Arkhan. Sedangkan Naufal kembali ke rumahnya sendiri.  Di dalam rumahnya, Ainun meminta Arkhan menidurkan Alyssa di kamar Zainab dan mengambil salah satu tempat tidur bayinya di gudang. Sedangkan Ainun membawa Bilqis beristirahat di kamarnya sendiri,  untuk menemani Bilqis agar Bilqis bisa menuangkan semua perasaannya saat hanya mereka berdua.  Setelah menidurkan Alyssa di tempat tidur bayi,  Arkhan pamit kembali ke rumahnya,  menyisakan Ainun dan Bilqis di dalam kamar Ainun.  Ainun menemani Bilqis yang menangis sampai Bilqis tertidur karena kelelahan.

Bilqis terbangun setelah mendengarkan suara tangisan baby Alyssa.

“Ainun: (membuka mata) Iqis? Alyssa nya kenapa?” Tanya Ainun.

“Dia lapar kak,” ucap Bilqis.

“Yaudah kamu butuh sesuatu? Butuh bantuan, Qis? (Bangun)” tanya Ainun.

“Gak perlu kak, suruh Kak Arkhan pergi, Iqis gak mau lihat, takut mukanya gitu,” ucap Bilqis.

“Arkhan (tersenyum kecil) Yaudah saya pulang dulu (menyeret Naufal pergi)” Jawab Arkhan.

“Iya sana,” ucap Bilqis.

“Eh? Eh?” Jawab Naufal kaget.

“Kakak Naufal atau Iqis pergi ini. (Melangkah keluar kamar Ainun)” ucap Bilqis.

“Arkhan (menghela napas)  Salah saya apa? (Pergi dengan wajah pura-pura sedih),” jawab Arkhan.

“Kakak, baby Alyssa menangis,” panggil Bilqis.

“Sini coba saya gendong (mengambil Alyssa),” ucap Arkhan.

“Ini kak,” jawab Bilqis kasih alih Beby Alyssya.

“Duh, saya diusir (berpura-pura sedih) Si kecil, Ibu kamu galak sekali (mencium pipi Alyssa),” ucap Arkhan kepada si kecil.

“Jangan ngadu ke putriku.  Jangan cium-cium,” jawab Bilqis.

“Kak,” panggil Bilqis.

“Iya,” jawab Arkhan.

“Hmmm, dingin banget,” keluh Bilqis.

“(mengangkat alis)  Oh? Maaf. Padahal saya sendiri kaget. Ini pertama kalinya saya banyak bicara di depan orang lain selain adik-adik saya.  Masa saya dikatain dingin? (Terkekeh),” ucap Arkhan.

“Ya udah kalau gak mau berbicara sama Iqis sana pulang saja. Jangan gendong putriku lagi,”  Ancam Bilqis.

“Iya kak, sana bawa Kak Arkhan pergi Iqis gak mau lihat dia,” sambung Bilqis pada Naufal.

“(terkekeh) Maaf. Tolong jangan dong. Ibunya Si kecil ternyata galak juga, yah? (Tersenyum lalu menepuk pelan kepala Bilqis),” ucap Arkhan.

Arkhan selalu tersenyum setelah bertemu dengan Bilqis,  ia enggan untuk tersenyum pada orang lain kecuali keluarganya sendiri, dia sangat dingin dan tegas.

“Sana pulang gih,  biarin. Galak juga Iqis capek baik mulu. Jangan sentuh Iqis, bukan muhrim kak,” Jawab Bilqis kekeh.

“(terkekeh) Iya iya. Maaf.  Jangan galak-galak nanti cantiknya ilang. Dan saya tahu kita bukan muhrim.  Makanya saya hanya menepuk kerudung kamu (tersenyum tipis),” ucap Arkhan.

“Gak pantes buat orang dingin ngegombal.  Udah ah Sana pergi,” Jawab Bilqis kekeh.

“Iya Bilqis. Maafkan saya yah?  (Menatap Bilqis sambil tersenyum),” ucap Arkhan.

Bilqis merasa bersalah bersikap seperti itu kepada Kak Arkhan, pasti Kak Arkhan tidak suka.

“Iya, saya yang harus minta maaf kak (Bilqis menundukan kepalanya seraya bingung harus bagaimana),” jawab Bilqis.

“Saya yang membuat kamu tidak nyaman. Tidak perlu meminta maaf (tersenyum),”  ucap Arkhan.

“Tapi baby Alyssa lebih butuh kakak untuk menjadi sosok ayahnya sekarang. Iqis gak mau baby Iqis menangis kaya gini,”  jawab Bilqis.

Setelah hatinya nyaman dan tenang, Bilqis minta izin keluar sebentar pada Kak Ainun.

“Kak Ainun, boleh Iqis izin keluar dulu.?” Tanya Bilqis.

“Kemana, Qis?”  Ucap Ainun.

“Mau keluar sebentar,” jawab Bilqis.

 

Dihamili Anak KyaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang