Erleen terpuruk dalam kebingungannya. Berkali-kali dia mencoba memahami, dia tetap tak bisa mengerti.
"Kau?" Erleen memanifestasikan rasa tak percayanya dengan kening mengernyit. "Omong kosong apa yang berusaha kaukatakan, Kev?"
"Aku tidak bisa menjelaskan banyak hal. Hanya saja kau perlu tau, ayahku tidak pernah melakukan itu. Aku ... yang melakukannya. Dan aku tidak ingat."
"Jangan buat aku tertawa!"
"Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk tertawa, hm?" Kevan menatap dingin.
Kelu sebentar, Erleen lantas bertanya, "Kalau begitu, bisa kaujelaskan kenapa malah ayahmu yang menikahiku? Kalau dia tidak melakukan apa-apa, kenapa dia tidak menuntutmu? Kenapa dia justru malah mengorbankan dirinya sendiri atas kesalahan yang tidak dia lakukan?"
"Kau tau waktu itu promosiku sedang dipertaruhkan," jawab Kevan, tak ayal membungkam Erleen. "Ayahku hanya ingin melindungiku."
Erleen tak bisa berkata-kata. "Lalu ... kenapa, kau memerkosaku waktu itu?"
Hening meliputi mereka berdua. Tak sanggup melihat kernyit nanar Erleen serta matanya yang berkaca-kaca, Kevan lekas mengalihkan pandangannya pada bayi yang sedang duduk di pangkuannya.
Dia tak menjawab.
Dirasa percuma, Erleen lantas berbalik pergi ke kamar mandi. Tujuannya bukan untuk buang hajat, melainkan untuk menyembunyikan air matanya yang tumpah.
**
Meski tadinya Anya sudah hampir menyerah, dia tiba-tiba teringat dengan sahabatnya, Sherly. Sebenarnya Anya tak ingin mengganggu hari-hari sibuk sahabatnya itu, namun hanya Sherly yang bisa dimintai tolong.
Anya meminta Sherly untuk menunggu mobil Kevan keluar dari gerbang komplek elite kediaman Martin malam ini juga.
Sebenarnya bisa saja Anya ikut menunggu, tapi Anya tetap harus berada di apartemen saat Kevan pulang. Jadi Anya putuskan agar Sherly saja yang memata-matai suaminya. Dalam mobil yang tak dikenali, seharusnya Kevan tak akan menyadari. Lain cerita kalau Kevan hafal nomor plat mobil Sherly, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
"Halo, Ann? Aku sudah di sini. Aku mencari tempat yang gelap supaya orang-orang berpikir mobilku hanya sedang parkir."
Anya mengangguk meski dia tahu Sherly tak akan bisa melihatnya. "Maaf merepotkanmu. Tolong hati-hati."
Jam dinding menunjukkan pukul 9. Seharusnya Kevan sudah pulang saat makan malam, namun dia mengabari bahwa dirinya akan pulang larut. Kesempatan itu Anya gunakan untuk saat ini.
"Kamu yakin dia selingkuh?" Sherly tiba-tiba bertanya dari seberang sana. "Aku nggak bermaksud, tapi mungkin saja ini cuma ketakutan nggak berdasar. Kamu juga lihat sendiri, kan? Dia mati-matian memperjuangkanmu. Mustahil kalau dia akan membuang kamu semudah itu."
Anya tahu. Tahu betul malah. Dia sendiri yang melihat bagaimana Kevan berjuang hanya untuk mendapatkan hatinya. Namun, bukankah Raymond dulu juga begitu?
"Kuharap ini memang hanya ketakutan nggak berdasar. Siapa sih, yang berharap dia selingkuh?" Nada bicara Anya terdengar pahit. "Tapi sebelum membuktikan sendiri, aku nggak akan bisa tenang. Nggak akan ... sampai aku melihat dengan jelas apa sebenarnya yang aku takutkan akhir-akhir ini."
"Aku paham, baiklah ...." Sherly menghela napas di seberang sana. "Apa pun itu, aku akan terus di pihakmu."
Anya tersenyum getir. "Terima kasih."
Menit demi menit berlalu, hingga dua jam lagi sudah dini hari. Anya tak tega membiarkan Sherly berlama-lama di tempat sepi. Baru saja Anya hendak menyuruh Sherly pulang, Sherly mendadak menyerukan sesuatu.
"Aku melihatnya! Ann! Mobil suamimu!"
Jantung Anya seakan-akan kempis ....
"Teropongku sialan. Aku nggak bisa melihat platnya dengan jelas, tapi mobil itu benar-benar seperti mobil yang kamu tunjukkan padaku."
Anya menarik napas berat. "Berarti sudah jelas, Sher. Dia betul-betul menyembunyikan sesuatu. Sejauh ini aku sudah mulai mengenalnya. Mustahil untuknya datang ke rumah ayahnya; untuk urusan apa pun itu."
"Ann ...."
"Terima kasih, Sher. Kamu boleh pulang."
"Tu-tunggu!"
Anya menutup teleponnya, mematikan ponselnya hingga tak mungkin untuk siapa pun bisa menghubunginya. Keningnya berkerut, dan matanya memanas. Meski masih hanya prasangka, entah mengapa hatinya sudah langsung nyeri.
Padahal Anya sudah membuka hati. Tapi, mengapa?
Apa bagi Kevan, Anya memang hanya pelarian semata?
**
Saat Kevan pulang, Anya tetap berusaha menyambut dan melayani pria itu meskipun harus menahan diri untuk terlihat biasa saja. Dulu dia pernah seperti ini di depan Raymond dan Nadia saat Anya akhirnya sadar kedua orang itu sudah berkhianat. Sialnya, di depan Kevan saat ini, Anya justru tak bisa akting sama sekali.
Kevan langsung bisa mengenali gerak-gerik anehnya dengan mudah.
"Kau marah?"
Anya menghindar dari tatapan Kevan usai pria itu menerima setelan piama yang baru saja Anya serahkan padanya.
"Apa karena aku melewatkan makan malam denganmu?"
Anya menggeleng. Dia menepis jari Kevan yang sempat mengapit dagunya. "Cepat pakai. Setelah itu tidur."
Kevan menatap punggung Anya yang berlalu dengan tatapan rumit. Lekas dia pakai piamanya, lalu merebahkan diri di ranjang besar mereka. Dia lihat punggung Anya dalam diamnya. Tak biasanya Anya berbaring membelakanginya seperti itu.
Saat Kevan beringsut hendak merengkuh istrinya dari belakang, Anya malah tiba-tiba beranjak dan pergi. Secara refleks, Kevan juga ikut bangkit dari baringnya dan bertanya, "Mau ke mana?"
Anya tak menjawab. Kevan tak akan bertanya lagi jika Anya ternyata pergi ke kamar mandi. Namun, tidak. Anya justru berjalan cepat menuju pintu ....
Mana mungkin Kevan tetap diam dan hanya melihat. Dia lantas ikut turun dari ranjang dan melesat menghampiri istrinya itu.
"Hei ...."
Dengan lembut, Kevan membuat istrinya berbalik. Apa yang dilihatnya begitu mengejutkan.
Dia melihat Anya ternyata sedang menangis.
"Ann?"
Dipanggil dengan lembut, Anya justru semakin terisak. Ini bukan dirinya yang biasanya. Ini bahkan bukan dirinya yang asli. Namun, mengapa ... mengapa air matanya tak mau berhenti?
"Kenapa kau tidak jujur?" lirih Anya dalam isaknya. "Apa aku benar-benar hanya pelarianmu, Kev?"
Sesuatu seperti runtuh dalam dada Kevan. Anya tak mungkin sedang membahas soal itu, kan?
"Ann ...." Kevan mencoba menenangkan Anya dengan menangkup masing-masing pipi istrinya itu. "Ada apa? Apa yang kaumaksud dengan pelarianku?"
"Coba jawab aku." Anya menatap Kevan dengan mata basah. "Kau pulang larut bukan karena lembur, kan? Kau melewatkan makan malam denganku bukan karena lembur ... kan?"
Kevan terenyak. "Ann ... aku ...."
"Siapa yang kautemui, Kev? Apa kau bisa mengatakannya? Tentang itu ... apa kau masih akan tetap menyembunyikannya dariku?"
"Tenanglah dulu ...."
"Kaupikir aku tidak berusaha?" Anya terlihat marah. "Akan lebih baik kalau kau jujur sejak awal. Kalau kau ... tidak benar-benar mencintaiku ...."
Kevan memejam matanya sambil mengesah panjang. Lalu kembali menatap Anya lekat-lekat.
"Lupakan omong kosong tentang pelarian atau apa pun itu. Aku mencintaimu, Ann. Karena itu aku akan jujur." Kevan membuat Anya terdiam saat dia berkata, "Aku akan menjelaskan semuanya."
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Romance"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
