"Ih.... Gombal ya. Abang," ucap Rara cemberut.
"Kenapa bibirnya?" jawab Gus Yusuf.
"Tau," ucap Rara cemberut.
"Hmmm, maaf sayang jangan marah yah. Maafin Abang," jawab Gus Yusuf.
"Iya, mau makan," ucap Rara.
"Boleh kok. Saya ayo kita makan dulu yah," jawab Gus Yusuf.
"Setelah ini, apa boleh izin untuk menghadiri acara di pesantren?" Sambung Gus Yusuf.
Rara memilih pergi dari hadapan Gus Yusuf. Ia keluar kamar, berjalan ke arah pintu belakang.
Rara berhenti ketika melihat kumpulan santriwati sedang menghapal, ada yang lagi membaca, masih banyak lagi.
Rara yang mendengarkan tentang sedekah subuh, terdiam ketika melihat semua para santri dengan seriusnya mendengarkan dari Ustadz paling muda di sana.
Sedekah subuh adalah sebuah amalan yang bisa dikerjakan oleh umat muslim di pagi hari. Sedekah subuh tidak hanya bisa dikerjakan ketika memiliki harta atau materi.
Ada begitu banyak tausiyah dan ceramah yang mengangkat tema dahsyatnya sedekah subuh dan banyaknya manfaat yang bisa didapat setelah menjalankannya. Dzikir dan berinfak yang dilakukan pagi hari masuk dalam kategori sedekah subuh. Bahkan melakukan kebaikan atau bersikap ramah pada sesama juga termasuk bagian dari sedekah.
Ustadz Fatih Bagenda Ali dalam bukunya yang berjudul Jika Sedekah Menjadi Lifestyle, menjelaskan sedekah adalah salah satu amalan yang memiliki beberapa tujuan dan juga manfaat. Salah satu tujuan yang dapat dirasakan dalam berbagi adalah sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT.
Sedekah subuh merupakan amalan umat Islam yang telah melaksanakan sholat Subuh. Di waktu subuh (sebelum matahari terbit), seseorang dapat menyedekahkan hartanya di jalan Allah dengan niat ikhlas dan untuk kebaikan. Secara istilah, tidak ada yang membedakan sedekah subuh dengan sedekah biasa kecuali waktu pelaksanaannya.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, "Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: "Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak", sedangkan yang satu lagi berdoa, "Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)." (HR. Bukhari).
Rara juga ikut menjelaskan tentang sedekah subuh. Rara yang berdiri di belakang para santri, ia menundukan kepalanya karena semua para santri adalah didik suaminya.
Bentuk sedekah subuh, beberapa sedekah subuh yang dapat dilakukan oleh umat muslim antara lain, berzikir, berinfak di masjid (selepas melaksanakan sholat subuh), memberikan sarapan gratis kepada orang yang membutuhkan (entah itu tetangga, anak yatim, hingga orang miskin), dan berdonasi di lembaga sosial.
Sedekah subuh juga bisa dilakukan sendiri di rumah dengan memasukan uang ke dalam kotak. Uang disisihkan itu dan dikumpulkan ke dalam kotak tersebut nantinya diserahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah karena tidak memerlukan begitu banyak syarat.
Selain dengan uang dan materi, kita juga bisa bersedekah dengan hal lain seperti misalnya memberi salam, tersenyum, menolong orang, menyingkirkan duri di jalan, berucap dan berbuat baik. Sasaran dari sedekah juga diutamakan adalah yang selalu ikhlas.
Semua santri memandang istri kedua Gus Yusuf itu. Ustadz Fatih melangkah, mendekat ke arah Rara.
"Assalamualaikum," salam Ustadz Fatih.
"Walaikumsallam. Ustadz," jawab Rara menundukan kepala.
"Kenapa Ning Rara ada di sini? Nanti Gus Yusuf akan marah," ucap Ustadz Fatih.
"Tapi Rara bosan dikamar," ucapan Rara langsung terpotong oleh ucapan Gus Yusuf.
Gus Yusuf dibakar api cemburu saat melihat istri kecilnya berduaan dengan salah satu Ustadz. Gus Yusuf mempercepat langkah kaki agar segera mendekat.
"Assalamualaikum," salam Gus Yusuf menatap tajam Ustadz Fatih.
"Walaikumsallam," jawab Rara dan Ustadz Fatih.
"Dek, ikut Abang sekarang," ucap Gus Yusuf menarik paksa tangan Rara menjauh dari semua santri dan Ustadz Fatih.
Bab 16: Hukuman (Lanjutan)
"Aaaa....aaaahh sakit Abang," Rara merasakan tangannya sakit, menangis seketika.
Gus Yusuf tidak menggubris perkataan istrinya itu. Ia terus menerus berjalan ke arah rumah utama. Di ruangan itu sudah banyak anggota keluarga sedang berkumpul.
"Abang, sakit tangan Rara," ucap Rara lirih.
"Abang," Rara terus menangis.
Setelah beberapa menit Gus Yusuf sampai di depan rumah. Ia membuka pintu rumah utama. Di sana sudah disambut keluarga besar Gus Yusuf.
Gus Yusuf melangkah ke dalam sambil menarik paksa tangan Rara yang menangis karena tangannya sangat sakit sekali.
"Assalamualaikum," salam keduanya.
Semua orang menoleh ke arah Gus Yusuf dan Rara yang tidak berhenti menangis.
"Walaikumsallam, nak kenapa Rara? Menangis?" Tanya semua orang.
"Tidak, hanya saja Ning Rara melakukan kesalahan. Dia harus dihukum," jawab Gus Yusuf.
"Tapi, Abang, Rara gak lakukan salah," ucap Rara menatap suaminya.
"Tetap saja kamu sayang harus dihukum," jawab Gus Yusuf.
"Ummi, tolong Rara. Abang mau hukum Rara yang tidak melakukan kesalahan sama sekali. Kenapa Abang mau hukum Rara?" Ucap Rara memohon.
"Sayang, maafkan Ummi, kalau suami kamu berkata itu, maka dia akan tetap dengan keputusannya," jawab Ummi Anita.
"Ummi,"
Gus Yusuf membawa Rara masuk kamar karena ingin langsung menghukum istrinya itu. Gus Yusuf tidak menggubris perkataan istri pertamanya.
Setelah sampai di kamar, Gus Yusuf langsung mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Agar tidak ada yang masuk.
Rara sadar kalau suaminya itu mengunci pintu kamar. Ia melangkah mundur sehingga terjatuh di atas ranjang.
Sedangkan Gus Yusuf terus mendekat saat Rara terus mundurkan langkahnya.
"Saya ingin Ning Rara melakukan tugasnya sebagai istri," ucap Gus Yusuf.
"Tap,"
Belum sempat menjawab, Gus Yusuf sudah menyerangnya. Rara hanya pasrah saat suaminya melakukan berkali-kali, mengeluarkan benihnya di dalam rahimnya.
"Aaa....aaahh sakit," teriak Rara saat bergerak.
"Sayang, jangan banyak gerak dulu," ucap Gus Yusuf.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dihamili Anak Kyai
RandomBilqis seorang gadis remaja yang baru berumur 15 tahun yang dicintai oleh CEO muda sekaligus kakak iparnya.
