"Matanya abu-abu. Kurasa dia akan tumbuh dengan wajah ayahnya."
Ucapan Sherly membuat Anya menoleh. Saat-saat terpenting, sesibuk apa pun itu, Sherly tetap menyempatkan waktu untuk menemani sahabatnya melahirkan. Dia baru datang lagi setelah sebulan umur bayi Anya.
"Itu bagus."
Anya yang duduk bersandar di ranjang besarnya kian tersenyum. Begitu Sherly datang usai menyelesaikan banyak kesibukan, Anya serta-merta menyerahkan bayinya pada Sherly. Tentu saja, Anya terang-terangan meminta Sherly cuci tangan dulu, dan tanpa takut Sherly tersinggung, Anya bahkan menanyakan apakah Sherly sedang flu atau semacamnya.
Anya sangat menjaga bayinya. Sebab, selain penthouse dan harta lain yang ditinggalkan Kevan untuknya, Anya hanya memiliki bayinya.
Anya tak ingin kehilangan lagi.
"Kenapa dia wangi sekali? Nggak bau kemiri ataupun bawang putih."
Anya tergelak mendengar lontar kalimat Sherly. "Bilang saja kamu ingin menyindir orang-orang Asiaku. Padahal tidak semua orang Asia begitu."
"Kamu nggak pakaikan ke bayimu juga?" tanya Sherly sambil menoleh.
"Untuk apa?"
"Bukannya mitosnya, supaya dilindungi?"
"Dari apa?"
"Something else ... like evil?"
Anya terkekeh. "Saking sukanya dengan horor mancanegara, kamu jadi tau hal-hal semacam ini, ya? Dengar. Benda apa pun itu, nggak punya potensi untuk menangkal hal-hal mistis. Lagi pula, orang-orang yang suka menggunakan benda untuk menangkal hal-hal mistis yang jahat, itu hanya orang yang nggak percaya dengan kekuatan Tuhan dalam melindungi sesuatu. Especially dalam agamaku, orang-orang seperti itu bisa batal agamanya. Jatuhnya bisa ke perkara menduakan Tuhan dengan suatu benda. Itu menggelikan."
"Aku nggak begitu religius, tapi aku setuju denganmu."
Anya menjangkau kepala bayinya untuk dia usap lembut. "Aku hanya perlu berdoa langsung supaya aku dan bayiku dilindungi. Aku nggak perlu benda apa pun untuk mewakili usahaku. Ini hanya soal keyakinan."
"Dipikir dengan logika pun aneh, ya? Apalagi kamu orangnya; sang intelek."
Anya tersenyum kecut, mencibir pujian Sherly untuknya. "Kamu mau makan? Asistenku tadi memasak."
"Nggak. Aku hanya ingin melihat Sean. Dia tidur nyenyak sekali." Sherly menatap Anya lekat-lekat. "Ini sudah sebulan. Kamu baik-baik saja, kan? Aku nggak akan bosan bilang ke kamu, jangan pernah ragu untuk mengandalkan aku. Atau siapa pun yang kamu rasa mampu untuk membantumu. Apa yang sudah kamu lalui sangat berat. Aku nggak ingin kamu menyerah hanya karena kamu berpikir nggak ada orang yang peduli denganmu. Semuanya peduli. Kamu harus percaya itu."
Anya tersenyum. "Kamu nggak perlu khawatir. Aku sudah sangat kuat sekarang."
Sherly ikut tersenyum, namun senyumnya lemah. "Ini mungkin terlambat ... tapi aku tetap akan mengatakan ini. Aku turut berduka atas kematian suamimu."
"Terima kasih. Tapi ... gimana, ya?" Anya mengusap bantal yang dia tandai sebagai bantal yang sering dipakai suaminya dengan lembut meski dia tahu aroma suaminya di sana sudah mulai menghilang. "I don't know why ... aku merasa dia masih hidup di suatu tempat."
"Aku takut penghiburan seperti itu hanya akan membuatmu nggak ikhlas, Ann."
"I know ... yeah, mungkin aku hanya perlu lebih banyak waktu untuk mengakui kematiannya." Senyum Anya membuat Sherly semakin tidak tega. "Aku nggak ingin membutuhkan orang yang sudah mati; menganggap dirinya seakan-akan masih hidup supaya aku tetap merasa kuat. Aku takut itu mengganggu imanku. Aku takut, aku malah nggak menerima takdir. Tapi entah kenapa aku merasa dia masih hidup. Sampai aku berpikir, mungkin dia memang masih hidup, tapi di dalam hatiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter Sweet Pervert
Любовные романы"Beri aku kebebasan mutlak atas tubuhmu." Anya Snow adalah seorang detektif partikelir yang berfokus memata-matai kasus perselingkuhan. Suatu malam, Kevan sang CEO yang sedang naik daun tiba-tiba bertamu ke kantor Anya, memintanya untuk mencari seor...
