Dua Belas

21K 818 12
                                        

"Kalau kau tau soal rahasia itu, memangnya kenapa?"

Alih-alih merasa terintimidasi oleh dominasi Kevan yang seakan tahu segala hal tentang Anya, lebih baik untuk Anya bersikap tenang dan tak terpengaruh.

"Kalau rupanya kita sama-sama sakit, memangnya kenapa? Kau berekspektasi apa soal reaksiku?"

Senyum miring Kevan lenyap. Tatapan dan ekspresinya berubah polos tepat saat dia memiringkan kepalanya sambil bertanya, "Kau ... benar-benar tidak takut apa pun, ya?"

Bodoh! Tentu saja aku sangat takut sampai jantungku rasanya ingin meledak!!

"Lepaskan aku," titah Anya dingin. "Kalau kau melepasku sekarang dengan tubuh utuh, aku tidak akan menuntutmu. Aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi."

Kevan mengambil tehnya, menyesapnya sekali lagi. "Tenggorokanmu baik-baik saja? Kau banyak bicara, padahal kau tidak minum dari kemarin malam."

Anya menahan perasaan jengkel yang memenuhi hatinya saat ini. Apa Kevan tak mendengarkan perkataannya?

Omong-omong, alih-alih merasakan marah hingga ke ubun-ubun, sepertinya Anya hanya sekedar jengkel?

"Menikahlah denganku. Aku sudah jomlo dua tahun. Takut nanti impoten."

Anya benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir pria gila ini.

"Aku tidak mau menikah dengan orang gila. Jangankan orang gila, orang biasa dan normal pun aku tetap akan menolak. Bahkan kalau kau mendekatiku dengan cara normal dan romantis, aku tetap tidak akan memberi ruang untukmu. Sampai mati, aku tidak akan menikah dengan siapa pun lagi."

Kevan menyentuh area jantungnya dramatis. "Apa aku harus mendengar penolakan seperti ini di saat cintaku sedang menggebu-gebu?"

Anya sungguh ingin menendang kepala Kevan saat ini juga!

"Sayangnya aku tidak akan menerima penolakan, dan kau tidak punya pilihan. Kau hanya perlu menikmati waktu sampai kau jatuh cinta padaku." Kevan bangkit sambil membawa baki berisi teapot dan cangkir kosong. "Kau mau mandi? Akan kusiapkan pakaianmu."

"Tolonglah," ucap Anya tiba-tiba, membuat Kevan menoleh padanya. "Aku tidak mengenalmu. Aku juga tidak tau apa alasan sebenarnya kau menculikku. Kau pikir alasan menikah bisa ditelan mentah-mentah begitu saja? Tolong lebih rasional sedikit. Kau pikir aku tidak akan gila dalam dua hari karena perlakuanmu ini?"

"Kau kan sudah gila."

"BRENGSEK!"

"Ya ampun. Kenapa aku harus mendengar umpatan itu dari wanita yang kucintai? Sudahlah, nikmati saja. Nanti kau juga akan bebas." Kevan tersenyum. "Tentu saja ... itu hanya akan terjadi setelah kau menikah denganku."

**

Di dalam kamar mandi, sembari mengguyur rambutnya dengan hujan shower, Anya mengerahkan kemampuan otaknya untuk berpikir. Sialnya, dia tak menemukan cara apa pun yang bisa membuatnya bebas dari tempat ini selain mengemis meminta dibebaskan.

Sampai sekarang Anya bahkan masih belum mengerti; apa sebenarnya yang memotivasi Kevan hingga pria itu begitu terobsesi untuk memiliki Anya?

Apa benar hanya karena Anya seksi? Itu alasan yang konyol. Tapi bisa saja itu menjadi alasan. Bukankah banyak orang aneh di dunia ini? Anya bahkan termasuk salah satunya.

Anya memejam matanya sambil mengernyitkan kening. Bagaimana ini? Dia tak bisa menghubungi siapa pun. Mungkin saja kakeknya akan mencarinya, tapi Anya kan masih belum memberitahu di mana letak posisi rumahnya pada sang kakek.

Alih-alih mencurigai Anya diculik, kakeknya bahkan masih percaya bahwa Anya sedang bertenang di rumah yang jauh. Namun, beda cerita jika Kakek selalu menghubungi Anya dan tak mendapati jawaban. Bisa jadi Kakek akan lekas mencari Anya karena merasa curiga Anya tidak baik-baik saja. Untuk Kakek yang menyadari cucunya telah diculik, pasti akan mengerahkan segala kekuatan yang dia punya untuk mencari cucu kesayangannya.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang