Empat Belas

17.6K 809 7
                                        

Anya menerima tawaran Kevan untuk menikah bukan karena Anya langsung dibuat jatuh hati oleh penderitaan Kevan yang pernah melewati rasa sakit yang sama dengannya. Anya menerima tawaran Kevan untuk menikah juga bukan karena Anya ingin membantu membalaskan dendam Kevan. Anya mengajak Kevan menikah justru hanya karena ingin membuat pria itu berada dalam kendalinya.

Kalau saja Kevan mudah terbawa perasaan, Kevan pasti sudah merasa tersanjung karena Anya menerima tawarannya untuk menikah secepat ini. Dengan begitu, Kevan akan membebaskan Anya hari ini juga; membiarkan Anya setidaknya pulang ke rumahnya.

Jika itu terjadi, Anya akan memanfaatkan waktu-waktu menegangkan itu untuk menelepon kakeknya, meminta pertolongan seorang kepala mafia. Sayangnya, Kevan ternyata tak semudah itu untuk dia pengaruhi!

"Omong-omong soal syarat, memangnya kau ingin memberi syarat seperti apa?" tanya Kevan sambil mengunyah makan siangnya santai. Tiba-tiba dia acungkan sendoknya ke arah Anya. "Biar kutebak. Kau pasti ingin aku tidak menyentuhmu sampai kau memberi izin, 'kan?"

Anya kembali kepada dirinya yang asli; memasang wajah tanpa ekspresi. "Tidak mungkin. Aku bukan wanita yang tahan untuk tidak menggoda pria yang tinggal serumah denganku. Kalau kau menikah denganku, justru aku yang akan lebih dulu menuntut hak malam pertama."

"Ah." Kevan tampak takjub dengan wajah memerah. "Kenapa kau berkata seperti itu? Aku kan jadi ingin menikahimu sekarang juga!"

"Aku tidak keberatan, tapi biarkan aku pulang dulu." Mungkin Anya bisa memengaruhi Kevan kali ini. "Bagaimanapun, aku harus berbicara soal rencana pernikahan ini kepada keluargaku."

"Hmm. Bicara dengan siapa?" Kevan tersenyum miring. "Kakekmu? Yang kepala mafia itu?"

Raut pegun Anya membuat Kevan tak dapat menahan tawanya, terlebih ketika dia mendapati kening Anya mengernyit putus asa.

"Sudah kubilang, 'kan? Aku mengenalmu sangat baik." Kevan meneguk air minumnya sebelum melanjutkan, "Tidak ada gunanya mengadu pada siapa pun saat ini, Snow. Walaupun kakekmu berkuasa di dunia bawah tanah, kekuasaan kakekmu tetap tidak mampu menjungkirbalikkan hidup pria tampan yang sedang tergila-gila padamu ini. Lagi pula, kakekmu sudah tua. Kau tidak akan membebani hari tuanya dengan urusan percintaan, 'kan?"

Kevan sudah selesai dengan makan siangnya. Dia lantas beranjak dan berjalan mengitari meja, lalu berdiri di belakang Anya sambil meletakkan kedua tangannya di masing-masing pundak wanita itu.

Sekujur tubuh Anya seketika mendingin. Aroma musk dari tubuh Kevan tak membuatnya mabuk kepayang, justru malah membuatnya ngeri!

"Menikahlah denganku, Snow. Menikahlah denganku tanpa maksud terselubung; tanpa merasa takut denganku. Kau mungkin menganggapku hanya sekedar terobsesi, tapi percayalah ... aku akan melakukan apa pun hanya untuk membuatmu bahagia."

"Bagaimana ...." Suara Anya melemah. "Bagaimana jika aku hanya akan bahagia setelah lepas darimu? Apa kau akan membiarkanku bahagia dengan cara itu?"

Kevan meraba leher Anya, lalu mengangkat rahang wanita itu agar Anya dapat menengadah total. Pria itu menunduk dan menatap Anya sambil tersenyum. Tatapan mereka bertumbuk lekat, seakan-akan mereka tengah saling menyelam jiwa satu sama lain.

"Tidak ada opsi untukmu memilih bahagia tanpaku. Mulai sekarang, aku yang menentukan kebahagiaan seperti apa yang kau inginkan. Tentu saja, kebahagiaan seperti apa pun itu, kau harus menyertakan aku di dalamnya."

**

Anya memandang salju yang turun dengan pandangan kosong. Usai makan siang tadi, Kevan langsung bersiap-siap mengenakan pakaian formalnya dan pergi meninggalkan Anya sendirian di unit apartemen mewah ini.

Bitter Sweet PervertCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang